
"Dia tahu, Nyonya. Nona Nadia tahu kalau Tuan Harits sudah memiliki istri, tapi istri beliau sudah tidak ada," sambar Bibi dengan cepat menyela kalimat wanita tua itu.
Kepalanya berputar, berhadapan dengan Bibi. Urat-urat di wajah keriput itu menonjol karena merasa kesal.
"Tahu apa, kamu? Kamu itu cuma pembantu di sini dan tidak tahu apa-apa tentang anakku." Ia menggerakkan jari telunjuknya di depan wajah Bibi. Rahangnya mengeras matanya menyorot tajam.
"Aku yang tahu semua tentang anakku karena aku adalah Ibunya. Jadi jangan sok tahu kamu!" lanjutnya lagi menuding Bibi yang bergeming di tempatnya berdiri.
"Yang saya dengar beliau mengatakan anak dan istrinya sudah pergi. Juga sejak Tuan datang ke rumah ini, beliau tidak pernah membahas soal anak dan istrinya lagi bahkan sekalipun saya belum pernah melihat Tuan membawa wanita selain Nona Nadia," sahut Bibi tetap sopan meskipun mendapat tatapan intimidasi dari wanita tua itu.
"Mungkin karena wanita kampungan ini dia sampai tidak mengakui istrinya. Pelakor memang seperti itu, bukan? Merusak rumah tangga orang hanya karena menginginkan suaminya. Cih ... tidak tahu malu!" cibir wanita yang tak lagi muda itu sembari melirik Nadia lewat sudut matanya.
Nadia menarik napas dalam-dalam, membuangnya secara perlahan. Ucapan yang terlontar dari bibir keriputnya itu mengingatkannya pada kehidupan yang baru saja ia lepas. Menjadi istri kedua dari seorang laki-laki yang telah beristri dan beranak tiga.
"Apa sebenarnya yang diinginkan pelakor dari merusak rumah tangga orang lain selain suami dan hartanya? Apa dia akan merasa puas melihat wanita lain menderita?" Lagi, kalimat menohok itu cukup mengoyak pertahanan Nadia. Namun, ia tetap mencoba untuk bersikap tenang.
Sementara Winda, tak henti menggeram. Bunyi giginya yang beradu memenuhi telinga Nadia. Cengkeraman tangannya di lengan Nadia pun semakin mengerat. Bibi sama geramnya, tapi ia lebih bisa menguasai dirinya sama seperti Nadia.
"Pelakor itu selalu datang dari kalangan rendah seperti kalian-"
"Mbak Nadia bukan orang rendahan seperti yang Anda sebutkan itu, Nyonya. Kenapa orang-orang kaya dan berpendidikan selalu tak pernah bisa menjaga lisannya? Padahal, mereka memakan bangku sekolah hingga perguruan tinggi. Bukankah Anda seharusnya lebih bisa menjaga sikap dan kata-kata dari pada kami yang Anda sebut sebagai orang rendahan!" Winda tak lagi dapat menahan diri.
Wanita itu tertawa, tak peduli pada apa yang dikatakan Winda barusan. Baginya, mereka hanya orang rendahan yang tak perlu dihargai apa lagi dihormati.
"Pelakor tetap akan dianggap rendah sekalipun berhasil menjadi istri orang terpandang. Dia akan tetap dianggap hina karena telah menjadi duri dalam daging rumah tangga orang lain. Tidak ada tempat untuk pelakor seperti kalian hidup dengan tenang karena apa yang kalian miliki bukanlah milik kalian yang sebenarnya," ucapnya dengan nada tegas yang ia perdengarkan.
Sorot matanya yang tajam menghujam manik Nadia. Kebencian, dendam, penderitaan, rasa kecewa yang dalam semua nampak jelas pada iris matanya yang serupa dengan milik paman Harits.
__ADS_1
Nadia kembali menghirup udara sedalam-dalamnya, mengurai sesak yang enggan beranjak. Winda berkaca tidak terima kakaknya itu dianggap sebagai perusak rumah tangga orang lain bahkan saat ia menjadi istri kedua pun, ia lebih banyak mengalah dari pada berebut.
"Sepertinya, Anda punya masalah pribadi dengan orang yang bernama pelakor itu. Jelas sekali terlihat dari mata Anda yang dipenuhi dendam membara, juga ... ada penderitaan di dalam sini." Nadia menunjuk matanya sendiri dengan senyum tipis yang samar terlihat.
Urat wajah wanita angkuh itu kembali menegang. Sangat tidak mudah menekan Nadia ternyata. Winda ikut tersenyum saat melihat ketegangan yang nampak pada wanita itu.
"Jika Anda memiliki masalah dengannya, maka selesaikan dengan baik-baik. Berpisah atau pun bertahan? Apa pun pilihan Anda semuanya akan memiliki resiko yang harus Anda tanggung sendiri. Menggembor-gemborkan aku sebagai pelakor padahal Anda belum tahu yang sebenarnya." Nadia kembali terdiam, mulutnya terkatup rapat menatap lawan bicaranya.
"Maling teriak maling. Mana ada pelakor yang mau mengakui dirinya sebagai pelakor. Perebut suami orang, perusak rumah tangga orang lain. Kamu pasti yang menyebabkan anakku tidak mau lagi mengakui istrinya," tudingnya penuh amarah yang bergejolak di hatinya.
"Nyonya, tolong jaga ucapan Anda! Saya khawatir Tuan tidak akan bisa menerima kalau mendengar ucapan Anda ini," pinta Bibi sembari membungkuk sopan pada wanita itu.
Ia semakin murka, matanya menatap nyalang sosok Bibi yang kembali telah menegakkan tubuhnya.
"Bagaimana mungkin dia tidak menerima? Aku akan memperingatkannya sebelum semuanya terlanjur dan dia kehilangan segalanya gara-gara si pelakor ini!" Ia melirik Nadia lagi.
"Ku-"
"Mbak?!"
Winda kesal karena Nadia selalu mencegahnya. Ia melipat kedua tangan dan berpaling darinya. Tangannya mengusap mata yang sudah berair. Kenapa Nadia selalu mengalah dan diam saja saat dihina orang habis-habisan seperti itu.
Ia bahkan tetap tenang dan tersenyum, tak ingin ikut tersulut yang hanya memperkeruh suasana saja.
"Wah ... wah ... ada yang sedang melakonkan drama rupanya! Semoga aku tidak terlambat. Aku akan duduk di sana dan menonton saja." Suara paman Harits yang tiba-tiba mengejutkan semua orang.
Nadia yang sempat berpandangan, buru-buru membuang muka dari sosok paman Harits. Dalam hatinya ia merasa tertipu oleh laki-laki itu. Paman Harits duduk di sofa, menatap Nadia yang masih berpaling muka darinya dengan sedih. Namun, bibirnya yang seksi tetap tersenyum meskipun tipis.
__ADS_1
"Ha-harits?" panggil wanita itu terbata. Keangkuhannya seketika menguap, hilang digantikan oleh kecemasan dan kekhawatiran yang melanda hatinya.
"Apa kabar, Nak?" Ia berusaha mendekat ke arah paman Harits. Namun, urung tatkala melihat paman Harits bergeming dengan pancaran kebencian yang menguar di matanya.
"Lanjutkan drama Anda, Nyonya! Kenapa berhenti? Aku baru saja sampai dan ingin melihat Anda melakonkan drama di sini, di rumahku!" ucap paman Harits tersirat ancaman dari kalimat yang ia keluarkan.
Wanita itu terpaku di tempat, ia tak dapat bersikap arogan lagi sekarang. Ke mana Nyonya yang sombong tadi? Kenapa hanya ada wanita tua yang berdiri dengan tubuh gemetar gelisah.
Paman Harits menjatuhkan pandangan pada Nadia yang menunduk. Ia yakin wanita itu juga salah faham terhadapnya.
"Sayang! Kemarilah, duduk di sampingku!" Paman Harits menepuk-nepuk sofa di samping tubuhnya. Meminta Nadia yang masih tertunduk untuk duduk di sana.
Hanya percaya padaku ... hanya padaku!
Hanya dengarkan aku ... jangan dengarkan kata orang lain!
Kata-kata paman Harits terngiang di telinganya. Inikah maksudnya saat dia berkata begitu waktu itu? Akan ada banyak hasutan yang datang dari segala arah untuk menggoyahkan kekuatan cintanya.
Perlahan Nadia mengangkat pandangan, ia menatap paman Harits yang tersenyum menunggunya. Tangannya kembali menepuk bagian kosong di sampingnya duduk.
Nadia menarik napas panjang sebelum beranjak dan duduk di tempat yang ditepuk paman Harits tadi meskipun tetap menjaga jarak.
"Anda tahu, Nyonya! Siapa calon istriku ini?"
Hening, semua orang menunggu apa yang akan disampaikan paman Harits. Wanita itu pun bungkam. Antara benci dan penasaran juga terhadap wanita berhijab itu.
*****
__ADS_1
Maafkan othor akak semuanya ... karena kondisi tubuh yang belum stabil, jadi belum bisa up seperti biasanya. Doakan Othor semoga hari ini bisa up seperti biasa.