
"Kalau begitu, ceraikan Umi!"
Ain terkejut sembari menutup mulutnya. Hampir saja dia mengucapkan kalimat itu. Beruntung hanya terucap dalam hatinya saja. Ia tidak bercerai dari Ikram. Tidak! Ikram tidak boleh menceraikannya.
Bodoh kamu, Ain. Kamu hampir saja meruntuhkan duniamu sendiri.
Ain mengumpati dirinya sendiri yang hampir saja meminta cerai dari Ikram. Beruntung, kalimat itu tidak sampai diucapkan lisannya.
"Ada apa, Mi?" Ikram memiringkan kepala melihat Ain yang menutup mulutnya. Ain mendengus dan kembali pada ekspresi kesal. Ia membanting diri lalu menggelung tubuhnya dengan selimut.
Ikram berdecak lidah, entah apa yang sedang merasuki Ain hingga sikapnya malam ini begitu aneh bagi Ikram.
Laki-laki itu beranjak ke kamar mandi, mengambil wudu. Tanggung sudah terbangun.
"Mi, shalat tahajjud bareng, yuk!" ajak Ikram menggoyahkan tubuh Ain yang tergulung selimut.
Ain hanya mengerakkan tangannya meminta Ikram untuk tidak menyentuhnya. Ikram menghela napas, ia mengambil sajadah dan menggelarnya.
Shalat sunnah tahajjud ia dirikan untuk membuat hatinya tenang. Berdzikir hingga menjelang fajar, lalu berangkat ke masjid sebelum subuh datang. Tak lupa ia membangunkan Bilal mengajaknya shalat jamaah di masjid.
Nadia yang sudah terbangun pun tidak ingin tertinggal shalat jamaah subuh. Berdiri bersama para santri perempuan di barisan belakang. Ia bahkan ikut bertadarus berjamaah bersama anak-anak santri itu.
Pagi itu, entah kenapa Nadia ingin berdiam diri dulu di masjid sejenak. Ia berbincang dengan beberapa santri perempuan tentang banyak hal.
"Kalian bisa bahasa arab? Wah ... hebat sekali!" kagum Nadia pada ketiga orang santri yang berbincang dengannya.
"Apa Kakak tidak tahu, Abi itu sangat mahir bahasa arab," seru salah satu dari mereka. Ia menatap kedua temannya meminta dukungan.
"Benar, Kak. Abi, 'kan, yang mengajar kami bahasa arab. Nahwu, shorof, balaghoh, mantiq, dan sejenisnya," sahut yang lain begitu membanggakan pimpinan pondok mereka.
"Oya? Kakak tidak tahu soal itu karena selama ini Abi tidak pernah berbicara bahasa arab dengan Kakak," ucap Nadia binar kekaguman jelas nampak di matanya. Betapa ia tidak tahu apa-apa selama ini karena Nadia memang tidak pernah ke pondok bahkan berbincang dengan santri saja ia segan. Ini adalah yang pertama kalinya untuk Nadia.
"Iya, Kak. Ngomong-ngomong umur Kakak berapa? Kok, kelihatannya masih muda gitu, ya?" tanya salah satu dari mereka dan diangguki yang lain.
__ADS_1
"Mmm ... berapa, ya? Kakak tidak hitung, mungkin ... tiga puluhan," jawab Nadia asal.
"Tiga puluh? Serius, Kak?" seru mereka dengan mata yang membelalak lebar. Nadia mengangguk sambil mengulum senyum.
"Kenapa?" tanya Nadia terheran-heran melihat ekspresi wajah mereka.
"Tidak seperti orang berumur tiga puluh, Kakak seperti orang yang baru berumur dua puluhan. Pasti perawatannya mahal, ya?" celetuk mereka iri. Ketiganya memegangi wajah sendiri tak menampik menginginkan wajah putih bersih seperti milik Nadia.
"Murah, kok, cuma satu. Wudu," sahut Nadia yang kembali membuat mata mereka membelalak.
"Nadia!" Anak-anak santri itu baru saja hendak membuka mulut mereka, tapi urung saat mendengar suara Ikram memanggil Nadia.
Keempat orang yang sedang bergosip ria itu pun menoleh ke arah belakang mereka.
"Abi!" Ketiga santri yang berbincang dengan Nadia beranjak mendekati Ikram. Mereka menyalami pimpinan pondok itu seraya berpamitan pada Nadia.
"Mas!" Nadia ikut beranjak mendekati Ikram dan Bilal.
Nadia pergi sendirian seperti biasa. Ikram tersenyum menatapnya dari jendela. Ia akan memberi kejutan padanya. Ikram berencana datang ke pabrik Nadia tanpa memberitahu istri keduanya itu.
Ain yang melihat Ikram memandang Nadia, berdecih tak suka. Ia akan merajuk pada Ikram sampai laki-laki itu menyetujui keinginannya.
Ain pergi membuang muka saat Ikram berbalik dan tersenyum padanya. Hanya menghela napas yang bisa dilakukan Ikram untuk menekan emosi dalam dada. Ia duduk di kursi membaca buku pelajaran untuk materi yang akan disampaikannya pada anak-anak nanti.
Ain bahkan lupa membuatkannya kopi, apa dia sengaja? Entahlah, tapi Ikram terus-menerus melirik arah dapur berharap Ain akan muncul dengan secangkir kopi ditangannya. Namun, satu menit, dua menit, sampai lima menit menunggu Ain tak kunjung muncul.
Ikram kembali menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Mengurai emosi yang meluap-luap meminta dimuntahkan.
Astaghfirullah al-'adhiim.
Kalimat itu ia ulang-ulang dalam hati agar syetan tidak ikut campur dalam urusan emosinya.
"Umi pergi dulu, Bi," pamit Ain sembari mengambil tangan Ikram dan menciumnya asal.
__ADS_1
"Lho, Mi, kopi buat Abi mana? Umi lupa buat?" tanya Ikram dengan wajah bingung yang kentara. Penampilan bahkan Ain bahkan sedikit berbeda, hampir menyamai Nadia.
"Umi tidak lupa. Umi sedang protes pada Abi karena tidak mau menuruti keinginan Umi," sahut Ain gamblang. Ia berbalik tanpa ingin mendengar Ikram berbicara.
Laki-laki itu menggelengkan kepala sembari terus membaca kalimat istighfar dalam hatinya. Tak lama, muncul Bilal dan Nafisah yang hendak berangkat sekolah. Ikram mengantarnya ke gerbang menunggu bus jemputan mereka.
Tinggallah ia sendiri, kedua istrinya pergi dengan urusan masing-masing. Ikram lantas berbalik dan menuju kelas. Tak sengaja telinganya mendengar selentingan anak-anak santri putri tentang Nadia. Ia tersenyum. Anak-anak itu bukannya membicarakan keburukan, tapi justru mengatakan hal-hal yang positif tentang istri keduanya itu.
Usai mengajar, ia menjemput Bilal dan Nafisah di sekolah membawa serta kedua anaknya menuju pabrik Nadia. Ikram tidak tahu bahwa Nadia tidak ada di sana, melainkan di Rumah Sakit sedang menjalani proses cuci darah.
"Abi, kita akan ke mana?" tanya Nafisah saat sadar jalan yang ditempuh bukanlah jalan menuju arah pulang.
"Kita akan ke pabrik Bunda. Kalian mau tahu, 'kan, bagaimana pabrik Bunda kalian?" jawab Ikram melirik kedua anaknya yang duduk di kursi sampingnya mengemudi.
"Yeay! Kita ke pabrik Bunda!" seru keduanya dengan riang.
"Bunda pasti kaget lihat kita tiba-tiba datang," celetuk Nafisah sembari membayangkan Nadia akan terkejut dengan kedatangan mereka.
"Kamu benar, Bunda pasti kaget," timpal Bilal. Keduanya tertawa senang membuat Ikram ikut tersenyum melihatnya.
Mobil Ikram memasuki kawasan pabrik konveksi milik Nadia. Suara-suara mesin langsung menyambut kedatangan mereka.
"Besarnya pabrik milik Bunda," seloroh Bilal sembari mengedarkan pandangan ke seluruh lokasi pabrik.
Sarah yang tak sengaja melihat, seketika dilanda kepanikan karena pasti menantunya itu akan menanyakan Nadia.
"Hubungi Nadia, katakan padanya ada Ikram datang ke pabrik," titahnya pada sekretaris Nadia di kantor.
"Baik, Bu!" sahutnya seraya mengirimkan pesan singkat pada Nadia.
Nadia yang masih berada di ruangan seketika terlonjak saat ada pesan masuk dari sekretarisnya perihal Ikram.
[Mbak Nadia, ada Pak Ikram ke pabrik.]
__ADS_1