
"Nadia, kenapa kamu di sini? Kenapa tidak duduk di tempat biasanya?" tanya Ikram yang segera mendatangi Nadia begitu acara selesai.
"Lho, bukannya tempat aku sudah diisi sama yang lain? Jadilah aku di sini sama anak-anak. Sudahlah, Mas. Bukannya Mas harus menemui para tamu? Kenapa malah ke sini?" jawab Nadia yang membuat lidah Ikram kelu karenanya.
Baru saja ia ingin berkata lagi, seorang santri memanggilnya. Ikram menunjuk Nadia, matanya menatap nyalang Raihan yang masih bergeming di tempatnya berdiri. Raihan menganggukkan kepala penuh rasa hormat.
Semua acara telah usai, pada tamu pun telah kembali ke kota asal mereka. Nadia dan anak-anaknya membereskan bazar mini yang mereka buat.
"Alhamdulillah, Bun banyak yang laku juga. Bunda benar ini semua akan laku dijual," ucap mereka penuh rasa syukur.
Nadia tersenyum, ia mengajak semuanya untuk kembali ke yayasan. Yuni dan Ain sama-sama memperhatikan Nadia yang sibuk menjual beberapa hasil karya anak-anak kepada para tamu.
"Madu kamu yang itu pandai menggunakan kesempatan, ya, Ain. Uang yang dihasilkan pasti banyak," celetuk Yuni sembari terus menatap Nadia dan anak-anak yang memasuki area yayasan.
"Iya, kenapa dia selalu beruntung?" keluh Ain lagi seraya meninggalkan tempatnya mengintip dan kembali ke rumah.
"Bunda!" sorak kedua anak asuhnya yang telah lulus hari ini. Nadia menoleh dan mereka berdua berhambur memeluknya.
"Terima kasih sudah menjadi Bunda kami," katanya sembari mencium pipi Nadia bergantian. Mereka bersama-sama menghitung hasil uang didapat hari ini. Uang itu akan dijadikan modal sebagiannya, dan sebagian yang lain disimpan sebagai untung.
******
Beberapa hari berlalu setelah acara itu, Ikram belum lagi menemui Nadia. Ia disibukkan dengan kedua istrinya yang selalu berselisih di rumah. Ia segan pergi ke tempat Nadia, bayangan Raihan yang tertawa bersamanya waktu itu membuat pikiran Ikram terganggu karenanya.
Ia memandang Nadia yang sedang duduk bersama anak-anaknya membuat kerajinan tangan lagi. Senyum Nadia selalu terpatri di bibirnya sekalipun ia tak pernah dikunjungi Ikram lagi. Nadia tak sengaja mengangkat pandangan, ia tersenyum manakala Ikram memperhatikan. Namun, laki-laki itu justru melengos pergi dari tempatnya melihat. Nadia berubah murung, ia menunduk hampir saja menangis jika tidak ada anak-anak yang selalu menghibur dirinya.
"Kalian akan Bunda daftarkan ke perguruan tinggi. Pilih saja jurusan apa yang kalian inginkan," ucap Nadia memandangi kedua anaknya yang baru lulus itu.
"Kami akan mengikuti saran Bunda. Yang pasti kami sudah sangat bersyukur bisa dapat lulus Aliyah juga," sahut mereka penuh syukur.
__ADS_1
Nadia menganggukkan kepala, kedua anak itu mempunyai skil yang berbeda-beda. Ia akan memasukkan mereka pada fakultas yang sesuai dengan kemampuan mereka. Ah ... Nadia teringat akan tabungan milik yayasan yang dipegang Ain. Ia akan memintanya nanti dengan alasan anak-anak akan masuk perguruan tinggi.
Malam hari saat Ikram pergi, Nadia mendatangi rumahnya. Ia datang seorang diri menemui dua harimau yang siap menerkamnya kapan saja.
"Assalamu'alaikum, Kak!" sapa Nadia sembari mengetuk pintu.
"Wa'alaikumussalaam!" Ain datang membukakan pintu, "Nadia?" Ia membelalak melihat Nadia yang berdiri dengan senyuman di depan terasnya.
"Ada apa malam-malam ke rumah!" tanyanya tak senang. Namun, senyum di bibir Nadia tetap terpatri dengan manis dan anggun.
"Aku mau menanyakan perihal kartu tabungan anak-anak yayasan. Masih ada pada Kakak, bukan? Anak-anak mau aku masukkan ke perguruan tinggi," jawab Nadia yang membuat jantung Ain seketika berpacu cepat.
Panik gak? Panik, dong!
Dugdug ... dugdug ... dugdug!
Ain gelisah seketika, ia menggigit bibirnya mencari alasan agar Nadia tidak sampai mengetahui kalau uang itu sudah ia habiskan.
Nadia mengernyit, melihat Ain yang hanya diam tak menyahut. Di dalam Yuni menguping pembicaraan mereka. Ia tersenyum, entah apa yang sedang dia pikirkan. Mungkin saja menertawakan Ain yang sedang sibuk mencari alasan.
"Kak? Kenapa melamun? Kartu itu masih ada pada Kakak, bukan? Aku membutuhkannya," sambung Nadia lagi yang menyentak kesadaran Ain dari lamunan.
"Ah ... iya, iya. Tentu saja masih ada pada Kakak. Sebentar, ya. Kakak ambilkan. Masuk dulu," sahut Ain yang mempersilahkan Nadia untuk masuk ke rumahnya.
Madunya itu tersenyum dan mengangguk. Dengan senang hati ia memasuki rumah dan menyapa Yuni yang sedang duduk di sofa.
"Bagaimana kabar kamu, Yun?" tanya Nadia dengan nada ramah dan hangat. Ia duduk di sofa yang berseberangan dengan Yuni.
"Alhamdulillah, baik, Mbak." Yuni menunduk, ia sungguh malu berhadapan dengan Nadia.
__ADS_1
"Aku dengar kamu hamil, sudah berapa Minggu? Selamat, ya," ucap Nadia lagi masih dengan nada suara yang sama yang ia perdengarkan.
Yuni mengangkat wajah seketika, terbelalak mendengar penuturan Nadia. Bagaimana dia tahu? Apakah dia seorang cenayang? Dari mana Nadia tahu kalau dia sedang hamil? Sedangkan Ain dan Ikram saja yang satu rumah belum mengetahui kalau dirinya hamil.
"Da-dari ma-mana Mbak tahu kalau aku hamil?" tanya Yuni gugup seketika. Nadia tersenyum, ia memandang perut Yuni yang masih rata agak sedikit membuncit.
"Kamu tidak perlu tahu dari mana aku tahu. Apa mereka belum tahu? Kenapa tidak memberitahu suami kita? Dia pasti senang kalau mendengar kabar kamu hamil," ujar Nadia lagi yang membuat pikiran Yuni justru menjadi kusut.
"Baru beberapa Minggu, Mbak. Aku belum siap mengatakannya," kata Yuni kembali menundukkan wajah malu sekaligus takut.
"Oh, ya sudah. Itu terserah kamu. Yang pasti kamu harus bersyukur karena diberi kesempatan untuk dapat mengandung dan nantinya melahirkan. Rawat anak itu baik-baik sejak dari kandungan. Jangan pernah menyia-nyiakannya karena itu titipan Allah yang harus kita jaga," nasihat Nadia sama sekali tak terdengar nada sedih dari suara yang ia keluarkan.
Sementara Yuni sibuk menata hati kala berhadapan dengan Nadia, Ain disibukkan dengan kegelisahannya. Ia berjalan mondar-mandir ke sana ke mari sambil sesekali menggigit bibir kuat-kuat, dan sesekali menggigit jari telunjuknya mencari alasan.
"Aduh ... bagaimana ini? Apa aku berikan saja dan pura-pura tidak tahu apa-apa? Bagaimana nanti kalau Nadia menanyakannya? Aku harus jawab apa? Ayo, mikir, Ain!" gerutunya seorang diri.
Ain memandangi kartu di tangannya, kartu yang selama beberapa bulan ini menemani dirinya menjelajah dunia kemewahan tanpa takut kehabisan uang. Namun, kini kartu itu tiba-tiba tidak bisa digunakan membuat dunia yang diciptakannya hancur begitu saja. Lalu, pemiliknya sekarang meminta karena akan menggunakannya. Hancur sudah!
Pada akhirnya, Ain memutuskan untuk memberikan kartu tersebut dan berpura-pura tidak tahu soal isinya. Ia akan memikirkan alasannya nanti ketika Nadia bertanya.
"Ini kartunya. Maaf, ya, Kakak lupa soalnya kalau kartu itu masih ada pada Kakak. Kalau Kakak ingat, pasti Kakak kembalikan secepatnya," ucap Ain sembari memberikan kartu tersebut pada Nadia.
"Terima kasih, Kak. Saya terima, ya. Masih ada uangnya, Kan?" ucap Nadia sembari tersenyum padanya.
"A-ada ... ada, kok, ada. Kamu tenang saja, mana mungkin Kakak memakai uang anak-anak itu," ucap Ain dengan gugup. Ia tersenyum hambar pada Nadia. Ain mengernyit ketika melirik Yuni yang sedari tadi menunduk.
"Ah ... syukurlah. Ya sudah kalau begitu. Aku permisi dulu, Kak. Assalamu'alaikum," pamit Nadia seraya beranjak sembari memegang kartu di tangannya. Ia tersenyum, senyum yang tak pernah ia tunjukan pada siapa pun. Memandangi kartu di tangan sebelum benar-benar pergi dari rumah Ikram.
Yuni bergegas ke kamar tak peduli pada Ain. Ia terus berpikir dari mana Nadia tahu soal kehamilannya.
__ADS_1