Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Rencana


__ADS_3

RENCANA


"Perceraianmu sudah aku urus, pengacaraku sendiri yang akan menyelesaikannya. Cepatlah pulih dan jemput anak-anakmu di sana." Laki-laki itu melepas pelukan ada rasa tak nyaman saat ia melakukannya.


Baiklah hanya kali ini saja.


"Paman-"


"Bisa tidak kamu panggil Kakak saja? Sebutan Paman terkesan tua untuk wajahku yang tampan ini," tukasnya dengan cepat sembari memainkan alisnya naik turun menggoda Nadia.


Wanita itu tersenyum meskipun tubuhnya masih terasa lemah, Nadia tak ingin terlihat murung dan menyedihkan.


"Baiklah, Kakak, tapi kenapa wajah Kakak ini tidak mirip dengan Papah?" tanya Nadia ingin tahu.


"Memangnya kalau Adik dan Kakak harus selalu mirip, ya? Mungkin Kakak mirip dengan Ayah dan aku mirip dengan Ibu. Bisa jadi, kan?" sahutnya dengan wajah jenaka yang menggemaskan. Nadia manggut-manggut masuk akal.


"Makan? Biar aku suapi," tawarnya seraya mengambil piring nasi yang dibawa Rima tadi setelah Nadia mengangguk.


"Nama Kakak siapa?" tanya Nadia setelah menerima suapan pertamanya.


"Panggil saja Harits, namaku Harits." Paman Harits tersenyum, manis sekali. Ada lesung pipi kecil di kedua belah pipinya. Nadia tersenyum, ia mengangguk.


Winda dan Rima bersama-sama masuk ke ruangan Nadia. Keduanya tersenyum melihat Paman dan keponakan itu nampak akrab.


Waktu yang ditunggu pun tiba. Hari ini Nadia akan menjalani operasi transplantasi ginjal setelah melewati berbagai persyaratan yang harus dilakukan sebelum operasi tentunya.


"Kak, di mana Winda dan Rima? Kenapa mereka tidak menemani?" tanya Nadia yang mulai dijangkiti rasa takut dalam hatinya. Ini untuk pertama kalinya ia akan menjalani operasi.


"Mereka sedang di ruang administrasi, sebentar lagi juga sampai. Sudah kamu tenang saja, jangan tegang. Mereka pasti akan datang untuk menunggu kamu. Ada aku di sini," ucap paman Harits sembari menggenggam tangan Nadia yang terasa lembab dan berkeringat.


Nadia tersenyum, ia mengangguk. Perlahan mengatur napas dan menenangkan hatinya. Ia tidak boleh tegang. Harus bisa tenang. Nadia didorong tim dokter ke ruangan operasi. Samar ia melihat Winda dan Rima berlarian mendekati sebelum pintu ruangan tertutup.


Ada sebuah tirai yang menjadi sekat antara dirinya dan juga si pendonor. Nadia melirik sekat berwarna hijau tersebut. Pandangannya memburam, samar ia melihat wajah si pendonor yang tersenyum padanya. Sayang, meskipun telah ia pejamkan mata itu tetap saja pandangannya buram hingga wajah orang di balik tirai tak dapat ia lihat dengan jelas sampai kegelapan menyapa ruang hampanya.


*****

__ADS_1


Tiga hari berlalu, Nadia kembali koma setelah menjalani operasi. Ginjal barunya perlu menyesuaikan diri dengan organ tubuh Nadia yang lain. Rima dan Winda menunggu dengan cemas di ruangannya. Sedangkan paman Harits pergi untuk menyelidiki sesuatu.


"Mamah!" Suara parau Nadia mengusik kedua wanita yang menungguinya.


"Mbak!" keduanya berhambur mendekati ranjang wanita itu. Rima sigap menekan tombol memanggil dokter.


Tim dokter datang melakukan pemeriksaan pada Nadia. Akhirnya, setelah tiga hari terpejam mata indah itu kembali terbuka dan dapat melihat indahnya dunia.


"Rima? Winda?" panggilan lirih dari Nadia membuat keduanya berhambur memeluk tubuh wanita itu.


"Ah ... sudah!" pekik Nadia ketika merasakan sakit di bagian bekas operasinya.


Rima dan Winda melepas pelukan, mereka menangis haru. Tangis bahagia yang tak terkira.


"Rim, Win, kalian tahu siapa yang mendonorkan ginjalnya untukku? Aku sempat melihat wajahnya, tapi sayang pandanganku buram," ungkap Nadia jelas saja dia ingin tahu siapa yang sudah rela memberikan organ tubuhnya yang berharga itu untuknya.


Rima dan Winda saling menatap, mereka bersama-sama menggeleng saat kembali menatap Nadia.


"Hanya Paman tampan Mbak Nadia saja yang tahu." Keduanya terkekeh kecil saat pipi Nadia bersemu.


"Ke mana paman Harits?" tanya Nadia lupa pada sosok itu.


"Ekehm!" Suara itu menghentikan tawa keduanya. Mereka terdiam, paman Harits memasuki ruangan Nadia. Di tangannya membawa beraneka macam buah buah untuk ketiganya.


Winda dan Rima pamit tanpa suara. Mereka meninggalkan ruangan dan pergi mencari makan siang. Membiarkan paman dan keponakannya berbicara berdua.


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya paman Harits seraya duduk di ranjang Nadia. Ia menjawab dengan anggukan kepala.


"Kakak, beritahu aku siapa yang sudah memberikan ginjalnya untukku?" tanya Nadia dengan cepat.


Paman Harits menggeleng. "Maafkan aku, tapi aku tidak bisa memberitahumu. Aku tidak ingin melanggar janjiku padanya," jawab paman Harits dengan penuh sesal.


"Baiklah." Nadia menunduk lesu. Tak apa, ia juga tidak perlu memaksa. Nadia kembali mengangkat wajahnya memandang paman Harits.


"Kakak, apa Kakak tahu sesuatu tentang anak-anak asuhku?" tanya Nadia meskipun dalam keadaan lemah, ia tidak pernah lupa pada anak-anak asuhnya di Rangkasbitung.

__ADS_1


"Mereka tidak baik, Nadia. Karena pabrikmu diambil alih orang lain, tabungan yang kamu buatkan untuk mereka sudah tidak dapat digunakan lagi. Itu yang aku tahu dari laporan mata-mata yang aku kirim," jawabnya.


Awan kelabu seketika menghiasi wajah cantik Nadia. Memikirkan anak-anak asuhnya sungguh membuat Nadia ingin segera pulih dan mendatangi mereka.


"Aku ingin pergi ke sana, Kak," ucap Nadia dengan mata sendu digenangi air di sudutnya.


"Kamu masih terlalu lemah, setidaknya selama satu Minggu ke depan kamu harus benar-benar beristirahat. Biar Winda atau Rima yang pergi ke sana untuk melihat mereka," sergah paman Harits, ia tak akan membiarkan Nadia berbuat nekad untuk pergi menemui mereka dengan keadaannya yang sekarang.


Nadia menghela napas, ia menganggukkan kepala menurut. Sadar diri keadaannya yang sekarang tidak memungkinkan untuknya pergi.


Akhirnya Nadia mengutus Winda untuk memeriksa keadaan mereka juga keadaan Ruby dan kedua adiknya. Selama dua hari Winda pergi. Ia memantau yayasan milik Ikram juga ketiga anaknya.


Winda kembali ke Jakarta setelah bertemu Ruby di stasiun. Sengaja ia menunggu, ia yakin Ruby akan mencarinya. Benar saja, Ruby melihatnya sebelum kereta yang akan ia tumpangi berangkat.


"Bagaimana?" tanya Nadia setelah Winda kembali ke ruangannya di Rumah Sakit. Di sana juga ada Rima dan Harits yang menemani Nadia.


"Parah, Mbak. Benar-benar parah ...." Winda mengatur napas sebelum melanjutkan ucapannya yang sempat terjeda.


"Parah? Apanya?" celetuk Rima yang tidak mengerti apa yang akan disampaikan Winda.


"Pabrik bangkrut, Mbak, dan mereka mau menjualnya. Mereka melelang pabrik Mbak," pekik Winda mendramatisir keadaan.


Nadia dan Rima sama-sama menganga tak percaya. Sedangkan paman Harits, tertawa kecil mendengar laporan itu.


"Segala sesuatu saat bukan dikendalikan oleh ahlinya maka, hanya tinggal menunggu waktu hancurnya saja."


Ketiga wanita itu menatap paman Harits dengan berbagai macam emosi. Terutama Nadia, yang sontak saja murung mengingat pabrik itu adalah jerih payah Sarah dan dirinya. Ia sungguh tidak rela pabrik itu dimiliki orang lain.


Melihat wajah muram Nadia, Harits mengusap kepala keponakannya dengan pelan.


"Apa kamu ingin aku melakukan sesuatu?" tanya paman Harits seolah mengerti kegundahan Hati Nadia.


Pecah tangis Nadia, "Aku hanya tidak rela pabrik itu diambil orang lain. Itu peninggalan Mamah satu-satunya. Mamah membangun pabrik itu dari nol dengan susah payah. Ia harus memeras keringat dan banting tulang untuk dapat mengembangkan pabrik itu sampai sebesar sekarang. Aku tidak rela pabrik itu jatuh ke tangan orang lain," ungkap Nadia dengan tangis pilu yang tak dapat ia tahan.


Harist yang tak tega melihatnya menangis, merengkuh tubuh Nadia. Ia mengerti bagaimana perasaan wanita itu.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, Nadia. Tidak akan ada yang bisa mengambil pabrik itu. Aku yang akan menjamin, tidak akan ada pembeli yang datang sampai kamu pulih dan kamu sendiri yang akan mengambilnya kembali. Tenanglah, kamu tahu siapa pamanmu ini, bukan? Aku bisa melakukan apa saja hanya dari tempat dudukku saat ini," ucap paman Harits meyakinkan Nadia bahwa semua akan baik-baik saja.


Winda dan Rima bersama-sama ikut menangis. Mereka tahu bagaimana perjuangan Sarah dan Nadia dalam membangun pabrik itu. Mulai dari membuka jasa jahit, sampai berkembang menjadi sebuah pabrik konveksi terbesar. Semuanya dilakukan tidak secara instan dan singkat. Benar-benar dari nol. Kedua hati mereka pun tidak rela pabrik itu diambil orang lain.


__ADS_2