Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Siluman


__ADS_3

"Bunda, apa Bunda akan mengambil semua barang-barang Bunda?" tanya Bilal setelah asik menikmati makanan yang dibeli paman Harits tadi.


"Mmm ... tidak. Sudah tidak ada yang penting di sana," jawab Nadia setelah berpikir beberapa saat.


Bilal manggut-manggut mengerti. Ada satu anak yang bergelayut manja di pangkuan Nadia. Usianya barulah empat tahun saat ia tinggal pergi. Nadia mengusap-usap rambut anak itu membuatnya nyaman.


"Bunda, tidak pergi lagi, 'kan?" tanya-nya dengan suara khas anak balita. Nadia tersenyum saat mereka bertatapan.


"Bunda tidak bisa berjanji, tapi Bunda akan sering-sering menjenguk kalian di sini," jawabnya. Anak itu memeluk tubuh Nadia. Erat. Ia ingin tetap seperti ini sebelum bundanya itu pergi lagi.


"Mbak, kalau semua barang-barang Mbak Nadia tidak terpakai lagi. Bagaimana kalau sebaiknya diberikan saja pada santri di pondok. Mereka pasti senang. Gamis-gamis Mbak Nadia masih bagus-bagus," saran Ibu yang duduk melantai bersamanya.


"Tapi itu bekas aku pakai, Bu. Apa tidak apa-apa kalau diberikan pada mereka?" Nadia tak enak hati jika harus memberikan barang-barang bekasnya pada orang lain.


"Walaupun bekas, tapi itu masih bagus. Masih sangat layak pakai. Sayang kalau dibiarkan begitu saja," ucap Ibu lagi meyakinkan.


"Ya sudah, bagaimana baiknya saja. Ambil saja yang masih berguna dan berikan pada mereka. Untuk yang sudah tidak layak, dikubur saja," ucap Nadia. Ibu menganggukkan kepalanya.


"Bu, lihat kak Harits? Di mana dia?" tanya Nadia baru tersadar jika paman Harits tidak ada di sana.


"Oh ... tadi pamit keluar. Katanya mau melihat-lihat." Nadia mengangguk-anggukkan kepala. Ia teringat pada Yuni. Bagaimana kabar wanita itu? Apa dia masih di sini?


"Oya, Bu. Bagaimana kabar Yuni? Apa dia masih di sini?" Nadia menatap ingin tahu pada Ibu.


"Kalau Yuni, ya ... dari awal juga dia memang sudah seperti itu. Jadi tidak heran kalau sekarang jarang ada di rumah. Yuni lebih banyak menghabiskan waktu di luar, apa lagi sekarang neng Ruby tidak ada," jawab Ibu lagi sambil membayangkan kelakukan Yuni akhir-akhir ini.


Nadia terus berbincang bersama Ibu sambil menunggu waktu. Ia juga rindu celotehan anak-anak asuhnya.

__ADS_1


Sementara itu, paman Harits berjalan melihat-lihat rumah yang dulu ditempati Nadia. Rumah sederhana itu nampak bersih karena Ibu dan anak-anak selalu merawatnya dengan baik.


Ia melirik gerbang pondok dan juga masjid. Para santri lalu lalang di area ibadah itu. Perempuan dan laki-laki silih berganti memasuki masjid. Pemandangan yang tak akan dia dapati di dunianya.


Paman Harits melangkah semakin mendekati gerbang. Ia hanya ingin tahu seperti apa cara hidup santri yang ada di pesantren. Alunan ayat-ayat suci Al-Qur'an saling bersahutan dengan merdu dari mulut ke mulut.


Paman Harits memanglah bukan orang yang mengerti agama, tapi setidaknya ia tidak bersikap munafik di hadapan semua orang. Ia memang awam soal mengaji ilmu agama, tapi soal mengaji diri paman Harits sedikitnya tahu dan mengerti.


Ia mengalihkan pandangan pada mang Sarif yang sedang menyapu halaman rumah Ikram. Lelaki tua itu saja masih dipekerjakan laki-laki yang bergelar ustadz itu untuk dijadikan pembantu. Mirisnya!


Tak sengaja mata paman Harits menangkap satu makhluk jadi-jadian yang baru memasuki halaman rumah Ikram. Mata batinnya bekerja dengan baik, ia dapat mengetahui makhluk dari jenis apa yang sedang berjalan di sana hanya dengan satu kali melihat saja.


Ia tersenyum, menggoda makhluk itu sebentar sepertinya menyenangkan.


"Wah ... wah ... aku tidak akan percaya bahwa di pondok ini ada siluman ular yang berkeliaran jika saja mataku ini tidak melihatnya secara langsung." Paman Harits membentuk senyum di bibirnya. Ia bahkan mengedipkan mata genit saat makhluk itu menoleh karena mendengar ucapannya tadi.


Paman Harits menjatuhkan dagu di atas tembok gerbang yayasan. Ia masih tersenyum menatap Yuni yang kini termangu di tempatnya.


Dahinya berkerut, menebak siapa laki-laki yang sedang menatap genit padanya itu. Paman Harits melambaikan tangan, seolah-olah ia tertarik pada Yuni. Semburat warna merah muncul di kedua pipi Yuni.


Paman Harits yang tampan dan mempesona itu berhasil membuat jantung Yuni berdentam-dentam dengan senyumnya. Manis, dua lesung pipi kecil di pipinya menambah kesan manis pada senyumannya itu.


Yuni tersipu, ia sudah masuk ke dalam perangkap paman Harits. Mata Yuni melirik mobil yang terparkir di depan aula yayasan. Napasnya tertahan saat mengenali jenis mobil itu.


Dia kaya! Siapa dia?


Paman Harits ikut melirik mobilnya. "Itu mobilku. Sepertinya kamu sangat mengenal barang-barang mewah, ya? Terlihat dari reaksimu tadi saat melihat mobil itu." Paman Harits tersenyum merendahkan sekaligus mengejek Yuni.

__ADS_1


"Aku memang pecinta barang-barang mewah. Salah satunya mobil yang di sana itu." Yuni menunjuk mobil paman Harits dengan dagunya. Ia bersikap seolah-olah dia memang orang kaya seperti paman Harits.


Ia mendekat, ke mana bayinya? Tidak ada yang tahu ke mana bayi malang itu. Entah di mana Yuni menyembunyikannya.


"Yuni!" Ia mengulurkan tangannya hendak berjabat dengan paman Harits.


Laki-laki itu bergidik. Ia menatap jijik tangan yang menggantung di depannya itu.


"Maaf, tapi aku alergi bersentuhan dengan orang asing yang belum aku kenal sepertimu. Tanganku bisa gatal-gatal dan aku tak akan berhenti untuk menggaruknya nanti." Paman Harits mencibirkan bibir. Paman Harits tahu sesuatu tentang Yuni.


"Oh ...." Yuni menarik tangannya kembali. Ia menilik paras rupawan paman Harits. Sempurna. Tak cacat pada sosok laki-laki yang ada di hadapannya itu. Yuni semakin menggebu, ada hasrat ingin memiliki dalam hatinya.


"Memangnya Bapak ini siapa? Kenapa ada di yayasan?" tanya Yuni dengan bingung mencari panggilan apa yang cocok untuk laki-laki itu.


Paman Harits tertawa. Anak-anak saja ia tolak memanggil Bapak.


"Memangnya aku ini Ayah suamimu hingga kamu panggil Bapak? Aku yang tampan dan masih muda ini rasanya tidak pantas dipanggil Bapak. Terlalu tua untuk wajah rupawan ini, kamu tahu!" ujar paman Harits sembari memegangi wajahnya dan mengusap-usap dagunya pelan.


Aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya, membuat Yuni ingin berlama-lama dengannya. Paman Harits tersenyum, terlebih saat melihat wajah mesum yang ditampilkan Yuni.


"Kenapa mereka mengintip di sana?" Paman Harits menunjuk pada jendela masjid di mana beberapa pasang mata sedang memandang ke arah mereka.


Yuni ikut berpaling, ia tak acuh. Tak peduli pada pandangan mereka.


"Biarkan saja. Jadi, Tuan di sini apa sedang memberi donasi atau mau mengambil salah satu anak? Semua itu bisa dilakukan melalui saya," ucap Yuni dengan senyum cerah saat menemukan ide brilian dalam otak kecilnya.


Benar. Kenapa tidak dia gunakan saja mereka untuk mendapatkan uang. Mendengar itu, alis paman Harits terangkat sebelah. Dia tahu apa maksud tujuan dari ucapan Yuni.

__ADS_1


"Memangnya boleh aku mengambil anak dari sini?"


__ADS_2