Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Rindu Mamah


__ADS_3

MENCARI KETENANGAN DALAM KENANGAN


"Bang Bara!" Ain mengernyit tatkala melihat seorang laki-laki seusia Ikram berada di balik jeruji besi.


Laki-laki bertubuh besar itu, memalingkan wajah dari Ain. Tubuhnya dipenuhi tato, kulitnya hitam dan berwajah seram. Dia preman di pasar Rangkasbitung. Kenapa Ain kenal?


Ikram sendiri bingung melihat Ain yang bisa mengenal laki-laki seperti itu. Mereka juga melihat Yuni yang duduk meringkuk di pojokan. Ia menundukkan kepala mencium lutut. Mendengar suara Ain, Yuni mengangkat wajah. Matanya yang basah menatap Ain penuh benci dan dendam.


"Apa kita akan menginap di sini bersama-sama?" katanya dingin. Suaranya parau habis oleh tangisan. Ain melengos, tak ingin bertatapan dengan Yuni. Terlalu benci hatinya untuk melihat sosok wanita itu.


"Wah ... wah ... sepertinya malam ini kalian akan berpesta di sini, ya? Ditambah satu orang lagi ... aku tidak yakin Ikram bisa melawannya," seloroh paman Harits dengan kekehan kecil yang mengiringi.


"Kalian mau tahu, laki-laki ini yang telah membantu peliharaan kalian dalam menjalankan rencananya untuk membunuh Ruby," lanjut paman Harits sembari menunjuk laki-laki bertato yang berada di balik jeruji.


Ain membelalak, Ikram mengernyit. Ia benar-benar tidak mengenal siapa laki-laki itu.


"Bang Bara? Kamu yang sudah membantunya untuk membunuh anakku?" tanya Ain dengan matanya yang berkaca-kaca. Laki-laki itu tersenyum miring, mengejek Ain yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Ya, kenapa? Apa kamu tidak senang?" sahutnya enteng. Sial. Ikram meronta hendak memukul laki-laki itu, tapi sayang tangannya diborgol dan dua orang polisi mencekalnya.


"Sialan! Apa salah anakku hingga kamu tega ingin membunuhnya? Bajingan!" teriak Ikram. Matanya memanas hendak menangis, ia menemukan pelakunya, tapi tak dapat melakukan apa-apa untuk membalas.


"Cukup! Kalian harus ikut dengan kami untuk memberikan keterangan," tukas polisi melerai mereka.

__ADS_1


"Anak kalian memang tidak bersalah. Kamulah, Ain yang bersalah, juga kamu ustadz bohongan. Aku memintamu rujuk, tapi kamu menolak. Sedangkan dia langsung kamu terima lamarannya dan malah menikah dengannya. Aku sakit hati, Ain. Aku sakit hati," hardik laki-laki bertato yang dipanggil bang Bara oleh Ain itu.


"Oohh ... ternyata dendam kesumat, kalian memang serasi. Cocok, sudah menikah lagi saja. Lalu, kamu, Krom ... menikah dengan peliharaan kalian itu. Sempurna." Paman Harits tertawa garing. Ia mengajak Nadia pergi mengikuti polisi untuk memberikan keterangan.


"Brengsek!" umpat Ain yang tubuhnya didorong paksa oleh petugas kepolisian untuk segera menyelesaikan pertanyaan terkait apa yang telah ia lakukan terhadap pabrik milik Nadia.


Laki-laki itu membuang ludah tepat saat Ikram melintas di depannya.


"Ustadz munafik!" kecamnya sengit. Ludah berbau busuk itu tepat mengenai bahu Ikram. Hidungnya dapat mengendus bau busuk tersebut. Sungguh membuat perut Ikram mual tak karuan.


Serangkaian pertanyaan diajukan polisi pada mereka yang akhirnya Ain dan Ikram ditetapkan sebagai tersangka. Semua dokumen dikembalikan pada Nadia, uang DP pun dikembalikan pada laki-laki yang melaporkan Ain.


Uang tidak dapat, hukuman yang pasti harus mereka jalani. Ikram dan Ain disatukan dalam sel yang sama. Terpisah dari Yuni dan juga laki-laki bertato yang tak lain mantan suami dari Ain itu.


Paman Harits mengantar Nadia ke rumah lamanya di Rangkasbitung. Rencana untuk pabrik ... entahlah, ia belum punya rencana untuk itu. Rumah itu terawat, bersih dan rapih. Ada seorang pekerja yang selalu datang untuk membersihkannya.


"Kamu yakin ingin sendiri saja? Tidak ingin ditemani? Winda atau Rima?" tanya paman Harits sebelum keluar dari mobil.


Nadia menggelengkan kepala, ia benar-benar sedang ingin sendiri untuk saat ini.


"Aku ingin sendiri saja, Kakak bisa kembali ke Jakarta dan katakan pada mereka aku baik-baik saja," jawab Nadia seraya turun dari mobil diikuti paman Harits.


Rumah yang nyaman, tempat teraman dan terdamai yang Nadia miliki. Seorang wanita paruh baya datang menghampiri, ia meletakkan gelas minuman untuk keduanya.

__ADS_1


"Terima kasih, Bu karena sudah bersedia untuk tetap merawat rumah ini," tutur Nadia sembari tersenyum saat bertatapan dengan sosok di depannya.


"Jangan sungkan, Neng. Ini memang mau Ibu untuk tetap merawat rumah ini karena bagaimanapun, bu Sarah sudah sangat baik pada Ibu," sahutnya menunduk sopan.


Nadia tersenyum, "Ibu boleh menempati rumah ini bersama keluarga Ibu. Tinggallah di sini karena aku hanya akan sesekali saja menengok ke sini. Aku tidak berniat menjualnya, rumah ini menyimpan semua kenangan tentang Mamah. Jadi tinggallah di sini, Bu. Bawa semua keluarga Ibu untuk menempati rumah ini nanti," pinta Nadia.


Wajah Ibu di depannya berkaca tak percaya. Ia sungguh tidak menyangka akan diminta tinggal di rumah besar itu.


"Tapi, Neng? Apa tidak apa-apa, kalau Ibu dan keluarga Ibu tinggal di sini dan menempati ruangan yang ada di sini?" tanyanya takut-takut.


"Jangan kamar Mamah karena aku yang akan menggunakan setiap kali datang ke sini," jawab Nadia pasti. Ibu itu menganggukkan kepalanya sembari melipat bibir karena haru.


"Terima kasih, Neng. Terima kasih, Ibu jadi tidak perlu lagi tinggal di kontrakan. Anak-anak pastinya senang tinggal di sini. Terima kasih, Neng Nadia. Neng dan Ibu benar-benar orang yang baik," ungkapnya berkali-kali teramat senang hatinya.


Tinggal di rumah besar itu, sekaligus merawatnya. Tak apa, ia tak perlu lagi tinggal di kontrakan dan pusing mencari uang untuk membayar setiap bulannya. Sungguh nikmat yang tak terduga yang harus ia syukuri.


Paman Harits menemani Nadia hingga sore hari. Ia berpamitan pada wanita itu karena harus kembali ke Jakarta.


"Awasi rumah ini! Laporkan jika ada sesuatu yang mencurigakan," titah paman Harits pada sekelompok orang suruhannya untuk berjaga di sekitar rumah Nadia.


"Baik, Bos!" sahut mereka serempak. Paman Harits bisa meninggalkan kota tersebut dengan tenang. Ia selalu memantau Nadia dari kabar yang disampaikan orang-orang suruhannya.


Nadia menempati kamar Sarah. Di malam hari, Ibu pekerja membawa kedua anaknya ke rumah itu. Suaminya ikut juga bertindak sebagai pengurus taman kecil yang ada di belakang rumah tersebut.

__ADS_1


Nadia merebahkan diri di atas ranjang milik Sarah. Kamar dan seluruh yang ada di dalamnya masih tertata dengan rapi dan bersih. Tak ada satu pun yang berpindah tempat. Malam itu, ia tidur di ranjang yang sama tempatnya dulu bermanja. Kini, ia hanya sendiri. Nadia menyeka air yang menggenang di sudut matanya. Ia rindu sosok Sarah. Rindu pelukan wanita itu.


"Mamah! Aku kangen Mamah," gumamnya dengan mata terpejam. Hatinya rapuh, tubuhnya juga rapuh. Nadia terlelap membawa rindu yang menggebu. Berharap akan bertemu meski hanya mimpi semu. Tak apa, itu saja sudah cukup untuk mengobati rasa rindu yang membelenggu.


__ADS_2