Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Ikram Tak Pernah Marah


__ADS_3

Senja menjelang, warna langit pun ikut berubah menjadi jingga. Hamparan penuh pesona yang dihaturkan dunia. Nadia masih duduk di depan komputer setelah mengantar Sarah pulang. Ia ditemani sekretarisnya yang juga masih membuat laporan.


Ia beranjak setelah semua laporan diperiksanya. Mengucap syukur atas usaha yang dibangunnya dan semakin berkembang.


"Mbak, sudah selesai?" tanya sekretaris Nadia saat melihat atasannya itu beranjak ke kamar mandi.


"Kamu bagaimana? Masih lama?" tanya balik Nadia menatapnya dari pintu kamar mandi.


"Sudah rampung, kok, Mbak. Ini tinggal send saja ke email Mbak," jawabnya. Nadia mengangguk seraya masuk memasuki kamar mandi untuk mencuci muka.


"Sudah aku kirim, Mbak. Tinggal cek email Mbak saja," ucapnya memberitahu Nadia saat wanita itu keluar dari kamar mandi.


"Iya, terima kasih, ya. Insya Allah bulan ini ada bonus untuk semua karyawan," sahut Nadia sembari tersenyum pada wanita yang masih duduk di belakang meja kerjanya.


"Alhamdulillah! Makin ke sini pabriknya Mbak Nadia semakin ramai. Apa lagi ini mau menghadapi bulan suci, siap-siap lembur semua karyawan," serunya sambil terkekeh membayangkan para karyawan lembur bekerja karena orderan membludak.


"Yah ... semoga selalu seperti ini, biar semuanya sejahtera terus." Nadia mendaratkan tubuh di sofa depan. Menunggu Ikram menjemput atau kalau tidak, ia akan memesan taksi online saja.


"Mbak! Mbak Nadia, 'kan, punya mobil sendiri, kenapa tidak bawa mobil saja, Mbak? 'Kan, tidak perlu nunggu lagi," celetuk sang sekretaris sembari merapikan meja kerjanya.


"Aku memang ada, tapi aku tidak mau membuat suamiku merasa rendah diri. Sudah lebih asik begini, tinggal tunggu, naik, dan turun," sahut Nadia.


Hanya anggukan kepala yang dilakukan wanita itu. Ia berpamitan pada Nadia karena sudah selesai dengan pekerjaannya.


Tin!


Sebuah klakson mobil membuat Nadia beranjak. Itu bukan taksi online yang dipesannya, tapi mobil Ikram yang datang menjemput. Nadia menyambar tasnya, mengunci kantor dan menghampiri Ikram yang keluar dari mobil.


"Mas, kenapa jemput aku? Bukannya langsung pulang saja," celetuk Nadia merasa tak enak jika saja ada Ain di dalam sana. Ia mencium tangan suaminya dan tak disangka Ikram mengecup dahinya.


"Mas!" lirih Nadia takut Ain yang duduk di dalam mobil merasa cemburu karenanya.


"Uminya anak-anak pergi katanya ada urusan, dia meminta Mas pulang lebih dulu. Jadilah Mas ke sini jemput kamu," ucap Ikram menjawab kegelisahan Nadia.

__ADS_1


"Ayo, masuk! Sudah mau Maghrib," ajak Ikram lagi yang diangguki Nadia.


Rasanya luar biasa saat suaminya dapat menjemput seperti sore ini. Mereka berbincang ringan selama di dalam mobil, bersama Bilal dan Nafisah yang juga duduk di belakang.


Tiba di rumah, Ain sedang berdiri di teras menunggu dengan wajah dinginnya. Ia tak senang saat melihat Nadia turun dari mobil Ikram.


Bilal dan Nafisah mendatangi uminya bersama Ikram. Sedangkan Nadia langsung menuju rumahnya dengan wajah yang tertunduk. Ia merasa tak enak saat matanya beradu pandang dengan iris milik Ain.


"Lho, katanya mau pergi? Kok, malah di rumah?" tanya Ikram sembari memberikan tangannya pada Ain.


Dengan wajah yang ditekuk Ain meraih tangan Ikram dan menciumnya. Ia mengajak masuk anak-anak tanpa melihat Ikram.


"Ternyata masih marah. Duh, Gusti! Bagaimana menghadapi sikap istriku ini?" gumam Ikram sembari menggelengkan kepala bingung melihat sikap Ain. Ia masuk sendiri dan bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri untuk pergi ke masjid.


"Katanya pulang, taunya jemput bini muda. Asik, ya, bisa jalan-jalan tanpa Umi," seloroh Ain sembari melipat mukena usai melaksanakan shalat tiga rakaat.


Ikram menghela napas, ia duduk di tepi ranjang dengan gurat yang lelah. Lelah menghadapi sikap Ain yang keras. Kenapa dia kembali seperti dulu? Begitu kira-kira yang ada dalam pikiran Ikram.


"Umi kenapa, sih? Lagi pula Abi tidak setiap hari menjemput Nadia. Cuma hari ini karena kebetulan dia lembur tadi." Ikram membaringkan tubuh di kasur dengan kedua tangan menumpu di kepala.


"Itu artinya Abi bohong, Umi kira mau langsung pulang. Taunya, pergi sama Nadia," sungut Ain duduk di depan meja rias dan mulai memakai produk perawatan wajahnya.


Ikram menoleh langsung mengernyit. Ain tidak pernah melakukan itu selama menikah dengannya.


Namun, Ikram kembali bersikap biasa. Selama Ain bisa menggunakan uang yang dihasilkan dengan baik, Ikram tidak masalah dengan hal itu. Yang terpenting untuknya adalah semua kebutuhan rumah dan anak-anak tercukupi. Selebihnya memang hak Ain pribadi.


Ia tersenyum, melirik Ain dari pantulan cermin. Melihat Ikram yang memperhatikannya, Ain mengernyit heran.


"Kenapa Abi senyum-senyum sendiri?" tanyanya seraya memutar bola mata ketika Ikram menggeleng.


"Umi sudah cantik, dan pasti akan bertambah cantik setelah merawat diri seperti itu. Ah ... Abi pasti akan merasa bahagia karena mendapat istri yang cantik secara lahir dan batin," sahut Ikram masih menatap pantulan Ain dari cermin.


Semburat merah muncul di kedua pipinya. Ain tak menampik ia senang saat Ikram memujinya seperti tadi. Namun, sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa senangnya di depan Ikram. Biarlah Ikram terus mengira bahwa ia masih merajuk padanya.

__ADS_1


"Kita makan malam di luar, yuk, Mi! Sekalian ajak anak-anak bermain di alun-alun," ajak Ikram merayu Ain agar istrinya tak lagi merajuk dan memintanya menikah lagi.


"Abi merayu? Tidak mau!" sungut Ain kembali jual mahal.


Ikram membalik tubuh menghadap ke atas.


"Yah ... sayang sekali kalau Umi tidak mau. Padahal, tadi Abi dan anak-anak sudah merencanakannya. Kalau Umi tidak mau biarlah Abi mengajak Nadia saja," ucap Ikram memunggungi Ain tak ingin melihat wajah marah istrinya itu.


"Abi!" Ain beranjak dan duduk di kasur. Memukul-mukul lengan Ikram dengan kesal.


"Aw ... aw ... sakit, Mi!" keluh Ikram sembari memegangi lengannya yang dipukuli Ain.


"Awas saja kalau Abi ngajak Nadia. Umi mau marah terus sama Abi," sungut Ain mencubit gemas lengan suaminya itu.


Ikram terkekeh, ia menarik Ain dalam pelukan dan menguncinya.


"Abi!" rengeknya seraya meronta, tapi menyukainya.


"Katanya tidak mau ikut, tapi kenapa marah kalau Abi mau ngajak Nadia, hmm?" tanya Ikram memandangi wajah Ain yang berada di atasnya. Ia mengendus bau skincare yang digunakan Ain. Tidak sama dengan bau milik Nadia.


"Siapa bilang? Umi cuma mau Abi berusaha lagi merayu Umi. Bukan malah mengancam mau mengajak Nadia, nyebelin." Ain memanyunkan bibirnya membuat Ikram gemas.


Dikecupnya bibir itu berkali-kali, Ikram tak menampik ia merindukan Ain yang bermanja-manja dengannya. Bukan Ain yang selalu marah-marah seperti sekarang ini.


"Ya sudah, kita berangkat kalau begitu. Abis shalat isya saja, ya," ucap Ikram sembari mencubit gemas hidung mungil Ain.


"Ih ... sakit, Bi. Iya-"


"Jangan dulu! Abi kangen sama Umi, peluk lebih lama lagi, ya?" cegah Ikram saat Ain akan beranjak dari atas tubuhnya.


Ain tersenyum dengan wajahnya yang memerah. Ia menjatuhkan kepala di atas dada Ikram, kedua tangannya melingkari tubuh suaminya dengan perasaan bahagia yang tak terkira.


Aku jadi ragu mau memintanya menikah lagi.

__ADS_1


Ikram mencium pucuk kepala Ain seraya mengeratkan pelukan di tubuhnya. Ia rindu Ain yang dulu, yang tidak pernah bermuka masam seperti saat ini. Kehadiran Nadia merubah segalanya, tapi ia pun tak dapat membohongi dirinya bahwa dia mencintai wanita itu. Serakah sekali Ikram! Ah ... biarlah!


__ADS_2