
Di bawah rimbunnya pohon yang memayungi, paman Harits berdiri tegak. Sebelah tangannya ia simpan ke dalam saku celana, dan satu lagi ia biarkan begitu saja. Matanya sayu memandang ketiga orang yang sedang berjongkok di depan dua buah pusara.
Bahu ketiganya naik-turun seiring isak tangis yang terdengar lirih dari arah mereka. Suara-suara tersendat mengadu, mengatakan rindu, membutuhkan cinta. Tanpa sadar, air matanya menetes teringat akan nasib dirinya yang tak pernah dianggap ada oleh orang tuanya.
Bukan ... dia bukanlah seorang anak yatim-piatu. Dia anak terbuang yang tak diinginkan orang tua kandungnya sendiri. Ada di antara mereka, tapi seperti tak diinginkan hadirnya. Kehidupannya jauh dari kata bahagia yang seharusnya didapatkan oleh semua anak pada masanya.
Paman Harits, harus berjuang sendiri untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Setiap hari menyaksikan ketidakadilan dari kedua orang tuanya sendiri. Hanya bersama Sarah dan suaminya, ia mendapatkan kehangatan sebuah keluarga. Sampai takdir harus memisahkan mereka karena paman Harits dipaksa ikut keluarga berpindah negara.
"Kalian sungguh beruntung, pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga meskipun kini mereka telah tiada. Aku ... kedua orang tuaku masihlah lengkap, tapi seolah aku tak pernah memilikinya."
Paman Harits membuang napas panjang, mengurai sesak dalam dada setiap kali teringat pada kehidupannya dahulu. Ia memutuskan pergi tanpa diketahui mereka hingga saat ini, tak ada satu pun dari mereka yang datang mencari. Ia pun tidak peduli.
"Lihatlah oleh kalian! Bidadari kalian yang sebenarnya rapuh, dia rela berpura-pura kuat dan tegar demi kedua adiknya. Seharusnya memang seperti itu yang namanya sebuah ikatan. Di saat yang satunya lemah, yang lain harus menjadi kuat untuk menyokong semangatnya-"
"Aku berjanji pada kalian, akan menjaga mereka meskipun nyawa yang menjadi taruhannya. Untuk Nadia ... izinkan aku menikahinya. Jujur saja, aku mulai jatuh cinta padanya." Paman Harits tersenyum meskipun air menggenang di sudut matanya.
"Konyol!" gumamnya sembari terkekeh kecil. Tangannya memukul pelan pohon mangga yang tumbuh di samping dia berdiri.
"Kalian pasti akan menertawakan aku, bukan? Aku yang konyol ini, haha ...." Suara tawanya yang sumbang kembali terdengar. Namun, tidak mengganggu ketenangan ketiga orang di depannya.
Teringat akan masa-masa muda saat bersama kedua orang tua Nadia. Saling membantu satu sama lain, saling mendukung juga saling menyayangi layaknya saudara. Kini, semua itu tak akan pernah kembali. Semua itu hanya tinggal kenangan yang akan selalu tersimpan dalam memori hati juga pikiran.
Ia berdiri tegak sesaat matanya menangkap pergerakan dari mereka bertiga. Paman Harits menunggu, di bawah pohon mangga itu ia tersenyum saat pandangnya bertemu dengan manik Nadia.
"Sudah selesai?" tanya-nya sembari memperhatikan dengan teliti wajah lelah Nadia. Mereka bertiga mengangguk lemas. Paman Harits memberi jalan pada ketiganya, ia melangkah mengiringi seperti seorang pengawal yang siap siaga.
__ADS_1
"Duh!" keluh paman Harits saat tubuhnya yang menunduk menabrak punggung Nadia yang tiba-tiba berhenti.
"Lihat-lihat kalau jalan, Kak!" sindir Nadia sesaat ia berbalik dan mendapati paman Harits yang sedang mengusap dahinya, "kepalaku sedikit pusing akibat terbentur wajah Kakak." Nadia ikut mengeluh sembari mengusap bagian atas kepalanya.
Paman Harits terkekeh merasa lucu dengan ekspresi cemberut Nadia.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba berhenti?" tanya paman Harits memandang Nadia dengan senyum simpul yang manis.
Nadia menunduk, ia menggigit bibirnya sembari berpikir apa yang akan dia bicarakan.
"Mmm ...."
"Aku tahu, masalah Ruby? Kamu tidak bisa melihatnya bersedih?" tukas paman Harits dengan cepat. Ia tersenyum tatkala Nadia membelalakkan mata padanya.
"Itu artinya kamu belum mengenal aku. Aku akan selalu tahu semua masalah yang sedang menimpamu." Paman Harits mengangkat bahu bangga.
Nadia berdecih kesal. Ia berbalik dan melangkah perlahan diikuti paman Harits yang berjalan di sampingnya.
"Aku serahkan semuanya kepadamu, Nadia. Semua keputusan ada di tanganmu, kamulah yang berhak memutuskan. Apakah mereka tetap di penjara, ataukah mereka dibebaskan saja dan melupakan semuanya. Anggap saja itu sebagai ujian hidup yang harus kamu jalani," tutur paman Harits bijak.
Ia kembali tersenyum manakala Nadia mendongak menatapnya. Kedipan mata nakalnya membentuk semu di kedua pipi wanita itu.
Ia berpaling, bergelut dengan hati dan pikirannya tentang apa yang akan ia putuskan.
"Pikiran saja terlebih dahulu. Kamu bisa meminta petunjuk pada Yang Kuasa untuk masalah ini. Manusia tidak memiliki kuasa apa pun untuk memberi balas, tetapi Tuhan tidak pernah tidur dan selalu tahu apa yang terjadi pada hamba-Nya. Bukan begitu-"
__ADS_1
"Ah ... aku sudah seperti seorang ustadz saja. Haha ...." Ia mengusap tengkuknya salah tingkah. Wajahnya berpaling pada awan cerah yang berarak. Nadia termenung memikirkan apa yang baru saja dikatakan paman Harits.
"Terima kasih," ucapnya seraya memberikan senyuman untuk paman Harits saat mereka bertatapan.
Ah ... gatal rasanya tangan ingin merengkuh tubuh di sampingnya. Paman Harits mengepalkannya menahan diri untuk tidak melewati batasannya. Ia usapkan tangan itu pada tengkuk serba salah.
Tanpa mereka perhatikan, dua wanita lainnya tersenyum-senyum melihat tingkah menggemaskan kedua orang di sana. Jalannya saja seperti siput seolah tak ingin ada ujungnya.
Mereka masuk ke dalam mobil bersama-sama. Meninggalkan rindu dan cinta untuk kedua orang tua yang telah meninggalkan mereka lebih dulu.
"Tuan, ada yang mencari Anda! Mereka memaksa untuk masuk dan menunggu di ruang tamu," lapor Bibi ketika paman Harits baru saja melangkah di teras.
Firasat lain dirasakannya, rasa enggan begitu kuat menguasai hatinya. Namun, tak apa ia akan tetap menemuinya.
"Baik ...." Paman Harits beralih pada Nadia dan dua adiknya, "kalian langsung istirahat saja ke kamar. Jangan keluar lagi!" Itu bukan permintaan, tapi sebuah perintah yang tak ingin dibantah.
Ketiganya mengangguk, kali ini mereka percaya pada setiap ucapan laki-laki itu. Meskipun tidak secara langsung mengatakannya, tapi dari logat perintah dan ungkapan selalu mengandung maksud tersembunyi.
Nadia membawa Rima dan Winda untuk beristirahat di kamarnya. Ia ingin berbincang ringan layaknya saudara perempuan.
Sementara paman Harits menemui tamunya. Dengan gayanya yang angkuh, paman Harits tidak menutup-nutupi siapa dirinya.
Dan di rumah baru anak-anak asuh Nadia, Ibu disibukkan dengan menemani anak-anak bermain. Ia dibantu oleh dua orang suruhan paman Harits untuk merawat dan menjaga mereka semua.
Di kamarnya, Ruby duduk di dekat jendela. Ia menopang dagu di atas tangan yang ia letakkan di jendela. Menatap kolam ikan kecil yang sengaja dibuat sebagai hiasan. Terngiang di telinganya ucapan-ucapan Bilal barusan. Ruby mendesah, ia memejamkan mata lelah. Dilema, seperti apa sebenarnya perasaannya saat ini? Ia pun tidak tahu.
__ADS_1