
Hari berganti hari, Minggu ke Minggu terlewati, dan beberapa purnama pun telah berlalu dengan segala suka cita yang dirasakan di rumah besar itu. Tak lagi ada pertengkaran, kegaduhan, gangguan, dan lainnya. Kehamilan Nadia pun tidak bermasalah meskipun ia pernah menderita gagal ginjal sebelumnya. Begitu kata dokter.
Paman Harits mulai mengembangkan bisnis perkebunan karet yang diwariskan Kakek untuknya. Lahan seluas lima hektar itu kini berada dalam genggamannya. Berikut villa mewah yang berada di puncak bukit perkebunan itu. Tak jarang ia dan Nadia menginap di sana. Terkadang bersama anak-anak asuh mereka juga.
Winda dan Rima diberi kuasa oleh Nadia untuk mengurus butik miliknya. Ia sendiri, sudah tidak ingin ikut campur dan hanya akan fokus menjadi Ibu rumah tangga saja. Menunggu suami di rumah sambil mengurus anak-anak. Hanya itu yang dia lakukan. Kedua anak asuhnya pun sering menjenguknya apa lagi saat ini Nadia sedang menghadapi hari kelahiran anak pertama mereka.
"Bunda, jangan lupa beritahu kami kalau adik sudah lahir," pinta mereka lewat sambungan telepon. Nadia mengulas senyum simpul. Seperti itu kedua anak yang dibesarkannya. Mereka tidak seperti kacang yang lupa akan kulitnya.
Meninggalkan Nadia dengan segala kebahagiaanya, di sisi lain cerita. Kehidupan tokoh utama lainnya yang setiap hari selalu saling menguatkan satu dengan lainnya. Menunggu kepulangan Ibu mereka yang tak tahu sampai kapan akan berada dalam kurungan.
"Aku kangen Umi," lirih Nafisah dengan kepolosannya. Anak kecil itu masih membutuhkan sentuhan hangat Ibunya. Ia bergelung di ketiak Ruby yang sentiasa mendekapnya kala tidur. Ikram tak lagi muda, bukan usia yang membuatnya menua, tapi segala macam pikirkan yang selalu menjejali isi otaknya.
Yayasan tak lagi berpenghuni, ia jadikan sebagai rumah ustadz yang mulai membina rumah tangga. Beruntung, pondok pesantren yang didirikannya masih berdiri meski tak sedikit santri yang memilih pindah karena kejadian Ikram dan Ain yang ditangkap polisi.
Berkat kegigihan ustadz, sebagian masih ada yang percaya anaknya menetap di sana. Ikram tak lagi mengisi pelajaran, semua ia serahkan pada ustadz untuk mengelola pesantren tersebut. Ia tak lagi turut campur dalam hal kepengurusan pondok. Ia juga menyerahkan kepemimpinan pondok pada ustadz senior.
Ikram tidak menempati rumahnya, tapi menempati rumah bekas Nadia tinggali dulu. Alasannya, saat wali santri datang mereka tak akan melihat Ikram saat memasuki gerbang pondok.
Rumah lamanya dijadikan kantor dengan beberapa ustadz lajang yang menempatinya. Kehidupannya mulai berjalan dengan baik karena uluran tangan paman Harist yang rela memberikan modal untuknya membangun usaha lagi. Sekarang, usahanya mulai berkembang. Mereka tak lagi kekurangan bahkan tak jarang membawakan Ain makanan saat menjenguk.
"Abi, ayo, jenguk Umi! Aku kangen Umi," rengek Nafisah yang mengangkat kepalanya untuk dapat melihat Ikram.
"Iya, tunggu Minggu besok, bukankah baru kemarin kita menjenguk Umi? Sabar, ya!" pinta Ikram sembari fokus membaca buku di tangannya. Ketiga anaknya berbaring di depan televisi menonton serial kartun favorit mereka.
"Ruby, bagaimana di toko? Apa kamu perlu orang untuk membantu?" tanya Ikram pada putri sulungnya.
"Untuk saat ini, sih, aku tidak kerepotan, Abi. Mungkin Ramadan nanti kita harus mengambil karyawan untuk membantu." Ia mendongak menatap Abinya yang duduk di sofa. Ikram menganggukkan kepalanya dan lanjut membaca.
__ADS_1
Malam bertambah larut, kepekatan kian menyelimuti bumi menambah kesan sepi dan sunyi pada malam yang tanpa bintang dan rembulan menghiasi. Ikram berdiri mematung di dekat jendela, sebagian santri masih terjaga memeriksa lingkungan pondok memastikan semuanya aman terkendali.
Rindu menelusup dalam relung hatinya, rindu akan kehadiran sosok yang terus tersenyum meskipun hatinya disakiti tiada henti. Rindu sikapnya yang lemah lembut. Rindu akan celoteh dan sifat manjanya. Semua yang ada pada dirinya amat membekas dalam ingatan.
Ia memukulkan kepalan tangannya pada tiang tingkap yang tak bersalah. Menyesali tindakannya yang tak layak sebagai suami kala ia mengikatnya dengan janji pernikahan.
Semua berawal dari rasa bersalahnya karena tidak bertanggungjawab atas kematian Ayah wanita itu. Namun, kian hari waktu berlalu, rasa kagum pada sifatnya yang selalu mengalah berubah perlahan menjadi rasa cinta yang dalam.
Siapa yang akan dia salahkan? Ain-kah? Tentu saja tidak. Yang paling pantas untuk disalahkan hanyalah dirinya yang tak becus menjadi imam yang baik untuk semua istrinya. Ia yang yang terlalu lemah hingga membiarkan istrinya menindas istri yang lain.
"Abi? Kenapa belum tidur? Apa Abi memikirkan Umi? Atau ... Bunda?" Suara Bilal membuyarkan lamunan Ikram tentang sosok Nadia yang bersahaja.
Ia mengusap sudut mata sebelum berbalik menghadap putranya. Tersenyum saat melihat Bilal yang berdiri tak jauh dari tubuhnya.
"Untuk apa Abi memikirkan Bunda kalian? Dia sudah berbahagia dengan suaminya, sesekali tengoklah bersama Kakak kalian. Abi dengar Bunda kalian sedang hamil dan sebentar lagi melahirkan," jawab Ikram setegar karang di lautan.
Ikram mendekat, ia mengusap kepala putrinya sambil tersenyum. Beralih pada Bilal yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Tidak apa-apa, semua orang punya masa lalu. Kalau kalian ingin menjenguk Bunda kalian, ikut saja dengan mereka. Jangan lupa bawakan hadiah untuk anaknya. Jika Bunda tidak mau menerima kalian, pulang saja tidak apa-apa." Ikram membawa kedua anaknya untuk duduk di kursi.
Ia menggamit kedua anaknya kanan dan kiri. Memeluk keduanya penuh kasih dan sayang.
Tok ... tok ... tok!
"Assalamualaikum!" Suara seseorang terdengar mengucap salam dengan lirih. Membuat ketiga orang di dalam rumah serentak menoleh ke arah pintu.
"Siapa, Bi?" tanya Bilal. Ikram mengangkat bahu tak tahu.
__ADS_1
"Biar aku lihat, Bi." Ruby beranjak. Sejak mereka memutuskan tinggal di rumah Nadia, tak satu pun datang bertamu. Ini adalah tamu pertama mereka.
Ikram dan Bilal menunggu, pandangan keduanya tak lepas dari Ruby yang sedang membukakan pintu.
"Wa'alaikumussalaam!" sahutnya seraya membuka pintu tersebut. Angin berdesir lain di malam itu, menelusup masuk hingga ke dalam rumah menghantarkan rasa yang pernah hilang.
Tangan Ruby yang masih menggenggam pintu gemetar. Kelopak mata dan bibirnya berkedut, rasa panas menjalar di matanya, sesuatu merangsek ingin keluar. Tak lama, air itu jatuh membasahi pipinya.
"Umi?" lirihnya bergetar. Ain yang berdiri di luar rumah, tersenyum haru. Matanya sudah basah, ia mengangguk kecil.
"Umi!" Ruby berhambur memeluk Ain. Menumpahkan kerinduan pada wanita itu.
"Anak Umi!" Ain tak kalah gemetar. Ikram dan Bilal yang samar mendengar, beranjak meninggalkan sofa dan mendekati keduanya.
"Umi?" Keduanya melongo tak percaya. Ain mengangkat pandangan, menatap keduanya dengan mata yang basah. Ia melepas pelukan dan berjalan mendekat.
"Abi!" Ia menjatuhkan diri di kaki Ikram, menangis sesenggukan penuh penyesalan.
"Maafkan Umi, Abi ... maafkan Umi. Umi berdosa, sangat berdosa. Maafkan Umi, Abi ... maafkan!" lirih Ain gemetar di bawah kaki Ikram.
"Umi, bangun! Sudah!" Ikram mengangkat tubuh Ain dan mendekapnya, "jangan lagi menyalahkan diri sendiri. Lupakan saja apa yang telah terjadi, kita benahi hidup untuk ke depannya. Kita mulai dari awal lagi semua kebahagiaan kita. Abi juga meminta maaf. Semua ini terjadi karena kekhilafan Abi." Ain mengeratkan pelukan, begitu pun dengan Ikram.
Rasa sesal dan rindu menjejali hati keduanya. Ruby dan Bilal ikut masuk ke dalam pelukan mereka.
"Bagaimana Umi bisa bebas" tanya Ruby setelah keempatnya duduk di sofa. Ain celingukan mencari Nafisah, "Nafisah tidur." Ruby menjawab pertanyaan tanpa kata itu.
Ain menatap ketiga orang itu sebelum mulai menjawab, "Umi sendiri tidak tahu, sore tadi seorang sipir datang dan memberitahu Umi bahwa hari ini Umi dibebaskan dengan syarat. Itu semua karena Umi berkelakuan baik selama berada dalam tahanan. Begitu kata mereka." Ain tersenyum, bahagia kini memenuhi hatinya dapat berkumpul lagi dengan keluarga.
__ADS_1
"Apa pun itu, kami senang Umi sudah bebas." Kehangatan yang pernah hilang, kini datang dengan sendirinya.