
Keesokan harinya, Ain dan Yuni sama-sama disibukkan dengan urusan pribadi mereka. Ikram harus mengurus dirinya sendiri. Ia akan menyibukkan diri dengan kembali pada kegiatan mengajarnya, berharap akan sedikit lupa pada gugatan cerai Nadia. Sampai kapan pun Ikram tak akan rela bercerai darinya. Dia tidak akan pernah pergi dari hidupnya. Nadia harus menjadi miliknya.
"Kenapa semua jadi kacau begini, sih? Dasar sialan, dia bilang bisa mengurus semuanya ternyata malah hancur begini," keluh Ain seorang diri di dapur. Ia duduk gelisah, wajahnya kusut dan tak bersemangat. Terkesan putus asa tak tahu lagi harus apa.
"Ada apa, Ain? Kamu terlihat gelisah? Apa ada masalah?" tanya Yuni yang datang sembari mengendong bayinya. Wanita itu memang sibuk mengurusi anaknya yang masih bayi.
"Ck ... kamu tidak tahu apa-apa, jangan ikut campur," ketus Ain melirik tajam Yuni dengan sudut matanya.
Terdengar helaan napas dari arah Yuni, lelah dengan sikap Ain yang tak pernah berubah.
"Ain, sebentar lagi empat puluh harinya anak aku. Bagaimana? Masa tidak ada syukuran, aku tidak punya uang. Ikram sudah tidak memberiku uang lagi. Dulu kamu berjanji, 'kan, akan membuat hidupku mudah dan enak. Sekarang, bagaimana?" ungkap Yuni menagih janji. Apanya yang sadar? Dia masih seperti itu, kok.
Ain berdecih, ia saja sedang dipusingkan dengan urusan bisnis yang tak berjalan dengan baik, sekarang ada Yuni yang menagih janji padanya. Janji kesepakatan yang dulu mereka lakukan jika Yuni mau menjadi istri Ikram.
"Iya, iya ... kamu tenang saja. Cerewet sekali!" gerutu Ain seraya beranjak meninggalkan dapur dan masuk ke kamarnya.
Yuni mendengus, Ain memang selalu begitu. Berbeda dengan Nadia yang tak pernah bersikap ketus dan angkuh pada siapa pun meskipun namanya melambung tinggi dan dikenal semua orang. Dia tetap rendah hati dan suka menolong. Yuni menyukainya.
Ia menepuk-nepuk paha bayi di gendongannya tatkala ia menangis. Yuni pergi ke kamarnya dan mulai menyusui. Tak sengaja matanya melihat Ruby yang sedang menyapu halaman yayasan bersama anak-anak yang lain.
Yuni mengernyit, beberapa hari seolah menjadi tempat mati tak tersentuh, kini mereka terlihat kompak bergotong royong membersihkan halaman yayasan. Mencabuti rumput, dan membakar sampah-sampah plastik. Ibu pengasuh yang menata bunga-bunga. Dulu, Nadia yang selalu merapikannya. Sekarang, tak ada yang merawat jadilah ia harus menjaga peninggalan wanita yang berhati mulia itu.
Bilal dan Nafisah bahkan terlihat di antara mereka. Apakah mereka tidak bersekolah? Sejak kepergian Nadia, ketiga anak Ikram tidak pernah meninggalkan rumah itu. Mereka bahkan enggan menginjakkan kaki di rumah mereka sendiri.
Melihat Ruby, Yuni ingin berbicara dengannya. Remaja itu tahu banyak hal dan rahasia yang tak diketahui orang tuanya. Dari mana dia tahu dan bagaimana caranya mendapatkan informasi sepenting itu.
Ia melirik bayinya yang masih membuka mata lebar-lebar. Sambil menyusu dan tangannya bermain di permukaan kulit Yuni. Bagaimana bentuk anaknya, dia tetap menyayanginya.
Yuni beranjak setelah beberapa saat anaknya tertidur. Dengan pelan dan hati-hati, ia menuruni ranjang. Tak lupa mengelilingi si bayi dengan bantal supaya tidak terjatuh. Yuni pergi keluar kamar niatnya adalah untuk bertemu Ruby dan berbincang dengannya.
__ADS_1
Ia menunggu sampai semua anak-anak pergi beristirahat. Tinggal hanya Ruby seorang yang sedang merapikan alat-alat kebersihan.
"Ruby? Boleh Tante bicara?" tanya Yuni yang sudah berdiri di belakang Ruby. Remaja itu menoleh, dan mengernyit melihat Yuni berdiri di yayasan.
"Mau bicara apa?" Ruby balik bertanya. Ia menyimpan alat-alat itu di tempatnya semula. Yayasan yang beberapa hari ini suram, kini nampak berseri dan bersinar setelah dibersihkan.
"Kita duduk dulu!" ajaknya yang menunjuk kursi aula yayasan. Ruby menurut, ia mengikuti Yuni yang berjalan menuju kursi dan duduk berdampingan.
"Memangnya Tante mau bicara apa?" tanya Ruby setelah menenggak air sirup yang disediakan Ibu tadi.
"Mmm ... maaf, Tante cuma ingin bertanya. Apa yang kamu bilang kemarin itu hal yang sebenarnya?" tanya Yuni membuka bahasan.
Ruby menelisik wajah wanita yang menatapnya dengan rasa penasaran itu. Ia memalingkan wajah, menatap hamparan bunga berwarna-warni dan berbagai macam bentuknya.
"Aku mengetahui banyak hal, Tante. Aku bahkan tahu sesuatu yang busuk yang disimpan orang di sini. Aku tahu semuanya," sahut Ruby sembari tersenyum miring dengan pandangan fokus ke depan.
"Apa benar bu Sarah telah meninggal? Dan mbak Nadia koma?" tanyanya lagi sembari memiringkan kepala menatap remaja di sampingnya.
Ruby melirik, sedetik saja. Ia kembali berpaling, kali ini menunduk menekuri kakinya yang bermain dengan tanah.
"Nenek meninggal setelah melihat penabrak suaminya. Menurut kedua Kakak di yayasan, Nenek melihat Abi yang duduk di atas motor bututnya. Kesimpulan kami waktu itu, kemungkinan motor itu adalah motor yang sama yang Abi gunakan saat menabrak suami Nenek. Dari plat nomor yang sudah mati, motor yang sudah lapuk mungkin saja Nenek masih mengingat dengan sangat jelas. Hanya saja ia tidak tahu wajah si pelaku, juga Abi mengenakan helm usang waktu itu. Katanya motor dan helm itu pemberian dari adiknya Kakek," terang Ruby masih menundukkan kepala menatap debu-debu yang berterbangan karena ulah kakinya.
Yuni pun ikut memalingkan wajah dari Ruby. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini, yang jelas anak remaja di sampingnya begitu cerdas dan dapat menyimpulkan sesuatu dengan tepat meski tak tahu kejadiannya seperti apa.
"Untuk Bunda ... karena terlalu syok dengan kematian Nenek yang mendadak, juga karena terlambat melakukan cuci darah hingga penyakit gagal ginjal yang di deritanya membuat Bunda koma. Aku tidak tahu bagaimana keadaan Bunda sekarang? Karena saat aku kembali ke Rumah Sakit, Bunda sudah tidak ada lagi di sana. Dokter bilang keluarga papahnya Bunda datang membawa Bunda pergi," sambung Ruby lagi kali ini pandangannya mengarah pada awan yang berarak seirama di langit cerah.
Yuni tidak tahu lagi harus berkomentar apa. Rasanya ia ingin meminta maaf pada Nadia dan mengakui penyesalannya. Ia tidak ingin semakin tenggelam dalam kubangan dosa yang ia ciptakan sendiri.
"Bunda sakit secara fisik, tapi Tante punya penyakit hati. Sakit Bunda bisa saja disembuhkan, tapi penyakit hati teramat sulit apa lagi kalau sudah mendarah daging," sindir Ruby dengan nada pelan, tapi menohok harga dirinya.
__ADS_1
Yuni menunduk, merenungkan kata-kata Ruby yang terdengar kejam, tapi memang benar adanya. Sakit fisik bisa disembuhkan dengan mudah, tapi penyakit hati sungguh teramat sulit untuk dihilangkan apa lagi sudah mendarah daging.
Kalimat Ruby yang terakhir diucapkannya, diulang-ulang Yuni dalam hati juga pikirannya. Ia bahkan tidak sadar jika selama di hatinya bersarang bermacam penyakit. Iri, dengki, hasut, angkuh dan lain sebagainya yang mematikan hati hingga tak dapat melihat kebaikan-kebaikan yang orang lain lakukan.
"Kamu benar, hatiku ini adalah sarang penyakit yang sulit sekali diobati. Aku sadar sekarang. Terima kasih, Ruby!" Yuni beranjak.
Ia memandang lain sosok Ruby yang masih duduk mematri pandangan ke depan. Ruby menoleh padanya, tersenyum meremehkan ada rahasia yang ia simpan selama ini. Melihat senyum Ruby yang aneh, Yuni mengernyit, senyum yang tadi diukirnya memudar.
"Tante ingin mengatakannya sendiri? Atau aku juga yang harus membongkarnya?" ucap Ruby seolah memberi penawaran pada Yuni. Ia tersenyum semakin menekan Yuni yang sudah diserang gugup. Ruby benar-benar sosok remaja yang berbahaya untuk seorang penjahat. Ia bahkan tidak segan membongkar semua rahasia orang tuanya, apa lagi dirinya yang sejak awal tidak diterima Ruby. Mudah saja untuknya mengatakan semua yang menjadi rahasianya selama ini.
"Ma-maksud kamu a-apa?" tanya Yuni terbata. Butiran peluh bermunculan di dahinya. Tak sempat ia menyekanya, Ruby tertawa kecil sembari berpaling.
"Tante tahu apa yang aku maksudkan, tidak perlu lagi untukku menjelaskannya. Jadi bagaimana? Apa lisan Tante sendiri yang akan jujur mengatakannya, atau harus lisan tajamku ini yang akan menguak semua rahasia Tante selama ini?" sarkas Ruby masih dengan senyum yang mengintimidasi Yuni.
Senyum itu berhasil mengusik hati dan pikirannya, mengganggu ketenangan jiwanya. Detik kemudian, ia tersenyum menantang ancaman Ruby.
"Kamu mengancamku?" tanya Yuni menatap tajam Ruby yang ia pikir akan terganggu. Nyatanya, Ruby malah tersenyum sama sekali tidak takut pada sorot mata tajam Yuni.
"Anggap saja begitu, karena aku tidak akan membiarkan keluargaku menyimpan ular berbisa seperti Tante di rumah terlalu lama. Mereka harus tahu, ular yang selama ini mereka pelihara suatu hari akan menggigit mereka sendiri. Aku benar, bukan?" sahut Ruby dengan gaya santai yang semakin membuat kesal Yuni.
Kurang ajar! Anak kecil ini berani mengancamku. Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya!
"Kamu memang pintar dan berbahaya, apa Nadia yang sudah mendidikmu menjadi seperti ini? Seperti seorang penjahat yang tidak memiliki hati." Yuni mendengus.
Ruby kembali tertawa, tawa yang lain dari biasanya. Seperti tawa seorang psikopat yang mengancam nyawa sasarannya.
"Bukan Bunda, tapi kalian yang membuat aku seperti ini. Aku meniru cara kalian bekerja. Kepintaran dipadu dengan kelicikan. Aku belajar dari kalian, kalian adalah guru terhebat untuk penjahat kecil sepertiku. Tanpa sadar sikap kalian membuatku berbahaya untuk kalian sendiri."
Ruby melipat kedua tangan di perut. Tetap dengan senyum yang membuat Yuni bergelora. Ia pergi dengan membawa hatinya yang dikuasai api membara. Panas tak terkira. Ruby tersenyum puas.
__ADS_1