
Malam itu setelah membaca pesan dari Nadia, Ikram beranjak meninggalkan rumah dan Ain yang berteriak-teriak memanggil Ikram hingga membangunkan kedua anaknya.
"Umi! Umi kenapa?" teriak Nafisah dan Bilal yang berhamburan menuju kamar Ain.
Wanita itu menoleh pada mereka dengan penampilan yang berantakan. Rambut acak-acakan, dada naik turun karena emosi. Baru kali ini Ikram pergi tanpa pamit padanya dan tidak mempedulikannya.
Ia berjongkok memeluk kedua anaknya sembari menangis. Bilal dan Nafisah saling menatap lalu menggeleng tak tahu.
"Ada apa, Umi?" tanya Bilal pada Ain yang tersedu dalam pelukan.
"Tidak, sayang. Tidak apa-apa," sahut Ain mencoba tegar di hadapan mereka.
"Memangnya Abi ke mana, Mi?" Nafisah ikut bertanya, ia melepas pelukan dan menatap mata Ain yang memerah.
"Abi pergi ke rumah istri keduanya. Ia bahkan tidak peduli pada panggilan Umi, Abi kalian sudah tidak peduli lagi pada Umi," ucap Ain mengadu pada anaknya.
Namun, keduanya hanyalah anak kecil yang tidak tahu harus apa saat dihadapkan dengan permasalahan pernah dewasa.
"Mungkin Bunda sakit lagi, Umi," celetuk Bilal yang kian menyulut emosi Ain.
"Bundamu itu sehat, tidak sakit. Dia memang ingin merebut Abi kalian dari Umi. Ingin menjauhkan Abi dari Umi juga kalian," jawab Ain lagi dengan emosi.
Ia bahkan tak segan menunjukkan kemarahannya di depan Bilal dan Nafisah. Padahal, Ikram tidak melakukan apa pun terhadapnya. Ia pergi karena kesal Ain terus-menerus membujuknya untuk menikah lagi.
"Umi sepertinya harus istirahat, mungkin Umi kecapean. Biar kami temani Umi tidur," ucap Bilal seraya mengajak Ain memasuki kamar dan merebahkan diri bersama keduanya.
Dia diapit Bilal dan Nafisah memeluk kedua buah hatinya yang sudah lama tak ia sentuh.
Sementara Ikram pergi ke rumah Nadia dengan perasaan yang tak menentu.
"Assalamu'alaikum, Nadia!"
__ADS_1
Ikram mengetuk pintu rumah Nadia memanggil-manggil nama istri keduanya itu agar ia segera membukakan pintu.
Nadia melenguh, ia membuka mata dan memastikan telinganya tak salah mendengar.
"Mas Ikram?" Keningnya mengernyit. Ia beranjak bangun dari tempat tidur dan membukakan pintu. Piyama panjang dan kerudung instan ia kenakan untuk menyambut suaminya itu.
"Mas, ada apa malam-malam ke rumah?" tanya Nadia terheran-heran. Tak ada jawaban dari laki-laki yang terus menatapnya tajam itu. Ikram masuk dengan tergesa menutup pintu dan menguncinya. Ia menarik Nadia ke kamar dan melakukan apa yang ingin dia lakukan bersama wanita itu.
"Ada apa, Mas?" Nadia bingung dengan sikap Ikram malam itu. Ia datang dan tanpa berkata apa pun mencumbui Nadia dengan tergesa.
"Mas hanya ingin menghabiskan malam denganmu, Nadia. Tolong, jangan menolak!" pinta Ikram dengan suara yang parau. Ia kembali mencumbu wanita itu dengan sentuhan lembut yang liar.
"Mas!" lirih Nadia saat Ikram menggigit bagian sensitif tubuhnya. Nadia tak menampik ia pun menginginkannya. Nadia hanyut oleh sentuhan-sentuhan yang dilakukan Ikram. Tangannya merayap menyapu setiap permukaan kulit lembut Nadia.
Hidungnya tak henti mengendus, bibirnya pun ikut menyesap apa yang diinginkannya. Nadia sungguh terlena. Permainan itu berlangsung tiga puluh menit lamanya. Cukup memuaskan Nadia.
Ikram membungkus tubuh mereka dan memberikan kecupan di dahi. Ia mendekap tubuh Nadia dengan erat. Membenamkan wajah di ceruk leher wanita itu dengan nyaman. Tangannya melingkar di perut Nadia tak terusik sama sekali.
"Mas kenapa?" Nadia mengusap tangan Ikram yang melingkar di perutnya. Bukannya menjawab, Ikram mengeratkan lingkaran tangannya dan semakin membenamkan wajah di leher Nadia.
"Nadia ... apa kamu yakin dengan keputusan kamu?" tanya Ikram dengan suara terbenam. Hembusan napas hangatnya menerpa kulit Nadia menimbulkan sensasi geli yang tak biasa.
"Aku sudah memikirkan hal itu siang dan malam, Mas. Kutelan, kumuntahkan, kutelan lagi dan kumuntahkan lagi hingga benar-benar menjadi sesuatu yang bulat dan membentuk keyakinan." Nadia merubah posisi.
Memiringkan tubuh menghadap Ikram dan tersenyum. Wajah keduanya bertemu, Nadia meletakan tangannya di pipi Ikram.
"Nikahi dia, Mas. Siapa tahu Mas akan mendapatkan anak lagi dari rahimnya. Biar bayinya aku yang urus, aku tidak apa-apa. Mas jangan terlalu memikirkan aku-"
"Lagi pula, tujuan kak Ain itu baik. Mengangkat kehormatan seorang janda yang selalu dicemooh. Semoga dengan Mas menikahinya, derajatnya di mata masyarakat akan terangkat hingga tak lagi menjadi gunjingan," lanjut Nadia masih dengan senyum yang sama.
Biarlah Ikram menikah, ia pun sudah membuat keputusan sendiri. Bukannya tak sakit, tapi lebih sakit yang Ain rasakan saat Ikram dengan tiba-tiba meminta izinnya untuk menikah lagi.
__ADS_1
Ikram tak menyahut, ia menarik tubuh Nadia dan membenamkan di dadanya. Ikram menangis dalam diam. Tak pernah menyangkan Nadia akan begitu rela ia menikah lagi.
Apa pun, asalkan jangan meminta perceraian darinya. Ikram hanya ingin bersamanya. Ia merasa Nadia adalah tanggung jawabnya seumur hidup.
Malam itu, Ikram dan Nadia menghabiskan waktu bersama. Melepas rindu yang selalu menggebu meminta dituntaskan.
"Mas, aku mau ke pabrik, ya," pamit Nadia di pagi hari. Keduanya sedang menyantap sarapan yang dibuat Nadia sendiri.
"Mas antar," sahut Ikram tak lagi ingin menutupi perasaannya pada Nadia.
"Mas tidak ada jadwal mengajar hari ini?" Nadia ikut duduk dan mulai memakan sarapannya.
"Kosong, kelas akhir sedang persiapan ujian," jawab Ikram lagi.
Nadia tersenyum, lantas mengangguk. Mungkin Ikram ingin meluap,kan kekesalannya pada Ain. Bentuk protes atas sikap Ain yang keras.
Ikram menggandeng tangan Nadia keluar rumah, ia bahkan tidak pulang ke rumah. Di bawah tatapan Ain Ikram mengajak kedua anaknya yang diantar Ain ke depan untuk berangkat bersama.
Ain yang marah, kesal dan kecewa, bertambah meluap amarah dalam dadanya. Ikram membukakan pintu mobil untuk Nadia, ia juga membantu anak-anaknya masuk. Lantas meninggalkan halaman pondok tanpa melirik Ain yang berdiri mematung di teras.
Hanya Nadia yang menyapa lewat senyuman dan anggukkan kepala. Seolah sengaja membuat Ain dibakar api cemburu. Kalian sedang menuang minyak di atas bara.
Kedua tangan Ain terkepal, matanya memerah dan panas, wajahnya menghitam. Ia masuk ke rumah, pintu dibantingnya dengan kuat. Dadanya naik-turun seiring napas yang memburu.
"Teganya kalian! Awas saja kamu, Nadia! Bersenang-senanglah hari ini. Esok kamulah yang akan aku buat menderita. Aku tidak sudi kamu bahagia dan tertawa di atas air mataku!"
Ain berjalan terhuyung-huyung. Tubuhnya jatuh berdebam di atas sofa. Ia menangis, meraung, sembari meremas sofa yang menjadi tumpuan tubuhnya jatuh. Sungguh, ia tidak bisa menerima sikap Ikram dan Nadia pagi ini. Hatinya yang sakit, kian tertusuk dan menjadi luka menganga tak terobati.
"Kalian jahat!" teriaknya menggema di seluruh rumah.
"Kalian tidak pernah memikirkan perasaanku! Kalian jahat!" Ia berteriak lagi, lalu menangis pilu.
__ADS_1
"Kenapa kamu tega, Bi? Kamu bilang akan mencintaiku selamanya. Kamu bilang akan membuatku bahagia. Kamu bilang tidak akan menyakiti aku, nyatanya ... semua itu hanya angan-angan belaka. Kamu menoreh luka di hatiku, kamu mengoyak rasa dalam diriku. Abi ... bukankah kamu berjanji akan tetap membuatku tersenyum? Ke mana suamiku. Ya Allah ... kembalikan suamiku seperti dulu lagi."
Ain meratap dalam tangis yang tergugu. Tersedu seorang diri tak ada yang menemani.