
Di malam itu, Ikram dan Ain bersenang-senang. Hilang sudah rencana yang disusunnya bersama Yuni. Ain melupakan rencananya membuat Yuni uring-uringan karenanya. Wanita itu menunggu kabar dari Ain, kabar yang dirinya akan dinikahi Ikram.
Diam-diam Yuni pun sebenarnya menaruh hati pada Ikram. Sayang, dia tergiur seorang pejabat untuk menjadikannya istri. Semua itu sudah berlalu. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tak ada niatan untuk menjadi istri Ikram, tapi secara tiba-tiba Ain menawarinya hal itu.
Keduanya terlibat drama rencana bagaimana supaya Ikram setuju menikah dengan Yuni. Namun, pertemuannya dengan Nadia sempat membuat Yuni ragu. Apakah dia sanggup menyakiti Nadia? Sedangkan di hatinya, ia teramat mengidolakan sosok wanita berdarah campuran Arab dan Indonesia itu.
Ain tak pernah tahu, Ikram pun tidak tahu. Siapa sosok Nadia di masyarakat. Itu sebabnya, ke mana pun ia pergi selalu mengenakan masker dan kacamata hitam untuk menghindari hal yang seperti dilakukan Yuni saat bertemu.
Tanpa disengaja Yuni yang sedang menikmati malam Minggu sendiri, melihat Ain dan keluarganya sedang bersenang-senang di alun-alun kota Rangkasbitung. Hatinya memanas.
Bukannya dia membujuk Ikram, malah sepertinya dia lupa dengan rencananya.
"Sialan, Ain! Kenapa dia asik sendiri dengan Ikram? Kapan dia mau membujuk Ikram untuk menikah denganku?" gerutunya dengan kedua tangan yang terkepal erat hingga memutih semua bukunya.
"Awas saja kalau sampai dia menyalahi kesepakatan, aku akan menuntutnya," ancam Yuni seraya beranjak meninggalkan tempatnya sendiri.
Dengan hati yang dongkol, ia pergi. Tak kuasa melihat Ain yang tertawa bersama Ikram dan kedua anaknya.
Berbeda dengan Ain, Nadia melewati malamnya dengan mengajari anak-anak kerajinan tangan. Membuat hiasan dari stik es krim dan kain flanel. Anak-anak merasa senang. Di antara mereka ada Ruby dan teman-teman santrinya.
Membuat bunga dan pot, yang rencananya akan dipasarkan Nadia sebagai hasil karya tangan-tangan mungil anak asuhnya.
Dia tersenyum bangga tatkala anak-anak tersebut memperlihatkan hasil buatan mereka. Merasa bangga sendiri dapat menyalurkan sedikit ilmunya pada orang lain.
__ADS_1
"Bunda, apa ini akan dijual?" tanya salah satu anak sembari memberikan bunga flanel yang dirangkainya sendiri.
"Wah ... bagus sekali! Tentu saja, sayang. Semua ini akan Bunda jual dan hasilnya akan Bunda tabung untuk masa depan kalian," jawab Nadia memberikan sapuan pada kepala anak itu.
"Bunda apa semua ini akan laku dijual?" Ruby ikut bertanya ragu pada Nadia. Ia membawa rangkaian bunga hasil tangannya sendiri.
"Tentu saja, sayang. Semua ini akan laku dijual. Buket bunga hasil kalian ini pasti akan laku di pasaran. Sebaiknya, setiap Minggu kita harus memproduksinya agar semakin banyak dan bervariasi. Bunda akan membuka sebuah toko untuk menjualnya," ucap Nadia yang menerbitkan senyum anak-anak malang di yayasan itu.
Malam yang indah dilewati Nadia bersama anak-anak asuhnya juga Ibu pengasuh tentunya. Setidaknya dua puluh lima buket bunga hasil rangkaian anak-anak terkumpul malam itu. Kenapa tidak dari dulu saja ia menjalankan ide ini?
Nadia kembali dan menyimpan bunga-bunga itu di ruangan khusus. Setelah terkumpul cukup banyak, ia akan mencari tempat untuk membuka toko bunga. Biar anak-anak yang beranjak dewasa yang mengurusnya. Kuliah sambil mengumpulkan uang untuk biaya mereka sendiri.
Pagi cepat sekali datang, seperti wanita rumahan lainnya Nadia pun disibukkan dengan kegiatan rumah tangga. Mencuci pakaian, mencuci piring, memasak, membersihkan rumah. Barulah setelah itu ia membantu di yayasan.
"Bu, kenapa dengan kak Ain?" tanya Nadia pada Ibu pengasuh yang duduk bersamanya.
"Ibu tidak tahu, Mbak, tapi katanya Umi hampir setiap hari menangis tanpa diketahui Abi. Umi juga sering terlihat melamun di rumahnya. Akhir-akhir ini memang Umi sering menyendiri dan lebih banyak melamun," jawab Ibu pengasuh sesuai apa yang dia dengar dari orang yang biasa membantu Ain melakukan pekerjaan rumah.
"Apa karena aku, ya, Bu?" gumam Nadia sedih. Ia merasa karena kehadirannya dalam hidup Ikram membuat Ain nampak murung seperti saat ini.
"Ibu tidak tahu, Mbak, tapi dia juga bilang kalau Umi sama Abi memang sering cekcok dan sering menyebut nama Mbak Nadia juga. Cuma dia tidak bilang masalah yang diperdebatkan apa, jadilah simpang siur beritanya. Tidak jelas," jelas Ibu itu lagi kebablasan.
Ia melirik Nadia tak enak, tak sadarkah ia orang yang dibicarakan adalah teman bicaranya.
__ADS_1
"Maaf, Mbak. Ibu tidak bermaksud menyinggung perasaan Mbak Nadia. Maafkan Ibu, Mbak. Maaf," ucapnya berkali-kali sambil menundukkan kepala pada Nadia.
"Ibu, sudah. Tidak perlu seperti ini. Tidak apa-apa, aku mengerti. Jangan merasa bersalah lagi," cegah Nadia sembari mengangkat wajah Ibu pengasuh yang hampir menangis.
"Apa Mbak Nadia tidak apa-apa? Ibu merasa tidak enak sendiri sudah mengatakan itu tadi," ucap Ibu pengasuh masih dengan rasa tak enaknya pada Nadia.
"Aku tidak apa-apa, Bu. Mungkin benar, Kak Ain seperti itu karena aku. Biar nanti aku akan berbicara dengan mas Ikram. Sudah, Ibu tidak usah merasa tidak enak lagi," sahut Nadia lagi sambil mengusap-usap lengan Ibu pengasuh itu.
Keduanya sedang asik duduk di depan yayasan setelah menata bunga-bunga di halamannya. Nadia melirik Ain yang berjalan lesu keluar gerbang, di depan sana sudah ada santri yang akan mengantarnya pergi.
Nadia masih bertanya-tanya apakah memang karena dirinya Ain menjadi murung. Ia harus memastikannya.
Nadia memutuskan kembali ke rumah. Merenungi apa yang sudah terjadi. Ia merebahkan dirinya di kasur. Wajah murung Ain selalu membayang di pelupuk mata Nadia. Itu sangat mengganggu pikirannya.
Beberapa hari telah berlalu, Ain bahkan enggan bertegur sapa dengannya. Entahlah, sejak kejadian Ikram menjemputnya pulang Ain berubah sikap pada Nadia. Tidak ramah dan hangat seperti dulu lagi. Justru sekarang terkesan dingin. Tersenyum pun terlihat hambar. Setiap kali Nadia menegur, ia hanya tersenyum tanpa menjawab sapaannya.
"Ya Allah, kenapa semuanya begini? Aku sadar aku telah menyakiti hati seorang wanita dengan menikahi suaminya. Apakah aku harus meminta pisah saja dari mas Ikram? Tapi bagaimana kalau mas Ikram Tidak mau menceraikan aku? Ya Allah ... berikan petunjuk padaku. Apa yang harus aku lakukan?" Nadia menumpahkan keluh kesahnya di malam sunyi seorang diri.
Ia membaringkan tubuh di atas hamparan sajadah, air matanya meniti tanpa sadar. Sakitnya Ain dapat ia rasakan sendiri. Melihatnya yang murung setiap hari membuat Nadia tidak tega. Mungkin dengan dia pergi dari hidup Ikram, Ain akan kembali seperti semula.
"Masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya. Kamu masih bisa mencari jalan sendiri karena masih belum diberi keturunan. Sedangkan Kakak, sudah ada tiga orang yang memberatkan langkah Kakak untuk mengambil keputusan. Kamu mengerti, bukan?"
Kalimat yang diucapkan Ain, kembali mengiang di telinganya. Secara halus Ain memintanya mundur. Mengalah dari pernikahan ini, pergi meninggalkan Ikram.
__ADS_1
"Allahu!"