Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Kembali Ditolak


__ADS_3

"Jadi bagaimana, Nadia? Apa aku bisa menempati ruang kosong di hatimu?" tanya Rai lagi setelah beberapa saat Nadia bungkam tak menyahut. Ia menundukkan wajah sembari menggigit bibirnya sedikit kuat bingung harus menjawab apa.


Helaan napas yang terdengar amat berat dari Rai membuat Nadia mendongakkan kepala. Ia tersenyum saat bertatapan dengan laki-laki itu.


"Jujur saja, untuk saat ini aku masih belum memikirkan soal itu. Aku masih trauma dengan pernikahanku yang baru saja kandas. Bisa dibilang aku masih belum bisa mempercayai siapa pun untuk mengisi hatiku saat ini. Maaf, Rai. Bukan berarti kamu tidak baik, ini hanya diriku saja yang masih belum bisa menerima siapa pun untuk tinggal di hatiku," papar Nadia dengan manik yang berkaca meminta pengertian.


Laki-laki di depannya itu tersenyum, sama seperti biasa. Dia tetap sabar dan tenang menghadapi semua masalah. Darinya-lah Nadia belajar untuk tidak berputus asa pada hidup.


"Rai, kamu adalah orang yang membangkitkan semangatku yang sempat hilang. Kamu adalah orang yang mengembalikan senyumku yang memudar. Aku menganggapmu seperti saudaraku sendiri. Setidaknya untuk saat ini. Ke depannya ... aku pun tidak tahu akan seperti apa? Kamu bisa mengerti, bukan?" lanjut Nadia dengan lemah lembut.


Lagi-lagi Rai tersenyum, seolah-olah mengatakan yang dirinya baik-baik saja meskipun berulangkali ditolak Nadia. Bayangkan, ia pernah menyatakan perasaannya pada Nadia sebelum ia menikah dengan Ikram. Lalu, ditolaknya. Kini, setelah ia terlepas dari Ikram Rai mencoba peruntungannya kembali. Namun, tetap saja Nadia menolak.


"Aku bisa mengerti, aku akan menunggu sampai hati kamu benar-benar terbuka untukku. Nadia ...."


Rai menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia tatap manik Nadia dengan intens.


"Nadia ... aku ... aku sudah mencintaimu jauh dari sebelum ustadz Ikram melamarmu. Hanya saja, aku seperti tidak diberi kesempatan untuk menyatakan perasaanku ini. Juga ... karena aku memang tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya. Baru ini aku memberanikan diri untuk berterus terang padamu. Jujur, aku sangat mencintaimu. Kuharap kamu mempertimbangkan perasaanku ini, Nadia," ungkap Rai dengan susah payah mengatakannya.


Nadia gugup, ia membuang pandangan tatkala Rai menatapnya. Rasanya malu dan minder dengan apa yang baru saja diungkapkan sahabatnya itu.


Nadia menggigit daging dalam bibirnya, berpikir harus seperti apa lagi meminta pengertian dari Rai bahwa dia masih ingin sendiri untuk saat ini.

__ADS_1


Rai menunggu, seperti biasa. Selalu sabar dan tenang. Sementara Nadia bingung menentukan seperti apa perasaannya. Tatapannya terpaku pada riak air yang diciptakan ikan-ikan kecil di permukaannya.


Hatinya masih tak menentu, ia belum tahu pada siapa akan berlabuh cintanya. Apakah pada paman Harits ataukah Rai? Yang pasti, untuk saat ini Nadia masih belum menginginkan hal tersebut. Ia masih ingin sendiri sembari memikirkan apa yang akan ia lakukan untuk ke depannya.


"Aku tahu, Rai. Ini juga berat untukku, tapi aku benar-benar belum siap menerima siapa pun untuk saat ini. Aku takut kalau aku tetap memaksakan, itu tidak akan berakhir baik seperti yang sudah aku alami sebelumnya. Aku tidak ingin hal yang seperti itu terjadi lagi karena aku terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan. Mohon pengertianmu, Rai. Beri aku waktu untuk memikirkan semuanya. Apa bisa?" pinta Nadia dengan sangat.


Sorot matanya yang berkaca, menandakan ia masih bersedih dengan semua kejadian yang menimpanya. Nadia butuh waktu untuk mengobati trauma yang diberikan Ikram padanya. Tak ingin lagi salah mengambil keputusan, Nadia lebih memilih untuk menyendiri beberapa waktu lagi.


Rai membuang napas panjang untuk ke sekian kalinya. Kali ini pun ia harus mengalah pada waktu. Sampai kapan waktu akan terus menjauh darinya? Sampai kapan ia harus menunggu waktu yang selama ini ia nanti?


Rai menundukkan kepala, menguatkan hatinya yang kembali mendapatkan penolakan dari wanita yang ia cintai. Tak apa, mungkin tinggal beberapa waktu lagi ia harus menunggu. Setelah itu, semua jawaban yang ia harapkan akan ia dapatkan. Mungkin Rai belum berusaha dengan maksimal untuk dapat meluluhkan hati Nadia.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Kamu benar, sesuatu yang dipaksakan tidak akan berakhir baik. Aku akan menunggu lagi sampai kamu benar-benar bisa menerima perasaanku, Nadia. Aku harap kamu bisa memikirkan apa yang aku katakan tadi. Aku berharap banyak padamu," ungkap Rai dengan sangat.


Ia beranjak membuat Nadia mendongakkan kepala untuk dapat melihatnya.


"Mau aku antar?" tawar Rai sembari menunjuk mobil yang ia bawa.


Nadia menggeleng sebelum menjawab, "Aku pulang sendiri." Ia menunjuk sepeda motornya yang terparkir tak jauh darinya.


Rai mengangguk-anggukkan kepalanya setelah melihat motor yang dibawa Nadia.

__ADS_1


"Baiklah, aku pulang lebih dulu. Jangan terlalu larut berada di sini. Angin malam tidak bagus untuk kesehatan," nasihatnya sebelum berbalik dan memasuki mobilnya. Ia melambaikan tangan dan menekan klakson sebelum melajukan mobilnya.


Nadia tersenyum, ia ikut melambaikan tangan melepas Rai pergi. Jadilah sendiri. Nadia melirik jam di tangannya, lantas menjatuhkan pandangannya pada sekeliling Balong. Semakin malam semakin ramai. Banyak pasangan muda-mudi yang menghabiskan waktu di tempat tersebut. Pantaslah tempat itu menjadi tempat kenangan karena memang banyak kenangan yang tertuang dalam suasana malam di sana.


Nadia beranjak, melihat Nadia yang bergerak, orang-orang suruhan paman Harits pun sigap beranjak. Bersiap mengawal Nadia meskipun secara sembunyi-sembunyi.


Nadia meninggalkan Balong dan kembali ke rumah. Lelah, ia langsung menuju kamar dan merebahkan diri di ranjang mamahnya.


"Sial!" umpat paman Harits setelah mendapat laporan dari orang-orangnya tentang Nadia, "bocah itu lagi. Siapa sebenarnya bocah itu?" lanjut paman Harits tak suka dengan kedekatan Nadia dan Rai.


"Aku ingin kalian menyelidiki siapa laki-laki itu? Berikan informasi secara lengkap padaku dan ingat! Jangan menggunakan waktuku terlalu banyak!" titah paman Harits pada orang-orangnya yang bertugas mengawasi Nadia.


Ia menutup sambungan telepon, hatinya tiba-tiba tidak merasa tenang. Ia gelisah, firasat buruk menyeruak. Ada apa dengan Nadia? Bahaya apa yang sedang mengintainya?


Tak ingin menunda, paman Harits bergegas keluar rumah. Ia harus kembali ke kota itu dan memastikan Nadia baik-baik saja. Paman Harits meninggalkan kediamannya tanpa berpamitan pada semua orang. Ia harus cepat dan tidak boleh terlambat.


Jalanan yang sedikit lengang, membuat paman Harits bisa memacu mobil melebihi batas kecepatan normal. Semakin dekat, hatinya semakin gelisah.


"Nadia, apa yang terjadi padamu? Lindungi dia ya Allah! Jangan sampai terjadi apa pun padanya. Kumohon!" gumam paman Harits dengan sangat. Detak jantungnya tak karuan, membuat rongga dadanya menjadi sesak.


"Tunggu aku, Nadia!"

__ADS_1


__ADS_2