
Selalu ada ketidakpuasan di mana saat hati menuntut keadilan, tapi takdir memberi pengampunan.
Di sebuah ruang yang lapang, yang entah di mana tepatnya, paman Harits berdiri menunggu kedatangan dia yang telah berani mengusik ketenangan hidupnya. Dalam hukum yang berlaku di kehidupan seorang Harits, tak pernah memberikan pengampunan untuk setiap kesalahan yang berhasil menyinggung kedamaian hidupnya.
Sikapnya yang tegap, kedua tangan bertaut di belakang tubuh, pandangan sedingin es di kutub Utara, garis wajah lurus dan datar, ia menunggu tak sabar mangsa yang akan dicabiknya.
Ruangan tanpa ventilasi udara, pengap dan berbau tak sedap itu, akan menjadi tempat hukuman untuk seseorang yang sedang ia tunggu.
"Lepas! Ke mana kalian membawaku?!" Bentakan suara itu menciptakan garis lengkung di bibir paman Harits. Ia tersenyum, lebih tepatnya sedang menertawakan dia yang masih memberontak meminta untuk dilepaskan.
"Argh!" erangnya saat orang-orang paman Harits mendorong tubuhnya masuk hingga ke hadapan paman Harits, "bisa tidak kalian sedikit berlemah lembut dengan seorang wanita?!" hardiknya, dengan mata yang tertutup ia menoleh ke belakang tubuh.
Paman Harits memberi perintah pada orang-orangnya lewat gerakan tangan untuk membuka penutup mata wanita itu.
Senyumnya melebar tatkala biji manik si wanita melebar pula. Peluh berjatuhan seirama dengan detak jantung yang memicu kuat. Ketakutan jelas tergambar di wajahnya, ia merasa sedang berhadapan dengan malaikat maut yang siap mencabut nyawanya detik itu juga.
"Aku tidak menyangka ternyata kamu memiliki nyali yang kuat untuk mengusik hidupku!" Kalimat pertama yang keluar dari mulut paman Harits membuat tubuhnya semakin gemetar ketakutan.
"Ha-harits ... a-aku ...." Bahkan untuk membuka kata saja ia tak mampu berucap. Digigitnya bibir merah bergincu itu dengan kuat, kedua tangannya yang diikat di belakang tubuh, mengunci pergerakannya.
Ia berpaling dari tatapan tajam lelaki itu, rasa takut terus menjalar ke seluruh tubuhnya menciptakan getar hebat yang tak dapat ia tutupi.
Paman Harits mengayun langkah, mendekat, menambah debar di dada wanita itu. Ia terpejam saat tangan kekar milik lelaki itu mencengkeram kuat dagunya.
"Kukira kamu akan mendengar peringatanku, tapi ternyata ... itu semua hanya kamu anggap sebagai angin lalu saja." Paman Harits menghempaskan dagu wanita itu hingga membuat kepalanya tertoleh dengan kuat bahkan tubuhnya termundur beberapa langkah.
Air mata mulai berjatuhan bercampur dengan peluh yang tak kunjung surut. Bibir seksi itu terus berkedut, menahan getir dalam hatinya.
"Padahal, kamu tahu seperti apa aku ...." Paman Harits menggantung ucapan. Ia memberi kode pada dua orang untuk melepaskan ikatan di tangannya.
"Lepaskan aku! Mau apa kalian?!" bentaknya kuat-kuat.
"Kami menemukan ini di tas miliknya, Tuan!" Seorang pengawal menyerahkan harta yang ia ambil dari rumah paman Harits. Perhiasan milik Nadia, uang tunai, juga ....
__ADS_1
"Wah ... kamu bahkan mengambil perhiasan milik Ibu! Hebat dan sungguh berani! Aku salut akan keberanianmu kali ini, tapi bodoh!" Paman Harits tertawa, kemudian terdiam teringat akan cerita Nadia malam itu.
Dia tidak menghilang, tapi masuk ke dalam kamar Ibu untuk mengambil perhiasan milik Ibu.
"Aku tidak suka berbasa-basi, Bella!" Paman Harits mengambil sebilah golok yang tertempel di tembok ruangan tersebut. Ditiliknya golok itu, tajam dan berkilat. Sekali tebas, putus sudah lehernya.
pencuri wanita yang tak lain adalah Bella, mantan istrinya sendiri itu, meronta dalam cekalan orang-orang paman Harits. Ia meneguk ludah basi tatkala melihat senyum paman Harits yang berbeda.
Apa dia Psikopat?
Gigil di tubuhnya kian terasa. Paman Harits memainkan golok di tangannya, ia menempelkan benda tajam tersebut ke lehernya sendiri. Lalu, tertawa terbahak saat melihat ketakutan yang semakin nyata di wajah mantan istrinya itu.
Merupakan kenikmatan sendiri untuknya ketika melihat getar ketakutan pada sosok wanita yang pernah mengisi hari-harinya itu.
"Bagaimana kalau benda tajam ini menyentuh kulit mulusmu itu? Ups ...!"
Paman Harits menggeleng sebelum melanjutkan ucapannya, "Kukira sudah tak lagi mulus. Lihat, kamu Kumal dan dekil." Ia tertawa lagi. Puas rasanya mempermainkan emosi wanita itu.
Ia menggeliat dalam cekalan dua orang yang kokoh. Paman Harits tertawa mendengarnya, penderitaan yang dia ceritakan itu sungguh membuat hatinya berbunga-bunga. Paman Harits gila!
"Kenapa kamu tidak datang dan memintanya langsung padaku? Bukan dengan mengunakan cara licik dan kampungan seperti itu! Kamu tahu, kamu hampir merenggut nyawa semua orang jika saja aku terlambat membawa mereka ke rumah sakit." Suara paman Harits meninggi.
Terlalu dekat, hingga air liurnya menciprat ke wajah wanita itu. Ia memejamkan mata takut.
Padahal aku hanya ingin meracuni istrinya itu, tapi akibat bubuk itu tumpah dan mengenai makanan semua terkena dampaknya. Sial!
Ia membuka mata cepat saat suara besi beradu tertangkap rungunya. Matanya melebar, ia menggeleng kuat-kuat sambil meronta-ronta.
"Tidak! Harits, kumohon jangan lakukan itu padaku, Harits! Ampuni aku ... ampuni aku! Aku akan mengaku pada pihak polisi, Harits. Aku akan mengaku, tapi tolong jangan lakukan itu padaku. Aku rela dipenjara ... aku rela, tapi kumohon singkirkan benda tajam itu dari tanganku, Harits! Kumohon!" jeritnya panik tatkala golok tajam tersebut diarahkan orang paman Harits pada tangannya.
"Aku tidak ingin ada kesalahan, lakukan dengan cepat. Dia harus menerima ganjarannya!" titah paman Harits tanpa mengindahkan ratapan permohonan dari mantan istrinya itu.
"Harits! Kumohon jangan! Kumohon jangan, Harits!" Ia kembali memohon dengan tangis yang tersedu-sedu hingga terdengar sesak.
__ADS_1
"Setiap kejahatan pasti ada ganjarannya. Jika tidak di dunia ini, maka pasti di akhirat nanti. Aku hanya meringankan siksaanmu kelak di akhirat dengan memberikan hukuman di dunia ini. Haha .... tapi aku sendiri pun tidak tahu apakah itu akan meringankan atau sama saja?" Paman Harits mengangkat bahu.
Wajah tampannya berubah-ubah, tatapannya kembali dingin saat melihat ke arah orang-orangnya.
"Berikan dia hukuman paling nikmat yang tak akan pernah dia lupakan seumur hidup!" Paman Harits melangkah setelah memberi perintah. Ia tak peduli jerit permohonan wanita itu.
"Harits! Tidak! ARGH!"
Jeritan itu menggema dan melemah bersamaan dengan tertutupnya pintu ruangan tersebut dan paman Harits berada di luar.
"Kamu memaksa aku kembali pada diriku dulu! Maafkan aku, Nadia. Aku harus melakukan ini untuk membuat jera siapa saja yang berani menyentuh keluargaku!" gumamnya sebelum melanjutkan langkah dengan tarikan napas panjang dan dalam.
Paman Harits memasuki mobilnya, gegas pergi dari tempat tersebut menuju rumah sakit. Soal rumah, orang-orang paman Harits sendiri yang membereskannya.
Dia memang kejam, sosok sesungguhnya dari paman Harits, dan Nadia tidak pernah tahu soal itu.
Mobil melaju dengan kecepatan di atas rata-rata karena jalanan yang lengang, sepi dari kendaraan. Hanya beberapa saja yang terlihat melintas dan berpapasan dengan mobilnya.
Di rumah sakit, Nadia menunggu dengan gelisah. Sudah empat jam sejak kepergiannya, paman Harits belum ada tanda-tanda akan kembali.
"Mas, di mana kamu? Kenapa lama sekali? Kamu juga tidak menelepon, aku cemas, Mas." Nadia berjalan mondar-mandir di dalam ruangan. Ia menggigit bibirnya saat sesuatu yang buruk melintas dalam pikirnya.
"Aku harus pulang!" tekadnya seraya membawa langkah menuju pintu. Baru saja hendak membukanya, pintu tersebut terbuka lebih dulu.
"Mas!" Nadia berhambur memeluk tubuh suaminya, "kenapa lama sekali? Mas baik-baik saja, 'kan? Mas tidak kenapa-napa, bukan?" racaunya sambil mempererat pelukan.
"Aku takut sekali, Mas!" lirih Nadia semakin terbenam wajahnya di dada laki-laki tersebut. Paman Harits mengusap kepalanya, ia mencium ubun-ubunnya lama sekali.
"Kamu tenang saja, sayang. Tidak ada yang bisa menyakiti suamimu. Aku baik-baik saja, suamimu ini baik-baik saja." Paman Harits membawa Nadia masuk dan melihat mereka yang terbaring di atas ranjang.
Kemarahan yang sudah diredamnya, kembali mencuat saat melihat kondisi Ibu dan kedua adik Nadia yang terbaring tak berdaya. Terutama Rima, kondisinya paling buruk di antara yang lain.
Ia membawa Nadia duduk di sofa dan meminta wanita hamil itu berbaring di pangkuannya.
__ADS_1