Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Bertemu Teman Lama II


__ADS_3

Seperti kata para ahli tafsir, "Ikhlas seperti surat Al-Ikhlas. Namanya saja Al-Ikhlas, tapi di dalamnya kata Al-Ikhlas tidak ditemukan." Ikhlas ada pada hati dan nampak pada tingkah laku, bukan pada lisan semata.


Keheningan terhenti saat nada dering ponsel milik Nadia mengusik. Ia tersenyum apa Ain dan merogoh tasnya.


"Siapa?" tanya Ain ketika melihat Nadia yang hanya menatap ponselnya. Ia menoleh dan tersenyum.


"Ibu!" jawabnya, "aku angkat dulu, Kak," lanjutnya lagi. Ain menganggukkan kepala memberi izin.


"Hallo, assalamualaikum! Ada apa, Bu?" Nadia terdiam mendengarkan.


"Apa, Bu? Ibu tenang, ya. Jangan panik!" ucap Nadia lagi. Ain yang mendengarnya mengernyitkan dahi bingung. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi dari ekspresi Nadia ia tahu ada sesuatu yang terjadi.


"Sekarang, Ibu bawa dia keluar. Cari ojek atau apa pun bawa langsung ke Rumah Sakit. Aku tunggu di sana, tidak usah memikirkan biaya apa pun. Ibu cukup datang saja ke Rumah Sakit, aku tunggu!" pinta Nadia seraya mengakhiri sambungan telepon.


"Ada apa, Nad?" tanya Ain dengan dahinya yang berkerut.


"Ada anak yang sakit demam. Kata Ibu dia step, Kak. Kejang-kejang," jawab Nadia.


"Astaghfirullah! Terus bagaimana?" Ain ikut cemas mendengarnya.


"Aku sudah minta pada Ibu untuk membawa anaknya ke Rumah Sakit. Kita ke Rumah Sakit sama-sama? Apa Kakak masih ada urusan di sini?" ajak Nadia seraya beranjak berdiri.


"Sebenarnya ingin, tapi Kakak ada janji dengan seorang teman di sini," jawab Ain dengan perasaan tak enak juga.


"Ya sudah, aku pergi, Kak. Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalaam!"


Nadia bergegas pergi meninggalkan Ain sendiri. Ia menjegat ojek ingin segera sampai di Rumah Sakit. Menunggu dengan gelisah di depan gerbang Rumah Sakit.

__ADS_1


"Ibu!" Nadia menyambut kedatangan Ibu pengasuh dan anak yang sakit. Bergegas membawanya ke IGD untuk mendapat penanganan. Anak itu tak sadarkan diri, suhu tubuhnya tinggi itulah yang menyebabkan dia kejang.


Nadia menunggu dengan cemas bersama Ibu pengasuh. Anak itu kembali mengalami kejang, tapi segera mendapat penanganan dokter. Dokter harus memasukkan obat lewat lubang anusnya, memberinya oksigen agar mendapatkan kembali napasnya. Beruntung tidak lama, ia perlahan menangis dengan kuat dan memanggil Nadia.


"Bunda! Bunda!" panggilnya dengan mata terpejam.


"Sayang! Bunda di sini!" sahut Nadia seraya duduk di atas brangkar dan memangku anak itu. Merasakan pelukan Nadia anak itu memeluk tubuhnya erat hingga tertidur dengan nyaman.


"Sudah, Bu. Jangan menangis, sudah tidak apa-apa, kok," ucap Nadia ketika melihat Ibu pengasuh yang terus menangis. Perlahan mereda dengan sendirinya.


Sementara Ain masih duduk di Balong memikirkan setiap kata yang diucapkan adik madunya. Bukannya ia tidak cemas pada keadaan anak yang diceritakan Nadia, tapi ia masih harus menyesuaikan hatinya yang tiba-tiba dirundung gundah gulana.


"Ain!" tegur seseorang yang cukup membuat Ain tersentak kaget. Ia menoleh ke belakang dengan kening yang mengernyit. Mencoba mengingat wanita seusianya yang berdiri sambil tersenyum.


"Yuni?" Ain ikut tersenyum setelah mengenali wanita itu, "apa kabar?" lanjutnya lagi seraya beranjak berdiri dan memeluk wanita itu.


"Alhamdulillah, aku baik." Keduanya duduk bersama.


Yuni wanita seusia Ain yang sudah menikah tapi belum memiliki anak. Tampilannya yang selalu glamor dengan polesan make-up tebal yang selalu menghiasi wajahnya. Ia adalah sahabat Ain sejak lama. Mereka berbeda nasib dan takdir.


"Aku tidak sengaja lihat kamu duduk berdua dengan seorang perempuan. Siapa perempuan tadi? Apa dia ...?" tanya Yuni yang menggantung. Ada rasa tak enak kalau ia mengatakannya.


Ain tersenyum getir. Ia lantas mengangguk membenarkan apa yang terdetik dalam hati Yuni, tapi tak terucap lisannya.


"Sabar, ya. Aku yakin kamu bisa melewati semuanya," ucap Yuni memberi dukungan pada Ain.


"Yah ... kalau sudah seperti ini mau bagaimana lagi selain bersabar dan menerima," timpal Ain sembari memalingkan wajah pada air yang terus beriak.


"Tapi hidup kamu masih jauh lebih baik dari pada aku, Ain. Kamu hanya diduakan, tapi Ikram secara terang-terangan meminta izin dari kamu. Dia melakukannya dengan cara terhormat meskipun aku tahu, tetap saja sakit ketika kita harus berbagi cinta dengan wanita lain. Aku yakin Ikram tetap bersikap baik padamu walaupun dia menikah lagi," ungkap Yuni tersenyum getir sama seperti Ain.

__ADS_1


Ain yang mendengar cukup terkejut, ia menoleh tak percaya pada sahabatnya itu. Pasalnya, selama ini ia menikah dengan seorang pejabat daerah dan hidup dalam kemewahan. Ia tak menampik apa yang dikatakan Yuni memang benar adanya. Ikram selalu memperlakukannya dengan baik meskipun sudah ada Nadia.


Ikram bahkan lebih sering menuruti permintaannya dan lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya dari pada Nadia. Namun, tetap saja rasa sakit diduakan terasa menusuk hatinya.


"Kenapa kamu bilang begitu? Seolah-olah hidup kamu jauh lebih menyedihkan dari pada aku. Padahal, kamu selama ini selalu terlihat bahagia," tanya Ain dengan tatapan bingung yang kentara.


Yuni tertawa sumbang. Menertawakan nasibnya yang ia rasa jauh lebih menyedihkan dari pada Ain.


"Suamiku menikah diam-diam dengan wanita lain. Dia bahkan punya simpanan anak remaja, anak masih ingusan berseragam sekolah. Astaga! Aku melabrak mereka, tapi suamiku lebih memilih mereka dari pada aku. Dia terus menyiksaku dengan perlakuan kasarnya, memukul tanpa segan. Kamu lihat ini!" ungkap Yuni seraya menggulung lengan bajunya hingga menampakkan lebam bekas pukulan.


"Astaghfirullah! Suami kamu sudah keterlaluan," pekik Ain tak percaya. Ia menyentuh lebam itu. Cukup besar dan agak keras, Yuni meringis saat Ain menekannya.


Ain menatap Yuni dengan kasihan. Ia memeluk sahabatnya itu merasa mereka berada di nasib yang sama dengan takdir yang berbeda. Ikram tetap memperlakukan Ain dengan baik meskipun ia menikahi wanita lain. Ia juga meminta izin sebelum menikahi Nadia.


Ain akhirnya sadar, pernikahan itu terjadi karena izin darinya. Seandainya ia lebih tegas kala itu dan memilih tidak mengizinkan Ikram, maka pernikahan antara Ikram dan Nadia mungkin tidak akan pernah terjadi. Atau, bisa saja Ikram menikahi Nadia secara diam-diam. Itu akan lebih menyakitkan lagi.


"Kenapa kamu tetap bertahan meskipun diperlakukan seperti itu?" tanya Ain setelah melepas pelukannya.


Yuni menunduk, tak lama kemudian ia kembali mengangkat wajah menatap Ain.


"Awalnya aku memang bertahan di sana karena pada waktu itu aku sedang mengandung. Namun, sejak keguguran aku memutuskan untuk bercerai dengannya. Aku sadar, untuk apa aku tetap berada di sana sementara hadirku tidak dianggap sama sekali. Dia bahkan tak segan membawa kekasihnya ke rumah dan berzina di sana," ungkap Yuni dengan raut wajah yang diliputi api amarah yang membara.


"Astaghfirullah al-'adhiim! Sungguh keterlaluan suami kamu itu, Yuni. Kamu benar, kamu boleh meminta cerai pada suami kamu karena alasannya sangat logis. Aku tidak tega mendengar sahabatku diperlakukan buruk seperti itu," ungkap Ain bersimpati pada Yuni.


"Aku sudah selesai, Ain. Aku bukan lagi istrinya sekarang. Aku bisa hidup tenang tanpa bayang-bayang rasa takut atau pun cemburu. Bagaimana dengan kamu?" tanya Yuni pada Ain.


Ain tersenyum lantas menjawab, "Aku tidak mungkin melepas Ikram begitu saja. Kamu tahu bagaimana perjuanganku untuk mendapatkannya, bukan? Tidak akan muda bagiku melepasnya begitu saja. Aku hanya ingin istri kedua Ikram merasakan sakit yang aku rasakan saat suami meminta izin menikah lagi," ucap Ain dengan tekad yang berapi-api.


Ia terlonjak tiba-tiba sembari menatap Yuni dengan tajam, "Bagaimana kalau ...."

__ADS_1


__ADS_2