Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Mulai ....


__ADS_3

Suara kokok ayam saling bersahutan berpadu dengan gema adzan subuh yang melengking hingga menyentuh langit. Laki-laki bertubuh besar itu pun tengah bersiap menyambut panggilan Tuhan-nya.


Ia melirik istrinya yang menggeliat di atas ranjang, detik berikutnya ia membuka kelopak indahnya. Menerbitkan senyum menyambut tatapan sang suami yang berdiri di tepi ranjangnya.


"Sudah subuh, ya, Mas?" tanyanya sembari beranjak duduk dengan kepayahan. Paman Harits sigap membantu, ia duduk kembali di tepi ranjang dan mengusap perut istrinya.


"Mas mau ke masjid? Kenapa belum berangkat?" tanya Nadia lagi saat paman Harits justru menjatuhkan kepala pada perut buncitnya. Tangan Nadia menyugar rambut suaminya dengan pelan, masih menyisakan lembab bekas guyuran air.


Tanpa kata, ia beranjak. Mengecup dahi istrinya sebelum pamit. "Ayah ke masjid dulu, ya? Kamu baik-baik di sini, jangan nakal sebelum Ayah pulang." Diusapnya perut itu yang bergerak seolah menjawab ucapan Ayahnya.


Paman Harits berdiri, melirik Nadia sebentar sebelum mengajak kakinya berayun meninggalkan kamar. Dengan sangat hati-hati, Nadia beranjak menurunkan kaki. Ia melangkah sambil memegangi perutnya yang semakin turun ke bawah.


Niat hati ingin mengambil wudu, tapi urung saat terdapat bercak darah bercampur lendir di pakaian dalamnya. Ia panik, tapi tetap melanjutkan membersihkan tubuh. Usai membersihkan diri, ia menyiapkan segala keperluan yang disarankan dokter sebelum melahirkan.


Dalam sebuah tas yang cukup besar, Nadia mengemas semuanya. Ia meringis, menggigit bibir bawahnya dengan kuat saat terjadi kontraksi seperti tadi malam. Nadia terduduk di lantai, ia memegangi perutnya yang terasa kencang.


Nadia mencoba bersikap setenang mungkin karena menurut buku yang dibacanya, kontraksi pada anak pertama itu bisa berlangsung hingga dua puluh empat jam lamanya sampai ke puncak pembukaan. Ia menarik napas panjang, dan membuangnya.


Nadia kembali berdiri setelah rasa sakit yang mendera pinggangnya berangsur hilang. Ia melangkah hati-hati menuruni anak tangga menuju lantai satu. Peluh bermunculan di dahi, diusapnya menggunakan ujung tangan sambil berpegangan erat pada pegangan tangga.


Nadia menjeda langkah saat rasa sakit kembali hadir menyapa pinggangnya. Melilit dan sedikit terasa panas. Namun, masih dalam jeda yang lama. Ia terus melangkah menuju sofa ruang tengah untuk menunggu suaminya.


"Non?" Bibi memekik saat melihat Nadia yang kepayahan membawa langkah. Ia sigap membantu Nyonya-nya itu untuk menggapai kursi.


"Terima kasih, Bi," ucapnya dengan bibir gemetar dan pucat.


"Apa Non Nadia sudah mau melahirkan?" tanya Bibi panik. Siapa yang mau melahirkan, siapa yang ikutan panik. Nadia mengangguk lemah.

__ADS_1


Bibi cepat-cepat ke dapur, tak lama ia kembali dengan segelas susu hangat di tangannya. Bibi meletakkan gelas itu di depan Nadia.


"Terkadang orang yang mau melahirkan kehilangan tenaga, tapi dia tidak bisa memakan apa pun. Minum ini, Nona, supaya Anda tidak lemas," ungkap Bibi memberikan gelas itu pada Nadia.


Wanita yang tengah menahan sakit itu tersenyum, peluh kembali bermunculan di dahinya. Ia meraih gelas, meremasnya sedikit kuat, menahan rasa yang bergejolak. Nadia menarik napas lagi sebelum meminum susu yang dibuatkan Bibi.


Rasanya sungguh luar biasa. Sakit melilit, mulas, ditambah rasa panas yang menjalar di bagian pinggang. Nano-nano rasanya.


Winda dan Rima mengernyit melihat Nadia yang duduk ditemani Bibi di ruang tengah. Mereka menarik langkah yang hendak menuju dapur, berbalik dan menghampiri Nadia.


"Mbak? Kenapa?" Keduanya duduk mengapit Nadia. Saling memegang tangan wanita itu di kanan dan kirinya. Nadia melempar pandangan pada mereka berdua, tersenyum dan menggeleng menjawab tanpa kata.


"Nona mau melahirkan. Kalau kata orang Sunda ini baru ada-ada, mungkin kalau kata dokter ini baru pembukaan satu. Bibi tidak tahu, tapi yang pasti Nona mau melahirkan," terang Bibi.


Kedua gadis itu membelalakkan mata, menatap bergantian antara Bibi dan Nadia. Kepala wanita itu mengangguk, menjawab pertanyaan yang tak langsung ditanyakan kedua adiknya.


"Kenapa kamu panik? Jangan menakuti Mbak kita, Rima? Lihat, Mbak saja yang mau melahirkan bisa tenang begini," sungut Winda yang tiba-tiba kesal karena sikap Rima menakuti Nadia. Dia pun sama paniknya.


"Tidak apa-apa." Nadia mengusap kepala adiknya itu menyalurkan ketenangan pada hatinya yang tiba-tiba panik, "bisa tolong ambilkan tas yang Mbak siapkan di kamar? Mbak tidak bisa membawanya," sambung Nadia meminta tolong.


"Biar aku saja!" Keduanya sigap berdiri, tapi Winda lebih dulu beraksi. Ia berjalan cepat menaiki anak tangga. Sama paniknya dengan Rima, telapak tangannya bahkan telah basah oleh keringat.


"Aduh, Ibu ... Mbak Nadia mau melahirkan. Kami harus apa, Ibu? Seandainya Ibu masih ada di antara kami, tak akan mungkin kami setakut ini, Bu." Ia bergumam kecil sambil terus membawa langkah menuju kamar Nadia.


Dilihatnya sebuah tas di depan lemari pakaian Kakaknya itu, Winda buru-buru mengambilnya dan kembali keluar. Rasa takutnya semakin besar saat melihat Nadia menggigit bibir dengan mata terpejam.


Winda terburu-buru berlari, hampir saja jatuh jika sebuah tangan kokoh tak memegangi lengannya. Yoga berdiri di sana, ia datang bersama paman Harits karena rencananya pagi ini ada meeting bersama klien penting.

__ADS_1


"Hati-hati!" katanya lembut. Winda tersenyum malu, ia menunduk dengan wajah yang memerah matang.


"Terima kasih, Kak." Yoga tersenyum, ia mengikuti langkah Winda menuju ruang tengah.


Paman Harits mengernyit melihat tas di tangan Winda, ia baru saja memasuki rumah sepulangnya dari masjid.


"Win? Apa itu?" tanyanya heran.


Winda melirik tas di tangannya, ia gugup. Tangannya menunjuk Nadia yang duduk di sofa tanpa menjawab. Paman Harits memutar kepala, ia membelalak saat melihat Nadia sudah duduk di sana.


"Astaghfirullah, sayang!" Berlari mendekati sofa dan duduk di samping sang istri. Melihat suaminya, hati Nadia yang was-was perlahan tenang.


"Mas!" Nadia menjatuhkan kepala di dada suaminya. Ia memeluk tubuh kekar itu dan meremas baju koko yang dikenakannya saat rasa panas yang melilit kembali datang. Paman Harits yang masih bingung dengan situasi yang ada, hanya bisa membalas pelukan istrinya.


"Ada apa? Apa sudah waktunya?" tanyanya yang disambut anggukkan kepala oleh Nadia.


"Ayo, bawa ke rumah sakit, Nak!" Suara Ibu tiba-tiba menyambar melihat Nadia yang menahan rasa sakit dalam peluknya.


"Yoga, siapkan mobil! Aku ingin kamu mengantarku ke rumah sakit!" titahnya sambil mengangkat tubuh Nadia dan membawanya keluar setelah Yoga menganggukkan kepala.


"Ayo, kita susul!" sentak Ibu pada Winda dan Rima yang justru termangu di tempatnya. Gelagapan keduanya, seperti linglung.


"Ah ... ya!" Winda kembali ke kamar, menyambar kunci mobil dan berkumpul lagi bersama dua orang lainnya.


"Bibi tahu apa yang harus dilakukan, bukan? Kami tinggal dulu!" ucap Ibu sebelum mengikuti langkah Winda dan Rima keluar rumah. Bibi mengangguk dan melakukan apa yang harus dilakukan.


"Ya Allah semoga semuanya berjalan lancar tanpa hambatan. Kuatkan nona Nadia, ya Allah. Kuatkan!" pintanya sambil melangkah menuju dapur.

__ADS_1


__ADS_2