Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Zahira Kamila


__ADS_3

Tangis yang kau perdengarkan pada dunia, menghantarkan rasa bahagia yang tak terhingga. 


Senyum-senyum kebahagiaan menyambut kedatanganmu penuh cinta dan kasih sayang.


Menangislah sesukamu, duhai sang pujaan hati. 


Menangislah sepuasmu. 


Gemakan suaramu pada dunia, duhai sayangku! Permata hatiku!


Air mata kebahagiaan ikut jatuh mengiringi gelegak suaramu. 


*****


"Nyonya! Tarik napas dalam-dalam. Lalu, dorong! Lihat, rambutnya sudah terlihat!" ucap dokter menyemangati.


"Ayo, sayang! Kamu kuat. Sebentar lagi dia akan keluar. Sebentar lagi kita akan mendengar suaranya. Dorong sekali lagi, kita akan segera melihatnya! Kuat, sayang. Laa haula wa laa quwwata illaa Billah. Kuat, istriku!" Paman Harits berbisik lirih di telinga Nadia.


Mendengar itu, Nadia mulai mengumpulkan tenaga. Ia menarik napas dalam-dalam, dan pada saat si bayi mulai bergerak, ia mendorongnya sekuat tenaga.


Gelegak tangis bayi menggema diikuti berkumandangnya adzan Dzuhur di seluruh pelosok. Napas Nadia tersengal, keringat membanjiri wajah. Sesuatu yang keluar dari jalan lahir begitu terasa dan berakhir dengan kelegaan.


Paman Harits mendekap kepala istrinya, diciuminya ia berulang-ulang sambil mengucap kata-kata pujian. Tangis keharuan tak dapat ditahannya, pecah dengan suara yang ikut keluar.


"Terima kasih, sayang. Kamu hebat! Kamu hebat, istriku. Kamu sekarang sudah menjadi Ibu. Kamu denger tangisannya, bukan? Itu anak kita, Nadia!" ucap paman Harits tak henti berbisik di telinga sang istri.


Nadia tersenyum haru, ia mengangguk lemah. Saat suara tangis bayi menggema di telinganya, ia ikut menangis terharu. Pada akhirnya, dia menjadi wanita sempurna. Menjadi seorang Ibu yang selama ini ia damba.


"Anak kita, Mas!" lirihnya bergetar dan terbata.


Paman Harits menganggukkan kepala, ia melirik pada seorang perawat yang sedang mengurusi bayinya. Air matanya kembali jatuh, sosok merah itu menggeliat dan kembali menangis.

__ADS_1


"Iya, sayang. Anak kita." Kebahagiaan yang hadir dalam hati keduanya tak terkira lagi banyaknya. Syukur itu rasanya tida cukup hanya melalui ucapan saja. Mereka harus membagi kebahagiaan bersama orang-orang di sekitar mereka.


Seorang bidan rumah sakit, masih menangani Nadia. Membersihkan rahimnya dari sisa darah melahirkan.


"Kami perlu menjahitnya, Nyonya. Ada robekan sedikit. Tahan, ya!" ucap bidan tersebut memberitahu.


"Dokter kenapa harus dijahit? Istri saya sudah kesakitan, Dokter," protes paman Harits. Sulit ia bayangkan, sakitnya ketika Nadia melahirkan, kini ditambah harus menahan sakitnya jarum jahit pada bekas jalan lahir.


"Perineum Nyonya robek, Tuan. Kami hanya akan menjahitnya sebentar untuk membantu proses penyembuhan. Ini tak akan lama. Tolong, jangan tegang, Nyonya!" ucap bidan itu lagi tak acuh pada wajah tegang yang masih ingin melayangkan protes padanya.


Nadia melipat bibir, ia labuhkan wajah di perut suaminya. Kedua tangannya digenggam erat paman Harits. Mengernyit dahinya ketika rasa sakit yang menusuk kulitnya menyentak kesadaran.


Cukup perih rasanya benda kecil tajam itu menusuk dan menembus kulitnya. Nadia berdesis, paman Harits mencium kepalanya. Ia juga bingung harus apa.


"Tuan, Anda bisa mengadzani putri Anda." Panggilan perawat yang menangani bayi mereka menambah ketegangan pada diri paman Harits. Ia masih ingin menemani Nadia yang kesakitan karena hantaman jarum yang sedang menari di permukaan kulitnya.


"Sudah selesai! Tuan, Anda bisa melakukan tugas Anda sebagai Ayah yang bertanggungjawab. Berikan haknya sebagai anak, dengan melantunkan adzan dan iqamah di telinga putri kalian," ucap bidan melihat paman Harits yang bergeming di puncak kepala Nadia.


"Mas!" Panggilan Nadia menyentak kesadarannya. Paman Harits gegas menghampiri perawat tersebut, ia menerima uluran bayinya dengan sangat hati-hati. Mendekatkan bibir di kedua telinga sang putri bergantian mendengungkan adzan dan iqamah.


"Benar, Nyonya. Cantik persis seperti Ayahnya. Anak perempuan memang begitu, selalu dominan memakai wajah sang Ayah," jawab bidan tersebut sambil terus merapikan semuanya.


Nadia tertegun, teringat akan ucapan Nafisah bahwa anak yang akan dilahirkannya kelak, akan menjadi pengganti dirinya. "Dia perempuan." Dua kalimat yang diucapkan Nafisah kala itu, mendengung di telinga Nadia.


Nafisah tahu, sedangkan ia bersama paman Harits pun, tak pernah mencari tahu. Hanya menginginkan sebuah kejutan saja, apa pun akan mereka terima. Nadia mulai berpikir tentang kalimat ambigu yang diucapkan Nafisah waktu itu.


Ada sesuatu yang tersirat secara tidak langsung. Namun, ia tak dapat menemukan jawabnya. Semoga tidak terjadi apa pun padanya, ya Allah! Batinnya kembali bergumam membayangkan Nafisah yang tersenyum padanya.


Senyum di bibirnya merekah ketika pandang matanya terjatuh pada lelaki yang sedang menimang dan menciumi putri mereka usai mengadzani sosok merah itu. Nadia menunggu, ia pun ingin melihat wajah kecil itu.


"Mari, Tuan! Kita berikan dia pada Ibunya," pinta perawat tersebut yang segera mengambil alih bayi merah itu dari tangan Ayahnya. Paman Harits mengekor di belakang perawat tersebut, berjalan mendekati Nadia.

__ADS_1


Perawat itu membuka pakaian atas Nadia, tapi dicegah paman Harits.


"Apa yang akan Anda lakukan? Kenapa membuka pakaian istri saya?" katanya tak terima.


"Bayi ini membutuhkan Ibunya, Tuan. Inisiasi menyusui dini itu sangat penting bagi bayi. Kolostrum sangat baik untuk sistem imun dalam tubuh bayi. Jadi, izinkan bayi Anda menyusu pada Ibunya." Perawat tersebut tersenyum dan melanjutkan apa yang tertunda tadi.


Ia meletakkan bayi itu di atas dada Ibunya, membiarkannya mencari sendiri benda kecil sumber makanannya. Dengan nalurinya sebagai manusia yang membutuhkan itu. Nadia mendekapnya, senyum di bibir tak henti terulas.


Bahagia, apa lagi saat ia berhasil menemukan sesuatu yang dia cari. Urat tegang di wajah laki-laki itu mengendur setelah melihat apa yang dilakukan bayi mereka. Ia mengusap dahi Nadia dan menciuminya. Menyentuh makhluk lemah nan lembut yang ada di atas dada Ibunya itu dengan hati-hati.


"Dia cantik. Bidan itu benar, wajahnya mirip Ayahnya," ucap Nadia haru.


"Tentu saja harus mirip denganku, tapi dia harus hebat seperti Ibunya." Ia tersenyum. Bayi di pelukan istrinya menyusu, entah apakah ada yang diminumnya.


"Mas ... jadi, siapa namanya?" Nadia melempar lirikan pada suaminya. Paman Harits tersenyum, wajahnya bersemu tiba-tiba.


"Katakan kalau kamu tidak suka. Zahira Kamila. Nama itu yang melintas dalam pikiranku saat membayangkan dia lahir ke dunia. Apa kamu suka?" ungkap paman Harits sambil menatap Nadia.


Kepala wanita itu mengangguk, senyum di bibir masih tersemat penuh kebahagiaan. "Apa ada artinya?" Nadia bertanya. Yang ia tahu setiap nama yang disematkan orang tau pada anaknya pastilah mengandung makna juga harapan yang di dalamnya.


"Tentu saja. Zahira artinya zohir atau jelas. Nampak dan terlihat nyata, sedangkan Kamila artinya sempurna. Semoga kelak ia menjadi manusia yang menampakan kesempurnaan akhlak mulia sesuai tuntunan nabi kita Muhammad Saw. Aamiin!" Besar harapan yang terkandung dalam dua kata itu.


Nadia beralih pada bayinya, ia mengangkat sedikit kepala untuk dapat mencium putrinya.


"Harits!"


"Mbak!"


Ibu dan kedua adik Nadia berhambur masuk ke ruang bersalin. Paman Harits beranjak, ketiganya bergantian mencium kepala istrinya penuh haru.


"Bu, titip Nadia dan anakku dulu. Aku mau shalat." Ibu mengangguk saat putranya pamit keluar.

__ADS_1


Mereka bertiga ikut merasa bahagia dengan kehadiran bayi mungil tersebut. Berceloteh ini dan itu, melantur ke mana saja yang mereka mau.


Selamat untuk Nadia dan suami atas kelahiran putri pertama mereka.


__ADS_2