
Hari ke hari Nadia memperhatikan. Sikap Ruby semakin dingin dan tak acuh pada kehadirannya. Nadia merasa terabaikan, hatinya nyeri tak karuan. Setiap kali mencoba berbicara, dengan berbagai alasan untuk menghindar Ruby selalu menolak berbicara.
"Win, sejak kapan Ruby tahu kalau orangtuanya di penjara?" tanya Nadia tak bersemangat. Ruby adalah anak sekaligus sahabat dalam hidupnya. Hanya dia yang tahu semua rahasia yang disimpan Nadia selama hidup dengan abinya, Ikram. Lalu, kini dia seolah menjauh tak ingin lagi mengenal sosoknya.
Perih, hatinya serasa diremas, diperas dan dililit. Seperti inikah perasaan Ain tatkala Ruby dan kedua anaknya yang lain lebih memilih orang lain dari pada dirinya yang notabene adalah ibu kandung mereka.
"Sudah seminggu ini, Mbak. Dia tidak sengaja mendengar percakapan anak-anak yayasan. Setelah itu, sikapnya mulai berubah. Sempat dia ingin pergi seorang diri, tapi tidak ada yang mengizinkan karena bagaimana pun dia belum berpengalaman untuk bepergian seorang diri." Winda menelisik wajah sedih Nadia. Ia tahu bagaimana perasaan wanita di sampingnya itu terhadap ketiga anak tirinya.
Nadia terdiam, untuk beberapa saat hanya tarikan napas mereka saja yang terdengar. Juga deruan angin yang menerbangkan debu dan dedaunan kering.
Satu hentakan napas dilakukan Nadia sebelum kembali bertanya, "Bagaimana dengan kedua adiknya? Apa mereka juga tahu?" Lewat sudut matanya Nadia melirik Winda.
"Bilal tahu dan dia menolak sikap Ruby. Sedangkan untuk Nafisah, dia masih terlalu kecil untuk bisa memahami situasinya. Bilal bertentangan dengan pemikiran Ruby," sahut Winda lagi. Ia menunduk memainkan butiran debu menggunakan kakinya.
"Bagaimana menurut kamu, Win? Apa aku harus mencabut tuntutanku? Aku tidak bisa melihat anak itu murung setiap hari." Nadia ikut menunduk menatap kakinya yang tanpa alas menapak rumput.
Helaan panjang dilakukan Winda, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ia tidak rela penjahat yang telah merenggut nyawa ibu mereka diampuni sebelum menjalani hukumannya.
"Aku tidak tahu. Aku tidak tahu harus apa? Saat melihatnya, aku teringat Ibu yang jatuh tak sadarkan diri. Aku belum bisa memaafkan dia, Mbak. Aku belum bisa untuk membiarkan dia hidup bebas dengan tenang." Winda tersedu, kejadian saat Sarah tiba-tiba jatuh dan tak sadarkan diri membayang di pelupuk matanya.
Rasanya baru kemarin kejadian itu ia alami. Melihat Ibu yang telah membesarkannya kesakitan saat meregang nyawa, Winda tak dapat menahan diri untuk tidak mengutuk Ikram. Winda menangis, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Nadia yang juga merasakan kesakitan yang sama, mencoba untuk tetap tegar. Ia memeluk tubuh Winda dan membenamkannya di dada. Winda semakin menjadi, menangis sesenggukan. Membuat sepasang mata yang mengintip, ikut berair karenanya.
__ADS_1
"Aku kangen Ibu, Mbak. Aku kangen Ibu," rengek Winda yang menjebol pertahanan Nadia. Ia ikut menangis. Rasa rindu yang diungkapkan Winda ia pun merasakannya.
"Aku juga kangen Ibu," lirih pemilik sepasang mata yang mengintip tak lain adalah Rima.
"Aku juga merindukan Mamah, sama seperti kalian. Aku rindu Mamah." Tangis Nadia menguat. Isak yang keluar terdengar menyesakkan dada. Rima terduduk lemas di tempatnya mengintip. Bayangan Ibu yang merawatnya ketika sakit, hadir dengan senyum hangat di wajahnya.
Rima memeluk tubuhnya sendiri, memeluk bayangan Sarah yang tak lagi tergapai olehnya.
"Ibu!" Suara rintihannya memilukan. Sekalipun Sarah hanya orang tua angkat mereka, tapi kasih sayangnya tak beda seperti ibu kandung.
Sepasang mata lain ikut menitikan air mata mendengar sekaligus melihat kesedihan mereka. Ia mengusap air matanya, dan berbalik pergi meninggalkan tempatnya menguping.
"Kakak dengar, bukan? Apa yang kita rasakan jauh ... jauh dari yang mereka rasakan. Kita masih bisa bertemu dan melihat Umi juga Abi, tapi Bunda dan kedua adiknya itu sudah tak lagi dapat merasakan sentuhan hangat orang tua mereka. Mendengar suaranya memanggil namanya saja, mereka sudah tidak bisa lagi. Mungkin itu cara Allah untuk menyadarkan Umi dan Abi dari kesalahan mereka, Kak. Tolong jangan begini? Aku yakin Kakak juga bisa merasakan kasih sayang Bunda yang besar terhadap kita," cetus Bilal yang ternyata juga ikut mendengar obrolan mereka.
"Apa Kakak masih mau bersikap egois? Setiap kejahatan pasti ada hukumannya untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Kita hanya perlu mendoakan Umi dan Abi semoga selama mereka menjalani masa hukuman, mereka akan sadar dan berubah. Bukankah itu tugas kita sebagai anak?" ungkap Bilal lagi terlihat lebih dewasa dari pada Ruby.
Kakak perempuan di hadapannya itu menangis, ia menutup wajahnya dan berlari menjauh dari Bilal. Ruby masuk ke kamarnya mengunci pintu dan membanting tubuhnya sendiri di atas kasur.
Sementara Bilal, masih berdiri melihat Nadia dan Winda yang masih berpelukan sambil menangis. Ia ikut berbalik dan mendapati Nafisah yang sedang berdiri menghadapnya. Bilal menghampirinya, ia merangkul bahu kecil itu dan mengajaknya pergi.
Nadia mengedarkan pandangan, perasaannya mengatakan ketiga anak itu ada di sekitarnya dan mengawasinya. Sayang, saat ia menoleh hanya ada debu yang berterbangan karena tiupan angin.
Nadia mengurai pelukan, ia mengusap air mata Winda sebelum tersenyum pada adik angkatnya itu.
__ADS_1
"Kalau kita kangen, kita hanya tinggal pergi mengunjungi makam mereka. Kak Harits mengajakku untuk berkunjung ke sana, kalian mau ikut?" ungkap Nadia yang menerbitkan senyum di bibir Winda.
"Keluarlah, Rima! Aku tahu kamu juga di sana!" Suara Nadia membuat Rima beranjak. Ia mengusap air matanya sebelum keluar dari persembunyiannya.
Matanya sembab habis menangis, ia juga masih sesenggukan. Melangkah gontai mendatangi tempat Nadia dan Winda duduk. Nadia mengusap punggungnya pelan.
"Kita sama-sama pergi mengunjungi makam orang tua kita." Nadia tersenyum, sebagai anak tertua ia harus lebih kuat dari kedua adiknya itu.
Winda dan Rima sama-sama mengangguk. Mereka beranjak karena hari telah terik. Adzan Dzuhur berkumandang menggema di seluruh dunia. Menyeru umat manusia untuk memenuhi panggilan Tuhannya.
Paman Harits belum terlihat batang hidungnya sampai Dzuhur terlewat. Nadia menunggu dengan gelisah, ingin cepat-cepat pergi mengunjungi kedua orang tuanya.
Ia berlari keluar rumah saat suara deruman mobil milik paman Harits terdengar rungunya. Alis paman Harits berkerut saat melihat Nadia yang berdiri di teras menunggu kedatangannya.
"Kamu menungguku?" tanyanya bingung. Selama hampir dua Minggu ini, Nadia belum pernah bertatapan langsung dengannya.
Nadia mengangguk malu-malu. Rona di pipinya memerah dan terasa hangat menjalar ke seluruh pembuluh darahnya.
"Ada apa?" Langkah paman Harits berlanjut diikuti Nadia yang berjalan tertunduk di belakangnya.
"Mmm ... kapan kita akan mengunjungi orang tuaku?" tanyanya bergetar malu.
Senyum paman Harits terbit dengan cerah. Ia berhenti dan berbalik menghadap Nadia.
__ADS_1
"Sekarang juga!"