
KECEMBURUAN PAMAN HARITS
Nadia kembali ke Rumah Sakit menjenguk Ruby. Ia membawakan makanan untuknya dan juga untuk dua orang yang menjaganya.
"Kak, beli makanan dulu. Ruby suka roti tawar dan susu cokelat," pinta Nadia yang diangguki paman Harits. Nadia keluar bersama Bilal dan Nafisah. Mereka pergi ke minimarket yang ada di seberang jalan Rumah Sakit.
"Bunda, aku juga mau beli, ya?" pinta Nafisah setelah mereka berada di dalam minimarket tersebut.
"Iya, sayang. Beli saja kamu mau apa? Kamu juga," ucap Nadia sembari melirik Bilal yang diam saja.
"Hore!" Keduanya berjingkrak riang karena sudah lama sekali mereka tidak berbelanja seperti ini. Ain dan Ikram sibuk sendiri sehingga mereka tak pernah menikmati hari-hari layaknya anak-anak.
Nadia tersenyum, ia melirik keluar melihat paman Harits yang menunggu. Laki-laki itu berbincang dengan penjual jus di depan minimarket. Dia memang supel, tidak sombong dan tidak segan berbincang dengan orang-orang dari kalangan biasa.
Bilal dan Nafisah mencari apa yang mereka inginkan. Tertawa, terkekeh kecil, bisik-bisik pun terdengar di telinga Nadia. Wanita itu tersenyum, ia mengambil tiga bungkus roti tawar dan juga susu cokelat kesukaan Ruby.
"Bunda, tambahkan selai strawberry. Aku mau juga," seru Nafisah dari tempatnya memilih makanan. Nadia tidak menyahut, ia mengambil satu toples selai strawberry dan menambah roti tawarnya.
"Nadia!" Seseorang memanggil Nadia. Merasa mengenal suara itu, Nadia menoleh.
"Rai? Hai ... apa kabar?" Nadia menyapa dengan sopan. Benar. Sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan laki-laki itu.
"Alhamdulillah, aku baik. Kamu kembali? Aku dengar kamu pergi dari rumah, dan hilang dari Rumah Sakit," ucap Rai sembari memandang Nadia penuh kerinduan.
"Ya ... pada akhirnya aku memilih menyerah dari semua ini. Aku memutuskan untuk berpisah dengannya dan mencari kebahagiaanku sendiri," sahut Nadia dengan intonasi nada bahagia yang tak ia tutup-tutupi.
"Benar. Kamu terlihat lebih bahagia. Bagaimana sakitmu?" Rai memindai sosok di depannya dari ujung rambut hingga ujung sepatu yang ia kenakan.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap nyalang sosok pemuda yang tak berkedip memandang Nadia.
__ADS_1
"Alhamdulillah, ada orang yang baik hati mau memberikan ginjalnya untukku. Aku sembuh dan bisa hidup dengan normal." Rasa syukur jelas terlihat di wajahnya yang bersinar.
Sekian lama tak bertemu, Nadia menjelma semakin cantik.
"Apa itu artinya ... aku punya kesempatan untuk mendapatkan tempat di hatimu?" Pertanyaan yang mengandung harapan membuat Nadia serba salah. Sampai detik ini saja ia belum memikirkan pengganti Ikram.
"Nadia?" Panggilan Rai menyentak Nadia dari lamunan. Ia tersenyum canggung, tak enak rasanya pada Rai. Namun, di hatinya sama sekali tidak ada rasa apa pun selain perasaan seorang sahabat.
"Maaf, Rai. Untuk saat ini aku belum memikirkan itu. Aku masih ingin sendiri untuk waktu yang tak bisa aku tentukan. Sekali lagi maafkan aku," sesal Nadia dengan wajah yang menunduk. Bilal dan Nafisah yang melihat tak ingin mengganggu keduanya. Anak-anak itu memberi ruang pada mereka untuk berbicara.
"Tidak apa-apa, mungkin untuk saat ini belum. Suatu hari siapa tahu hatimu berubah haluan dan mau menerima aku," ucap Rai tabah. Ia memandang Nadia dengan segenap rasa dalam hatinya. Sedikit kecewa sebenarnya, tapi tak apa. Waktu masih panjang semoga Nadia berubah pikiran.
"Baiklah, aku duluan. Ayo, anak-anak! Kita sudah ditunggu." Nadia berpamitan, ia mengajak Bilal dan Nafisah yang bersembunyi di balik rak. Keduanya muncul dan melirik Rai datar.
Mereka keluar dengan masing-masing kantong plastik di tangan. Rai menatap kepergian ketiga orang itu, tak sengaja matanya beradu pandang dengan milik paman Harits. Pandangan laki-laki berumur lanjut itu menajam seolah-olah ingin melahap sosok Rai yang ada di dalam minimarket tersebut.
"Waw ... kalian memborong isi minimarket ini? Sekalian saja beli tokonya," celetuk paman Harits asal. Ia menggeleng melihat tangan mereka dipenuhi kantong plastik. Ketiganya terkekeh. Paman Harits memandang curiga pada Nadia, membuat wanita itu salah tingkah dan memilih mengajak paman Harits pergi.
"Ayo, Kak!" Nadia dan kedua anak itu berjalan lebih dulu. Sekali lagi pandangnya bertemu Rai sebelum paman Harits berpamitan pada penjual jus setelah menerima pesanannya. Gayanya yang elegan, tapi ramah pada pedagang kecil. Membuat pedagang itu berdecak kagum padanya. Ia bersyukur saat membuka gulungan uang sepuluh ribu, di dalamnya terdapat dua lembar uang pecahan seratus ribu.
"Baik sekali orang itu." Ingin berterimakasih, tapi sosok paman Harits telah hilang.
"Siapa laki-laki itu?" ketus paman Harits yang tak menutupi hatinya yang sedang bergolak.
"Siapa? Oh ... Rai, dia temanku." Nadia tak berani memandang wajah keras paman Harits.
"Sahabat apa yang memandangmu seperti tadi. Aki tidak suka." Ia berjalan cepat tak ingin mendengar celotehan paman Harits, tapi laki-laki itu segera mengejar dan berjalan di sampingnya.
"Apa maksud, Kakak? Aku tidak mengerti," tanya Nadia menoleh sebentar, dan kembali berpaling.
__ADS_1
"Dia memandangmu lain, Nadia. Dia menganggapmu lebih dari sekedar teman. Ada hasrat pada sorot matanya yang membuatku ingin mencungkil biji maniknya yang jelek itu," sengit paman Harits. Entahlah. Kenapa dengan laki-laki ini.
"Biarkan saja, Kak. Itu hak dia, kita tidak bisa melarangnya-"
"Tidak bisa! Dia boleh menatap wanita lain seperti itu, tapi tidak boleh padamu. Aku yang melarang. Aku tidak suka," tegas paman Harits lagi menatap geram bayangan Rai yang tersenyum pada Nadia. Tangannya menonjok udara membuat Nadia terkekeh melihatnya.
"Ada apa dengan Kakak ini? Kenapa sepertinya marah sekali?" tanya Nadia dengan tawa yang masih tersisa.
"Ada apa? Kamu tanya ada apa? Karena aku cemburu, Nadia! Aku cemburu. Aku tidak suka ada laki-laki lain yang memandangmu seperti aku ... walaupun hanya diam-diam." Paman Harits memalingkan wajah. Ia mengusap tengkuknya serba salah. Malu juga ternyata mengakui perasaan seperti ini.
Usianya yang telah berlanjut yang membuatnya malu. Jika saja ia seusia Rai mungkin mudah saja mengungkapkannya.
"Cemburu? Aku ini tidak mengerti seperti apa jalan pikiran Kakak ini?" Nadia menggelengkan kepala tak percaya. Paman Harits mendesah.
"Ya sudah, tak usah dipikirkan. Yang pasti aku tidak suka kamu dekat-dekat dengannya. Jauhi dia." Nadia mendengus. Tak ada lagi pembicaraan sampai mereka tiba di ruangan Ruby.
Keadaan Ruby semakin membaik. Ia tersenyum saat pintu terbuka dan Nadia masuk disusul kedua adiknya juga paman Harits yang bertindak menjadi bodyguard untuk wanita cantik itu.
"Wah ... banyak sekali bawaan kalian!" seru Ruby saat melihat tangan kedua adiknya menenteng kantong plastik.
Ikram dan Ain memandang sinis pada kedua orang dewasa yang bersama anaknya. Paman Harits tersenyum mengejek sembari mensejajarkan langkahnya dengan Nadia. Ikram mendengus, ia berpaling. Panas hatinya seperti bara api yang menyala.
Sementara Ain pun tak acuh, ia memainkan gawai di tangannya. Tak peduli pada kedatangan mereka.
"Bunda tahu saja kalau aku sedang ingin makan ini," ucap Ruby seraya mengambil roti tawar dan susu cokelat kesukaannya.
"Kamu suka makanan itu? Sejak kapan?" tanya Ain yang sama sekali tidak tahu kesukaan anaknya sendiri.
"Lho ... bukannya Umi sering melihat aku makan ini? Kukira Umi tahu kalau aku suka makan ini," sahut Ruby yang membuat Ain melengos nyeri. Kalah lagi oleh Nadia.
__ADS_1