Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Siapa yang Datang


__ADS_3

Paman Harits mendatangi ruang tamu rumahnya. Kasak-kusuk terdengar lirih sesaat sebelum paman Harits menampakkan wujudnya. Ia melangkah masuk dengan gaya elegan. Di sofa ruang tamunya, duduk sepasang orang tua dengan garis wajah yang keras menuntut.


Paman Harits tak peduli, dia mengayunkan langkah dengan arogan. Salah satu dari mereka melunak, begitu sosok tuan rumah yang mereka tunggu muncul di hadapan mereka.


Paman Harits memberikan seringainya, manakala matanya bersitatap dengan orang tua yang duduk di sana.


Ia mendaratkan bokong penuh gaya. Menumpangkan kaki kanannya di atas kaki kiri. Kedua tangannya ia bentangkan di sepanjang sandaran sofa yang ia duduki. Gaya Angkuhnya tak ia kurangi sedikit pun di hadapan keduanya.


Ia pandangi wajah sepasang orang tau di hadapannya. Manik tajamnya menatap mereka, salah satunya menunduk malu, sedangkan yang lainnya tetap menatap tajam paman Harits dengan garis wajah yang keras.


"Siapa? Ada keperluan apa kalian datang menyerobot masuk ke rumahku?!" tanya paman Harits tidak senang.


Si wanita melirik laki-laki yang menundukkan kepala dalam-dalam. Ia kesal, disenggolnya lengan tua itu untuk menyadarkannya dari lamunan.


Paman Harits mengangkat alisnya sebelah, kedua bola matanya berputar melirik bergantian mereka berdua.


"Cepat katakan, apa tujuan kalian datang?" tanya paman Harits lagi dengan malas. Ia jengah melihat kedua orang itu yang malah saling melempar satu sama lain.


Brak!


Keduanya berhenti dan menoleh dengan mata membelalak lebar.


"Jangan menguji kesabaranku! Cepat katakan tujuan kalian datang ke rumahku hingga kalian berani memasukinya dan duduk di kursiku tanpa izin dariku!" geram paman Harits dengan kilatan api amarah yang menjilat-jilat.


Kedua orang di hadapannya mengedipkan mata tak percaya. Semakin membuat kesabaran paman Harits habis.


"Menyebalkan!"


"Tuan!"


"Harits!"


Alis paman Harits terangkat, ia menatap jengah kedua tamunya yang mulai terlihat gelisah.


"Maaf, apa kita saling mengenal? Kudengar kamu menyebutkan namaku tadi?" Paman Harits tidak suka.

__ADS_1


Laki-laki itu gugup, keringat kasar bermunculan di wajahnya. Terlebih saat melihat paman Harits tidak suka namannya dipanggil orang asing.


"Tentu saja aku sangat mengenalmu," jawab laki-laki tua itu mencoba untuk menenangkan dirinya saat berhadapan dengan paman Harits.


Laki-laki itu mendengus, Ia berputar menatap langit-langit ruangan tersebut mendengar kalimat jawaban dari laki-laki tua tadi.


"Atas dasar apa kamu mengenal aku?" Paman Harits merapatkan giginya. Tidak penting sekali tamunya yang kali ini hanya membuatnya naik darah saja.


"Ah ... sudah kenapa jadi basa-basi begini. Kami datang ke sini untuk menuntut kamu atas perbuatan kamu yang telah menyakiti anak kami!" potong wanita di samping laki-laki itu. Usianya jauh lebih muda darinya.


Mendengar itu, paman Harits berpaling pada si wanita. Ada urusan apa hingga dia ingin menuntut dengan tiba-tiba.


"Menuntut? Apa yang ingin kalian tuntut? Oh ... pemuda cabul itu anak kalian? Hmm ...." Paman Harits tersenyum miring mengejek pasangan berbeda usia itu.


Si wanita tak senang mendengar itu, selama satu Minggu ini ia mencari tahu siapa pelaku pengeroyokan putranya.


"Kamu mengeroyok anak saya. Dasar tidak tahu malu, kamu itu sudah tua malah mengeroyok pemuda seperti kemarin. Kalau kamu berani kenapa tidak satu lawan satu saja?" Wanita itu mencibirkan bibir merasa benar apa yang baru saja dia ucapkan.


Sementara laki-laki di sampingnya duduk gelisah tanpa suara.


"Aku menantang suamimu untuk duel denganku!" ucap paman Harits menunjuk laki-laki tua di sampingnya yang menunduk.


Mata si wanita membelalak, ia menoleh pada suaminya dan mengguncang-guncang tubuhnya.


"Dia menantangmu. Sepertinya kamu harus memberinya pelajaran," katanya yang tak ditanggapi oleh laki-laki tua itu.


"Hai, dengar! Tidak ada yang mengeroyok anakmu. Aku sendirian yang membuatnya seperti itu karena dia telah berani menculik dan melakukan tindakan asusila terhadap calon istriku!" terang paman Harits menekan kata menculik pada kalimat yang dia ucapkan.


"Rai? Apa benar dia melakukan itu?" Suara renta itu terdengar tak percaya. Paman Harits mengangkat sebelah alisnya.


"Tanya saja pada anak manjamu! Aku tidak akan memukuli anak kesayanganmu itu jika dia tidak mengusik hidupku!" lanjut paman Harits mulai bosan.


Wanita itu terdiam, hatinya tidak terima. Ia masih ingin menuntut paman Harits dengan sejumlah uang.


"Walau begitu, kamu harus tetap bertanggungjawab dengan membiayai perawatannya," sungut wanita itu keukeuh.

__ADS_1


Paman Harits kembali tertawa. Sungguh lucu kedua orang tua di hadapannya itu.


"Apa kamu sudah jatuh bangkrut hingga menginginkan uang dariku? Baiklah ... berapa nominal yang kalian inginkan, sebutkan saja!" tantang paman Harits dengan entengnya.


Si wanita berbinar senang, sedangkan laki-laki tua itu tidak.


"Harits!"


"Cukup! Jangan pernah memanggil namaku lagi dengan lisanmu itu! Aku tidak sudi mendengarnya!" tukas paman Harits menegakkan tubuhnya dengan murka.


"Jika kalian hanya ingin bermain-main di rumahku, silahkan angkat kaki dari sini! Aku tidak menerima tamu yang tak bisa menghormati aku!" ucap paman Harits menunjuk pintu keluar yang masih terbuka lebar.


Laki-laki tua itu kembali menunduk, tangan keriputnya mengusap sudut mata. Dia menangis.


"Apa kamu benar-benar tidak mengenal aku, Harits? Aku Ayahmu, Harits! Ayahmu!" ucapnya dengan pandangan sendu penuh penyesalan.


Wanita di sampingnya membelalak mendengar ucapan dari suaminya itu. Ia memandang paman Harits yang sudah dikuasai emosi.


"Aku sudah tidak memiliki Ayah. Aku sebatang kara di dunia ini, mereka sudah tidak ada lagi di dunia. Aku sudah menganggap mereka mati!" Mata itu merah menyala tatkala bayangan di saat dia mendapatkan perlakukan berbeda dari mereka melintasi ingatannya.


Laki-laki tua yang mengaku sebagai ayah paman Harits itu menggeleng kuat. Menolak klaim yang baru saja diucapkan paman Harits.


"Tidak, Harits! Tidak! Kamu tidak boleh seperti itu? Kami masih hidup, ibumu bahkan selalu menunggumu. Dia menyesal, kami menyesal, Harits. Kami benar-benar menyesal," ucapnya memohon dengan sangat.


Paman Harits tertawa hambar, ia bahkan enggan untuk menatap laki-laki di hadapannya.


"Kamu baru mengakui aku anakmu, setelah melihat siapa aku, bukan? Lihat! Aku bisa menjadi manusia tanpa kalian! Sayangi saja anak manjamu itu! Lagi pula, kamu juga tega mengkhianati istrimu. Aku yakin, karena wanita ini kamu menjadi bangkrut sekarang. Kasihan sekali istrimu yang satunya itu, ya!" cibir paman Harits sama sekali tidak peduli pada perasaan kedua orang lawan bicaranya itu.


"Aku tahu dia sakit, bukan? Kamu menikahi wanita ini tanpa tahu asal usulnya. Lalu, memiliki anak seorang pemuda cabul mungkin saja menular dari ibunya. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Sekarang ...."


Paman Harits melempar sebuah kertas ke hadapan mereka. Cek kosong.


"Itu cek kosong, isi saja nominalnya sesuai yang kalian inginkan. Ambil dan cepat pergi dari rumahku!"


Tangan si wanita menyambar kertas tersebut dan laki-laki tua itu tak dapat mencegahnya. Paman Harits mengibaskan tangan meminta mereka segera pergi.

__ADS_1


__ADS_2