Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Keikhlasan Nadia


__ADS_3

"Memangnya apa yang diminta kak Ain?"


Tatapan Ikram sulit diartikan saat ia mendengar pertanyaan dari Nadia.


Jawaban apa yang kamu inginkan, Nadia?


Ikram meneguk saliva. Gugup dan ragu untuk menjawab pertanyaan Nadia barusan. Apakah jika ia mengatakan yang sebenarnya, Nadia akan bersikap keras seperti Ain? Ikram dilanda gundah luar biasa.


Menghadapi sikap keras Ain saja ia sudah kewalahan, ditambah lagi Nadia yang belum tahu bagaimana reaksinya saat mendengar permintaan Ain.


Sementara diam-diam, Ain menguping dari balik pintu kamarnya. Ingin tahu apa yang dibincangkan suami juga madunya. Ia semakin merapat pada pintu tatkala mendengar Nadia membahas soal permintaannya. Itulah yang dia inginkan, Nadia mendengar Ikram meminta izinnya untuk menikah lagi.


"Kamu tidak perlu tahu, Nadia. Sudah cukup Mas membebankan kamu selama ini dengan mengurusi anak-anak di yayasan, dan untuk masalah ini kamu tidak perlu tahu," jawab Ikram pada akhirnya menyembunyikan apa yang diminta Ain.


Nadia mendesah, merasa dianggap sebagai orang asing di rumah suaminya sendiri. Ia berpaling dari tatapan Ikram dan menundukkan kepalanya. Menatap lantai berkeramik putih bersih yang dipijaknya. Seperti bumi yang tak pernah merasa lelah dan sakit saat semua orang menginjaknya bahkan membuang kotoran di atasnya.


"Apa Mas masih menganggapku sebagai orang lain? Kenapa aku tidak boleh tahu soal itu?" tanya Nadia lirih dengan kepala yang menunduk dalam.


Ikram kembali dihadapkan pada situasi serba salah. Apakah dia perlu mengatakannya pada Nadia dan menyakiti hatinya. Ataukah tetap merahasiakan untuk menjaga perasaannya.


Ain menggeram di tempatnya menguping. Mengumpati Ikram yang tidak berterusterang tentang apa yang ditanyakan Nadia. Ia mengepalkan tangan kesal. Kesal pada Ikram yang bersikap tidak adil padanya.


"Bukan begitu, Nadia. Hanya saja permintaan Ain sungguh tak dapat Mas terima secara lahir dan batin. Mas tidak siap memenuhi permintaannya yang satu ini. Mas juga ragu apakah kamu siap mendengarnya jika saja Mas mengatakan itu," jawab Ikram tak ingin Nadia menjadi salah faham karenanya.


Nadia mengusap pipinya saat setetes air menjatuhinya, ia menoleh dan tersenyum pada Ikram. Senyum yang menyiratkan kesedihan hatinya.


"Kalau Mas menganggap aku sebagai istri, seharusnya Mas tidak menyembunyikan apa pun dariku. Kecuali Mas menganggap aku orang asing, maka Mas pantas melakukan itu," timpal Nadia lagi dengan mata memanas hendak menangis.

__ADS_1


Lagi-lagi hembusan napas lelah dikeluarkan Ikram untuk mengurai perasaannya yang membelit hati.


"Apa kamu yakin mau mendengarnya?" tegas Ikram dengan pandangan tak tega pada Nadia.


"Katakan saja, Mas. Apa pun itu aku akan siap mendengarnya," ucap Nadia tidak ragu sama sekali.


Ikram mendesah menimbang rasa yang bergolak akan apa yang terdetik dalam hati.


"Mas khawatir kamu akan kepikiran setelah mendengarnya," timpal Ikram lagi sudah membayangkan bagaimana kehidupan Nadia setelah mendengar ini.


"Mas tenang saja, aku akan baik-baik saja," katanya lagi keukeuh. Ia harus tahu apa yang diminta Ain hingga kakak madunya itu bersikap keras terhadap Ikram.


Ikram menatap tajam manik hazel milik Nadia. Menilik sifat yang ada padanya. Indah dan terkadang menghanyutkan.


"Ain meminta Mas menikah lagi," ucapnya tanpa memutuskan pandangan dari Nadia.


Ikram tertegun melihat senyum itu. Senyum yang sama seperti hari-hari biasanya.


"Memangnya siapa calon yang kak Ain siapkan?" tanya Nadia membuat dirinya setenang mungkin meksipun hati tengah bergelut dengan gejolak aneh yang menusuk-nusuk.


Oh ... seperti inikah perasaan kak Ain tatkala mas Ikram meminta izinnya untuk menikah lagi waktu itu?


Ikram menilik mimik wajah Nadia. Sepandai apa pun ia menyembunyikan rasa sakit, Ikram masih dapat menangkapnya dengan jelas. Senyum yang diukirnya menyiratkan perasaannya yang sedang terkoyak.


"Ada jamaah Mas yang seorang janda katanya. Sering jadi cemoohan orang-orang karena dia hidup sendiri. Ain ingin Mas menikahinya untuk mengangkat derajatnya agar tidak menjadi bahan cibiran para tetangga." Sekali lagi Ikram melihat wajah itu.


Riak yang sama yang ditunjukkan Ain pada waktu itu. Hanya saja, Nadia terlihat lebih tenang menyikapinya. Mungkin saja ia sudah bisa membayangkan sebelumnya.

__ADS_1


Nadia memalingkan wajah dari Ikram. Meskipun bibirnya membentuk senyuman, sakit di hati tak dapat dia hilangkan. Rasanya seperti ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum tak kasat mata. Lebih sakit dari pada saat penyakitnya kambuh.


"Kalau memang itu mau kakak Ain, dan Mas rido kenapa tidak memenuhinya saja? Pastilah kak Ain tidak akan bersikap keras seperti sekarang dan juga dapat mengembalikan senyumnya yang hilang beberapa waktu belakangan ini," tutur Nadia sembari menatap Ikram yang kembali termangu dengan sikapnya yang tenang.


"Jangan memaksakan diri, Nadia. Kamu tidak perlu berkorban terlalu banyak hanya untuk membuat Ain senang. Selama ini kamu sudah menderita dengan segala peraturan yang dibuatnya. Lalu, sekarang kamu juga mau menyiksa diri untuk memenuhi keinginan Ain. Apa tidak bertambah dosa untuk Mas, Nadia? Dua istri saja terkadang Mas tidak bisa berbuat adil. Bagaimana Mas akan menghadap Rabb dengan keadaan Mas yang penuh dosa ini?" papar Ikram tetap mengatakan penolakannya pada Nadia.


Nadia kembali mengulas senyum. Tabah dan sabarnya seolah tak pernah berkurang sedikit pun. Ia tetap tersenyum meskipun hidup di bawah tekanan dan bayang-bayang peraturan Ain. Mungkin itu caranya menyembunyikan rasa sakit yang ia derita.


"Mas tidak perlu khawatir soal aku. Mas juga jangan terlalu memikirkan perasaan aku. Insya Allah aku baik-baik saja dan dengan rela menerima seandainya itu membuat kak Ain kembali tersenyum," ungkap Nadia lagi dengan ketegaran yang luar biasa.


Ain berdecih. Ia merasa Nadia adalah seorang munafik dan sedang mencari muka di hadapan Ikram.


"Pintar sekali kamu berakting. Kamu pikir aku akan merasa kasihan lalu menarik kembali ucapanku? Tak akan pernah!" gumam Ain dengan pelan. Sungguh muak Ain melihat sifat lemah Nadia. Menurutnya, Nadia hanya berpura-pura saja untuk menarik simpati Ikram agar tetap membelanya.


"Licik!" gumamnya lagi sungguh teramat membenci sosok Nadia.


"Tidak! Mas tidak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti dulu. Bagaimana kalau Mas tidak mampu menjalankan kewajiban Mas sebagai suami yang beristri tiga? Mas akan datang menghadap Allah dengan kaki yang terpincang-pincang," sahut Ikram masih pada pendiriannya tak ingin menikah lagi.


Nadia tersenyum samar, ia menunduk sebentar lalu mengangkat wajah menatap jendela yang menampakkan kegelapan malam.


"Seharusnya Mas memikirkan resiko ini sebelum memutuskan untuk menikah denganku. Kenapa baru terpikirkan sekarang saat semuanya sudah terlanjur. Keputusan ada di tangan Mas. Apakah Mas ingin membiarkan kak Ain seperti itu saja yang hanya akan menumpuk dosa pada dirinya. Bukankah dosa seorang istri akan ditanggung suaminya?" Nadia berpaling kembali pada Ikram. Laki-laki itu termangu dibuatnya.


"Aku pamit, Mas. Sudah larut," ucap Nadia setelah melirik jam di dinding. Ia beranjak menyalami Ikram tanpa ingin berlama-lama lagi.


Tak dinyana, Ikram pun ikut berdiri dan memeluk Nadia. Ia merasa sangat berdosa karena kejadian di masa lalu dan perkara di masa kini.


"Maafkan Mas, Nadia. Maaf." tangisnya sambil memeluk istri keduanya itu. Nadia membalas pelukan dan ikut menangis. Ain tentu saja tak melihat karena ia sudah membanting diri di atas kasur.

__ADS_1


__ADS_2