Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Menikah Denganku


__ADS_3

"Oh, jadi ini toko milik anak asuhmu?" Paman Harits menatap sekeliling toko. Ia manggut-manggut sedikit puas dengan pencapaian kedua anak asuh Nadia. Setelah dari Rumah Sakit, Nadia menyempatkan diri untuk mampir melihat kedua anak asuhnya.


Ia merasa puas, toko yang dikelola kedua anak itu cukup maju dari sebelumnya. Banyak variasi yang dibuat, juga kreativitas lainnya.


"Bunda!" Kedua anak yang pergi akhirnya kembali. Mereka terkejut melihat Nadia dan berhambur memeluk wanita itu.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Nadia melepas pelukan dan mengusap pipi kedua anak itu.


"Kami baik saja, Bunda. Bagaimana dengan Bunda? Apa Bunda masih sakit?" tanya salah satunya ingin tahu. Yang lain menunggu, pun ingin tahu.


"Alhamdulillah, Bunda sudah sembuh. Bunda cuma mampir ingin melihat kedua anak Bunda saja. Kalian hidup dengan baik, jangan lupakan adik-adik kalian di yayasan. Bunda titipkan mereka kepada kalian, Ibu sudah tua," ucap Nadia mengingatkan pada keduanya bahwa masih ada adik-adik yang harus dibiayai.


"Bunda tenang saja, kami tidak pernah lupa pada mereka," jawab keduanya. Tak lama Nadia singgah di sana. Ia hanya ingin mengetahui kondisi keduanya.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju Jakarta. Nadia tersenyum, ia melambaikan tangan saat mobil paman Harits melaju meninggalkan toko tersebut.


"Itu kedua anakmu?" tanya paman Harits sembari menoleh pada Nadia sejenak sebelum kembali fokus pada jalanan di depan.


"Iya, mereka berdua anak yang sangat berbakat. Aku memberikan mereka modal untuk mengembangkan keahlian mereka, dan akhirnya seperti itu. Aku tidak menyangka usaha yang mereka bangun akan maju sepesat itu," syukur Nadia tersenyum puas dengan pencapaian kedua anak asuhnya.


"Apa kamu tidak ingin melihat butik kamu?" tanya paman Harits setelah hampir keluar dari kota Rangkasbitung.


"Tidak, aku menerima laporan setiap hari ... tunggu ...!"


Nadia menoleh pada paman Harits dengan tatapan curiga padanya. Ia memicingkan mata, bertanya-tanya dalam hati siapa sebenarnya laki-laki di sampingnya itu.


"Bagaimana Kakak tahu kalau aku punya butik di sini?" selidik Nadia menyipitkan mata curiga.

__ADS_1


Paman Harits tertawa kecil, ia mengusap wajah Nadia dan menutupinya sejenak dengan telapak tangannya yang besar.


"Aku tahu semua tentang kamu, Nadia. Aku pikir butik kamu yang di sini tidak sebesar milikmu yang di Jakarta, bukan?" Paman Harits menolehkan wajah tersenyum mengejek melihat Nadia yang melongo.


"Kenapa Kakak juga tahu kalau aku punya butik di Jakarta?" tanya Nadia lagi. Rasa terkejutnya tak ia tutupi. Nadia benar-benar terkejut karena paman Harits meskipun mengaku sebagai paman, ia masih tergolong baru mengenal Nadia.


Laki-laki yang sedang mengemudi itu tertawa. Merasa lucu melihat wajah Nadia.


"Siapa yang tidak mengenal nama besar Naira juga wajah cantiknya. Seorang designer muda yang terkenal hingga ke mancanegara. Aku sangat mengenalmu, Naira. Sayang, di sini kamu memakai nama Nadia."


Nadia membelalakkan mata mendengar itu. Namun, sesaat kemudian ia menghela napas. Tak heran baginya untuk mengetahui itu semua melihat dari keuangan yang ia miliki hingga tujuh turunan pun tak akan habis. Mudah saja baginya mencari informasi tentang seseorang.


"Aku tidak tahu kalau aku seterkenal itu," gumam Nadia pelan.


"Kamu baru sadar? Lalu, untuk apa kamu memakai masker dan kacamata hitam itu saat datang ke kota ini?" sarkas paman Harits menunjuk masker dan kacamata hitam yang masih melekat di kepala Nadia.


"Aku hanya ingin saja." Nadia mengangkat kedua bahu tak acuh.


"Aku hampir tidak pernah muncul di televisi setelah dokter memvonisku gagal ginjal." Masa-masa kelam dulu kembali berputar di pikirannya. Beruntung, semuanya telah berlalu dan kini hanya tinggal kenangan yang meninggalkan jejak hikmah hingga menuntunnya lebih mendekati dan mengenal Tuhan.


"Kamu itu wanita hebat, Nadia. Hanya saja bodoh. Bagaimana mungkin wanita hebat sepertimu bisa tergila-gila pada laki-laki dungu itu bahkan menikah dengannya." Paman Harits menggelengkan kepalanya heran. Nadia bungkam. Benar. Bodoh. Bisa-bisanya ia tergila-gila pada laki-laki beristri itu.


"Menikah denganku besok. Hanya laki-laki sepertiku yang pantas menjadi suamimu. Bukan seperti dia," cetus paman Harits dari hari ke hari semakin aneh menurut Nadia.


Mata sayu itu membelalak, melotot menatap laki-laki di sampingnya. Ia mendesah.


"Walaupun Kakak bisa menikahi aku, tapi untuk saat ini aku belum boleh menikah. Aku harus menunggu masa Iddah-ku habis baru boleh menikah." Nadia memutar bola mata sembari berpaling darinya. Menghadap ke jendela pada jalanan yang mulai dipadati kendaraan.

__ADS_1


"Masa Iddah? Apa itu?" Dahi laki-laki berumur itu mengkerut.


Nadia kembali menoleh padanya, pandang mereka sesaat bertemu sebelum saling berpaling.


"Masa Iddah itu masa tunggu. Harus menunggu selama tiga kali suci atau tiga bulan sepuluh hari lamanya, baru boleh menikah," ungkap Nadia dengan pandangan lurus ke depan.


"Masa tunggu? Memangnya apa yang mau kamu tunggu? Kamu mau menunggu dia mengajak kamu kembali seperti tadi, begitu?" ketus paman Harits dengan sengit. Tak suka cara Ikram memohon pada Nadia seperti yang dilakukannya tadi saat di parkiran.


"Bukan itu, Kak! Ish ... dalam masa tunggu itu, dikawatirkan si istri hamil. Makanya tidak boleh menikah sebelum masa Iddah habis. Lagi pun, memangnya Kakak tahu dia ngajak aku rujuk?" Nadia mencebik. Ia cemberut saat paman Harits melihatnya tajam.


"Aku tahu tadi dia memintamu kembali, bukan? Hah ... laki-laki seperti itu tidak pantas untuk dipertahankan. Apa yang diharapkan darinya? Tidak ada. Beruntung, kamu belum terlanjur memiliki anak darinya. Kalau saja ... kamu pasti semakin berat untuk berpisah dengannya," ujar paman Harits tanpa memandang ke arah Nadia.


Benar. Beruntung, dia belum dikarunia anak bersama Ikram. Jika saja sudah, maka akan terasa sulit untuknya melepaskan diri. Nadia menunduk merenungi ucapakan paman Harits yang walaupun terdengar asal, tapi selalu tepat sasaran.


"Bagaimana Kakak tahu kalau dia memintaku kembali?" tanya Nadia sembari memandang paman Harits dengan pandangan lain.


Ia terkekeh sebelum menjawab, "Kamu belum tahu, ya kalau aku ini bisa membaca ekspresi seseorang hanya sekali lihat saja?" Ia berpaling pada jendela menghindari tatapan Nadia.


"Oh ... apa itu artinya Kakak ini seorang ahli telematika? Seperti bapak Roy Suryo atau bapak Abimanyu, begitu?" Nadia penasaran. Benarkah laki-laki yang terkesan selalu asal dalam berbicara itu, seorang ahli telematika. Seseorang yang bisa membaca ekspresi orang lain dan mengartikannya.


"Mereka bukan kelasku. Ah ... sudahlah, jangan dibahas lagi." Paman Harits mengibaskan tangan. Tak ingin pembahasan tentang Ikram berlanjut. Nadia terkekeh sebelum terdiam.


Jalanan mulai dipadati kendaraan-kendaraan besar. Paman Harits memutar sebuah lagu, asal saja sebenarnya, tapi cukup menenangkan. Nadia kembali berpaling pada jendela. Merenungi perjalanan hidupnya yang teramat rumit terasa. Bagaimana dia bisa jatuh cinta hingga berakhir menjadi istri kedua dari laki-laki yang telah beranak tiga.


Bertemu dengan sosok paman Harits yang tak pernah ia ketahui sebelumnya. Mamah Sarah tidak pernah membahas soal dia. Apakah benar sosok paman Harits itu adalah pamannya atau adik dari papahnya?


Nadia menoleh, memandang laki-laki yang fokus mengemudi.

__ADS_1


"Kakak, katakan siapa Kakak sebenarnya?"


"Aku ...."


__ADS_2