Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Perbuatan Yuni


__ADS_3

KEMBALI MEMANAS


"Lho, Mbak Nadia? Kenapa pulang?" Winda terkejut saat melihat Nadia dan paman Harits kembali lebih cepat. Ia kira mereka akan lama mengingat masalah yang harus diselesaikan di sana lumayan berat.


Nadia tersenyum, ia berjalan cepat mendekati Winda dengan raut cemas yang jelas terlihat di wajahnya.


"Rima di mana? Bibi telepon katanya dia sakit," tanya Nadia langsung tanpa menyahut pertanyaan Winda.


Gadis itu terkekeh kecil, Nadia begitu mencemaskan mereka hingga mendengar kata sakit dari salah satunya saja ia langsung pulang. Rasa sesak mengajarkan Nadia arti kehilangan. Ia tak ingin menyesal lagi seperti saat Sarah yang mendadak meninggalkannya. Sampai saat ini pun ia tidak tahu apa penyebab sesungguhnya Sarah meninggal.


"Rima? Dia sedang istirahat. Rima cuma kecapean, Mbak. Terlalu asik bermain kemarin, jadinya begitu," jawab Winda santai. Nadia bernapas lega, ia kira Rima sakit parah dan harus mendapatkan perawatan khusus di Rumah Sakit.


"Syukurlah! Lega rasanya," ucap Nadia seraya tersenyum sambil merangkul bahu Winda dan mengajaknya masuk. Kedua gadis itu meskipun sudah dewasa, tapi mereka terlihat seperti anak-anak di mata Nadia.


"Bi!" tegur Winda saat mereka berpapasan dengan Bibi pekerja di rumah itu, "kenapa Bibi telepon Mbak Nadia? Bibi, 'kan, tahu kalau Mbak Nadia sedang menyelesaikan masalah di sana. Rima cuma kecapean," lanjut Winda bertanya.


Wanita paruh baya itu membungkuk sebelum menjawab, "Maafkan saya, Non. Saya hanya menjalankan perintah dari Tuan. Tuan bilang kalau ada apa-apa dengan Non Winda dan non Rima, Bibi harus mengabari Tuan secepatnya."


Nadia dan Winda melongo. Tak hanya Nadia yang diperlakukan istimewa di rumah itu, tapi Winda dan Rima pun mendapat perhatian lebih darinya.


"Kak Harist?" Nadia memastikan.


"Benar, Non!" Nadia mendesah, ia menatap Winda sambil mengangkat bahu. Keduanya melanjutkan langkah menuju kamar Rima.


"Mbak?" Suara parau Rima menyambut kedatangannya. Ia melangkah masuk sambil tersenyum. Rima beranjak duduk menunggu kedatangan kakaknya.


Nadia duduk di tepi ranjangnya, ia melirik nakas terdapat obat-obatan juga piring bekas sarapan.


"Kenapa? Apa kamu berlebihan mainnya? Seperti anak-anak saja," celetuk Nadia sembari mencubit hidung Rima.


"Mmm ... terlalu asik, Mbak. Di Rangkas, 'kan, tidak ada mall besar. Aku jadi keterusan, deh," katanya meski lemah ia tetap tersenyum. Senang melihat Nadia datang saat ia sakit seperti itu.

__ADS_1


"Cepat sembuh, jangan lama-lama. Kasihan Winda tidak ada teman kalau kamu sakit," ucap Nadia. Rima mengangguk patuh. Nadia sudah seperti Ibu bagi mereka menggantikan Sarah. Keduanya bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik seperti Sarah dan anaknya.


"Kenapa Mbak pulang cepat! Bagaimana masalahnya? Sudah selesai? Mbak sudah menyelidiki pabrik?" cecar Rima ingin tahu bagaimana kelanjutan kasus tersebut.


"Belum, orang-orang kak Harits sedang menyelidikinya. Mereka sedang mencari dan mengumpulkan semua bukti nyata dulu. Terutama surat perjanjian itu yang belum juga berhasil didapatkan," jawab Nadia dengan geram.


Ia hanya ingin memastikan kebenaran surat itu. Baru mau bergerak, kabar Rima sakit membuatnya tak tenang. Jadilah, ia harus menunda dan sedikit bersabar.


"Seharusnya Mbak tetap di sana sampai semua masalah selesai tidak perlu mengkhawatirkan aku. Ada Winda di sini yang menemani aku," ucap Rima tak enak.


Nadia memandang lekat adik angkatnya tersebut, ia ingat saat Sarah mengambilnya sebagai anak. Anak itu, ia yang membantunya membersihkan tubuh. Ia juga yang menyuapinya makan, dan membantunya minum bahkan Nadia membantunya memakai pakaian. Kedua anak itu dia yang mengasuhnya meski ia nakal dan jarang di rumah.


"Lalu, aku akan menyesal seperti saat Mamah pergi? Aku akan mengulangi kesalahan yang sama itu lagi? Kehilangan orang yang aku sayang tanpa dapat mendampinginya."


Bergetar hati Rima mendengar kalimat Nadia. Begitu berartikah dirinya? Matanya berkaca memandang wajah Nadia yang sedikit mirip Sarah itu.


"Kakak!" Air matanya meleleh. Ia berhambur memeluk Nadia. Winda yang melihat pun ikut menangis. Nadia meliriknya, ia melambaikan tangan memintanya mendekat. Ketiganya berpelukan.


Berhari telah berlalu, Nadia merawat sendiri Rima. Keadaanya semakin baik. Harits jarang terlihat di rumah, ia melakukan penyelidikan terkait pabrik Nadia yang diambil paksa Ain.


Di pesantren Al-Masthur, di yayasan anak-anak asuh Nadia asik bermain. Mereka tak lagi kekurangan makanan, stok sembako yang dikirim Nadia sangat cukup untuk makan mereka selama satu bulan.


Keasikan mereka tak akan lama, di balik jendela rumah Ikram dua pasang mata memandang mereka dengan senyum persis seperti seorang penyihir yang berhasil mendapatkan mangsa untuk dijadikan ramuan.


Ikram pergi mengantar Ruby untuk melakukan check up. Rencana Yuni akhirnya disetujui Ain, jika ada yang ingin mengadopsi anak-anak di yayasan mereka dengan senang hati akan memberikannya. Dan hari ini, akan ada seorang pejabat datang untuk mengadopsi salah satu anak di yayasan tersebut.


"Apa pejabat itu berani membayar mahal untuk satu anak?" tanya Ain tak mengalihkan pandangan dari aula yayasan.


"Dia berani membayar berapa pun yang kita minta." Yuni yakin. Ia terlihat bahagia tatkala membayangkan tumpukan uang di depan matanya.


"Baguslah!" Tak lama dering ponsel milik Ain berbunyi, ia beranjak meninggalkan tempatnya mengintip untuk menerima panggilan.

__ADS_1


"Apa?" Suara pekikan Ain mengejutkan Yuni. Ia sampai menoleh dengan dahi yang berkerut.


"Baik ... baik, saya akan segera ke sana. Tunggu, ya, Pak!" Suara Ain terdengar riang. Apa yang terjadi hingga wanita itu terlihat bahagia sekali.


"Aku harus pergi!" katanya pada Yuni dengan binar bahagia yang jelas terlihat di wajahnya. Yuni tak menjawab, ia menatap punggung Ain dengan rencana licik yang disusunnya.


Tak lama setelah Ain pergi, sebuah mobil mewah memasuki pesantren. Yuni tersenyum, ia gegas menyambut kedatangan calon orang tua untuk anak di yayasan.


Yuni mempersilahkan mereka masuk, sedangkan ia pergi ke yayasan dan kembali membawa tiga orang anak dengan usia yang diinginkan pejabat tersebut.


"Kami tidak mau ikut, Bunda bilang kami tidak boleh berpisah!" tolak mereka.


"Jangan bawa mereka, Tante jahat! Jangan bawa mereka!"


"Lepas!" Yuni mendorong anak yang menarik tangannya hingga jatuh terjerembab di tanah.


"Ibu!" panggil mereka meminta bantuan. Di tangan Yuni berhasil dua orang anak dicekalnya. Ibu datang tergopoh-gopoh.


"Ada apa ini? Mbak Yuni? Mau diapakan mereka berdua?" Ibu panik terlebih saat melihat anak-anak itu menangis.


"Mereka mau dibawa Tante jahat itu, Bu. Dia mau menjual mereka pada orang yang turun dari mobil itu," lapor anak-anak itu sambil menangis.


"Astaghfirullah! Mbak, tolong jangan lakukan itu! Tolong, Mbak. Jangan jual anak-anak di sini," mohon Ibu dengan air mata yang berurai.


"Apa peduliku!" ketus Yuni kesurupan. Ibu maju hendak meraih anak-anak itu, tapi Yuni mendorongnya dengan kuat. Tubuh tuanya yang rapuh seketika terasa ngilu saat tulang ekornya menabrak tanah. Ibu meringis sembari memegangi pinggangnya yang sakit. Yuni berbalik membawa kedua anak di tangannya. Ia tidak peduli sama sekali pada tangisan mereka. Anak-anak itu menangis memeluk Ibu.


"Maafkan Ibu, Mbak Nadia. Ibu tidak bisa menjaga mereka," sesal Ibu sembari memeluk sisa anak-anak dengan tangisannya.


Yuni tersenyum kala ia memasuki rumah dan berpandangan dengan sepasang pejabat itu. Tangisan kedua anak itu bahkan tidak mereka pedulikan.


"Apa-apaan ini!"

__ADS_1


__ADS_2