Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Memohon


__ADS_3

TANGIS PENYESALAN IKRAM


"Kak Ain, urusan kita belum selesai!"


Nadia tersenyum, senyum yang mengantarkan ancaman untuk seorang Ain. Ia berbalik tak lagi menoleh ke belakang. Tak peduli pada reaksi Ain yang terkejut saat mendapat ancaman darinya.


Urusan belum selesai.


Kata-kata itu mengiang di telinganya. Ain gelisah, peluh kasar bermunculan di dahinya. Bibirnya gemetar tak karuan. Nadia benar-benar ancaman terbesar untuk hidupnya.


"Bagaimana ini?" Tanpa sadar bibirnya bergumam. Ia lupa bahwa di dekatnya ada Ruby yang sedang memperhatikan.


Putri sulungnya mengerutkan dahi melihat gelagat aneh dari sang Ibu. Ketakutan, kecemasan, kekhawatiran dan rasa panik berlebih terlihat jelas di wajahnya yang dipenuhi keringat.


"Umi? Ada apa? Kenapa Umi berkeringat?" tegur Ruby yang penasaran dengan keadaan Ain, "apa Umi sakit? Minum obat saja, Mi," lanjutnya memberi saran. Jiwa ingin tahu Ruby menggebu-gebu, ada masalah apa lagi dengan uminya?


"Eh ... tidak, Nak. Umi baik-baik saja, tidak sakit," jawab Ain cepat saat sadar Ruby terus menatapnya curiga.


"Tapi Umi berkeringat, mungkin Umi masuk angin. Abi di mana, Mi?" Ruby keukeuh. Ia sadar tak ada Ikram di ruangannya.


"Abi tadi keluar." Sebisa mungkin Ain menekan gugup dalam dirinya. Ia beranjak duduk di dekat ranjang Ruby. Dan tersenyum padanya.


"Ini Umi buatkan masakan untuk kamu." Ain membuka rantang yang dibawanya dan memberikannya pada Ruby. Namun, Ruby bergeming tak kunjung menerima uluran rantang dari Ain.


"Ada apa? Kamu tidak mau memakan masakan Umi?" Ain kecewa dan sedih. Ruby menyela dengan menggelengkan kepala.


"Bukan begitu, Mi. Apa Umi tidak meninggalkan makanan ini di dapur atau di mana?" selidik Ruby curiga pada peliharaan uminya di rumah. Siapa tahu, dia menaruh bisanya ke dalam makanan itu, bukan? Kata Om Black Moon harus tetap curiga.


"Mmm ... seingat Umi, tidak. Memangnya kenapa?" tanya Ain bingung dengan gelagat curiga dari anaknya.


"Aku takut, orang yang ada di rumah menaruh racun ke dalam makanan itu. Dia ingin aku mati dan tidak ada lagi di dunia ini," ungkap Ruby sejujurnya. Ketakutan itu memang ada, ia selalu membayangkan saat dirinya dan kedua adiknya makan makanan dari rumah, ular betina menabur bisa ke dalam makanan untuk mereka.


Mendengar itu Ain berkerut bingung. Orang rumah. Ia berpikir. Tak ada siapa pun di rumah selain ....

__ADS_1


"Maksud kamu ... Yuni?" Ruby menganggukkan kepala, "kenapa?" Ain bertanya lagi ingin tahu. Memang selama ini Yuni dan Ruby tak pernah akur, tapi untuk melakukan itu rasanya tidak mungkin. Itu pemikiran Ain.


"Tidak apa-apa, aku hanya melihat dia tidak suka padaku," jawab Ruby asal.


"Jadi kamu takut dia menaruh racun di sini ... jangan ngaco, sayang. Tante Yuni tidak mungkin melakukan itu. Lihat, ya ... Umi akan makan ini," tolak Ain dengan segala kemungkinan yang sudah dipikirkannya.


"Eh ... tunggu, Mi! Bagaimana kalau makanan itu benar-benar diracuni? Coba dulu berikan pada hewan di luar sana. Biasanya di jendela ada binatang yang lewat," saran Ruby tak ingin uminya itu kenapa-napa. Ain menurut, ia menaruh sedikit makanan di luar jendela cukup menarik perhatian binatang pengerat atau kucing yang kebetulan melintas.


Setelah lama menunggu, kucing itu tidak bereaksi apa pun. Ain lega, begitu pun Ruby. Makanan itu aman.


Sementara Nadia dan paman Harits sudah sampai di parkiran. Nadia mengernyit manakala melihat Ikram yang berdiri tak jauh dari mobil paman Harits dengan sebuah rokok di tangan yang masih mengepulkan asap.


"Sejak kapan mas Ikram merokok?" gumam Nadia pelan, tetap saja terdengar oleh paman Harits.


"Memangnya dia tidak merokok?" Paman Harits menautkan alis.


"Yang aku tahu selama menjadi istrinya dia tidak pernah terlihat merokok," jawab Nadia sambil mengingat-ingat kembali kebiasaan Ikram waktu dulu.


"Apa pun itu, aku tidak suka dia membuang puntung rokok di dekat mobilku!" geram paman Harits dengan kedua tangan terkepal erat. Ia mendatangi Ikram dan menabraknya. Paman Harits mendorong tubuh ikram hingga tergeser beberapa langkah.


Ikram ingin menyahut, tapi urung tatkala matanya melihat sosok Nadia yang berdiri tak jauh dari paman Harits.


"Nadia, Mas mau bicara," ucap Ikram memandang sedih mantan istrinya itu.


"Bicara saja di sini. Aku juga perlu tahu apa yang ingin kamu bicarakan," ketus paman Harits tak memberi ruang untuk Ikram berbicara berdua dengan Nadia.


"Aku ingin bicara berdua saja dengan kamu, Nadia. Berdua saja," tegas Ikram sama sekali tak peduli pada kehadiran sosok paman Harits.


"Aku tidak mengizinkan!" Paman Harits tak mau kalah.


"Sudah, tidak apa-apa. Baiklah, hanya sepuluh menit saja aku berikan waktu untuk Mas bicara," putus Nadia terdengar tegas dan terburu-buru.


"Nadia-"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Kak."


"Tapi, sayang-"


"Tidak apa-apa, Kakak tunggu di sini dulu. Hanya sebentar," tukas Nadia dengan cepat. Ia lelah berdebat, jadi memberikan Ikram waktu untuk berbicara.


"Hah, Baiklah. Hati-hati. Jangan pernah macam-macam dengan calon istriku-"


"Berteriak saja, sayang, kalau dia macam-macam!" Paman Harist terkekeh saat melihat wajah merah padam milik Ikram. Senangnya menggoda orang itu.


"Iya!" Nadia menyahut singkat. Tak apa walaupun singkat, tapi ia tidak menyangkal disebut calon istri.


Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat Nadia dan Ikram berbincang.


"Ada apa, Mas? Apa lagi yang mau Mas bicarakan?" tanya Nadia to the point tak ingin bertele-tele.


"Nadia, apa benar tidak ada kesempatan lagi untuk Mas memperbaiki semuanya? Mas ingin memulainya lagi dari awal bersama kamu. Tolong, Nadia. Beri Mas kesempatan lagi ... please ...." Ikram memohon, air matanya luruh begitu saja.


Semua kesalahan yang telah ia lakukan pada wanita itu benar-benar membuatnya terkungkung dalam penyesalan. Ia ingin semuanya kembali dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan.


"Maaf, Mas. Kesempatan itu sudah aku berikan, dan Mas menyia-nyiakan semuanya. Aku sudah tidak bisa lagi hidup bersama Mas. Lima tahun, aku dibodohi dan aku hanya diam saja. Itu sudah cukup bagiku dan aku tidak ingin tenggelam dalam rasa yang bodoh ini," sahut Nadia tegas dan tak tergoyahkan.


"Nadia ... Mas mohon, Nadia. Mas mohon, kembali pada Mas. Mas berjanji akan membuatmu bahagia dan tidak akan membuatmu menangis lagi," pinta Ikram dengan sangat. Nadia tak akan luluh meskipun air mata membanjiri wajahnya.


Nadia menarik napas. Ia lelah menghadapi Ikram yang egois dan lemah tidak pernah bisa berbuat adil terhadap kedua istrinya.


"Sekali lagi aku tidak bisa, Mas. Aku sudah nyaman hidup sendiri seperti ini. Tolong, jangan mencampuri urusanku lagi. Apa pun yang aku lakukan, semuanya ... jangan pernah mengganggu hidup aku lagi," ucap Nadia dengan nada pelan, tapi terdengar tegas.


Ikram tergugu, ia menundukkan wajah tidak berani berkata lagi.


"Baiklah, aku rasa sudah cukup. Aku harus segera kembali. Permisi, Mas." Nadia berbalik tak ingin lagi meneruskan pembicaraan yang tak ada gunanya itu dengan Ikram.


Ia bahkan tidak peduli pada air mata dan suara tangis Ikram yang terdengar pilu. Nadia mendatangi paman Harits dan mengajaknya segera pergi. Ikram membuang muka saat pandangnya beradu dengan paman Harits.

__ADS_1


Mobil yang dinaiki Nadia pergi meninggalkan parkiran Rumah Sakit bersama dengan semua rasa yang ikut ia tinggalkan untuk Ikram. Nadia tak ingin lagi berurusan dengan laki-laki itu. Semua tentangnya telah usai. Semua yang berkaitan dengannya telah terputus. Nadia hanya ingin menikmati hidup tanpa bayang-bayang peraturan dari mereka. Ia sudah memilih jalannya sendiri.


__ADS_2