
Nadia meremas ponsel di genggamannya. Kedua rahangnya mengeras setelah membaca pesan dari sekretarisnya. Nadia yang berdiri di jendela menatap lalu-lalang para santri dan anak-anak di yayasan, memilih untuk berbalik dan duduk di sofa.
Ia melakukan panggilan pada sekretaris yang baru saja mengiriminya pesan.
"Hallo, Win! Kali ini apa lagi?" tanya Nadia setelah sambungannya terangkat oleh orang di seberang sana.
[Seperti biasa, Mbak. Pembayaran lagi.]
Jawaban dari seberang sana yang membuat Nadia berdiam sejenak.
"Kamu sudah melakukan apa yang aku perintahkan, bukan?" tanyanya lagi memastikan.
[Sudah, Mbak. Sepuluh persen dari biasanya dan sisanya ke yang baru.]
Nadia bernapas lega setelah mendengar jawaban Winda. Itulah yang dia inginkan.
"Syukurlah! Aku bisa tenang sekarang. Terima kasih, ya, Win kamu dan Rima sudah banyak membantu. Aku tidak akan pernah tahu kalau kalian tidak memberi laporan kepadaku," tutur Nadia tersenyum lega karena memiliki sekretaris dan bendahara yang bisa diandalkan.
[Sama-sama, Mbak. Itu juga termasuk tanggung jawab kami untuk menjaga amanah dari Mbak. Jadi jangan sungkan, Mbak.]
Nadia kembali tersenyum, sekarang hatinya merasa lega. Satu pesan yang dia ingat, jangan pernah memikirkan sesuatu terlalu dalam karena itu bisa memicu stress dan membuat tubuhmu drop. Nadia menutup sambungan telepon.
Beruntung, ia masih bisa mengendalikan hatinya dan dapat mencegah hal-hal buruk yang tak diinginkan terjadi.
Ia merebahkan diri di sofa, tubuhnya mudah sekali lelah jika saja dokter tidak memberinya suplemen untuk menunjang kegiatannya. Nadia bersyukur ada anak-anak yang terkadang membantunya membersihkan rumah.
"Bagaimana bisa setega itu, ya Allah! Aku tidak habis pikir kenapa bisa seperti itu," gumamnya pelan. Beberapa saat merebahkan diri cukup membuat tenaganya pulih kembali.
__ADS_1
Nadia beranjak menuju kamar melanjutkan tidurnya yang tak jadi di sofa tadi. Nyaman dan tenang tanpa gangguan.
Sore hari di saat Nadia asik mengajari anak-anak membuat kerajinan tangan untuk menambah koleksi yang ada. Ia sudah survei lokasi bersama sekertarisnya beberapa waktu lalu. Menentukan di mana tempat yang strategis membuka toko untuk usaha anak-anak di yayasan.
Ain dan Yuni baru saja sampai ke rumah, keduanya terlihat sumringah berjalan dengan tas belanja di tangan masing-masing. Nadia yang mendengar suara tawa Kakak dan adik madunya itu, melirik pada mereka.
Bisa-bisanya mereka tertawa bahagia tanpa ingat akan dosa.
Nadia masih bisa tersenyum tatkala Ain dan Yuni menoleh kepadanya. Berbeda dengan Ain yang sengaja memanasi Nadia, Yuni lekas menunduk setelah melihat senyum Nadia. Malu bercampur takut, lebih banyak malunya.
Nadia tak acuh kembali bercengkerama bersama anak-anak asuhnya. Bersama mereka Nadia akan lupa pada semua masalah yang dia hadapi. Tertawa, berceloteh ceria, bercerita ini dan itu membuat hatinya tetap merasa bahagia dan terjaga dari dengki.
"Wah, Bunda, bunga-bunga buatan kita sudah banyak begini! Kapan tokonya akan dibuka, Bun? Teman-teman aku sudah menanyakannya," seru salah anak yang duduk di bangku SMA. Dialah yang akan Nadia masukan ke perguruan tinggi setelah lulus nanti bersama teman satunya. Ia ingin anak-anak asuhnya mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak-anak lainnya yang lebih beruntung.
"Iya, Alhamdulillah. Bunda sudah menyewa tempatnya, tidak jauh dari pasar dan tempat berkumpulnya anak-anak muda. Bunda akan titipkan usaha ini kepada kalian, tolong kembangkan dan hasilnya kalian tabung untuk biaya pendidikan kalian juga adik-adik kalian nantinya," ucap Nadia sembari memegangi tangan kedua remaja itu dengan lembut.
Nadia mengusap kepala keduanya. Ia tersenyum saat manik mereka mengarah pada miliknya.
"Setelah ini kalian-lah yang akan menjadi tulang punggung mereka. Bunda tidak tahu sampai kapan Bunda bisa menemani kalian, untuk itu sebelum Bunda pergi ... Bunda ingin kalian memiliki usaha untuk menyambung hidup kalian juga biaya pendidikan semua anak di sini. Bunda juga menyewa ruko di sampingnya. Bukankah kamu suka memasak? Kamu bisa buka usaha katering atau semacam rumah makan di sana-"
"Bahu-membahu saling membantu satu sama lain. Kalian harus kompak saat Bunda tak lagi di sisi kalian nanti, saling menyayangi, saling mengasihi, dan saling menghormati. Hanya kalian berdua harapan Bunda untuk menjaga dan melindungi semua anak-anak di sini. Apa kalian bisa membantu Bunda?" lanjut Nadia lagi.
"Bunda!" Mereka menangis berhambur memeluk Nadia. Mereka semua tak ingin kehilangan Nadia, mereka ingin bundanya selalu ada bersama mereka sampai mereka benar-benar bisa mandiri. Berdiri di atas kaki sendiri.
"Bunda jangan berbicara seolah-olah akan pergi meninggalkan kami. Kami tidak bisa kehilangan Bunda, kami ingin Bunda tetap di sini," ucap salah satunya sambil menangis tersedu-sedu.
"Bunda tidak boleh pergi, Bunda harus tetap di sini bersama kami. Kami sayang Bunda!" sahut yang lain membuat Nadia tak kuasa menahan tangis.
__ADS_1
Mereka anak-anakku! Mereka anak-anakku meski tak satu pun dari mereka yang lahir dari rahimku, tapi mereka anak-anakku!
"Kalian semua anak-anak Bunda!" Pecah tangis Nadia bersama kedua anak asuhnya di sore itu. Beginilah rasanya memiliki anak, dianggap seperti Ibu sendiri oleh mereka. Nadia sudah memiliki segalanya. Anak-anak itu adalah hartanya yang paling berharga.
"Ah ... Bunda lupa!" Nadia mengurai pelukan ia mengambil sesuatu dari saku gamis yang dikenakannya. Sesuatu untuk mereka.
"Ini, masing-masing untuk kalian. Simpan baik-baik dan gunakan jika kalian ada keperluan. Kalian juga bisa menyimpan uang hasil usaha kalian nanti di sini, Bunda sengaja membuatkannya untuk kalian." Nadia memberikan masing-masing sebuah kartu kepada mereka.
Di dalamnya terdapat uang untuk biaya pendidikan mereka juga kebutuhan mereka saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi nanti.
"Bunda, ini tidak perlu. Kami tidak menginginkannya. Selama ini semua kebutuhan kami sudah tercukupi, kami tidak menginginkan ini, Bunda," ucap salah satunya menolak kartu di tangan Nadia.
Ia menggeleng tak enak. Selama ini Nadia sudah begitu baik membiayai sekolah juga kebutuhan hidup mereka.
Nadia tersenyum, ia meraih tangan anak itu dan menggenggamkan kartu itu di tangannya.
"Bunda yang ingin. Bunda tidak ingin kalian sungkan lagi saat memerlukan biaya untuk keperluan sekolah kalian. Gunakan baik-baik jangan menghamburkannya untuk sesuatu yang lain," ucap Nadia lagi.
Ia melakukan hal yang sama pada anaknya yang lain.
"Bagaimana dengan biaya adik-adik, Bun?" tanyanya.
"Kalian tidak usah khawatir, Ibu yang mengurusi mereka," jawabnya lagi. Keduanya kembali berhambur memeluk Nadia. Rasa syukur tak henti mereka ucapkan atas segala nikmat yang diberikan Allah lewat Bunda mereka itu.
Nadia kembali ke rumah dengan perasaan yang lega. Kali ini, ia dibantu oleh anak-anak itu untuk mengurus rumah. Mencuci baju dan lainnya mereka merasa perlu melakukannya untuk ungkapan terima kasih yang tak terbatas.
Anak tetaplah anak. Sekalipun ia tidak terlahir dari rahimnya, mereka tetaplah anaknya. Yang harus dia urus dengan baik, dan dia cintai dengan sepenuh hati. Nadia akan bertanggungjawab atas mereka sampai ajal datang menjemput. Setidaknya, hidupnya sedikit berguna sebelum kematian tiba.
__ADS_1
Ia berdoa dengan khusyuk memohon ampunan dari Allah Yang Maha Pengampun. Meminta rezeki yang melimpah untuk anak-anak asuhnya. Satu yang ia takutkan, ketika dia pergi menghadap Tuhan nanti, anak-anaknya tak ada yang mengurusi. Ia tidak ingin mereka terlantar sepeninggalnya nanti. Untuk itu, Nadia membuatkan tabungan sebagai bekal mereka di masa depan nanti.