Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Ikram Pembunuh


__ADS_3

SEMUA HARUS DIPERTANGGUNGJAWABKAN


"Kalau semua penjahat mengakui kejahatannya, maka bui pastinya akan penuh."


Mendengar kalimat sindiran dari paman Harits, Ikram dan Ain berbalik dengan wajah berkedut. Bekas amarah masih terlihat jelas di wajah keduanya. Hati kecil mereka tersinggung, tapi keduanya tetap bersikap biasa saja demi menghindari kecurigaan dari laki-laki di hadapan mereka itu. Paman Harist benar-benar berbahaya untuk mereka.


"Bagaimana dengan anak-anak kita, Bi?" rengek Ain kala teringat pada ketiga anaknya yang ikut dengan rombongan Winda. Ia menangis, memeluk tubuh Ikram yang juga membeku di tempatnya tanpa peduli pada paman Harits dan Nadia.


Nadia melirik paman Harits, laki-laki itu mengangkat bahu tak tahu.


"Mau pulang sekarang?" tawar paman Harits padanya. Nadia mengangguk karena jujur saja, ia lelah dan ingin beristirahat.


"Mau ke mana kamu?" bentak Ain dengan suaranya yang menggelegar bagai gemuruh petir di langit.


"Pulang," sahut Nadia singkat seraya melanjutkan langkah menuju mobil paman Harits.


"Kembalikan anak-anakku! Kembalikan mereka semua padaku!" Ain berapi-api. Air matanya yang meleleh terus berjatuhan dari tempatnya.


Nadia berbalik, sikapnya masih tenang dan tak terbawa emosi sama sekali.


"Bukan aku yang membawa mereka pergi, tapi mereka sendiri yang lebih memilih pergi dari pada tinggal bersama orang tua yang tak tahu diri. Kalau kalian ingin mereka kembali, turuti keinginan mereka. Berubah dan sadar," sarkas Nadia rendah, tapi menohok hati kedua orang itu.


"Nadia, tolong! Pinta mereka kembali, kami sudah mendapatkan hukuman dari apa yang telah kami perbuat. Kami menyesal, kami mohon pulangkan mereka, Nadia!" mohon Ikram pula dengan sangat.


Mendengar itu, bibir paman Harits membentuk senyum aneh. Ia memandang kedua orang di teras itu dengan remeh.


"Kalian yakin sudah mendapat hukuman? Aku ingin dengar, seperti apa hukuman yang seharusnya diterima oleh seorang pembunuh sepertimu!" Paman Harits menantang Ikram, Nadia membeku, dan Ain menegang.

__ADS_1


Ikram yang memasang wajah menyedihkan, berubah tegang dan mengeras. Apakah kalimat paman Harits itu ditujukan padanya?


"Apa bedanya kamu dengan istri ketigamu itu? Ah ... kalian memang cocok! Jodoh ...." Paman Harits menautkan jari telunjuknya kanan dan kiri mengejek Ikram, "kenapa tidak sekalian saja tadi kamu juga ikut dengan polisi menemani istrimu itu. Ah ... salahku, kenapa tidak kumasukkan juga kasusmu itu, ya?" Paman Harits menggaruk dagunya sembari menatap langit yang cerah.


Nadia bingung, tidak mengerti ke mana arah tujuan ucapan paman Harits.


"Apa yang Kakak maksudkan? Aku tidak mengerti. Apakah ada yang tidak aku tahu?" tanya Nadia sembari memandang paman Harits bingung.


Mata laki-laki itu melirik wanita di sampingnya, dicubitnya hidung milik Nadia dengan gemas. Sementara Ikram membeku di tempatnya. Nadia sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang kejahatannya.


"Jangan percaya apa yang dikatakan dia, Nadia! Dia penipu, dia berbohong!" teriak Ikram panik. Nadia berpaling padanya, gurat bingung masih jelas tercetak di wajah cantiknya.


"Apa maksudmu? Memang apa yang dikatakan Kakak? Aku bahkan belum tahu apa yang akan dikatakannya?" ucap Nadia masih dengan bingung. Maniknya berputar menatap Ikram dengan seksama juga Ain yang berdiam sambil sesenggukan.


Suara tawa dari paman Harits mengalihkan perhatian. Nadia semakin bingung, ia merasa sedang dipermainkan.


"Penipu teriak penipu pada orang lain. Kamu tak ubahnya seorang maling yang meneriaki orang lain maling. Ikram ... Ikram! Akui perbuatanmu di hadapannya jika tak ingin nasibmu sama dengan istri ketigamu itu!" ucap paman Harits dengan santai. Nadia menatap nyalang mantan suaminya itu. Laki-laki itu terlihat gugup dan gelisah.


"Siapa pun! Cepat katakan! Apa yang terjadi? Rahasia apa yang kalian sembunyikan dariku?!" Air mata Nadia berurai deras. Ia memandang Ikram dengan intens.


Paman Harits mendesah, tak tega melihat air mata Nadia yang terus berjatuhan.


"Nadia ...."


"Tidak! Jangan percaya apa yang dia katakan, Nadia! Jangan pernah mempercayainya!" tukas Ikram.


"Berhenti di sana!" Tangan paman Harits terangkat melarang Ikram yang hendak mendekat. Matanya melotot tajam dengan rahang yang mengeras.

__ADS_1


Nadia masih bingung, gelagat Ikram sungguh mencurigakan.


"Bisa kamu diam? Kalau kamu tidak mau mengatakannya, maka diamlah!" bentak Nadia yang tak bisa lagi menahan rasa penasaran yang menggebu di hatinya.


"Kakak! Cepat katakan apa yang Kakak tahu?" tuntut Nadia sembari memandang paman Harits. Mohon dan mengiba.


Paman Harits menghela napas sebelum memberitahu, "Nadia ... dia, Ikram alias mantan suami kamu itu, dia yang telah menabrak papah kamu sampai tewas di tempat. Dia meninggalkan jasad papah kamu begitu saja, dan tidak bertanggungjawab atas apa yang telah dia perbuat. Lalu, dia hidup dengan aman dan damai tanpa mendapatkan hukuman dari perbuatannya." Paman Harits menunjuk Ikram dengan geram.


Demi apa pun, tubuh Nadia lemas seketika. Ia termundur hingga menabrak badan mobil, matanya semakin banyak menjatuhkan air. Tatapannya kosong, mulutnya terbuka tak percaya.


"Dan apa kamu tahu, Sarah juga drop bukan karena dia mendengar kamu kabur dari rumah, tapi karena dia melihat pembunuh papahmu adalah menantunya sendiri. Hal itu membuatnya tak dapat menahan diri hingga melemahkan jantungnya. Dialah yang telah membunuh kedua orang tuamu, Nadia," lanjut paman Harits mengungkap semua yang Nadia tidak tahu selama ini.


Lemas sudah tubuh Nadia, ia jatuh terkulai di atas tanah. Kedua tangannya mencengkram tanah hingga mematahkan beberapa kuku yang dirawatnya selama ini. Nadia meraung, merasa ditipu selama lima tahun ini oleh suaminya sendiri.


Ikram ikut melemas, ia yang hendak menghampiri Nadia urung saat melihat mata paman Harits yang melotot lebar padanya.


"Nadia!" gumamnya pelan, "maafkan Mas!" lanjutnya lirih. Ia ikut meneteskan air mata melihat Nadia yang menangis sembari terus mencakar-cakar tanah.


"Mamah! Mamah! Papah!" tangis Nadia semakin menjadi saat ingat pada pesan terakhir Sarah yang memintanya melepaskan Ikram. Kini ia tahu, kenapa itu menjadi pesannya yang terakhir. Sarah tak ingin Nadia hidup bersama laki-laki yang telah merenggut kebahagiaanya hingga ia harus melahirkan Nadia sebagai janda dan anaknya terlahir sebagai yatim.


Laki-laki itu yang sudah membuatnya tak dapat merasakan sentuhan dan kasih sayang seorang Ayah. Ikram yang telah membuatnya kehilangan figur Ayah sejak ia hadir ke dunia ini. Laki-laki itu yang membuat Nadia tak pernah melihat wajah sang Ayah. Yah ... laki-laki itu yang telah merenggut semua dunianya. Laki-laki itu ....


"Pembunuh!" raung Nadia memilukan. Paman Harits membantunya berdiri, Nadia yang lemah bahkan tak dapat menopang tubuhnya sendiri.


"Kamu pantas mati, Ikram!" Sumpah itu menggelegar sampai ke langit. Ikram bergetar, begitu pun dengan Ain. Ikram menangis histeris saat melihat semua penderitaan di manik wanita yang bertakhta di hatinya itu. Entahlah, apa dia masih pantas menempatkannya sebagai ratu di hatinya? Rasanya terlalu tak tahu malu.


"Kalian biadab! Kalian tak pantas hidup dengan tenang, kalian jahat!" Nadia melemas, ia lunglai dalam pelukan paman Harits. Menangis lemah, sungguh menyedihkan.

__ADS_1


"Dasar penipu!"


__ADS_2