
LAMARAN
"Kakak, katakan siapa Kakak sebenarnya?"
Nadia menyelidik paman Harits yang masih bersikap tenang. Nada suaranya terdengar sengit, meninggalkan jejak pahit saat mendengarnya. Tak lama senyum miring terbentuk di bibir paman Harits yang seksi menggoda. Entahlah kenapa menggoda.
Jelas saja, warnanya yang merah muda persis bibir anak-anak muda itu dan selalu terlihat basah nampak seksi di mata siapa pun yang melihatnya.
"Kita menepi?" tawar paman Harits dengan sikap santai yang ia tunjukkan.
"Tidak perlu! Aku ingin cepat melihat keadaan adikku. Ceritakan saja siapa Kakak sebenarnya?" Nadia berpaling dengan sengit tatkala paman Harits memandangnya.
"Baiklah. Hah~"
Helaan napas panjang dikeluarkan paman Harits sebelum ia memulai cerita siapa dirinya.
"Aku dan kedua orang tuamu adalah sahabat. Ya ... walaupun usiaku berada di bawah mereka, tapi kami selalu bersama. Bercita-cita bersama dan bahkan berniat menjodohkan anak-anak kami kelak. Sayangnya, aku harus pergi ke Luar Negeri saat itu mengikuti kepindahan orang tuaku. Jadilah, aku tak pernah bertemu mereka lagi hingga saat ini," ungkap paman Harits sembari menjatuhkan pandangan pada Nadia beberapa saat saja.
Wanita di sampingnya beriak. Ia menundukkan wajah, pantas saja sosoknya tak ada dalam cerita selama ini. Ternyata hanya sebatas sahabat orang tuanya.
"Lalu, kenapa sekarang Kakak si sini?" Nadia berpaling memandang sendu sosok laki-laki yang selama beberapa Minggu ini mengaku sebagai pamannya.
"Itu karena permintaan mamahmu. Aku sendiri memang sudah berniat datang ke Indonesia untuk menjenguk kalian sekalian saja menetap di sini dan menjalankan bisnisku yang ada di sini," ungkap paman Harits yang membuat Nadia sedikit bingung.
"Mamah?" ulang Nadia cukup terkejut.
__ADS_1
"Yah ... beberapa tahun yang lalu aku mendapatkan surat dari Sarah, tapi aku baru membukanya belum lama ini karena pada saat itu aku sedang tertimpa musibah. Istri juga anakku meninggal karena kecelakaan." Paman Harits tersenyum melihat Nadia bungkam.
"Seandainya aku datang lebih cepat, mungkin Sarah masih ada bersama kita saat ini," ucapnya berandai-andai. Nada penuh penyesalan ia perdengarkan dan mengusik hati Nadia. Ia fokus pada jalanan, dan Nadia memandangnya dengan air mata yang berjatuhan.
"Mamah tidak pernah menceritakan tentang Kakak," gumamnya pelan.
"Itu karena aku tidak pernah memberi kabar kepadanya. Aku pikir kami sudah saling melupakan, tapi surat dari Sarah membuktikan kalau kami masih saling mengingat satu sama lain. Aku bersyukur waktu membaca surat dari Sarah, dan berjanji memenuhi keinginannya. Untuk itu, aku cepat-cepat datang ke Indonesia untuk bertemu dengan kalian. Sayang, semuanya sudah terlambat saat aku tiba di sini," ungkapnya menyesal sembari mengingat kenangan saat-saat bersama Sarah dan suaminya. Kenangan yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.
"Keinginan? Memangnya apa keinginan Mamah?" Nadia penasaran. Maniknya menatap tak sabar ingin segera mendengar jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan.
Keinginan? Keinginan seperti apa?
"Di dalam surat itu Sarah mengatakan kalau dia sudah tak akan lama lagi hidup di dunia ini. Kupikir dia hanya bercanda karena ingin aku kembali. Dia menitipkan putri satu-satunya kepadaku, untuk aku asuh dan aku rawat karena anak malang itu tidak memiliki siapa pun lagi di dunia ini selain orang tua dan pamannya ini. Jadi, Nadia ... mulai saat ini kamu adalah tanggung jawabku-"
Hening. Nadia tidak menanggapi, ia menundukkan kepala menangis saat mengingat Sarah yang pergi begitu saja. Paman Harits mengusap kepalanya tanpa segan. Awalnya ia pikir Nadia hanyalah gadis kecil yang malang, ia berniat mengangkatnya sebagai anak. Ia mencari semuanya tentang Sarah dan anaknya, tapi setelah mendapat informasi semuanya sudah terlambat.
Setelah melihat sosok Nadia yang terbaring di ranjang Rumah Sakit, ia tak ingin terlambat menangani. Paman Harits melakukan segala macam cara termasuk mencari pendonor yang ia bayar dengan jumlah yang tak sedikit. Semua itu demi menyelamatkan hidup Nadia.
Berhari-hari telah berlalu, timbul rasa kagum di hatinya pada sosok cantik itu. Niat awal hanya ingin menjadikannya anak, berubah haluan. Ia ingin bertanggungjawab atas hidup Nadia dengan menikahinya. Apa lagi setelah ia mendengar kabar tentang Ikram dan Ain yang memperlakukannya dengan tidak baik, paman Harits semakin bertekad untuk membuat Nadia luluh.
Ia tak ingin kejadian yang sama menimpa dirinya, dimanfaatkan karena Nadia memiliki hati yang tulus. Diperalat karena Nadia sama sekali tidak pernah membalas. Tekad itu semakin nyata setelah ia bertemu langsung dengan Ikram dan anak-anak asuh Nadia.
"Tapi aku sudah dewasa, Kak. Aku bisa mencari jalanku sendiri," lirih Nadia dengan suaranya yang bergetar. Paman Harits tersenyum, ia tahu itu dan ia tak menampik keinginan Nadia.
Untuk itu, ia akan bersabar sampai hati Nadia benar-benar bisa menerimanya, dan seandainya ia tetap tidak bisa menerima setidaknya paman Harits masih diizinkan untuk bersamanya walau hanya sebatas keluarga angkat saja.
__ADS_1
"Aku mengerti, aku juga tidak ingin membatasi semua yang ingin kamu lakukan. Aku hanya ingin menjalankan amanat dari Sarah. Itu saja," sahut paman Harist dengan santai.
Nadia meliriknya. Ia pun tau menampik dalam hatinya tumbuh rasa kagum pada sosok laki-laki berusia lanjut tersebut. Usianya berada di atas Ikram, tapi memiliki paras wajah seperti berusia di bawah mantan suaminya itu.
Paman Harits menepikan mobil, ia memutar tubuh membuat Nadia berpaling salah tingkah.
"Jadi, Nadia ... mau tidak kamu menjadi istriku? Ini bukan lagi bentuk tanggung jawab, tapi ini murni dari hati ingin menjadikan kamu istriku. Menikahlah denganku, akan aku buat kamu bahagia. Aku akan menjadikan kamu ratu di hati juga istanaku. Nadia ... apa kamu bersedia menerima lamaranku?" ungkap paman Harits secara terang-terangan.
Jantung Nadia berdegup tak karuan. Ini sebuah lamaran langsung meskipun tidak romantis. Baru kali ini Nadia merasakan perasaan aneh yang menciptakan bunga-bunga di hatinya. Entah bahagia atau tidak? Hati Nadia benar-benar dihinggapi perasaan asing yang menggebu-gebu.
Nadia meremas ujung hijab yang ia kenakan. Ia mengigit bibirnya gugup, jawaban seperti apa yang harus ia berikan. Mantan suaminya baru saja mengajaknya rujuk. Saat bersama dengan Ikram, Nadia belum pernah merasakan perasaan sehebat ini. Apakah dia jatuh cinta lagi?
Paman Harits masih menunggu, memandangi Nadia penuh harap. Hatinya bersiap untuk menerima semua kemungkinan yang akan terjadi. Apa pun itu, dia akan menerimanya dengan lapang dada.
"Apakah ini lamaran?" Pertanyaan dari Nadia mengurai ketegangan dalam hati paman Harist. Ia terkekeh sembari mengibaskan tangan.
"Anggap saja begitu," sahutnya asal. Nadia kembali menunduk setelah menatap wajah tampan di hadapannya. Paman Harits memang mempesona.
"Mmm ... apa Kakak serius?" Lagi-lagi bertanya yang membuat paman Harits semakin gemas. Ingin ia melahap bibir seksi yang sejak tadi menggodanya itu. Paman Harits menganggukkan kepala saat Nadia kembali menoleh padanya.
"Boleh tidak aku meminta waktu untuk memikirkannya?" pinta Nadia dengan wajah polos dan menggemaskan. Astaga ... wajah itu benar-benar menguji keimanan paman Harits yang memang sudah sangat tipis sejak awal.
Paman Harits mengusap wajah, mengusir godaan-godaan yang mulai berdatangan.
"Baiklah, ambil waktu sebanyak yang kamu mau. Aku masih punya banyak waktu untuk menunggu." Paman Harits tersenyum sebelum kembali menjalankan mobil melanjutkan perjalanan. Nadia pula ikut tersenyum, hati dan pikirannya dipenuhi tentang sosok paman Harits dan lamarannya.
__ADS_1