
Side story' Ikram
"Yah ... mau bagaimana lagi? Mau tidak mau Ikram yang akan menjadi penerusku mengurus pondok ini. Salahku juga karena menikah terlalu matang, kelewat matang malah ditambah uminya Ikram sudah meninggal waktu dia masih kecil. Mungkin dia akan aku kirim ke pondok tempatku dulu menimba ilmu." Suara Abah menghentikan langkahku yang hendak memasuki rumah.
Abah terlalu terburu-buru, lihat seragam yang aku kenakan ini. Masih merah putih, aku masih sangat muda untuk dijadikan sebagai penerus pondoknya yang besar. Ditambah dengan yayasan yatim piatunya itu. Aku harus bagaimana? Pundakku saja masih terlalu rapuh untuk memikul beban sebesar itu.
"Tapi Ikram masih kecil, Kak. Dia masih ingin bermain karena memang waktunya untuk bermain. Tidak bisakah Kakak mengangkat wakil dari seorang ustadz sebelum Ikram beranjak dewasa? Itu lebih baik," sahut suara Paman yang terdengar bijak di telingaku. Benar, Paman. Aku masih ingin bermain-main. Aku ingin bebas tidak ingin diikat dengan sebuah tanggung jawab sebagai pemimpin pondok.
Ah ... aku punya ide. Aku akan merengek pada Abah untuk ikut tinggal bersama Paman di Jakarta. Ide cemerlang, Ikram. Kamu memang pintar.
"Aku sudah melakukannya, yang aku ingin Ikram mulai belajar dari sekarang sedikit demi sedikit kepada wakilku itu. Dengan begitu, ia akan dapat mengerti seiring waktu berjalan. Agar jika saatnya tiba nanti, dia sudah siap memimpin pondok ini menggantikan aku."
Abah terdengar egois di telingaku, tapi memang hanya aku sendiri anaknya. Aku bahkan tidak sempat mengenali Umi karena beliau meninggal saat aku masih kecil. Hanya lewat gambarnya saja aku bisa melihat wajah menyejukkan milik Umi.
"Assalamu'alaikum!" kuucap salam seraya membuka pintu di hadapanku.
"Wa'alaikumussalaam!" Abah dan Paman tersenyum saat melihatku muncul dari balik pintu. Kuhampiri keduanya dan kucium bergantian tangan mereka. Aku duduk di samping Abi siap mengutarakan keinginanku untuk ikut dengan Paman.
"Wah, keponakan Paman sudah besar. Kamu semakin tampan saja, ya. Kalau sudah besar nanti pasti jadi rebutan para wanita," ucap Paman sambil terkekeh di akhir kalimatnya. Aku mengulas senyum, Pamanku itu memang pandai memuji.
Kulirik Abah yang juga ikut tersenyum. Wajah keriput itu aku tidak tega melihatnya dengan beban seberat itu. Mengurus pondok dan yayasan seorang diri walaupun ada ustadz yang membantu. Tetap saja, Abah yang sibuk mencari ini dan itu kalau pondok sedang membutuhkan sesuatu.
Melihat Abah yang terkadang kelelahan mengurus pondok, aku jadi tidak ingin menjadi penerusnya. Ditambah usiaku masih sembilan tahun, aku benar-benar tidak mau terlibat dalam tanggung jawab besar itu.
"Paman, bagaimana kabar Bibi di Jakarta?" tanyaku memancing topik.
"Bibi kamu sehat, dia selalu menanyakan kamu. Bibi kamu itu kesepian, Ikram. Dia ingin punya anak, tapi kami sulit mendapatkan keturunan. Yah ... ini ujian dari Allah. Bibi kamu itu berharap kamu bisa tinggal di Jakarta barang satu atau dua tahun lamanya."
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ini yang ingin aku dengar, Bibi selalu memintaku untuk ikut tinggal dengannya di Jakarta. Aku tersenyum lebar.
"Benarkah, Paman?" Paman mengangguk. Aku berpaling pada Abah yang seketika terdiam, "Abah, aku mau ikut Paman ke Jakarta. Aku janji setelah lulus sekolah di sana, aku akan belajar di pondok untuk menggantikan Abah nanti," lanjutku merayu. Kali ini aku harus berhasil merayu Abah.
__ADS_1
"Sudahlah, kali ini saja, Kak. Izinkan Ikram ikut denganku. Dia akan aku sekolahkan di sana, kalau sudah lulus nanti akan aku kembalikan ke sini," timpal Paman yang semakin memperlebar senyumku.
Abah mendesah berat, terasa berat untuknya melepas anak satu-satunya ini. Mungkin. Aku hanya menebak.
"Baiklah, tapi kalian harus berjanji setelah lulus nanti kamu bawa dia pulang."
Dan pada akhirnya, aku pun pergi ke Jakarta tinggal bersama Paman dan Bibi yang belum diberi momongan.
Suasana kota Jakarta, begitu berbeda dengan kota tempat tinggalku. Gedung-gedung tinggi menjulang bahkan mencakar langit mereka sebut menjadi hiasan kota tersebut.
Aku dipindahkan sekolah oleh Paman dan Bibi. Awalnya aku adalah seorang anak yang pendiam dan tertutup. Aku tidak tahu bagaimana cara bergaul anak-anak kota besar seperti Jakarta ini.
Lama kelamaan, tahun berlalu tak terasa usiaku menginjak tahun ke sebelas dan hampir tiga tahun aku ikut dengan Paman. Pergaulan anak-anak remaja di sekitar lingkungan Bibi, teramat bebas menurutku. Aku jarang bergabung dengan mereka.
Namun, setelah salah satu orang mengajakku bermain. Aku pun menjadi bagian dari mereka. Keluyuran malam hampir tidak pernah absen. Segala macam permainan yang seharusnya tidak dimainkan anak seusiaku, aku mainkan bersama teman-teman baruku itu.
"Ikram, mau ke mana?" tanya Bibi dengan suaranya yang nyaring memekakkan telinga. Bibi mungkin jengah dengan sikapku yang selalu membantah. Ia juga lelah menasihatiku yang tak pernah mau mendengar ucapannya.
Motor Paman kupacu dengan kecepatan tinggi. Maklum, anak remaja tanggung sepertiku ini menyukai hal-hal yang menantang adrenalin. Begitu kata para orang tua yang sering aku dengar. Sok tahu.
Aku terkejut, begitu sampai di tempat biasa kami nongkrong beberapa botol minuman yang tak aku kenal berbaris di atas sebuah meja kecil.
"Apa ini?" tanyaku ingin tahu. Jiwa mudaku bergelora, ingin tahu hal-hal baru yang belum pernah kusentuh.
"Hei, Ikram! Kamu tidak tahu ini apa? Orang-orang kaya menyebutnya, anggur. Minuman yang membuat pikiran tenang, pokonya enak kalau kita minum ini," jawab teman yang paling besar di antara mereka.
Benar-benar remaja, mendengar sesuatu yang asing aku langsung ingin mencobanya. Seperti apa rasanya, maniskah?
Kusesap sedikit saja, rasanya pahit di lidah dan tak enak di tenggorokan. Namun, lagi-lagi jiwaku merasa tertantang untuk menenggaknya. Satu gelas kecil kuhabiskan, dan itu cukup membuatku gelap mata.
Mulai dari coba-coba itu, aku ketagihan setiap malam berkumpul tak pernah melewatkan minuman yang bernama anggur itu. Aneh saja, tapi aku suka.
__ADS_1
"Wih ... sekarang Ikram sudah jago minum, ya. Hebat kamu, Kram!" puji mereka yang sudah mabuk.
Pesta-pesta kecil sering diadakan mereka, ditemani botol-botol minuman itu kami sudah tidak terkontrol. Setiap malam bebas pergi tanpa takut dicari. Setiap malam aku selalu membawa motor Paman dan pulang di pagi hari. Paman tidak pernah memarahiku, sebaliknya Bibi selalu menasihati aku untuk tidak bergaul dengan mereka. Mau bagaimana lagi! Bersama mereka aku sudah merasa nyaman.
Sampai suatu pagi, di perjalanan pulang dari pesta akhir pekan bersama teman-teman. Sedikit mabuk memang saat aku mengendarai motor milik Paman. Kulajukan kuda besi tersebut dengan kecepatan sedang.
Ah ... sial! Kenapa mataku jadi buram begini? Kugelengkan kepala untuk mengembalikan penglihatan, tapi tetap saja pengaruh alkohol itu begitu menguasainya.
Beruntung, jalanan pagi itu masih sepi. Paman dan Bibi juga pastinya belum bangun. Sial, memang.
Aku tidak memperhatikan jalanan saat kecepatan laju motor kutambah lagi. Aku pikir karena tidak ada orang, tidak salahnya aku ngebut saja supaya cepat sampai di rumah dan tidur. Namun, nasib sial rupanya sedang mengintaiku.
Tiiin!
Kutekan klakson manakala muncul sosok laki-laki dari belokan dengan tiba-tiba.
Brak!
Naas. Aku tak sempat menekan rem karena laju motor tak dapat aku kendalikan. Laki-laki itu tertabrak, dan terpental jauh hingga menabrak pembatas jalan. Aku terjatuh karena terkejut, beruntung kepalaku terlindungi helm dan juga menutupi wajah.
"Tidak! Aku menabrak orang."
"PAPAH!"
Kudengar seorang wanita menjerit. Tak ada siapa pun pagi itu, hanya ada kami bertiga. Benar, dari belokan yang sama seorang wanita muncul. Wanita dengan perutnya yang besar kupastikan wanita itu adalah istrinya dan dia sedang mengandung.
Dia menoleh padaku dengan air matanya mengalir. Aku tersentak, segera bangkit dan menaiki motor Paman. Aku takut, benar-benar takut waktu itu. Membayangkan aku yang harus di penjara, aku tidak mau. Kulajukan motor Paman dan gegas pergi dari lokasi kejadian. Mumpung masih tidak ada orang pikirku. Jeritan wanita itu masih dapat kudengar dengan jelas. Lalu, hilang.
Brak!
Kusimpan motor Paman di tempatnya, aku memeriksa keadaan motor tersebut. Aman. Tak ada darah atau tanda bekas menabrak. Hanya lecet sedikit. Aku bisa mencari alasannya. Sebelum mereka bangun, gegas kumasuki kamar dan memejamkan mata. Sayang, bayangan laki-laki yang kepalanya hancur dan wanita hamil yang menangis. Seolah menghantui aku. Aku gelisah, aku ingin pulang saja.
__ADS_1