
"Mas, bagaimana masalah cabang yang mangkrak? Apa sudah selesai?" tanya Nadia saat menghabiskan waktu sore bersama suami dan anaknya.
"Yoga yang mengurusnya. Semua sudah selesai, dan pembangunan kembali berjalan walaupun harus menghabiskan dana yang cukup besar ... ya, semoga saja kali ini tidak ada kendala lagi," sahut lelaki itu.
Keduanya menemani Zahira bermain dengan mainannya. Waktu yang selalu ingin mereka miliki tanpa gangguan.
"Mas, aku mau jenguk Ibu ke rumah sakit. Kapan Ibu pulang? Rumah sepi sekali hanya ada kita dan Bibi. Anak-anak jarang bermain ke rumah," keluh Nadia yang merasa kesepian. Ia yang terbiasa dengan suasana ramai mendadak rumah itu menjadi sepi.
"Tapi Zahira bagaimana? Bayi dilarang masuk, lho," beritahu paman Harits sambil melempar lirikan pada Nadia yang terlihat lesu.
"Mas bisa jaga, aku masuk ke dalam. Hanya sebentar saja." Nadia tersenyum ketika pandang mereka bertemu.
Pandangan mata wanita itu tak mampu ia tolak. Janji untuk membuatnya selalu tersenyum, selalu terdetik dalam hati setiap kali melihat Nadia murung. Yang dia inginkan melihatnya selalu tersenyum dan ceria. Bersama anak mereka yang masih balita.
Bibirnya membentuk senyuman, tangannya mengusap kepala sang istri, ia mengangguk pelan. Satu pelukan manja ia dapatkan sebagai rasa terima kasih karena selalu mengerti tentang keinginannya.
"Besok, ya. Ini sudah sore," katanya. Nadia mengangguk, matanya terpejam merasakan hangatnya sentuhan tangan sang suami. Tak ingin kehangatan ini menghilang, jangan sampai memudar.
Tak sabar rasanya menunggu sampai besok, sampai tidur pun gelisah tak menentu. Nadia sudah seperti putri tidur yang harus berdiam diri di kamar karena keluar sebentar saja, kutukan akan menidurkannya untuk waktu yang lama.
Setelah seharian penuh berada di dalam kamar, rasanya rindu udara luar. Rindu menginjak tanah lembab bekas hujan kemarin malam. Hari itu ia bahkan memasak makanan yang akan dia bawa ke rumah sakit.
"Banyak sekali, sayang. Apa saja yang kamu masak?" Paman Harits melongo melihat banyaknya makanan yang dibawa Nadia.
"Kesukaan mereka semua, Mas. Sengaja, supaya Ibu makannya lahap. Makanan di rumah sakit itu hambar rasanya," katanya sambil mengambil alih Zahira dari gendongan ayahnya. Ia menyerahkan rantang makanan pada suaminya, berjalan mengikuti langkah lebar lelaki itu.
__ADS_1
"Nanti Mas jaga Zahira, ya. Aku saja yang masuk." Memberi peringatan khawatir suaminya itu lupa. Tak ada sahutan selain anggukan kepala.
Nadia menghirup udara dalam-dalam, membiarkan udara dalam paru-parunya berganti dengan yang segar. "Rindu sekali dunia luar setelah aku dikurung di kamar seharian penuh," celetuknya dengan senyum mengembang di bibir.
Pria di sampingnya terkekeh tanpa menyahut, mobil mereka terus bergerak dan berhenti di parkiran rumah sakit. Paman Harits membawa Zahira ke taman bermain anak-anak. Ada banyak anak lainnya juga yang kebanyakan dijaga ayah mereka.
Selama tiga hari keadaan membaik, Ibu pulih dengan cepat, dan mereka berkumpul kembali menjadi keluarga yang utuh.
Beberapa Minggu berlalu, semua berjalan dengan normal. Nadia menjalankan perannya sebagai istri dan Ibu dari Zahira, Yoga bahkan sudah datang melamar Winda dan dalam beberapa bulan ke depan mereka akan melangsungkan pernikahan.
Tinggallah Rima yang mereka pikirkan, sampai detik itu pun ia tak pernah membahas soal laki-laki. Disinggung pun, tak acuh. Terlihat santai dan tenang. Namun, mengganggu pikiran Ibu dan Nadia.
Siang itu, Zahira bermain ditemani sang Ayah. Di ruang keluarga, tv menyala. Sebuah berita tentang sidang perkara kedua kakaknya digelar. Ia mewakilkan kepada pengacara yang didampingi Yoga. Semua bukti yang diserahkan paman Harits dibeberkan dalam sidang tersebut.
Sementara di dapur, para wanita berkumpul. Rima yang disudutkan nyatanya selalu tak acuh dan bersikap tak peduli.
"Ayo, Rim, cepat susul Winda. Mau kapan kamu mengenalkan laki-laki itu? Mbak dan Ibu ingin melihat kalian menikah secepatnya lagipula umur kalian sudah lebih dari cukup untuk menikah," ucap Nadia sambil menata makan siang bersama Winda.
Rima hanya mengangkat bahu tak acuh. Ia melanjutkan cemilannya dan asik sendiri.
"Aku belum memikirkan itu, Mbak. Nanti saja, ya. Biar Winda saja dulu, aku masih mau manja-manja sama Mbak sebelum manja-manja sama laki-laki." Ia tersenyum mengejek Winda yang memberenggut.
"Sudah gede, tapi masih kaya anak-anak saja kamu, Rima." Ibu menggelengkan kepala. Gadis itu bahkan lebih terlihat ceria akhir-akhir ini. Sikap manjanya terkadang melebihi Zahira, baik pada Ibu maupun pada Nadia. Namun, tetap saja ia tak berani di saat lelaki itu ada di rumah.
"Hari ini mau ke butik?" tanya Nadia melirik Winda dan Rima.
__ADS_1
"Mmm ... hatiku mengatakan aku harus pergi ke butik, entah ada apa di sana? Tapi aku ingin sekali berada di butik hari ini," sahut Rima antusias. Nadia menilik, ada gelagat aneh dari nada yang diucapkannya.
"Aku akan menemani," sahut Winda pula.
"Tapi kenapa Mbak malah merasa kalian hari ini harus di rumah. Jangan pergi ke mana pun. Mbak juga tidak tahu kenapa?" Nadia memandangi kedua adiknya yang termangu oleh ucapannya.
Dia merasakan firasat yang sulit dijelaskan. Pada intinya, kedua gadis itu akan membuatnya tenang jika hari itu mereka tetap di rumah.
"Tapi, Mbak, hari ini butik akan kedatangan pelanggan. Dia ingin merancang baju pernikahannya sendiri dan kami harus bertemu dengannya." Rima melirik Winda, gadis itu mengangguk membenarkan.
Nadia tak menyahut untuk beberapa detik lamanya, ia menilik wajah keduanya dengan intens. Helaan napas terhembus panjang, mau bagaimana lagi itu memang tangung jawab mereka.
"Baiklah, tapi kalian harus hati-hati. Jangan melakukan hal-hal yang berbahaya di mana pun berada. Selalu perhatikan keselamatan kalian dan karyawan lain. Mbak tidak ingin kedua adik Mbak ini berada dalam bahaya," putus Nadia mencoba untuk menepis rasa janggal di hatinya.
"Siap, Mbak!" Kompak keduanya menyahut. Nadia beranjak, ia memanggil paman Harits untuk makan siang. Menu lengkap dihidangkan siang itu, makan bersama keluarga besar membuat selera semakin tergugah.
Tidak biasanya, hari itu Nadia bahkan berdiri di teras memandang kedua adik yang saling bercanda memasuki mobil hingga mobil yang mereka tumpangi menghilang, barulah ia kembali ke dalam dan duduk bersama suami dan anaknya.
"Ada apa? Kenapa kamu terlihat gelisah?" tanya paman Harits. Ia meletakkan tangannya di pangkuan Nadia, mengelus kaki wanita itu.
Nadia menggigit bibirnya, entah perasaan apa yang sedang ia rasakan saat ini. Yang pasti itu membuatnya tidak merasa nyaman.
"Aku tidak tahu, Mas, tapi perasaanku tidak enak." Nadia menunduk, ia menggenggam tangan suaminya yang mulai berbuat nakal.
"Mungkin itu hanya perasaan kamu saja karena beberapa hari kemarin, kamu baru mengalami kejadian buruk. Tenangkan, mohon kebaikan pada Allah." Paman Harits mengingatkan. Nadia tak henti menggumamkan doa dalam hatinya memohon kebaikan untuk kedua adiknya juga semua orang.
__ADS_1