Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Nadia Pergi


__ADS_3

"Seharusnya Umi tidak mengatakan itu pada Nadia? Bagaimana kalau Umi ada di posisinya? Umi juga pasti merasakan sakit yang sama seperti Nadia. Tolong, Mi ... rubah sikap Umi terhadapnya, Nadia tidak pernah menyakiti kita. Seharusnya Umi bisa melihat kebaikan-kebaikan yang dia lakukan bukan terus-menerus melihat dan mencari kesalahan-kesalahannya," ucap Ikram yang kembali menasihati Ain di dalam kamar mereka.


Namun, Ain tetaplah Ain yang teguh pada sakit hatinya dan menolak kebahagiaan Nadia. Dalam hati ia merasa puas karena telah berhasil membuat wanita itu menangis. Ia memandang berani Ikram yang berdiri di depannya.


"Memang kenyataannya begitu, kok. Apa lagi?" sahut Ain dengan nada ketus yang membuat Ikram semakin geram. Ia tak ingin disalahkan untuk itu.


"Terserah Umi, Abi capek menasihati Umi. Kalau Umi terus-menerus seperti ini, Abi tidak tahu akan seperti apa nasib rumah tangga kita ke depannya." Ikram lelah. Ia berniat meninggalkan Ain di kamar. Keluar rumah sepertinya akan dapat mengurangi kepenatan.


Ain mendongak cepat mendengar kata-kata Ikram. Ia tidak bisa menerima kekalahan.


"Apa Abi berniat meninggalkan Umi? Apa Abi mau menyalahi janji Abi pada mendiang orang tua kita? Ingat, Bi! Abi sudah berjanji pada mereka akan selalu menjaga Umi dan menyayangi Umi. Apa Abi lupa itu?" Ain meradang, ia berdiri dari tempatnya duduk dan menarik tangan Ikram yang hampir saja keluar kamar.


Ikram yang sudah lelah, tetap pergi dari kamar meninggalkan Ain sendirian. Ia tak ingin terus-menerus berdebat dengan wanita itu.


"Abi lelah, Abi butuh menenangkan diri," katanya seraya melepas tangan Ain dan melenggang pergi.


"Abi! Abi mau pergi ke mana!" teriak Ain diikuti air matanya yang jatuh tatkala Ikram tak lagi menoleh padanya.


"Mas?" Yuni memanggil Ikram pelan. Melihat bayi yang baru saja dilahirkan itu, ia tidak tega meninggalkannya. Ikram mendekati Yuni dan berbaring di samping bayi tersebut. Bagaimanapun kelakuan ibunya, bayi tidaklah bisa disalahkan. Ia tidak tahu apa pun yang diperbuat ibunya.


Yuni ingin berbicara lagi, tapi urung saat melihat Ikram memejamkan mata di samping bayinya.


"Mas tidak ingin melihat mbak Nadia?" tanya Yuni pada akhirnya. Ia terpikir Nadia pasti terpukul oleh kata-kata Ain barusan. Mendengar itu, Ikram beranjak. Benar juga.


Ia tak lagi bicara, gegas keluar rumah menuju rumah Nadia.


"Di mana Bunda?" tanya Ikram pada Ruby yang menangis di depan rumah Nadia. Ruby yang melihat Ikram, berlari menubruk tubuh abinya sambil menangis.


"Bunda pergi, Abi. Bunda pergi aku tidak tahu ke mana, Bi?" adu Ruby yang terus terisak dalam pelukan Ikram.

__ADS_1


"Abi telepon Bunda, ke mana Bunda pergi? Aku takut Bunda kenapa-napa, Bi!" Ruby memandang wajah kusut Ikram dengan air matanya yang berderai. Ia tak tahan. Saat mengejar Nadia ke rumahnya, wanita itu sudah tak lagi ada di sana.


"Ayo, kita periksa rumahnya!" Ikram mengajak Ruby memasuki rumah Nadia. Di dalam Nafisah dan Bilal pun sedang menangis. Nafisah mendekap boneka pemberian Nadia sambil memanggil-manggil Nadia.


Ikram memeriksa setiap sudut rumah itu. Ia memeriksa lemari pakaian Nadia, masih utuh. Semuanya masih menggantung di sana. Tak ada yang hilang dari rumah Nadia kecuali dirinya.


Ikram duduk di antara ketiga anaknya, ia mengeluarkan ponsel dan melakukan panggilan. Sayang, teleponnya tak bersambut. Ikram mengulangi hingga beberapa kali, tetap saja nomor yang dia tuju sedang berada di luar jangkauan.


"Bagaimana, Bi?" tanya Ruby masih tersedu sedan.


"Tidak aktif. Nomor Bunda kamu tidak dapat dihubungi," jawab Ikram dengan lesu.


"Bunda tadi pergi sambil menangis, aku melihatnya. Bunda pergi, Abi!" ucap Nafisah yang juga menangis sedih.


"Astaghfirullah, Nadia!" sesal Ikram sembari mengusap wajahnya kasar. Ia tidak tega mendengar suara tangisan ketiga anaknya. Melihat mereka bersedih ia memeluk ketiganya untuk menenangkan.


"Sudah, Abi yakin besok Bunda pasti pulang," ucap Ikram, "sekarang sebaiknya kalian tidur karena sudah malam," lanjutnya lagi mengusap punggung ketiga anaknya.


"Abi mau menemani tante Yuni, kasihan dia dan bayinya sendirian. Umi kalian ... ah, biarkan. Kalian tidur di sini saja," ucap Ikram seraya menutup pintu rumah Nadia dan kembali menemani Yuni.


Ruby mengajak kedua adiknya untuk ke kamar Nadia. Berbaring saling berpelukan satu sama lain dengan Nafisah yang berada di tengah-tengah.


"Sudah, Nafisah, besok Bunda pasti pulang." Ruby menenangkan adik bungsunya. Ia ingat pesan Nadia, untuk saling menguatkan satu sama lain saat ada masalah. Perlahan tangis kesedihan menghantarkan mereka pada tidur yang lelap.


"Mas, kenapa kembali? Bagaimana dengan mbak Nadia?" tanya Yuni saat melihat Ikram yang kembali masuk ke kamarnya. Ia belum menyahut, berbaring di tempatnya tadi dengan mata terpejam.


"Dia pergi, entah ke mana? Ponselnya tidak aktif juga," sahut Ikram dengan lelah.


"Kenapa tidak mencari tahu lewat ibunya, mungkin mbak Nadia pulang ke sana," saran Yuni yang mendapat gelengan kepala dari Ikram.

__ADS_1


"Dia tidak mungkin ke sana karena Nadia bukan tipe orang yang suka mengadukan masalah pada ibunya," jawab Ikram mengingat sifat Nadia yang sangat hati-hati.


"Kenapa tidak mencari tahu ke pabriknya? Mungkin dia di sana?" Yuni masih membuat kemungkinan tentang keberadaan Nadia.


Ikram terhenyak, benar juga. Ia beranjak dan pamit pergi pada Yuni. Dengan menaiki sepeda motor bututnya Ikram menuju pabrik konveksi milik istri keduanya itu.


Namun, lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan. Sesampainya di sana, satpam memberitahunya bahwa Nadia tidak datang ke pabrik. Ikram pun kembali dengan lesu, di tengah perjalanan ia melihat Rai yang sedang berjalan sendiri menenteng satu buah kresek hitam di tangannya.


Sempat ia berpikir untuk bertanya pada pemuda itu, tapi urung melihat laki-laki itu yang berbelok dan memasuki sebuah kantor studio. Ikram terus melaju sambil berpikir ke mana lagi mencari Nadia.


Ia memutuskan untuk kembali ke rumah, biarlah esok ia akan mencarinya lagi jika saja Nadia tidak pulang sampai sore hari.


Ikram tetap menemani Yuni karena ia pikir, tidak ada yang membantunya saat ia membutuhkan sesuatu. Malam itu, semua orang disibukkan dengan isi pikiran mereka yang dipenuhi Nadia. Termasuk Ain yang masih menangis karena ditinggal Ikram sendirian di dalam kamar.


Esok hari tiba, Ikram disibukkan dengan Yuni dan bayinya. Ain masih mengurung diri di kamar, dan ketiga anaknya berada di rumah Nadia. Mereka tidak ingin meninggalkan rumah itu takut kalau Nadia pulang.


Ia membawa bayi Yuni berjemur di bawah mentari pagi. Yuni tersenyum senang, apakah itu artinya Ikram menerimanya? Ia menyiapkan sarapan untuk mereka, sedangkan Ain belum terlihat batang hidungnya.


"Mas, sarapan! Aku sudah buatkan," ucap Yuni memanggil Ikram dari pintu. Laki-laki itu tersenyum dan mengangguk. Ia membawa anak dan memberikannya pada ibunya.


"Ain masih di kamar?" tanyanya. Yuni mengangguk.


"Perlu aku panggil, Mas?" tanya Yuni sembari mengikuti langkah Ikram menuju meja makan.


"Tidak perlu, kalau dia lapar pasti juga keluar," sahut Ikram seraya duduk di kursinya dan menyantap sarapan yang dibuatkan Yuni.


Ain yang mendengar, menggeram kesal. Apakah Ikram mulai menjauh darinya. Ia mendaratkan bokong di atas kasur dengan kesal. Niat hati ingin bergabung dengan mereka karena perutnya yang sudah berbunyi keroncongan, tapi enggan saat mendengar Ikram berbicara tadi. Malu, tentu saja.


"Kakak, Bunda kapan pulangnya?" Nafisah bertanya saat memakan nasi goreng buatan Ruby.

__ADS_1


"Kalau Bunda tidak pulang, Kakak akan mencarinya. Kalian tunggu saja di rumah, ya," jawab Ruby memberi harapan pada kedua hati kecil itu. Mereka memakan sarapan tanpa berselera sedikit pun. Sambil berharap dalam hati Nadia akan pulang dan kembali tersenyum. Namun, kenyataan pahit tetaplah harus ditelan. Sampai waktu sore tiba, tidak ada tanda-tanda Nadia akan pulang.


Ikram bersiap mencarinya, begitu pun dengan Ruby.


__ADS_2