
Ikram masih merenung di malam itu, ia sama sekali tidak peduli panggilan kedua istrinya yang ribut di ruang tengah rumah.
Ikram termangu pada langit-langit kamar. Teringat akan kejadian di tanah suci yang tak dapat diterima akalnya.
"Bagaimana bisa Yuni hamil? Seingatku, aku tidak pernah melakukan itu dengannya. Lalu, bagaimana dia bisa hamil? Walaupun benar, apa mungkin hanya sekali melakukan dia bisa hamil?" gumam Ikram mengingat-ingat kembali kejadian tersebut.
*****
Di dalam masa umroh kemarin, di mana ada satu kejadian ketiga orang tersebut tidak dapat menemukan jalan dari hotel menuju tempat melaksanakan ibadah haji. Jalanan seolah-olah tertutup kabut tebal, angin kencang berdebu, dan mereka kehilangan jejak para jamaah yang lain.
Qadarullah, semua itu adalah kuasa ilaahi. Tak dapat diterima nalar memang, tapi itu terjadi karena kehendak Sang Kuasa. Kun Fayakun.
Jadilah ketiganya memutuskan kembali ke hotel. Mereka memesan dua kamar berbeda yang satu ditempati Ain dan Ikram, yang lain ditempati Yuni seorang.
Di malam naas itulah, semuanya terjadi. Ketika Ain gelisah menunggu Ikram yang tak kunjung datang, dari kamar sebelah ia mendengar suara-suara sayu yang menggoda. ******* dan lenguhan yang jelas terdengar hingga keluar kamar itu, membuat hati Ain memanas seketika.
Ia kembali ke kamar dengan gejolak amarah yang membuncah. Matanya yang sejak tadi memanas, akhirnya tumpah juga. Ain tak kuasa menahan sebak di dadanya.
"Kamu bilang tak akan menyentuhnya, Bi. Sekarang apa? Begitu asiknya kamu bermain hingga lupa daratan. Kamu tega, Bi!" lirih Ain dengan hatinya yang pilu.
Ia tak sanggup membayangkan, seperti apa pergulatan panas mereka. Suara-suara itu jelas terdengar menggoda di telinga Ain. Hatinya serasa diremas-remas, perih tak terkira.
Ain menangis hingga tanpa sadar terlelap dengan sendirinya. Sementara di kamar sebelahnya, Yuni membungkus tubuh mereka yang tanpa sehelai benang pun dengan selimut.
Ia tersenyum, menatap wajah Ikram yang terlelap di sampingnya. Wajah tampan yang membuat siapa saja akan terpesona saat melihatnya. Pantas saja Nadia begitu tergila-gila kepadanya karena saat ini pun, Yuni juga tergila-gila pada laki-laki tersebut.
Ia ikut memejamkan mata, memeluk perut Ikram yang tanpa baju. Terlelap dengan senyum kemenangan.
Kegemparan terjadi di pagi harinya. Tatkala Ikram mulai merasakan kejanggalan pada dirinya, ia membuka mata perlahan. Ikram membuka selimut, sebuah tangan melingkar di perutnya. Ia membelalak melihat dirinya yang tak mengenakan pakaian.
Ikram terlonjak hingga terbangun dari tidurnya saat melihat sosok Yuni yang tidur sambil mendekap tubuhnya.
__ADS_1
"Astaghfirullah! Apa yang telah aku lakukan?" pekiknya sembari mengusap wajah dan menarik napas dalam. Ia beranjak memakai semua pakaiannya tanpa memandang Yuni.
Lenguhan pendek terdengar saat mata Yuni terbuka. Ia menggeliat sebelum beranjak duduk dengan menahan selimut di dada.
"Kamu sudah bangun, Mas? Kenapa tidak membangunkan aku?" tanyanya manja. Ia bertingkah seperti seorang gadis yang baru saja melakukan ritual malam pertama dengan suaminya.
"Apa yang kamu lakukan padaku?" tanya Ikram dingin. Garis wajahnya terlihat mengeras, kedua rahangnya beradu kuat. Matanya berubah kelam dipenuhi kilatan api kemarahan.
"Maksud Mas apa? Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Yuni dengan kerutan di dahi yang kentara.
Emosi Ikram semakin meluap, uap amarah jelas terlihat di hidungnya yang kembang-kempis.
"Katakan padaku, Yuni. Apa yang kamu lakukan semalam padaku? Kenapa aku bisa ada di kamarmu dan ... dan tanpa pakaian?" tanya Ikram yang begitu malu saat mengatakan ujung kalimatnya.
Yuni terkekeh kecil, ia menutupi mulutnya dengan tangan, pipinya berubah warna seolah malu mengingat kejadian tadi malam yang baru saja mereka lewati.
"Tentu saja Mas tidak memakai pakaian. Semalam Mas datang ke kamarku dan merayuku. Mas terus menggodaku sampai ... ya, begitu ... beginilah jadinya kita sekarang," jawab Yuni tersenyum malu saat mengatakannya.
"Bohong! Aku tidak merasa terjadi apa pun di antara kita. Kamu hanya menjebakku, Yuni. Aku tahu itu," tukas Ikram cepat. Menuding wajah Yuni dengan jari telunjuknya.
Yuni sontak membuka selimut yang menutupi bagian dadanya. Terpampang jelas di mata Ikram bagian atas tubuh Yuni yang tak tertutupi apa pun. Bercak merah memenuhi bagian tersebut.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu membukanya? Tutupi, cepat! Kamu seperti wanita murahan yang menggoda laki-laki di jalanan. Memalukan!" cibir Ikram dengan wajah berpaling dari Yuni.
"Kenapa, Mas? Kenapa kamu seolah-olah malu melihatku seperti ini. Tadi malam saja kamu sendiri yang membuka pakaianku dan terus menikmati tubuhku, kenapa sekarang kamu seperti tak pernah melakukannya? Apa seperti ini bentuk laki-laki yang menikahiku?" Yuni ikut mengejek. Ia tersenyum mencibir meskipun Ikram tak melihatnya.
"Aku tidak peduli!" ketus Ikram seraya meninggalkan kamar Yuni dan kembali ke kamar Ain.
Ia membuka pintu perlahan, melongo ke dalam kamar memastikan Ain baik-baik saja. Wanita itu duduk di dekat jendela, menatap kosong keadaan luar dengan hatinya yang tersayat.
"Mi? Umi sedang apa?" tanya Ikram sembari mendekati istri pertamanya itu.
__ADS_1
Ain bergeming di tempatnya. Ia tak menoleh atau pun beranjak dari tempatnya duduk.
"Bagaimana malam pertama Abi dan Yuni? Apa dia bisa memuaskan Abi? Terlalu asik, ya, sampai lupa pada Umi?" celetuk Ain tanpa berpaling dari keadaan luar.
Nada dingin dan ketus amat kentara dari suara yang ia keluarkan. Ikram mendesah, ia semakin mendekat pada Ain dan berjongkok di depannya.
"Abi tidak tahu apa-apa, sungguh. Abi bahkan tidak tahu kalau semalam Abi tidur di kamar Yuni. Sumpah, Mi. Abi tidak tahu apa-apa. Percaya pada Abi," ucap Ikram sungguh-sungguh. Ia meraih tangan Yuni dan menggenggamnya.
Menciumi punggung tangan wanita itu berharap Ain akan mereda. Senyum di bibir Ain tersungging miring. Ia tak percaya begitu saja dengan penuturan Ikram. Bukannya laki-laki yang beristri banyak itu pandai sekali berbohong?
"Lalu, suara siapa yang semalam begitu panas terdengar. Sampai-sampai seluruh penghuni hotel ini dapat mendengarnya. Memalukan. Apa Abi tidak dapat menahan suara-suara itu? Kenapa harus mengeluarkannya dengan keras? Apa supaya Umi dapat mendengarnya? Abi sengaja membuat Umi cemburu?" ungkap Ain yang diakhiri dengan isak tangis pilu.
Ia menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. Tubuhnya terguncang seiring isak yang semakin menjadi. Sebak di dada sungguh tak dapat ia tahan. Tumpah ruah begitu saja tanpa terkendali.
"Mi, sumpah Abi tidak merasa melakukannya. Yang Abi ingat semalam itu ada yang memberi Abi minuman dingin, pelayan hotel katanya dari Umi. Abi terima, dan tidak sadar setelah itu. Lalu, Abi tidak ingat apa pun lagi. Saat bangun sudah ada di kamar Yuni. Percaya sama Abi, Mi. Abi tidak melakukannya," jelas Ikram sembari memohon pada Ain.
Wanita itu membuka tangan, menatap Ikram dengan lelehan air mata yang masih mengalir.
"Apa Abi berkata benar? Lalu, kalau bukan Abi suara siapa yang Umi dengar tadi malam? Jelas-jelas Umi mendengarnya dari kamar Yuni," tanya Ain lagi menuntut kejelasan lebih.
"Abi tidak tahu, bisa saja di dalam kamar itu ada laki-laki lain dan menuduh Abi melakukannya. Itu bisa saja terjadi, bukan?" ucap Ikram lagi dengan serius.
Ain termangu, apa yang dikatakan Ikram ada benarnya. Bisa saja Yuni menyewa laki-laki untuk menjebak Ikram dan mengadu domba dengan dirinya.
"Kalau begitu, sekarang bagaimana?" tanya Ain mulai melemah.
Ikram beranjak duduk di kasur, ia menyugar rambutnya ke belakang dengan kepala yang menunduk.
"Abi juga tidak tahu, Mi," ucapnya lesu.
"Umi mau pulang saja, hari ini juga," cetus Ain tak ingin dibantah.
__ADS_1
Ikram mengangkat pandangan, menatap manik berkaca milik wanita itu membuat hatinya tak tega. Ia mengangguk. Jadilah mereka bertiga pulang sebelum waktunya.
Begitu sampai di bandara, niat hati ingin membeli oleh-oleh untuk anak-anaknya, tapi apalah dayanya. Kartu yang dipegang Ain tiba-tiba saja tak dapat digunakan. Pulang pun dengan menaiki kendaraan umum.