Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Calon Istriku


__ADS_3

Keheningan terjadi di antara mereka, termasuk wanita yang bermulut besar itu. Tak satu pun dari mereka yang angkat bicara. Winda beranjak mendekati Bibi, ia merangkul lengan Bibi dan menjatuhkan kepala di bahu rentanya. Selayaknya seorang anak pada Ibu. Menumpahkan keluh kesah yang ia tampung di hatinya. Bibi mengelus tangannya lembut. Ia tersenyum teramat senang dengan sikap manja Winda.


"Anda tahu siapa dia? Aku yakin Anda pasti akan terkejut saat mengetahui siapa calon istriku ini," ucap paman Harits membuka kata. Bibir wanita yang berdiri di depan mereka gemetar gugup. Perasaan cemas mulai menggerogoti keangkuhannya.


"Dia anak dari orang yang paling berjasa dalam hidup kalian. Mendiang papahnya adalah investor terbesar di perusahaan kalian waktu itu. Jika saja bukan karena bantuannya, tak akan mungkin perusahaan yang hampir bangkrut itu akan sebesar sekarang. Dia pemilik saham terbesar kedua di perusahaan kalian. Dia hanya membutuhkan uangku? Hmm ...." Paman Harits tersenyum mencibir.


"... bahkan uangnya sendiri pun tak akan habis sampai tujuh turunan. Dia tidak membutuhkan uangku, Nyonya, tapi mungkin Anda sangat membutuhkannya. Aku benar?" Paman Harits kembali tersenyum miris.


Nadia memandang paman Harits dengan bingung. Ia tidak pernah tahu ada cerita seperti ini. Lagi-lagi Sarah menyembunyikan fakta sebesar ini darinya, dan Nadia tidak tahu apa-apa.


Mulut wanita pongah itu ternganga tak percaya. Matanya sedikit melebar, hatinya menolak. Namun, fakta itu nyata adanya.


"D-dari mana kamu tahu itu semua?" tanyanya gugup. Ia memainkan tangannya, mengepalkan, dan melepas lagi. Terasa lembab dan basah karena keringat yang tak henti mengucur. Winda pun sedikit terkejut mendengar itu.


Tawa paman Harits pecah sebelum menjawab, "Dari mana aku tahu? Tentu saja mencari tahu. Aku tahu semua tentang kalian ... semuanya. Termasuk apa yang Anda lakukan dulu, Nyonya." Paman Harits melirik Nadia yang tak berkedip melihat ke arahnya. Ia kembali melayangkan pandangan pada wanita itu.


"Anda tidak tahu siapa wanita yang Anda hina ini. Dengan mudahnya Anda merendahkan orang yang derajatnya lebih tinggi dari Anda. Sayang ...." Paman Harits menoleh pada Nadia. Wanita itu gugup akan panggilannya yang tiba-tiba. Ia hanya mengedipkan mata menjawab panggilan itu.


"Apakah pakaian yang dikenakannya itu hasil rancangan butik kamu?" Nadia melirik, dan mengangguk kecil saat melihat detail yang menempel di pakaian tersebut khas butik miliknya.


Lagi-lagi ia dibuat tak percaya. Matanya memindai sendiri apa yang ia kenakan, dari atas hingga ke bawah. Ia mengangkat pandangannya menatap Nadia dengan mata yang melebar. Nadia tersenyum tipis.


"Sudah aku katakan, dia wanita hebat. Anda salah merendahkan orang, Nyonya. Sekarang apa tujuan Anda datang ke rumah ini?" Laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya pada sandaran kursi dengan melipat kedua tangan di perut.

__ADS_1


Memandang intens wanita yang masih mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Ha-harits, Ibu hanya ingin bertemu dengan anak Ibu. Tolong izinkan Ibu tinggal di sini, Harits!" mohon-nya dengan mata yang berkaca.


Paman Harits mengangkat sebelah alisnya.


"Apa aku tidak salah mendengar? Anak? Siapa anak Anda, Nyonya?" sarkas paman Harits tanpa memikirkan perasaannya. Raut sedih tercetak di wajah tuanya.


"Kak!" Nadia memegangi pakaiannya. Ia menggeleng tatkala paman Harits menoleh padanya.


"Boleh aku bicara berdua dengan Kakak? Bibi, bawa Ibu ini ke kamar tamu, biarkan dia beristirahat." Nadia meminta Bibi tanpa izin dari pemilik rumah.


Paman Harits mendesah, ia mengangguk pada Bibi yang menunggu persetujuan darinya. Nadia mengikuti kepergian mereka lewat matanya yang tak berkedip. Terlihat tak suka, tapi wanita itu menurut juga.


Paman Harits tak menyahut, ia berpaling dari Nadia. Tak ingin menatap netra milik wanita itu.


"Bukan!"


"Lihat aku, Kak! Katakan sekali lagi kalau dia bukan Ibu kandung Kakak!" pinta Nadia sembari menarik lengan paman Harits hingga membuatnya menoleh.


Lama mereka saling memandang, menyelami kejujuran lewat manik masing-masing.


"Ternyata benar dia-"

__ADS_1


"Dia hanya melahirkan aku saja, tapi tidak pernah menyayangiku seperti pada kedua Kakakku. Mereka tidak pernah menyentuhku, mereka tidak pernah peduli padaku bahkan ketika aku sakit dan hampir mati, mereka sama sekali tidak peduli. Apa seperti itu yang namanya orang tua?" Mata laki-laki itu mengembun.


Tersirat kebencian, dendam dan penderitaan di dalam sana. Nadia dapat melihat itu. Dia mengerti seperti apa perasaan paman Harits saat ini. Ia menunduk, mengusap air yang tiba-tiba jatuh tanpa izin darinya.


"Aku tahu seperti apa perasaan Kakak saat ini, aku tidak akan memaksa. Kakak, apa saat belajar selama dua bulan kemarin guru Kakak tidak mengajarkan tentang birrul-waalidain? Menghormati orang tua bagaimana pun buruknya mereka. Surga tak akan terlepas dari telapak kaki Ibu karena ia yang telah rela dan berjuang melahirkan seorang anak. Terlepas bagaimana sikapnya setelah itu, tetap saja ia sangat berjasa untuk hidup kita."


Nadia mengusap matanya kembali, entah mengapa hatinya tiba-tiba bersedih. Teringat akan Sarah yang hanya menemaninya separuh jalan. Wanita itu bahkan belum sempat melihatnya memiliki anak. Dia pergi sebelum dapat menimang cucunya.


"Kak! Setidaknya simpan saja kebencian Kakak dalam hati, hargai setiap tetes darah yang keluar dari tubuhnya saat ia berjuang demi Kakak dapat melihat dunia ini. Aku tidak ingin memiliki suami yang durhaka pada Ibunya. Jika bisa, maafkan semua sikap buruknya. Lupakan, hanya ingat perjuangannya saja ketika ia melahirkan Kakak. Bisa? Kumohon!" pinta Nadia dengan pandangan sayu yang tak dapat ditolak paman Harits.


Lama ia tak menjawab, menelisik kesungguhan dan ketulusan di manik calon istrinya itu.


"Boleh aku mencium bibir itu? Rasanya aku ingin melahapnya sampai habis!" Tangannya menunjuk bibir Nadia dengan lancang.


Cepat-cepat Nadia menutup bibirnya, terkejut sekali dengan tindakan paman Harits. Ia menatap tajam laki-laki yang terkekeh dengan reaksinya. Nadia mengusap air matanya dan memukul lengan paman Harits kesal. Dia serius, tapi laki-laki itu justru bercanda.


"Ih ... kenapa tidak bisa serius? Aku berbicara serius ... serius ... kesal!" pekik Nadia masih terus memukuli lengan paman Harits hingga laki-laki itu terbaring di sofa. Ia tertawa terbahak-bahak, merasa lucu. Entah apa yang menurutnya lucu.


Nadia melipat tangan, dan memalingkan wajah darinya. Bibirnya mengerucut lucu membuat paman Harits semakin gemas.


"Lihat, betapa menggemaskannya dirimu! Semakin maju bibir itu, semakin aku ingin menggigitnya." Ia kembali tertawa saat Nadia menutup mulutnya lagi. Nadia jengah, ia beranjak hendak pergi. Namun, paman Harits menarik hijabnya membuatnya duduk kembali dengan kesal. Paman Harits mengusap sudut matanya, ia terenyuh dengan kata-kata Nadia.


"Baik, Nyonya Harits! Laki-laki ini akan melakukan apa yang Anda pinta! Tersenyumlah, jangan pernah lagi menangis untuk hal yang tak ada kaitannya denganmu!" ucapnya dengan pasti. Nadia tersenyum, dibalas kedipan nakal laki-laki itu. Ia memutar bola mata dan beranjak meninggalkan paman Harits sendiri.

__ADS_1


"Aku akan mengizinkannya tinggal di sini hanya karena kamu, Nadia, tapi aku belum bisa memaafkannya. Maaf."


__ADS_2