
Pergi tanpa pesan, menghilang begitu saja. Bagai udara yang seenaknya datang dan pergi menyapa. Meninggalkan jejak rindu ingin jumpa. Membekas kesan yang mendalam. Terbesit keinginan untuk bersama selamanya. Takdir terkadang terasa tak adil bagi sebagian orang. Bercerminlah! Apa yang ditanam itulah yang akan dituai.
Nadia kembali tak sadarkan diri, terbaring di sofa pergi berkelana di alam bawah sadarnya. Ikram dan keluarganya berpamitan karena tidak mungkin rasanya mereka akan menginap di rumah itu.
"Sayang! Bangun, Nadia!" Lelaki itu hampir putus asa membangunkan istrinya. Hanya bisa berdoa dalam hati semoga kelopak indah itu cepat terbuka. Ia membuka kerudung yang masih melekat di kepalanya, mengusap keringat yang menempel di wajah, juga ada jejak air mata yang tertinggal di pipinya.
Nadia melenguh pendek, detik berikutnya ia terisak. "Nadia!" Paman Harits berhambur, tapi ia biarkan istrinya itu menangis menumpahkan segala kesedihan yang ia rasakan. Diciuminya wajah Nadia berharap ia akan bisa menerima kenyataan yang menimpa Nafisah.
"Nafisah!" bisik Nadia lirih. Di sekelilingnya berkumpul semua orang, mencemaskan keadaanya. Paman Harits meminta Zahira pada Ibu, ia ingin mendekatkan anaknya itu pada ibunya.
Suara tangis bayi yang tertangkap rungunya, menyentak kesadaran Nadia. Kelopak matanya terbuka, ia duduk seketika teringat pada bayi yang belum ini ia lahirkan.
"Zahira!" sentaknya. Raut di wajah menggambarkan ketakutan, iris matanya bergerak-gerak mencari suara tangis bayi.
Paman Harits beranjak duduk di belakang tubuhnya bersama Zahira yang masih menangis. Direngkuhnya tubuh Nadia menggunakan tangannya yang lain. Wanita itu berbalik, menetes air matanya saat melihat bayi merah dalam gendongan suaminya.
"Anakku!" lirihnya sambil mengambil bayi Zahira dari pangkuan Ayahnya. Ia menimang bayi itu dan memberikan apa yang diinginkan olehnya. Perlahan tangisnya mereda di saat benda kecil menjejali mulutnya.
Bersyukur semua orang, tangisan bayi itu menyadarkan Nadia. Paman Harits memeluknya, menjatuhkan kepala Nadia pada bahunya. Menciuminya sambil mengusap kepala sang putri.
__ADS_1
"Inikah yang dimaksud Nafisah bahwa dia akan menjadi pengganti dirinya waktu itu?" gumam Nadia pelan. Ibu jarinya mengusap-usap pipi Zahira yang mulai terisi.
"Kamu harus ikhlas, sayang. Tak ada yang abadi di dunia ini, semua hanyalah fatamorgana. Ikhlaskan." Paman Harits berbisik di telinga Nadia. Ia tak ingin wanita itu larut dalam kesedihannya.
"Tapi Nafisah masih kecil, Mas!" Masih menolak kenyataan.
"Tak ada yang mustahil bagi Allah, Nadia. Buah kelapa saja tidak memandang tua saat jatuh bahkan yang masih bunga saja berguguran ke bawah. Tiada mustahil bagi Allah, Dia dapat melakukan apa pun hanya dengan berkata Kun Fayakun saja. Allah bisa mengambil nyawa seseorang, tapi juga bisa membiarkannya hidup lebih lama meskipun penyakit menggerogotinya. Kamu harus sadar, jika bukan karena kuasa Allah, tak akan mungkin kamu hidup sampai saat ini setelah penyakit yang kamu derita dulu. Ingatkah? Sangat mudah bagi Allah, bukan? Rasanya tak masuk akal bila dilihat oleh nalar manusia," papar paman Harits semakin lama semakin bijak mengartikan kehidupan.
Nadia menangis, apakah dia kurang bersyukur selama ini? Sadar apa yang diucapkan suaminya itu adalah kebenaran. Tiada mustahil di dunia ini jika Allah sudah berkata Kun, Fayakun!
"Benar, Nak. Kamu harus bisa menerima takdir yang digariskan Allah. Mungkin kepergian Nafisah adalah yang terbaik untuknya dari pada harus menanggung sakit seumur hidup karena paru-paru dalam tubuhnya sudah rusak. Semua yang Allah gariskan tak akan berakhir sia-sia." Ibu ikut menimpali memberikan nasihatnya pada sang menantu.
Nadia mulai bisa menerima, perlahan laju tangisnya mereda. Ia benamkan kepala di bahu suaminya.
Nadia melirik Zahira, bayi itu terpejam dengan mulut yang masih sibuk kembang-kempis menghisap ASI dari kulit dada ibunya. Nadia menegakkan kepala, diciumnya dahi sempit bayi itu lama sekali.
"Maafkan Bunda, sayang. Bunda terlalu hanyut hingga melupakan kamu. Maafkan Bunda." Nadia mendekap tubuh putrinya. Dikecupnya lagi pipi lunak itu penuh penyesalan.
"Minum dulu, Non. Ini bagus untuk membuat hati dan pikiran tenang." Bibi meletakkan sebuah gelas berisi minuman yang masih mengepulkan asap. Aroma khas dari jahe menyeruak menusuk indera pembau semua orang.
__ADS_1
"Terima kasih, Bi." Paman Harits mengangkat gelas itu dan mendekatkannya pada bibir sang istri. Rasa hangat dan menenangkan mengalir dalam tenggorokan ketika cairan itu memasuki mulutnya.
Nadia mengedarkan pandangannya pada semua orang di sana. Winda, Rima, Ibu, Bibi, Ibu pengasuh, anak-anak juga suaminya. Berkumpul di dekatnya. Masih ada orang yang harus dia perhatikan. Terutama Ibu yang mulai menua. Juga anak yang akan tumbuh besar nanti.
"Terima kasih kalian begitu sabar membuatku tersadar. Terima kasih." Nadia tersenyum meskipun ada air yang menetes dari matanya. Namun, seketika ia mengerutkan dahi.
"Lalu, di mana Kak Ain dan keluarganya? Kenapa mereka tidak ada di sini?" Bertanya pada siapa pun yang bersedia menjawab.
"Mereka sudah kembali, sayang. Kamu tidak apa-apa, 'kan?" sahut paman Harits. Nadia menoleh padanya, ia tersenyum dan mengangguk.
"Tidak apa-apa, Mas, tapi aku ingin berziarah ke makamnya. Mas tidak keberatan kita kembali ke sana, bukan?" Menatap penuh harap pada suaminya itu.
Bibir lelaki itu tersenyum, ia mengusap kepala istrinya lembut. "Tidak apa-apa, tapi tidak sekarang karena kamu belum pulih benar. Mungkin setelah empat puluh hari nanti kita semua akan berziarah ke sana. Lagi pula Zahira masih terlalu kecil untuk diajak perjalanan jauh," ucap paman Harits lagi penuh pengertian. Nadia kembali mengangguk.
Kepergian Nafisah bukan dirinya saja yang terpukul dan merasa kehilangan, tapi semua orang yang pernah hidup bersamanya merasakan kesedihan yang sama. Mungkin Ain adalah orang yang paling merasa kehilangan. Baru saja ingin menebus semua waktu yang ia sia-siakan semasa Nafisah hidup, tapi takdir berkehendak lain.
Nadia kembali pada perannya sebagai Ibu baru bagi Zahira. Ia juga tak melupakan tugasnya sebagai istri paman Harits meskipun kesedihan masih tertinggal di hatinya, ia tidak boleh melupakan bahwa ada keluarga yang membutuhkan dirinya. Ada anak yang harus ia perhatikan, ada suami yang harus ia penuhi haknya.
Hari-hari berjalan normal, lambat laun rasa kehilangan mulai memudar dalam hatinya. Celoteh Zahira yang sudah terdengar, membuat hari-hari Nadia dihiasi bunga-bunga yang bermekaran.
__ADS_1
Ia sedang menikmati perannya sebagai Ibu baru. Tak ingin tertinggal masa pertumbuhan si buah hati. Bersama sang suami, ia merawat dengan baik anak yang dititipkan Allah padanya. Ada Ibu dan Bibi juga Ibu pengasuh yang selalu memberinya arahan juga nasihat menjadi Ibu yang baik untuk anaknya.
Belajar dari kisah Ibu yang pernah menelantarkan anaknya, belajar dari Bibi yang ditinggalkan semua anaknya, belajar dari Ibu pengasuh yang di masa tuanya tak pernah bisa memiliki anak.