
Ikram kini tepat berada di hadapannya, wajah merah padam miliknya berhasil mengusik sisi lemah milik Nadia. Ia meneguk ludah dengan susah payah. Matanya tak berkedip dari menatap Ikram yang melayangkan tatapan tajam padanya.
"M-mas!" gumamnya samar seperti suara mendesis saat Ikram mulai membungkuk dan memegangi dagunya.
Ain menunggu dengan tegang, apa yang akan dilakukan Ikram. Jika saja laki-laki itu melakukan tindak kekerasan, maka Ain akan maju untuk mencegahnya. Ia menunggu dengan was-was dan hati yang berdebar-debar.
Namun, yang dilakukan Ikram jauh dari ekspektasi dua wanita itu. Ain yang sudah bersiap menghentikan Ikram, dan Nadia yang memejamkan mata dengan rasa takut yang kentara.
Ikram mendaratkan satu kecupan di ubun-ubunnya. Nadia membelalak begitu pun Ain. Mulutnya terbuka lebar sungguh tak menyangka apa yang dilakukan suami mereka itu.
Nadia melirik Ain, ia meringis saat Ain menatapnya tajam bagai seekor harimau yang hendak mencabik seluruh daging dalam tubuhnya.
Ikram menatap Nadia sembari menegakkan kembali tubuhnya. Ia melirik Ain yang juga menatap keduanya dengan pandangan penuh api cemburu.
"Kalian berdua adalah istriku. Tidak akan ada yang aku ceraikan. Aku menyayangi Ain, aku juga menyayangi Nadia. Kalian sama berharganya untukku, tolong ... untuk kali ini jangan membuatku lemah dengan permintaan mustahil kalian. Aku tidak akan mengabulkan permintaan kalian kali ini. Baik Ain atau pun Nadia, kalian sama-sama memiliki tempat di hatiku."
Ikram menatap bergantian kedua istri yang berbeda ekspresi. Ain tidak terima dengan apa yang dikatakan Ikram barusan. Baginya, Nadia hanyalah orang asing yang tiba-tiba datang dan merusak kebahagiaan yang telah terbina selama sepuluh tahun lebih ini.
"Tidak! Kedudukan Umi seharusnya berbeda di hati Abi. Nadia hanyalah orang baru yang datang secara tiba-tiba dan merusak semua yang sudah Umi bangun selama ini. Sedangkan Umi, sudah sepuluh tahun lebih menemani Abi menjalani biduk rumah tangga tanpa mengeluh atau apa pun. Ini tidak adil! Ini tidak adil untuk Umi," tolak Ain sembari menangis meratapi nasibnya yang dikalahkan oleh madu.
Ain menangis tergugu, Nadia menunduk dalam. Ia mengerti apa yang dikatakan Ain. Mengerti ke mana maksud tujuan Ain.
"Abi tahu, Mi. Dan itu hak mutlak Umi sebagai istri pertama Abi. Yang Abi maksud dan yang Abi mau adalah kenapa kalian tidak saling menerima satu sama lain untuk melengkapi hidup Abi. Nadia dan Umi sama-sama tanggung jawab Abi-"
__ADS_1
"Cemburu itu diperbolehkan, tidak dilarang, tapi harus sesuai syariat. Tidak berlebihan dan akhirnya membuat kalian menjadi orang yang berbeda. Seperti istri-istri Rasulullah, mereka juga sama seperti kalian. Perempuan biasa dan bisa cemburu kapan saja, tapi mereka mampu mengendalikannya. Mereka mampu menangani rasa cemburu mereka sendiri." Ikram menatap Ain dalam-dalam.
"Tapi Umi bukan mereka-"
"Abi tahu. Abi sangat tahu itu. Kalian berdua memang bukan mereka, tidak bisa disamakan dengan mereka. Baik secara kedudukan maupun kehormatan, tapi setidaknya itu menjadi contoh untuk kalian agar bisa hidup rukun dan berdamai dengan takdir. Jangan memperbesar hal kecil. Jangan membuat rumit hal yang sederhana. Hidup ini mudah, manusia-lah yang membuatnya sulit. Tolong, jangan memaksa manusia lemah ini untuk memenuhi permintaan kalian tadi," tukas Ikram memotong ucapan Ain.
Ia duduk di samping Ain, lalu menepuk ruang kosong di sampingnya yang lain. Meminta Nadia yang sedari tadi menunduk untuk menempatinya.
Nadia menggeleng pelan. Ia tak ingin menabur minyak di atas bara. Namun, Ikram mengangguk sekali lagi memintanya untuk duduk di sampingnya yang lain.
Nadia pasrah, ia beranjak duduk di sisi lain Ikram tanpa berani mengangkat wajahnya. Ain melirik sinis padanya. Sembari terus terisak dan semakin menjadi tentunya.
Ikram merengkuh keduanya, mencium bergantian pucuk kepala mereka. Menyatakan perasaannya lewat sentuhan.
"Kenapa kita tidak mencoba untuk hidup akur. Lagi pula, Nadia selama ini tidak pernah menyusahkan kita. Dia bahkan lebih sering membantu meringankan beban kita. Mungkin ini cara Allah menolong kita untuk dapat menghidupi mereka semua."
"Ain adalah istri yang baik, tidak pernah banyak menuntut. Dia rela memiliki madu karena menuruti kemauan suaminya. Dia adalah istri berbakti dan kamu sudah diterimanya dengan baik di sini. Hargai pengorbanannya dengan tidak meminta cerai dari Mas. Kamu mengerti?" Nadia mengangguk pelan.
Air matanya jatuh begitu saja saat Ikram mengatakan itu. Ain pun perlahan mulai mereda. Ia juga tahu Nadia selama ini banyak membantu bahkan meringankan beban di pundaknya dengan menerima tanggung jawab atas yayasan.
Namun, tetap saja hati yang luka itu terasa sakit untuknya. Bukan hanya cemburu yang besar, tapi ia juga takut Ikram akan dikuasai Nadia sebab ia selalu berlemah-lembut pada semua orang.
"Umi tidak salah cemburu pada Nadia, tapi Umi harus tahu batasan-batasan cemburu. Jangan sampai rasa cemburu dalam hati itu membuat Umi melakukan tindakan-tindakan yang tidak perlu dilakukan. Tolong perbaiki apa tujuan Umi meminta hal itu," ucap Ikram lagi merengkuh Ain dengan tangan kanannya.
__ADS_1
Ain menggeleng, ia akan tetap pada pendiriannya meminta Ikram menikahi Yuni atau menceraikan Nadia. Hanya itu pilihannya, selebihnya ia tidak peduli.
"Kenapa, Mi? Apa Umi masih keukeuh pada permintaan Umi?" tanya Ikram menangkap gelagat tak suka dari Ain.
"Umi akan berhenti meminta hal itu, jika saja Abi memenuhi keinginan Nadia. Kalau Abi tidak bisa, maka Abi harus memenuhi keinginan Umi," sahut Ain seraya beranjak meninggalkan ruang tengah dan masuk ke kamarnya. Entah apa yang dilakukannya di kamar.
Nadia menggeser duduknya sedikit menjauh dari Ikram. Ia tak ingin Ain berpikir bahwa dia menggunakan kesempatan itu untuk bermesraan dengan Ikram.
Ikram menghela napas panjang. Dia tidak mengerti kenapa Ain bisa sekeras itu padanya. Padahal, selama ini Ikram tidak pernah menekannya dengan berbagai macam peraturan. Ikram juga tidak pernah curiga pada Ain perihal semua uang yang diserahkannya. Namun, setelah kehadiran Nadia semuanya berubah.
Apakah semua karena Nadia? Tapi kenapa? Selama ini istri keduanya itu tidak pernah banyak menuntut. Selalu menurut, tidak pernah menyusahkannya juga Ain. Nadia justru banyak membantu hidupnya.
Kekurangan yang dia rasakan dapat terpenuhi dengan kehadiran Nadia. Beban di pundaknya yang berat, terasa lebih ringan berkat kesediaan Nadia membantu mengurus anak-anak di yayasan.
Namun, berbeda dengan Ain. Ia yang merasa tertekan karena dimadu. Hati yang terluka terus terasa sakit setiap kali melihat Nadia. Perih serasa diremas tatkala bayangan Ikram bercinta dengannya mengusik jiwa. Cemburu, pada dasarnya adalah boleh asal tidak melewati batas-batas syariat.
Cemburu sifat dari cinta, bumbu asmara yang seharusnya menambah kecintaan dalam hati dua insan yang memujanya.
Nadia terusik hatinya. Sebenarnya apa yang diminta Ain sampai ia bersikeras ingin Ikram memenuhinya. Hatinya bertanya-tanya ingin tahu. Tak apa bukan jika ia-nya bertanya pada Ikram. Berharap akan dapat mengabulkan agar Ain tak lagi bersikap keras seperti tadi.
Ia menoleh pada Ikram, laki-laki itu menunduk sembari meremas rambutnya sendiri. Frustasi menghadapi dua istri yang berbeda sifat dan sikap. Salahmu, Ikram kenapa tidak puas dengan satu istri saja!
"Mas?" panggil Nadia yang membuat Ikram menoleh lesu. Matanya memerah, gurat kesedihan jelas tergambar di wajahnya yang rupawan. Bagaimanapun marahnya ia, tetap tak bisa meninggikan suara pada kedua istrinya.
__ADS_1
"Ada apa? Apa kamu juga mau bersikeras meninggalkan Mas?" tanya Ikram bergetar membuat Nadia sedikit tersentak mendengarnya.
Ia menggeleng pelan. Menghirup udara pendek sebelum bertanya, "Memangnya apa yang diminta Kak Ain?"