
Diriwayatkan Mu’adz bin Anas Al-Juhani RA
"Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai." (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
*****
Malam itu Ain menumpahkan emosinya lewat tangisan. Hampir sepanjang malam ia menangis dan menyesali semua yang terjadi. Ikram dengan sabar menemani tak menyela saat Ain berbicara, tak membantah saat Ain menyalahkan.
"Semua ini karena Abi memaksa untuk menikahi wanita itu. Padahal, Abi tahu sakitnya diduakan dan harus berbagi. Umi tahu, Umi bukanlah wanita berpendidikan seperti dia. Umi hanya gadis biasa dengan pengetahuan seadanya yang menyandang gelar ustadzah karena dinikahi seorang ustadz. Hati Umi rapuh, Abi ...."
Ain kembali menangis tersedu, Ikram duduk bersimpuh di lantai mendengarkan keluh kesah istrinya itu.
"Sepuluh tahun ... sepuluh tahun Umi menemani Abi berjuang dengan sabar. Sepuluh tahun ikut merasakan bagaimana sulitnya kehidupan hingga kita bisa hidup dengan layak. Semua itu tidak ada apa-apanya di mata Abi, setelah semuanya Abi justru meminta izin menikah lagi. Sakit hati Umi, Bi," ungkap Ain terus menangis menumpahkan segala amarah dalam dada.
"Dia tidak pernah tahu bagaimana perjuangan Umi dulu saat Abi belum seperti sekarang ini, dia datang tanpa beban tanpa ujian yang berarti dan ingin menguasai Abi. Bagaimana hidup Umi selanjutnya? Ruby bahkan lebih membelanya dari pada uminya sendiri. Lalu, Bilal mengikuti kakaknya, dan Abi ... Abi pun perlahan akan pergi meninggalkan Umi," ratap Ain dengan air mata yang berderai hingga menjatuhi rambut Ikram.
Laki-laki itu masih setia mendengarkan, semua yang diungkapkan Ain ia tampung, ia pikirkan, ia saring dengan benar. Tak ada yang salah dari apa yang diucapkan Ain barusan. Semua memang berawal darinya yang kurang bersyukur dan justru meminta izinnya untuk menikahi gadis lain. Hanya bagian akhir saja yang keliru, Ain berpikir Ikram akan meninggalkannya. Padahal, sedetik pun Ikram tak pernah terlintas hal itu.
__ADS_1
"Sudah marahnya? Apa Abi sudah boleh berbicara?" tanya Ikram dengan lembut. Ain tak menyahut, ia masih tersedu sedan dengan mata yang memerah.
Ikram meraih tangan Ain dan menggenggamnya, menciumnya dengan lembut sama seperti saat pertama kalinya mereka bersentuhan setelah ijab qobul.
"Abi tahu, Abi salah. Semua yang Umi ucapkan itu memang benar. Belum sempat Abi berterimakasih pada Umi, Abi justru telah menoreh luka di hati Umi. Maafkan Abi, Mi," tutur Ikram lemah lembut.
Ia tak pernah bisa marah pada Ain, selama sepuluh tahun berumahtangga sekalipun Ikram belum pernah membentaknya, apa lagi berkata kasar padanya. Saat Ain marah, ia akan diam mendengarkan. Dan merayu untuk meredam amarah dalam hati Ain. Tak pernah ikut meninggikan suara saat Ain melakukannya. Ia biarkan Ain meluapkan semua emosi dalam dirinya.
"Mi, takdir Allah itu tidak ada yang tahu. Kita akan seperti apa ke depannya itu kita tidak pernah tahu. Wa makaruu wa makarallaah, wallaahu Khoirul Maakiriin. Dan berencanalah kalian, Allah membuat rencana. Dan Allah sebaik-baik perencana-"
"Manusia punya rencana, tapi Allah juga punya rencana. Dan kita tidak pernah tahu rencana seperti apa yang dibuat Allah untuk kita. Kenapa kita tidak berdamai dengan takdir agar kita lebih mudah menjalani semua ini," tutur Ikram sembari memandang Ain meskipun wanita itu berpaling darinya.
"Dari pada Umi sibuk memikirkan Abi akan berpaling dan melupakan Umi, lebih baik kita berjalan bergandengan bersama menuju jannah-Nya. Cemburu itu adalah hal wajar, diperbolehkan asal pada tahap yang wajar. Sayidah Aisyah dan istri-istri Rasul yang lain pun pernah cemburu, kok, tapi mereka lebih bisa menahan diri dan lebih memilih mendekatkan diri kepada Allah," ucap Ikram yang membuka sedikit pintu hati Ain.
"Umi adalah wanita hebat yang Abi miliki, mana mungkin Abi meninggalkan Umi demi Nadia atau wanita lainnya. Umi akan tetap di hati Abi dan menjadi yang terbaik satu-satunya. Abi hanya belum tahu, apa rencana Allah dari ini semua. Bisa kita menerimanya, Umi?" tanya Ikram sembari mengulas senyum saat Ain berpaling padanya.
"Apa yang dikatakan Ruby benar adanya, Nadia juga istri Abi dan sebagai suami dari dua istri Abi harus bisa bersikap adil pada kalian. Apa Umi masih keukeuh pada keputusan Umi? Pada semua syarat yang Umi ajukan untuk Abi? Kita hanya manusia yang dibekali sifat manusiawi. Tidak apa-apa, pelan-pelan saja. Biarkan semuanya mengalir seperti air yang menyejukkan. Tidak perlu memikirkannya terlalu dalam," pungkas Ikram.
__ADS_1
Ia beranjak duduk di samping Ain, jari telunjuknya mengusap air mata yang masih menggenang di pipi istri pertamanya itu. Ikram mencium kedua mata Ain yang sembab dengan segenap perasaannya. Ia sungguh-sungguh menumpahkan semua rasa dalam hatinya. Ikram memeluk tubuh Ain mendekapnya erat, ia hanya ingin Ain tahu bahwa dia benar-benar mencintainya.
"Apa yang harus Umi lakukan?" ucap Ain dengan lirih. Terdengar bergetar menahan emosi di dada.
"Umi tidak perlu melakukan apa pun, kita hanya perlu bermuhasabah diri dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Mari kita sama-sama melangkah memperbaiki semuanya," sahut Ikram yang diangguki Ain.
Ia tak menampik menangis dalam pelukan laki-laki itu membuat hatinya damai terasa. Malam itu, Ain menyadari kekeliruannya. Ikram menurut karena ia sadar bahwa Ain adalah orang yang paling tersakiti karena pernikahan keduanya dan ia tak ingin menabur garam di atas luka yang dibuatnya. Untuk itu, ia selalu menyanggupi semua permintaan Ain.
Keduanya larut dalam tafakkur. Dzikir malam yang panjang memohon ampunan kepada Allah. Di tempat lain, di waktu yang sama Nadia pun sedang duduk di atas sajadah polos miliknya. Memutar benda-benda bulat kecil sembari melantunkan dzikir. Memohon ampun atas segala dosa yang telah ia lakukan.
Nadia menghitung satu demi satu setiap apa yang dia lakukan. Air matanya menetes saat mengingat kejadian-kejadian dalam hidupnya.
"Ternyata dosaku lebih banyak, ya Allah. Umurku semakin mendekati kematian, tapi amalku tidak pernah meningkat. Ampuni hamba, ya Allah!"
Nadia menjatuhkan kepala tersungkur dalam sujud. Menangis pilu menyesali semua yang telah terjadi. Nadia menangis sampai lelah, tertidur tanpa sadar di atas hamparan sajadah.
Ruby dan Bilal, kedua anak itu akhirnya menginap di rumah Nadia. Usai mengerjakan tugas matematika, Nadia memberikan mereka camilan berupa jeli buah sebelum tidur.
__ADS_1
Semua yang telah terjadi untuk apa disesali? Lebih baik dijalani dengan hati yang ikhlas.