Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Nadia Sudah Pergi


__ADS_3

Ketiga anak itu berdiri mematung di ambang pintu ruangan Nadia. Mata mereka membelalak tak percaya apa yang mereka saksikan di hadapan. Semua orang yang berada di dalam ruangan Nadia, menoleh serentak tatkala mendengar saat Nafisah yang memanggil Nadia.


"Di mana Bunda kami?" tanya Ruby pada semua orang yang ada di ruangan itu. Ia menatapi satu per satu wajah asing di sana memastikan adakah orang yang dia kenal di antara mereka.


"Bunda? Siapa? Dan ... siapa kalian ini? Kenapa tiba-tiba membuka pintu dan berteriak memanggil Bunda?" ketus remaja seusia Ruby.


Ia memandang jijik ketiga sosok di pintu itu. Ruby mengernyit mendengar ucapannya.


"Ini kamar Bunda kami, kalian siapa? Kenapa menempati ruangan ini? Dan di mana Bunda kami?" tanya Ruby lagi dengan kedua belah mata yang memanas. Orang-orang asing di dalam ruangan itu memandang Ruby dan kedua adiknya aneh. Mereka menganggap ketiganya stress, mungkin karena ibu mereka meninggal.


"Mungkin Bunda kalian sudah mati, dan jasadnya sudah dimakamkan. Ruangan ini sekarang jadi kamar ayahku. Pergi saja kalian!" ucapnya sembari mengibaskan tangan pada mereka bertiga.


Ruby menganga tak percaya, air mata yang ditahannya luruh juga dengan sendirinya. Remaja itu mendekati mereka, dan menutup pintu ruangan memaksa Ruby dan kedua adiknya memundurkan langkah.


"Kakak, di mana Bunda?"


"Orang tadi tidak benar, 'kan, Kak?"


"Bunda masih hidup, 'kan, Kak?"


"Bunda tidak mati, 'kan, Kak?"


"Kakak, katakan pada kami kalau Bunda tidak pergi. Katakan pada kami kalau Bunda masih hidup. Katakan, Kak!"


Ruby menarik tubuh keduanya dan memeluk mereka sambil menangis. Ia sendiri bingung dengan situasi saat ini. Winda dan Rima pun tak terlihat batang hidung mereka. Ke mana mereka? Ke mana semua orang?


"Kakak, Bunda tidak mungkin meninggalkan kita, 'kan?" suara Nafisah yang merengek di pelukan Ruby, membuat remaja itu harus mencari jawaban yang benar.


Ia menggeleng, sekarang tenangkan dulu kedua adiknya. Setelah itu, barulah ia akan mencari tahu tentang Nadia.


"Tidak, Nafisah. Bunda tidak akan meninggalkan kita. Bunda belum meninggal, Bunda masih hidup. Kakak akan mencari tahu semuanya. Sekarang sudah jangan menangis lagi!" Ruby mencoba bersikap kuat untuk kedua adiknya. Ia membawa Bilal dan Nafisah menuju ruangan dokter untuk menanyakan perihal Nadia yang hilang di ruangannya.


Ketiganya duduk menunggu di depan ruangan dokter yang biasa menangani Nadia.


"Kak, kenapa kita di sini?" tanya Bilal setelah beberapa saat menunggu tak ada yang mereka lakukan.


"Hanya ruangan ini harapan Kakak untuk mencari tahu keberadaan Bunda. Ini ruangan dokter yang menangani Bunda selama sakit," jawab Ruby lagi dengan pelan.

__ADS_1


Dalam hati berharap dokter itu akan memberitahunya tentang Nadia yang pergi. Ketiga anak ayam itu diam menunggu dalam waktu yang tidak pasti kapan sosok yang ditunggu itu akan muncul.


"Kak!" Bilal menepuk punggung Ruby ketika seorang wanita berjas putih keluar dari ruangan itu.


Ruby sigap berdiri dan mendatangi dokter wanita tersebut.


"Dokter! Tunggu!" panggil Ruby yang berhasil membuat langkah wanita itu berhenti. Ia berbalik dan tersenyum melihat Ruby.


"Ruby? Kamu di sini?" tanyanya dengan lipatan di dahi.


"Mmm ... iya, Dokter. Aku mau bertanya kenapa Bunda tidak ada di ruangannya? Apa Bunda dipindahkan? Kenapa aku tidak diberi tahu?" cecar Ruby dengan segera. Rasa ingin tahunya menggebu memberontak dalam hatinya.


Dokter wanita itu melirik belakang Ruby. Pada dua anak yang berdiri di belakang remaja itu dengan tatapan yang sama seperti Ruby.


"Apa kamu tidak tahu? Sudah dari kemarin malam Nadia tidak di sini lagi," ucap dokter tersebut menggantung.


"Dari kemarin malam? Lalu, di mana Bunda sekarang, Dokter?" tanya Ruby lagi dengan hatinya yang berdenyut-denyut.


Ia merangkul tubuh Nafisah saat anak itu menempel padanya. Memeluk pinggangnya, takut mendengar kabar hilangnya Nadia.


Ia menunduk, tangannya mengusap sudut mata yang mengeluarkan air. Bilal memaku tatapan pada dokter tersebut. Ia juga tak ingin mempercayai semua yang didengarnya.


Ruby mengangkat wajah, matanya berkaca sungguh-sungguh membuat hati siapa saja yang melihatnya tersayat karenanya.


"Apa dokter tahu di mana alamatnya Bunda yang di Jakarta?" tanyanya dengan harapan yang masih tersisa di hatinya. Semoga saja dokter itu tahu alamat rumah Nadia yang di Jakarta.


Namun, gelengan kepala dari dokter tersebut sudah menjawab pertanyaannya. Air matanya menetes tanpa sadar.


"Maaf, sayang. Saya tidak tahu di mana alamatnya. Sarah bukan asli sini, dia pindahan dari Jakarta. Semenjak tinggal di sini, Sarah tidak pernah lagi kembali ke kota asalnya. Jadi, saya tidak tahu di mana alamatnya. Maafkan saya." Raut penyesalan jelas terlihat di wajahnya yang tenang.


"Lalu, tante Winda dan tante Rima? Apa mereka ada di sini? Aku ingin bertanya padanya," tanya Ruby lagi dengan harapan yang kian menipis.


"Apa kamu tidak tahu? Winda dan Rima adalah anak asuh Sarah. Mereka yatim piatu yang dipungut Sarah dan dibawanya ke sini. Untuk itu, jika Nadia pergi mereka juga akan ikut pergi karena merasa bertanggungjawab atas kehidupan Nadia. Mereka tidak di sini lagi." Dokter itu menggelengkan kepala penuh penyesalan.


Ruby masih berpikir mencari kemungkinan yang ada.


"Bagaimana dengan pabriknya? Rumah Nenek?" tanyanya lagi menggebu-gebu.

__ADS_1


"Setahu saya pabrik mereka tutup sementara, rumah Sarah dijaga pembantu yang mengurusnya. Itu yang saya tahu, selebihnya saya tidak tahu," jawab dokter tersebut.


Ruby merasa putus asa. Ke mana lagi dia harus bertanya soal Nadia. Ruby menunduk, ia mengangguk mengerti. Tak ingin memaksakan keinginannya, ia memilih pergi bersama kedua adiknya.


"Dokter, kalau ada kabar tentang Bunda, tolong beritahu aku," pintanya dengan isak tangis yang tak dapat ditahannya. Dokter mengangguk.


Matanya pun ikut berkaca menatap kepergian tiga anak yang begitu menyayangi Nadia itu. Nadia sungguh beruntung, mendapatkan kasih sayang dari mereka meskipun tidak terlahir dari rahimnya.


*****


Ruby menangis tersedu-sedu usai menceritakan pertemuannya dengan dokter. Ibu yang mendengar tak kuasa menahan tangis. Ia memeluk ketiga anak Ikram yang tak diperhatikan lagi oleh ibunya itu.


Bukan hanya ketiga anak itu yang merasa kehilangan, tapi ia pun sama. Ikut merasa kehilangan orang yang tak pernah mengenal rasa sedih itu.


"Bunda jangan pergi!" lirih Nafisah dengan isak tangis yang kian menjadi. Bilal yang sejak tadi menahan tangis pun kali ini tergugu dengan keras.


"Mungkin Bunda kalian dibawa ke Rumah Sakit terbaik untuk pengobatannya. Berdoa saja semoga Bunda kembali lagi pada kita dalam keadaan sehat," ucap Ibu sembari mengusap-usap kepala Nafisah yang terbenam di perutnya.


Cukup lama mereka menangis. Dan Ibu dengan sabar menenangkan mereka. Sampai ketukan pada pintu membuat mereka serentak terdiam. Terlebih saat mendengar suara Ikram yang memanggil-manggil anaknya.


Ruby menggeleng, tak ingin bertemu dengan abinya itu. Ibu pun mengangguk mengerti keadaan hati mereka.


"Ruby! Nafisah, Bilal! Kalian di dalam?" ucap Ikram sembari mengetuk-ngetuk pintu rumah Nadia dan sesekali mengerakkan handle pintunya berharap akan terbuka. Sayangnya, pintu itu terkunci dan Ikram harus kembali dengan rasa kecewa yang mendalam.


"Mas, bagaimana? Apa sudah ada kabar dari mbak Nadia? Ini sudah hampir satu Minggu, Mas," tanya Yuni yang menyambut kedatangan Ikram di rumah mereka. Ia membawakan secangkir kopi panas untuknya.


Melihat gelagat Ikram yang curiga pada kopi tersebut, Yuni tersenyum.


"Tenang saja, Mas. Aku sudah menyadari kesalahanku waktu dulu, aku tidak sejahat dulu, Mas." Yuni berucap sungguh-sungguh, "kalau Mas tidak mau meminumnya, aku buang saja dan akan meminta kak Ain yang membuatkannya," sambung Yuni seraya berbalik hendak membawa kopi itu kembali ke dapur.


"Eh ... Yun! Maaf, bawa sini! Biar aku minum," sergah Ikram tak enak. Yuni kembali dan meletakkan cangkir tersebut di depannya.


"Jadi, bagaimana, Mas?"


"Belum ada kabar tentangnya, pabriknya diambil alih oleh orang lain. Begitu yang aku dengar."


Ikram menyeruput kopi tersebut perlahan dan hati-hati. Terdiam dan menunggu adakah reaksi aneh. Tidak ada. Kopi itu aman.

__ADS_1


__ADS_2