Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Alasan Ibu


__ADS_3

"Bagaimana perutmu, sayang? Apa sakit?" tanya paman Harits sembari mengusap perut Nadia dengan lembut. Wanita itu menggelengkan kepala, ia sapu rambut lembab suaminya yang tertidur di pangkuan.


"Tidak, Mas. Tadi memang sempat sakit, tapi sekarang sudah baik-baik saja. Mungkin cuma syok saja, karena ada hentakan. Memangnya mereka itu siapa, Mas?" Nadia balik bertanya, samar ia tahu, tapi ingin lebih jelas. Siapa mereka sampai berani berbuat hal yang tidak disukai suaminya.


"Mereka kedua Kakakku, Kakak yang dulu sering menyiksa dan mengadu domba aku dengan Ayah dan Ibu. Mereka masih menganggapku lemah. Sudahlah, tidak penting. Sekarang mereka tidak akan berani lagi mengganggu kita." Paman Harits beranjak, ia merebahkan Nadia dan ikut berbaring di sampingnya.


Nyanyian binatang malam sudah bersiap mengantar tidur para insan menuju alam impian. Sebuah tempat di mana semua orang bisa menjadi apa yang dia inginkan tanpa cemoohan dari yang lainnya. Sebuah tempat yang tak terkadang membuat manusia tak ingin lagi kembali pada kehidupan nyata mereka yang menyakitkan.


"Tidurlah!" pinta paman Harits pada istrinya. Nadia menurut, ia mendekap tubuh suaminya dan mulai memejamkan mata. Tak ingin peduli pada kehidupan masa lalu suaminya seperti apa dan bagaimana? Ia takut jika mendengar, justru akan menggoyahkan rasa cintanya. Sedikit lebih tahu itu lebih baik dari pada terus penasaran yang akan membawa diri pada akhir yang penuh penyesalan.


"Mas, bisa lantunkan apa saja untuk anak kita?" pinta Nadia dalam mata terpejam dan sama sekali tak mengangkat wajahnya.


"Mas tidak bisa apa-apa, sayang. Sungguh!" Paman Harits menimpali. Matanya pun tidak terjaga sama seperti Nadia.


"Apa saja, Mas. Rasanya aku ingin mendengar Mas melantunkan sesuatu. Apa itu keinginan anak kita?" Nadia memohon semberi mengeratkan pelukannya.


"Mmm ... Mas cuma bisa Al-Ikhlas itu pun masih terbata. Coba Mas raba-raba, ya." Nadia mengangguk patuh. Apa pun yang penting itu dari lisan suaminya.


"Bismillahirrahmaanirrahiim ...." Paman Harits menjeda, menarik napas terlebih dahulu sebelum membuangnya pelan-pelan. Nadia tersenyum, hatinya berbunga meskipun bacaan suaminya tidak sefasih Ikram dulu. Tak apa, seperti itu saja dia sudah berusaha menyenangkan istri dan anaknya.


"Qul huwallaahu Ahat-"


"Ahad! Bagian dal di ujung harus dibanting sampai membal karena dia qolqolah kubro. Ada di ujung kalimat," tukas Nadia dengan lembut. Tak lupa ia berikan kecupan di dada suaminya.


Paman Harits menarik napas lagi sebelum mulai memperbaiki bacaannya. "Qul huwallaahu Ahad!" Diam mendengarkan koreksi Nadia. Kepala istrinya mengangguk.

__ADS_1


"Allaahush-sho ... shomad!" Terjeda sebentar karena membandingkan bacaan. Nadia mengangguk lagi, "lam yalit-"


"Lam yalid! Itu sama dibantingnya, tapi skala kecil. Sedikit saja karena ia qolqolah shughro. Tempatnya di tengah kalimat bukan di ujung." Nadia menukas lagi bacaan suaminya.


Paman Harits kembali menarik napas sebelum melanjutkan bacaan, "Lam yalid wa lam yuu ... yuulad." Terdiam lagi mendengar protes Nadia. Tidak ada, ia pun bersiap melanjutkan bacaan.


"Wa lam yakul-lahuu kufuan Ahad!" Kembali hening, "shodaqallaahul-'adhiim!" Finish juga, dalam hati paman Harits merasa lega.


Nadia sedikti beranjak, ia mendongak dan memberikan kecupan di pipi suaminya. Tersenyum senang saat keinginan hatinya terpenuhi.


"Terima kasih, sayang. Mas hebat!" pujinya seraya kembali membenamkan wajah di ketiak suaminya. Sedikit pujian membuat cinta lelaki itu kian subur tumbuh di hatinya. Nadia terlelap, tapi paman Harits justru beranjak.


Pelan-pelan menyingkirkan tangan Nadia dan meletakan kepalanya di atas bantal. Ia berjalan mengendap menuju ruang kerjanya. Ada pekerjaan yang harus ia selesaikan sebelum besok. Terpikir olehnya kenapa kedua Kakaknya itu teringin sekali membawa Ibu. Pasti ada rahasia yang disembunyikan Ibu darinya.


"Karena ini!" Ibu tiba-tiba muncul dengan mengangkat sebuah berkas di tangannya. Paman Harist mengangkat pandangan dari layar laptop di depannya. Ia menunggu Ibu yang mendekat.


"Boleh Ibu masuk?" Langkahnya terhenti sekejap saat ingat ia belum meminta izin anaknya itu untuk masuk. Paman Harits menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ibu melanjutkan langkah dan duduk di kursi bersebrangan dengan paman Harits.


"Apa itu, Bu?" Bertanya dengan kerutan di dahi. Dua buah berkas semacam sertifikat disodorkan Ibu padanya.


"Kamu lihat sendiri. Itu titipan Kakekmu sebelum meninggal dulu saat usiamu masih balita. Kakek memberikan ini untukmu, dan ini yang diincar kedua Kakakmu juga Ayahmu," terang ibu lirih.


Paman Harits membukanya dan membaca apa yang tertera di dalam sana. Matanya membulat, binar-binar cahaya terbiaskan di maniknya yang sekelam langit malam.


"Waw ... pantas saja mereka memperebutkan ini ... karena aku sendiri pun sedang mengincar ini, Bu. Aku tidak tahu lokasi yang aku inginkan ternyata adalah milikku," ungkap paman Harits sumringah. Ibu mendesah.

__ADS_1


"Sudah lama Ibu mencari kamu, Harits, tapi mereka selalu menghalangi Ibu bahkan mengancam akan membunuh Ibu. Ayahmu yang mendukung mereka, dia menikahi pembantu Ibu sendiri. Perusahaannya bangkrut karena kelakuan istrinya yang tak karuan. Juga anaknya yang suka balapan liar-"


"Masing-masing Kakakmu sudah mengambil bagian dari harta yang Ibu punya bahkan Ayahmu juga ikut mengambil bagiannya. Perusahaan, rumah, pertokoan, dan semuanya sudah mereka kuasai. Hanya ini yang ibu sembunyikan dan mereka juga mengincarnya." Ibu menyusut air mata yang tiba-tiba mengalir tanpa instruksi.


Paman Harits tertegun mendengar cerita yang Ibu sampaikan. Berkas di tangannya memang sungguh menggiurkan. Perkebunan karet seluas lima hektar berikut sebuah bangunan villa megah yang berada di atas bukitnya. Hal itu siapa yang tak ingin memilikinya? Paman Harits sendiri sudah puluhan kali mendatangi pengelolanya, tapi dia sama sekali tidak memberikan informasi apa pun tentang pemilik lahan tersebut.


"Lalu, bagaimana Ibu bisa kabur dan dapat menemukan rumahku?" tanyanya ingin tahu. Hal inilah bagian menariknya. Ia menunggu Ibu melanjutkan ceritanya.


"Saat itu Ibu dengar Ayahmu dan istrinya mengatakan mereka mendatangi rumahmu di sini. Kedua Kakakmu juga berencana jahat ingin membunuhmu. Untuk itu Ibu bertekad mencari cara bagaimana bisa keluar dari sana. Ibu menulis alamat kamu yang mereka sebutkan dan pergi diam-diam di tengah malam. Tidak mudah karena ada penjaga yang selalu berdiri di sana. Ibu dibantu satu orang penjaga yang merasa kasihan terhadap Ibu dan mencarimu ke sini." Ibu menggenggam tangan putranya.


"Maafkan ibu, Harits, saat datang ke sini Ibu bersikap sombong bahkan menghina Nadia. Ibu hanya takut orang-orang yang ada di sekitarmu hanya memanfaatkan kamu. Ternyata, Nadia berbeda, dia benar-benar tulus mencintaimu juga Bibi yang begitu baik. Orang-orang di sini ... Mereka hangat membuat Ibu nyaman dan betah berada di sini. Maafkan Ibu sekali lagi." Air mata Ibu berderai menjatuhi kulit tangan paman Harits.


Tangan itu terangkat dan mengusap air mata wanita yang ternyata memiliki kisah perjuangan yang tidak mudah. Ia beranjak duduk bersimpuh di kaki Ibu. Paman Harits menjatuhkan kepala di pangkuan renta Ibunya. Terasa nyaman saat sentuhan yang ia inginkan sejak kecil itu membelai kepalanya. Ciuman hangat yang hampir tak pernah ia dapatkan pun, begitu mendamaikan hatinya.


"Tidak, Ibu. Tidak perlu meminta maaf untuk hal yang sudah terlewati dengan baik-baik saja. Sekarang, kita semua harus hidup bahagia sebagai keluarga. Aku hanya ingin keluarga yang utuh, harmonis, dan penuh cinta. Maafkan aku yang tidak bisa menerima Ibu langsung." Ibu kembali mencium kepala putranya, ia mengusap-usap punggung paman Harits lembut. Sesekali menyusut air matanya yang jatuh tak tertahan. Inilah kebahagiaan saat diri bisa kembali diterima setelah penolakan yang luar biasa.


Ibu tidak menginginkan hal lain selain hidup bersama putra kesayangannya dengan damai dan penuh cinta. Ditambah menantu yang baik hati juga penyayang dan penuh perhatian. Apa lagi yang dicarinya? Ia tidak butuh harta, ia tidak butuh dunia, hanya kehangatan hati yang ia butuhkan di ujung usianya itu.


Melihat anak dan menantunya bahagia, menyaksikan seorang cucu yang akan lahir nanti. Kebahagiaan itu akan terasa sempurna setelah ia hadir ke dunia dan memberikan senyumnya yang polos pada semua orang. Anak yang didamba Nadia sejak pernikahannya yang pertama, juga anak yang diinginkan paman Harits sebagai ganti yang hilang.


*****


Hallo Kakak-kakak semuanya! Happy new year ... semoga di tahun ini kita dilimpahkan berkah dan rezeki. Juga cinta dan kasih yang tiada bertepi. Aamiin.


Salam hangat dariku.

__ADS_1


__ADS_2