
Siang hari saat semua orang asik terpekur dalam kegiatan tidur siang mereka, Ain berencana pergi keluar. Ikram pun sudah tak terlihat batang hidungnya. Ain berpapasan dengan Yuni yang juga berpenampilan rapi hari itu.
"Yun, mau ke mana kamu rapi begitu?" tanya Ain curiga. Ia menyipitkan mata dengan kerutan di dahi.
"Anu, Ain ... aku harus pergi keluar dulu sebentar, tidak apa-apa, kan? Kalau Mas Ikram pulang tolong beritahu, ya," jawab Yuni seraya melengos tak ingin mendengar pertanyaan lanjutan dari Ain.
Ain yang curiga, mendekat ke arah pintu. Dilihatnya sebuah motor menunggu di luar gerbang. Ain semakin curiga, tapi ia pun harus pergi hari itu jadilah tidak bisa mengikuti Yuni.
"Umi? Umi akan pergi lagi?" Nafisah bertanya sambil mendekati Ain. Anak bungsunya itu sangat jarang terlihat di rumah karena lebih asik bermain di yayasan bersama anak-anak lainnya.
"Iya, sayang. Umi pergi dulu, ya. Nanti Umi belikan makanan pulangnya," jawab Ain sembari mengusap rambut putri bungsunya.
"Aku mau ke yayasan," katanya seraya pergi setelah Ain mengangguk.
Ain pergi dengan menyewa jasa ojek di pangkalan. Dengan hati yang dipenuhi harapan, Ain menyusuri jalanan pabrik. Hatinya berdegup karena ini untuk pertama kalinya ia bertemu dengan Sarah secara pribadi.
"Bu, ada yang mencari di luar," ucap Winda menemui Sarah di kantornya.
"Siapa, Win?" Dahi Sarah mengernyit mendengar itu.
"Itu, Bu. Istrinya ustadz Ikram," jawab Winda lagi sedikit curiga.
"Oh ... ya sudah, datangi saja. Seperti biasa, bukan, dia mau meminta potongan harga lagi?" sahut Sarah yang kembali melanjutkan pekerjaan memeriksa pesanan.
"Bu-bukan, Bu. Katanya mau ketemu sama Ibu langsung."
Sarah semakin mengernyit, ia mengangkat wajah memeriksa Winda yang menunggu keputusannya.
"Baik, suruh datang ke ruangan pribadi saya," titah Sarah seraya beranjak dari kantor menuju ruangan pribadinya sendiri. Ia berpikir untuk apa istrinya Ikram itu datang menemuinya.
"Assalamu'alaikum, Bu!" sapa Ain yang dituntun Winda ke ruangan Sarah.
__ADS_1
"Iya, wa'alaikumussalaam. Duduk! Win, buatkan minum, ya," pinta Sarah yang dilaksanakan dengan cepat oleh Winda.
"Bagaimana kabar kalian? Apa kalian baik-baik saja?" tanya Sarah membuka kata. Ia tersenyum memandang Ain yang menunduk gelisah.
"Kami baik-baik saja, Bu. Terima kasih sudah bertanya," jawabnya ikut tersenyum bertatapan dengan Sarah.
Obrolan mereka terjeda oleh kedatangan Winda yang membawa minuman untuk mereka. Ia kembali keluar meneruskan pekerjaannya.
"Jadi, apa tujuanmu datang menemuiku langsung?" tanya Sarah tanpa ingin berbasa-basi lagi.
Ain terdiam sejenak, berpikir dan menyusun kata bagaimana cara menyampaikan tujuannya.
"Mmm ... begini, Bu. Keadaan di pondok sedang tidak baik, banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, tapi keuangan kami sedang tidak stabil saat ini-"
"Saya datang ke sini karena yang saya dengar Ibu dan suami saya mempunyai sebuah perjanjian. Saya ingin menagih janji itu karena memang sangat membutuhkannya," ucap Ain dengan nada lembut terdengar.
Sarah berjengit, tapi masih menahan diri untuk tidak bersikap berlebihan.
Ain mulai meragu dengan keputusannya. Harapan yang tadi meletup-letup kini perlahan menguap hanya melihat dari sikap Sarah yang tak begitu mempedulikan aduannya.
"Katanya, Ibu dan suami saya memiliki perjanjian bagi hasil dari keuntungan pabrik konveksi ini? Jadi, saya mau ambil bagian suami saya sekarang. Seharusnya sudah banyak dan cukup untuk memenuhi kebutuhan anak-anak di pondok. Jadi bagaimana, Bu? Apa Ibu bisa memberikannya kepada saya hari ini juga?" ungkap Ain tanpa tahu malu sedikit pun.
Sarah memindai, ia tersenyum kecil sembari menyahut, "Bisa! Saya akan berikan semuanya kepada kamu." Sarah menegakkan tubuh, ia mengambil minuman di depannya dan menyesapnya sedikit.
Ain tersenyum senang mendengar itu. Ia menunggu Sarah yang sedang melakukan sesuatu.
"Mau cash atau berupa cek?" tawar Sarah masih dengan senyum yang sama.
"Kalau bisa uang saja langsung, saya tidak mau ribet pergi ke bank, Bu," jawab Ain dengan cepat.
Sarah mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia membuka laci dan mengambil dua ikat uang pecahan seratus ribu dari sana.
__ADS_1
Sarah menyodorkan uang tersebut ke hadapan Ain. Melihat nominal angka yang melilit uang tersebut, alis Ain berkedut-kedut.
"Kenapa cuma segini, Bu?" tanyanya heran. Ia menatap Sarah dengan wajah rakusnya yang kentara.
Bibir keriput itu lagi-lagi membentuk senyuman. Ia tahu apa yang dimaksud Ain.
"Memang segitu sisanya. Sesuai perjanjian. Apa kamu tahu? Saya akan menyerahkan pabrik ini untuk dikelola Ikram nantinya jika saja dia dan kamu memperlakukan anak saya dengan baik ...,"
Sarah kembali tersenyum, Ain yang sekarang bingung.
"Tapi sayangnya, menurut laporan yang saya terima kalian memperlakukan anak saya dengan buruk. Akan tetapi, apa kamu tahu, Ain? Nadia bukan anak yang beragama dulunya. Ia mengenal agama setelah mengenal Ikram, tapi Nadia benar-benar meninggalkan dunianya yang kelam dan mengejar cinta Tuhannya. Dan kalian adalah ujian keimanan untuknya, saya percaya anak saya tidak pernah melakukan hal buruk kepada kalian. Jadi sesuai kesepakatan, perjanjian batal," lanjut Sarah yang membuat jantung Ain berdegup kencang.
Ia tak pernah tahu ada peraturan itu dalam perjanjian mereka. Ain yang malu sudah telanjur datang. Uang di depannya pun begitu menggoda jiwa serakah dalam dirinya. Sayang kalau tidak diambil.
"Jadi, ambil saja uang itu dan perjanjian berakhir," ucap Sarah lagi.
Ain mulai ragu, tapi tangannya tak urung jua mengambil uang tersebut.
"Baiklah, tidak apa-apa. Saya akan terima uang ini, terima kasih. Saya permisi!" ucap Ain seraya memasukan uang tersebut ke dalam tas.
Sarah mengangguk-anggukkan kepala, tangannya terjulur ke depan, "Silahkan!" katanya dengan senyum yang masih tersemat di wajahnya.
Ain mendengus, dadanya yang naik turun menandakan ia yang sedang dikuasai amarah. Ain mengumpat dalam hati di sepanjang jalan menuju pangkalan ojek. Malu rasanya, tapi sayang kalau uang itu tidak diambilnya.
Ia akan menyimpan uang tersebut untuk dirinya sendiri. Biarlah Ikram tak tahu karena ia pun tidak pamit saat pergi. Ain membanting diri di atas kasurnya begitu sampai di rumah.
Menimbang uang sebesar dua puluh juta di tasnya, apa yang akan ia lakukan dengan uang tersebut.
"Umi, mana makanannya?" Nafisah datang menagih janji Ain. Ia mengetuk pintu kamar uminya saat tahu wanita itu telah tiba di rumah.
"Di meja, sayang. Kamu bagikan dengan Kakak, ya. Umi mau tidur," jawab Ain tanpa beranjak dari posisinya berbaring.
__ADS_1
Nafisah tak lagi bersuara, ia mengambil makanan yang dibeli Ain dan membagikannya dengan yang lain. Ain mendengkur dalam lelap tidurnya.