
Suara ramai dua orang mengusik indera rungu Nadia. Ia yang masih terlelap dalam balutan rindu, enggan rasanya untuk membuka mata. Pertemuannya dengan sang Mamah membuatnya hanyut dalam buai alam mimpi. Tak ingin berlalu begitu saja.
Suara-suara itu masih terdengar, suara orang yang sedang berbincang sembari mengerjakan sesuatu. Nadia melenguh, ia melirik jam di atas nakas. Pukul enam tiga puluh. Pantas saja sudah ramai.
Nadia beranjak, ia mengucek mata sebelum berjalan ke kamar mandi. Nadia mengernyit saat melihat dua orang anak remaja sedang membereskan rumahnya.
"Kalian ...?" Kalimat tanya Nadia menggantung saat mengingat bahwa dia yang telah mengizinkan Ibu dan keluarganya untuk tingggal di rumahnya tersebut.
"Pagi, Non!" sapa keduanya kompak.
"Kakak saja, jangan panggil Non segala," tukas Nadia sembari tersenyum kecil.
"Tapi biasanya, tuan rumah selalu ingin dipanggil itu," ujar lisan mereka.
"Untukku, tidak perlu. Panggil Kakak saja," tegas Nadia sekali lagi.
"Baik, Kak!" Nadia melengos pergi untuk sarapan.
Nadia melihat-lihat isi kamar Sarah. Ia membuka laci dan tak sengaja menemukan sebuah amplop yang tertutup rapat. Nadia mengambilnya dan membaca tulisan di depannya.
Untuk putriku satu-satunya.
Luruh air mata Nadia seketika membaca tulisan tersebut. Rasa rindu kembang mencuat ke permukaan meminta untuk dituntaskan. Nadia membukanya, di dalamnya terdapat selembar foto juga surat yang ditulis tangan langsung oleh Sarah.
Nadia anakku ....
Maafkan Mamah yang tidak bisa memberikan kamu kebahagiaan. Karena Mamah kamu harus menderita.
Hanya sepenggal itu saja, Nadia sudah tergugu. Ia mendekap surat itu di dadanya. Jika boleh meminta pada waktu, ia ingin kembali pada waktu di mana Sarah selalu menasihatinya. Waktu yang terbuang sia-sia dan tidak mengindahkan nasihat-nasihat sang Mamah.
"Mamah! Maafkan aku!" lirih Nadia dengan suara yang bergetar. Ia kembali melanjutkan membaca suratnya.
__ADS_1
Maafkan Mamah, sayang. Pernikahan kamu terjadi karena Mamah yang meminta Ikram untuk menikah dengan kamu. Mamah tidak tega melihatmu terus termenung membayangkan wajah laki-laki itu.
Nadia terisak-isak mengingat saat Ikram melamar ke rumah ia tidak menemuinya sama sekali.
Mamah membuat sebuah perjanjian dengannya agar dia mau menikah dengan kamu. Bukan maksud Mamah menjual kamu atau apa pun itu, tapi Mamah hanya tidak bisa menerima kenyataan bahwa putri Mamah satu-satunya divonis dokter hidupnya tak akan lama lagi.
Siang malam Mamah terus berpikir. Mamah tidak sengaja mendengar kamu bergumam tentang Ikram. Maafkan Mamah, Nadia. Maafkan Mamah, sayang.
Jika suatu hari ada seseorang yang bernama Harits dan mengaku sebagai pamanmu datang, ikutlah dengannya. Mamah menitipkan kamu padanya. Hanya dia orang yang bisa Mamah percaya untuk menjaga kamu. Dia memang bukan adik kandung Mamah dan Papah, tapi Mamah yakin dia akan menjaga kamu seperti Mamah dan Papah. Itu Mamah beri fotonya. Dia tampan, bukan? Dia dan istrinya yang akan menjadi pengganti Mamah dan Papah.
Sayang Mamah. Nadia.
Hiduplah dengan bahagia.
Mamah sayang kamu.
Nadia tak dapat menahan laju tangisnya. Ia menjatuhkan diri di ranjang sembari memeluk surat Sarah. Paman Harits ... ia sempat menaruh curiga padanya karena kedatangannya yang tiba-tiba.
Nadia mengurai pelukan, dilihatnya amplop berwarna putih itu. Satu lembar foto mencuat ke permukaan. Nadia mengambilnya, foto paman Harits selagi muda. Memang tampan, hampir imbang dengan papahnya.
Nadia tersenyum. "Dia melamarku, Mah. Paman Harits ingin menjadikan aku istrinya karena ia seorang duda. Apa benar, Mah? Bagaimana kalau dia berbohong? Dan ternyata istrinya masih hidup, lalu aku kembali menjadi istri kedua?"
Nadia bergumam, trauma akan pernikahannya dengan Ikram, Nadia harus selalu waspada dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Apa yang harus aku lakukan, Mah? Aku masih belum bisa mempercayai laki-laki mana pun. Rai, juga melamarku secara tidak langsung. Paman Harits pun begitu, tapi hatiku masih terlalu ragu untuk kembali terpaut dengan tali pernikahan," lirih Nadia sembari menatap foto Sarah yang terdapat di atas nakas.
Diambilnya foto tersebut, diciumnya sosok Sarah dalam gambar itu. Ia mendekap figura kecil itu penuh Kerinduan. Seharian ini, tidak ada yang dilakukan Nadia selain berdiam diri di dalam kamar mengenang masa-masa di mana Sarah menemaninya setiap hari.
Sampai tiba waktu malam, barulah Nadia beranjak keluar. Ia menenteng tas kecil, hendak pergi sejenak melepas penat. Nadia mengeluarkan sebuah sepeda motor matic dari garasi. Balong tujuannya, di tempat itu ia bisa menemukan keramaian untuk mengusir sepi dalam hatinya.
Tanpa ia sadari, beberapa orang mengikutinya dari belakang. Orang-orang suruhan paman Harits yang ditugaskan menjaga Nadia. Mereka melaporkan kepergian Nadia kepada paman Harits sebelum membuntuti wanita itu.
__ADS_1
Mereka berbaur dengan masyarakat yang memenuhi area Balong. Nadia duduk di tempat yang sepi, sendirian. Menatap hamparan air di danau buatan tersebut.
Suara nyanyian para pengamen terkadang mengiringi meski dengan suara yang hancur dan berantakan. Nadia tetap mendengarkan.
Ting!
Sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam kotak pesan Nadia. Ia tersenyum saat membaca pesan dari paman Harits yang mengucapkan selamat malam padanya.
Di tempat itu ia berbalas pesan dengan dia yang di jauh hingga tanpa ia tahu sepasang mata menatapnya penuh benci. Ia mengepalkan kedua tangan, sorot matanya dipenuhi api amarah dan dendam yang membara.
"Awas saja kamu, Nadia!" ancamnya dari balik giginya yang merapat. Ia berbalik pergi meninggalkan Balong, menyusun rencana balas dendam terhadap Nadia.
Sementara wanita itu, masih asik berbalas pesan dengan paman Harits yang selalu menggodanya. Ia tak menampik, laki-laki itu selalu bisa membuatnya tersenyum dengan celotehan asal darinya.
"Nadia!" Seseorang menegur Nadia, membuatnya mendongak dengan cepat.
"Rai?" Senyum Nadia mengembang tatkala bertemu Rai di tempat itu. Laki-laki itu duduk tak jauh dari Nadia.
"Aku kira kamu sudah kembali ke Jakarta, ternyata masih di sini," ujar Rai membuka kata. Nadia tersenyum.
"Aku masih ingin di sini, Rai. Ada banyak kenangan yang tak dapat aku lupakan di sini," ungkap Nadia sembari tersenyum tipis.
"Apa kamu masih belum bisa lepas dari laki-laki itu? Sampai-sampai berat untuk meninggalkan kota ini dan mengabaikan perasaanku," celetuk Rai asal. Wajahnya berubah murung dan sedih.
Nadia terkekeh mendengar itu, dangkal sekali pemikiran laki-laki di hadapannya itu. Bukan karena Ikram dia ada di kota itu, tapi karena Sarah yang mengajaknya untuk tinggal dan menetap di sana.
"Kamu pikir, aku ada di kota ini karena dia? Maafkan aku, Rai. Mamah yang membawaku ke sini. Semua itu bukan karena dia, Rai, tapi karena kenangan saat bersama Mamah yang tak bisa aku tinggalkan begitu saja-"
"Semua kenangan tentang Mamah yang membuat langkahku berat untuk meninggalkan kota ini. Bukan karena laki-laki itu," tegas Nadia yang membuat lega hati Rai. Ia pikir Nadia masih mencintainya hingga ia masih ingin menetap di kota itu.
"Kalau begitu, adakah kesempatan untukku mengisi kekosongan hatimu, Nadia?"
__ADS_1