
PERSAINGAN
"Lakukan operasinya sekarang juga!" Suara tegas Nadia menyentak kedua orang yang sedang berdebat itu. Ikram dan Ain menoleh, mata keduanya membelalak tak percaya. Baru saja berandai-andai, kini orang yang mereka harapkan ada di depan mata.
"Nadia!" panggil Ikram lirih. Ia menatap istri keduanya itu ... ah, maaf ... mantan istri keduanya itu penuh kerinduan. Sesuatu menginginkan dituntaskan. Sesuatu menginginkan ditumpahkan. Sayang, Nadia bahkan tidak meliriknya sama sekali.
Dia cantik, dan nampak lebih cantik dari saat terakhir kali bertemu. Penampilannya tetap elegan, dengan gamis dan hijab syar'i yang semakin memancarkan aura kecantikan dari dalam tubuhnya. Nadia cantik di luar juga cantik di dalam. Rasa sesal berlomba menjejali hati Ikram. Kenapa dia menyia-nyiakan wanita seperti Nadia.
"Dokter! Lakukan operasinya sekarang juga! Saya yang akan bertanggungjawab untuk semuanya," tegas Nadia sekali lagi.
Dokter tersenyum dan mengangguk.
"Silahkan ikuti prosedurnya!" pinta dokter kepada Nadia.
Ain masih menganga tak percaya pada sosok cantik jelita yang menjelma bagai bidadari sekaligus malaikat penolong untuk anaknya.
Nadia mengayun langkah, tetap anggun dan penuh pesona. Ia bahkan tidak melirik keduanya, terus melangkah mengikuti dokter untuk mengurus semuanya.
"Nadia!" Panggilan Ikram bahkan tak digubris olehnya. Tujuannya datang bukanlah untuk mereka, tapi untuk Ruby. Nadia masuk ke ruangan, ia melihat kondisi Ruby yang sangat mengenaskan.
Nadia menahan tangisnya, ia harus kuat untuk anaknya. Anak yang ia sayangi meskipun tidak terlahir dari rahimnya. Ia melakukan prosedur yang ada.
Sementara di luar, Ikram dan Ain masih menyesuaikan keterkejutan mereka karena kedatangan Nadia.
"Bi, itu Nadia?" tanya Ain menegaskan. Ia masih tak percaya pada matanya. Mungkin saja sudah rabun.
"Iya, Mi. Dia Nadia," jawab Ikram. Pandangannya tak beralih dari pintu ruangan. Ia ingin melihat wanita itu. Wanita cantik itu yang sempat membuatnya hampir gila karena kepergiannya.
__ADS_1
"Kenapa dia datang? Apa Abi yang menelpon?" tanya Ain lagi ada rasa tak suka saat ia menebak Ikram yang meminta Nadia datang.
"Tidak! Abi juga tidak tahu, Umi tahu sendiri ponsel Nadia tidak bisa dihubungi sejak dia pergi dari rumah," sahut Ikram lagi mengingatkan.
Entah kenapa hati Ain lega mendengarnya.
"Lalu, bagaimana? Apa Abi akan kembali rujuk dengannya? Sepertinya Nadia sudah sembuh. Dia terlihat sehat dan tidak pucat seperti waktu itu," ujar Ain lagi dengan perasaan sedih yang tak ia tutupi.
Ikram berpaling padanya, ada perasaan tak suka di hatinya tatkala Ain mengatakan itu. Akan tetapi, Ain tetaplah Ain yang tak akan pernah peduli pada orang lain kecuali hatinya sendiri.
"Memangnya kapan Abi menceraikan Nadia? Abi tidak pernah menceraikannya, dan tidak akan pernah menceraikan Nadia. Ingat itu!" kecam Ikram yang lupa pada surat cerai yang ia terima satu bulan lalu.
Ain mendelik tak suka. Itulah Ikram, yang selalu berpura-pura amnesia jika bersangkutan dengan Nadia.
"Lalu, surat yang Abi terima waktu itu apa? Bukankah itu surat cerai dari Pengadilan Agama?" geram Ain menarik ingatan Ikram yang hilang entah ke mana.
"Surat itu tidak sah karena Abi tidak pernah berucap kata cerai pada Nadia," tegas Ikram berhasil membuat Ain merasa tersisih. Saat ini, hanya Nadia yang ada dalam hatinya. Hanya Nadia yang memenuhi pikirannya.
"Surat itu sangat sah, Abi. Itu disahkan pengadilan. Apanya yang tidak sah?" sengit Ain yang tak habis pikir seperti apa jalan pikiran Ikram.
"Tetap tidak sah karena lisan Abi yang tidak mengucapkannya," tegas Ikram lagi tak ingin dibantah.
"Terserah Abi!" Ain mendengus kesal. Ia membanting tubuh di kursi dengan wajah yang ditekuk.
Nadia sedang di dalam, Ruby menunggu diselamatkan, tapi mereka berdua malah berdebat hal yang tak seharusnya diperdebatkan. Miris memang. Dan menyedihkan.
Di saat tegang itu, pintu ruangan terbuka. Sosok cantik itu keluar dan tersenyum. Senyum yang membuat jantung Ikram berdegup tak karuan. Nadia tersenyum ke arahnya. Itu artinya dia masih memiliki rasa pada Ikram. Timbul harapan di hatinya, melihat wajah bahagia Ikram yang ditunjukkan pada Nadia Ain benar-benar muak.
__ADS_1
Ia melirik ke arah Nadia yang masih tersemat senyum di wajahnya.
Sialan! Kenapa dia bisa berubah semakin cantik? Bukannya pergi saja menyusul Sarah. Itu lebih baik, 'kan? Sehingga aku tidak harus takut Ikram akan kembali padanya.
Ain menggerutu dalam hati. Sungguh-sungguh tidak suka dengan kedatangan Nadia. Ia tidak sadar kehadiran Nadia adalah untuk menyelamatkan nyawa putrinya. Bukan untuk memperebutkan suami benalu yang lemah itu.
Ikram menunggu kedatangan Nadia dengan senyum yang ia sunggingkan. Ain mencebik kesal. Mereka pasti akan berpelukan saling melepas rindu yang menggebu. Ia kesal dan jengkel. Marah dan sedih. Merasa tersisih itu sungguh sakit.
Nadia terus berjalan, tangan Ikram bergerak hendak membentang menyambutnya. Namun ....
"Bagaimana?" Seorang laki-laki gagah melintas di sampingnya. Bau harum maskulin yang menguar dari tubuhnya membuat Ain cepat berpaling pada sosoknya. Suaranya yang seksi mengundang hasrat dalam hati wanita yang mendengarnya.
Sosok itu tampan dan mempesona. Paman Harits nampak menghipnotis dengan penampilan kasualnya. Kacamata hitam bertengger di matanya, menambah kesan angkuh dan elegan pada dirinya.
"Sudah selesai, Kak. Semuanya sudah beres." Nadia tersenyum pada paman Harits. Senyum itu bukan untuk Ikram, tapi untuk laki-laki yang baru saja muncul dari arah belakang Ikram.
Paman Harits menyerobot saat melihat Ikram yang hendak memeluk tubuh Nadia. Ia tak akan membiarkan laki-laki itu menyentuh Nadia walau seujung kukunya sekalipun.
Ikram menganga tak percaya. Matanya memanas, melihat dua orang itu yang duduk berdampingan di kursi lain. Nadia bahkan enggan menyapanya, apa lagi untuk bersentuhan dengannya. Ikram saja yang terlalu percaya diri.
Ain benar-benar terpesona oleh sosok paman Harits yang ketampanannya melebihi Ikram. Yang paling penting dari itu semua, paman Harits terlihat kaya dan elegan.
Ia terkekeh kecil saat matanya berpaling menatap Ikram yang termangu menatap kedua orang di sana.
"Makanya jangan terlalu percaya diri. Sepertinya Nadia sudah menemukan laki-laki lain untuk menggantikan Abi. Dia lebih tampan dari Abi dan yang pasti ... lebih kaya. Lihat saja penampilannya ... sangat berbeda dengan Abi," cibir Ain semakin menyulut api cemburu dalam hati Ikram.
Ikram berjalan hendak mendekati Nadia dan paman Harits. Harga dirinya merasa terinjak-injak oleh sikap Nadia yang tak mengacuhkannya. Ia merasa tak dianggap oleh Nadia yang tersenyum pada laki-laki lain.
__ADS_1
Nadia miliknya tidak ada yang boleh mendekati miliknya. Begitulah pikiran Ikram.
"Nadia!"