Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Sindiran Pada Diri Sendiri


__ADS_3

"Ya Allah ... berilah petunjuk pada hamba," gumam Ikram sembari menelungkup membenamkan wajahnya pada bantal.


Malam terus berlanjut, Ain masih kesal terhadap Ikram. Ia tak akan tahu apa yang terjadi esok hari.


"Bunda, aku mau tidur di sini saja tidak mau pulang," rengek Nafisah sembari memeluk tubuh Nadia. Wanita itu diapit kedua anak Ikram kanan dan kirinya.


Di pagi hari Nadia sedang mematut diri di depan cermin. Penampilannya sangat berkelas hari ini. Tubuh kurusnya dibalut gamis polos berwarna dusty, hijab syar'i-nya dibentuk gaya sederhana dengan tambahan Bros bunga mini di bagian dada kiri sebagai hiasan.


Flatshoes berwarna senada dengan gamis dipadu dengan kaos kaki berwarna putih, tak lupa tas selempang dengan merk ternama menyampir di bahunya. Ia memoles sedikit make-up di wajahnya, memberikan warna peach pada bibir seksi bervolume miliknya.


Ia tampil elegan dan berkelas.


"Bunda! Wah ... cantik sekali! Bunda mau pergi ke mana? Mmm ... harum! Kenapa Bunda selalu harum? Tidak seperti tante genit itu, bau," seru Bilal seraya mengendus bau Nadia yang selalu enak dicium.


Nadia mengacak rambut anak laki-laki itu dengan gemas. Tersenyum senang saat melihat keduanya yang datang setelah selesai sarapan.


"Bunda akan mendaftarkan kuliah dua Kakak di yayasan, kalian Bunda antar ke rumah Umi, ya," ucap Nadia yang diangguki pasrah keduanya.


"Ya ... ketemu tante bau itu. Aku tidak suka, dia selalu ingin memelukku. Padahal, bau. Aku tidak mau," ucap Nafisah pula dengan cemberut.


"Eh ... tidak boleh begitu. Anak sholehah tidak boleh berkata jelek seperti itu. Ya sudah, ayo!"


Nadia menuntun keduanya keluar rumah. Tak lupa ia mengunci pintu dan memberikan kunci cadangan pada Bilal.


Harum semerbak bunga menguar tatkala gamis dan hijab yang dikenakannya berkibar tertiup angin. Semua orang tahu, jika harum ini pastilah berasal dari Nadia. Wanita itu tersenyum kecil begitu melihat Ikram yang duduk di teras dengan koran di tangan dan kopi yang masih mengepulkan asap.


Kegelisahan hatinya soal kejadian saat umrah lalu, dihalaunya dengan berpikir yang positif. Setidaknya untuk saat ini.


"Assalamu'alaikum, Mas!" sapa Nadia dengan senyum manis tersemat di bibir.


Pancaran cahaya dari wajahnya membuat sosok Nadia seperti bidadari yang baru turun dari kahyangan. Ikram terpana, jangankan menjawab salam berkedip saja matanya enggan. Sosok di depannya begitu mempesona dan mampu membuatnya tak berkutik.

__ADS_1


"Mas!" Nadia menggoyang tangannya di depan wajah Ikram.


"Ah ... iya, wa'alaikumussalaam!" sahut Ikram sangat terlambat. Nadia dan kedua anaknya menyalami Ikram secara bergantian. Laki-laki itu meneliti penampilan Nadia yang tidak seperti biasanya.


"Kamu mau ke mana?" tanyanya heran sekaligus tak ingin Nadia menjadi pemandangan indah untuk laki-laki lain.


"Kenapa, Mas? Kenapa melihatku seperti itu? Ada yang aneh?" tanya Nadia saat Ikram lagi-lagi termangu pada dirinya. Ia memandangi tubuhnya sendiri, tidak ada yang aneh.


"Tidak, bukan begitu. Kamu mau pergi ke mana dengan penampilan sempurna seperti ini?" tanya Ikram lagi menunjuk tubuh Nadia dari atas hingga bawah.


"Oh ... Ini, aku mau mendaftarkan anak-anak di perguruan tinggi. Mas bisa tolong temani? Sebenarnya aku mau minta tolong sama Mas untuk menemani karena aku menjadi wali mereka," pinta Nadia dengan senyum kecil yang indah dan tak bosan dilihat.


"Ah ... iya, bisa-"


"Tidak bisa! Suami kita harus mengantar Yuni ke dokter kandungan untuk memeriksakan kandungannya," sambar Ain dengan cepat dari dalam rumah. Nadia melongo.


Kakak madunya itu keluar dan membelalak seketika saat melihat Nadia yang berdiri di teras rumahnya.


Ya ampun! Kenapa Nadia cantik sekali?


Ain memuji dalam hati. Nadia tersenyum, tak apa jika ikram tak bisa menemaninya. Ia akan berangkat sendiri saja. Lagi pula dia hanya iseng saja minta tolong pada Ikram. Yang sebenarnya Winda telah datang menjemputnya.


"Sana, Bi! Buruan ganti baju! Nanti terlambat," titah Ain seraya menarik tangan Ikram ke rumah. Ia takut Ikram tak dapat mengendalikan diri saat ini.


"Mmm ... Kak, tunggu!" cegah Nadia yang membuat langkah kaki Ain seketika terhenti. Ia menoleh tak suka pada adik madu yang tak pernah menyakitinya itu.


Ain melepas tangannya dari Ikram ia membiarkan Ikram berlalu dari tempat tersebut. Ada Yuni yang duduk di ruang makan.


"Ada apa?" tanya Ain seraya mendaratkan bokong di atas kursi.


"Mmm ... begini ... bisa kita tidak bicara di sini? Aku khawatir akan ada yang mendengarnya," pinta Nadia sembari melirik ke sekitarnya. Ia hanya tak ingin pembicara ikut didengar orang banyak.

__ADS_1


"Tidak usah di sini saja. Kenapa?" Ain tersenyum mencibir sesaat setelah menangkap urat gelisah di wajah Nadia.


"Kamu mau tanya soal Yuni yang hamil? Iya memang benar, Yuni sedang hamil dan akan memeriksakannya ke dokter hari ini," jawab Ain percaya diri. Ia bahkan tersenyum mencibir. Dalam pikirannya Nadia akan murung dan bersedih. Atau bahkan menangis dan akhirnya terpuruk. Nyatanya ....


"Bu-bukan itu,aku ingin membicarakan hal lain dengan Kakak, tapi tidak di sini," ucap Nadia lagi.


Ain mendengus, kesal dan tak ingin meladeni Nadia sebenarnya. Namun, ia tetap duduk menunggu apa yang ingin dibicarakan madunya itu.


"Jadi apa? Sudah bicara saja di sini, tidak apa-apa, kok," sahut Ain lagi meyakinkan Nadia.


Wanita cantik di hadapannya itu menghela napas, sekali lagi ia menatap sekeliling memastikan bahwa tidak akan ada yang mendengar pembicaraan mereka.


"Aku ingin menanyakan uang yang ada dalam kartu ini, Kak." Nadia menunjukkan kartu dari dalam tasnya. Kartu tabungan anak-anak yang sempat dipegang Ain kemarin.


"Kemarin itu aku mau mengambil uang untuk mendaftar kuliah anak-anak. Seingatku, seharusnya cukup untuk empat sampai lima orang anak mendaftarkan kuliah, tapi kemarin aku tidak bisa mengambilnya. Padahal, cuma untuk dua anak. Aku coba ambil dalam nominal kecil, dan cuma ada satu juta saja. Kira-kira ke mana uangnya, ya, Kak?" ungkap Nadia dengan dahinya yang berkerut bingung.


Ain mengusap-usap tangannya gelisah. Sejak Nadia mengeluarkan kartu itu ia sudah menebak apa yang akan dibahas wanita itu. Ia gugup, sesekali memandang kartu di meja, sesekali memandang Nadia. Lebih banyak mengedar ke segala arah menghindari tatapan Nadia.


"Kakak jangan tersinggung, aku yakin Kakak pasti tidak akan menggunakan uang di dalam kartu ini, bukan? Karena seberapa banyak pun, itu adalah hak anak-anak di yayasan. Aku cuma ingin tahu, apa Kakak pernah memberikan kartu itu pada orang lain? Atau pernah tidak sengaja menggeletakannya di mana, begitu?" lanjut Nadia lagi sesaat setelah menangkap kegelisahan Ain.


Keringat kasar sudah bermunculan dari dahinya yang dipoles make-up sedikit tebal itu. Jadilah Nadia mencari alasan lain untuk kembali menjebaknya.


Ain tercenung, ia berpikir apa yang dikatakan Nadia sangat masuk akal untuk dijadikan alasan. Dia terdiam mencari kambing hitam. Apakah Nadia sebodoh itu? Lihat senyum yang dibentuk bibirnya. Kartu itu memiliki pin yang hanya diketahui olehnya dan juga Ain.


"Oh ... iya, benar. Kakak pernah ketinggalan kartu itu di pondok setelah membeli bahan bangunan waktu itu, terus ada ustadz yang mengembalikannya setelah satu Minggu lamanya. Iya, seperti itu. Kakak tidak tahu kalau uang itu akhirnya habis, maaf, ya. Kakak ceroboh, ya Allah," sambar Ain. Cari aman saja. Nadia tidak mengenal ustadz di pondok.


"Oh ... sayang, ya. Padahal dia tahu uang di dalam sini adalah hak anak-anak yatim-piatu di yayasan, tapi masih juga berani memakainya. Apa dia tidak mengerti, ya, Kak? Atau memang tidak takut adzab? Harus diberi teguran, Kak, supaya tidak mengulangi lagi memakan hak-hak anak yatim-piatu. Itu seperti memasukkan api neraka ke dalam perutnya. Bukan begitu, Kak? Aku cuma sering dengar saja, sih," ucap Nadia dengan wajah sedihnya.


Ia kembali mengambil kartu tersebut dan memasukkannya ke dalam tas. Tamparan keras untuk Ain. Padahal, mengerti agama, tapi masih saja memakan hak-hak anak yatim-piatu.


"Uang apa?"

__ADS_1


__ADS_2