Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Kondisi Yang Memburuk


__ADS_3

"Nadia, kondisi tubuh kamu cuma kamu seorang yang tahu. Ikram tidak tahu apa-apa soal penyakitmu ini, makanya dia seenaknya saja melakukan itu padamu tanpa takut kamu akan tersakiti. Beruntung kamu tidak koma. Saya malah berharap saat itu kamu kesakitan supaya Ikram tahu soal ini. Kamu ini, ya, pandai sekali menyembunyikan ini semua. Ini juga ...." Dokter mengomentari kondisi Nadia, ia membolak-balik pergelangan Nadia sambil tersenyum dan menggeleng.


"Aku harus apa? Memang tidak bisa berbuat banyak, jadi pasrah saja. Beruntung, saat itu tubuhku tidak langsung drop," sahut Nadia dengan suaranya yang lemah. Ia berbaring di ranjang pasien karena sepulangnya dari berlibur kondisi tubuhnya tiba-tiba drop.


Nadia langsung melarikan diri dengan menggunakan jasa taksi online langganannya tanpa diketahui siapa pun. Sudah dua hari ia berada di Rumah Sakit menjalani rawat inap atas saran dari dokter.


"Pokoknya, saya tidak akan mengizinkan kamu pulang sebelum kondisi tubuh kamu benar-benar sehat," tegas dokter lagi tak ingin dibantah.


"Iya, Dokter. Sudah seperti Mamah, ya," celoteh Nadia tersenyum simpul menatap dokter yang sudah seperti Ibu baginya.


Dokter wanita itu tersenyum, ia menepuk tangan Nadia pelan.


"Sarah itu sahabat saya, kami bahkan sudah seperti saudara yang saling membutuhkan satu sama lain. Kamu sudah saya anggap seperti anak sendiri, bagaimana mungkin saya membiarkan anak saya kesakitan sampai seperti ini. Lagi pula, Nadia ...."


Dokter wanita itu menatap manik Nadia intens, ada sesuatu yang ingin dia katakan, tapi ragu. Dia khawatir Nadia akan tersinggung jika ia membahasnya.


"Ada apa, Dokter? Katakan saja, jangan sungkan," ucap Nadia setelah mengamati mimik risau di wajahnya.


"Saya tahu bagaimana kondisi rumah tanggamu dengan mereka. Kenapa kamu masih bertahan walaupun diperlakukan tidak adil seperti itu?" tanya dokter menatap penuh simpati pada wanita cantik yang berbaring lemah di atas ranjang pesakitan.


Nadia menarik napas panjang sembari merubah posisinya menghadap langit-langit ruangan.


"Awalnya aku ingin menyerah, tapi aku sadar masih ada yang harus aku lakukan sebelum aku pergi. Aku sudah membuat keputusan, Dokter," jawab Nadia kembali berpaling pada dokter di sampingnya.


"Ya sudah, sebaiknya kamu istirahat. Ingat! Jangan merengek meminta pulang karena saya tidak akan pernah mengizinkan kamu pulang sebelum kamu benar-benar pulih. Kamu adalah salah satu yang beruntung dari sekian banyaknya pasien penderita gagal ginjal. Allah memberimu umur panjang hingga kamu masih bisa merasakan nikmat yang diberikan-Nya sampai saat ini. Jangan sia-siakan nikmat yang diberikan Allah. Tidurlah! Saya akan tinggal, akan ada suster yang menemani kamu seperti biasa," nasihat dokter sebelum beranjak.

__ADS_1


Nadia merenung, benar. Dia mungkin salah satu orang yang beruntung yang dipilih Tuhan. Laisa filkauni muhallun 'alaih. Tiada yang mustahil bagi-Nya di dunia ini. Orang yang sudah divonis berumur pendek, masih bisa menghirup udara sampai detik ini. Mungkin orang-orang menyebutnya sebagai mukjizat, tapi Nadia menyebutnya sebagai ma'uunah. Pertolongan dari Allah mungkin imbalan dari setiap kebaikan yang dia lakukan.


Ia memejamkan mata, malam telah sampai ke puncaknya. Dua hari Nadia dirawat di Rumah Sakit tanpa ada yang tahu bahkan Sarah sendiri pun tidak ia kabari. Nadia tak ingin membuat semua orang panik dan cemas karena kondisinya yang tiba-tiba memburuk.


Nadia tak pernah tahu, ketiga anak Ikram sibuk mencari-cari dirinya di rumah. Bilal dan Nafisah terkadang mengigau dalam tidur memanggil-manggil nama bundanya. Esok orang tuanya akan kembali dari tanah suci.


"Bu, sebenarnya Bunda ke mana? Kenapa tidak ada kabar sama sekali?" tanya Ruby dengan gurat cemas yang kentara.


"Ibu juga tidak lihat bahkan mang Sarif saja tidak lihat. Jadi benar-benar tidak ada yang tahu ke mana Bunda kamu," jawab Ibu pengasuh dengan riak yang sama seperti Ruby.


"Coba kamu ke pabriknya, tanya saja sama karyawannya di sana. Siapa tahu mereka punya informasi tentang di mana Bunda kamu," saran Ibu.


"Oh, benar juga. Kenapa tidak kepikiran dari kemarin. Besok aku ke sana," seru Ruby dengan binar harapan di mata.


"Sebaiknya jangan besok. Besok Umi sama Abi pulang, kamu sambut dulu mereka baru setelah itu pergi ke pabrik," ucap Ibu lagi yang seketika memudarkan senyum di wajah Ruby.


Pagi kembali datang, seperti sudah kebiasaan Bilal dan Nafisah pergi ke rumah Nadia. Setiap hari mereka berharap Nadia akan pulang dan menemani mereka. Namun, hingga hari itu mereka kembali kecewa. Nadia masih belum kembali juga.


Kedua anak itu duduk memeluk kaki di teras rumah Nadia. Ibu yang melihatnya tidak tega, anak-anak Ikram sudah seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Setiap hari pergi ke rumah Nadia mengetuk-ngetuk pintu rumah itu sambil memanggil-manggil.


"Bunda! Apa Bunda sudah pulang? Bunda!"


Menyedihkan. Sungguh miris, melihat kedua anak itu duduk memeluk lutut setiap hari menunggu kedatangan Nadia.


"Sayang, sarapan dulu, yuk! Nanti kalian sakit. Kalau kalian sakit terus Bunda pulang Ibu harus jawab apa?" ajak Ibu kepada keduanya. Setiap hari merayu dan memberikan harapan. Mereka akhirnya beranjak mengikuti Ibu ke yayasan. Makan bersama anak-anak di yayasan, seperti itulah setiap harinya.

__ADS_1


"Umi sama Abi mau pulang hari ini. Nanti kita siap-siap menyambut, ya. Mungkin akan sampai malam nanti," ucap Ibu sembari menyiapkan makanan untuk keduanya.


Baik Bilal maupun Nafisah, keduanya tidak ada yang menyahuti. Diam sambil menerima sepiring nasi dari Ibu. Makan pun tak berselera rasanya.


Malam kembali datang, suara tabuh-tabuhan menyambut kedatangan tiga orang dari tanah suci. Wajah lelah dan letih, kusut tak ada cahaya kebahagiaan yang terpancar dari ketiganya seperti orang yang baru kembali dari tanah suci.


Ketiga anaknya berdiri di teras rumah bersama Ibu menunggu kedatangan mereka dengan senyum manis. Namun, senyum itu memudar tatkala Ain dan Ikram hanya membalas senyum mereka seadanya.


Ikram bahkan langsung melengos masuk ke rumah setelah bersalaman dengan anak-anaknya. Tanpa bertanya soal Nadia yang tak ikut hadir menyambut kedatangannya.


"Ain, di mana madumu? Aku tidak melihatnya tadi," bisik Yuni setelah berada di dalam rumah dan duduk di sofa. Ibu membawakan mereka minuman dingin akan sangat menyegarkan untuk membasahi tenggorokan mereka yang kering.


"Terima kasih, Bu," ucap Ain seraya meminum jus orange buatan Ibu.


"Tidak usah dipikirkan, mungkin dia memang tidak ingin menyambut kita karena cemburu. Atau juga dia sedang meringkuk di sudut kamar menangis seorang diri." Keduanya terkekeh kecil agar tak terdengar oleh ketiga anak Ain yang juga duduk di sofa.


"Umi tidak bawa oleh-oleh?" tanya Bilal setelah beberapa saat duduk dan tak ada perbincangan.


"Iya, maaf, ya. Umi tidak sempat beli oleh-oleh karena pada waktu di sana ada kejadian aneh yang tiba-tiba. Jadilah Umi tidak sempat membelinya, ini pun sebenarnya belum waktunya untuk pulang. Maaf, ya, sayang. Nanti kita beli di sini saja, ya," jawab Ain tak enak pada kedua anaknya.


Ia memang tidak membeli apa pun sebagai buah tangan karena satu hal.


Ini gara-gara kartu ini tiba-tiba tidak bisa dipakai. Jadinya aku tidak bisa membeli apa-apa untuk mereka. Apa Nadia tidak mengiriminya lagi? Ikram juga tidak mau memberi uang dari Nadia itu. Sebal.


Ain menggerutu dalam hati. Mengumpat tiada henti. Ketiga anaknya pamit undur diri ke kamar.

__ADS_1


"Itu memangnya kenapa kartunya tidak bisa dipakai kemarin? Bukannya sebelumnya masih bisa, ya," tanya Yuni setelah mereka hanya tinggal berdua saja.


"Aku juga tidak tahu, besok aku mau tanyakan. Sekarang aku lelah mau tidur," ucap Ain seraya beranjak meninggalkan ruang tengah diikuti Yuni. Keriuhan tadi seketika lenyap berubah menjadi sunyi.


__ADS_2