Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Keadaan yang Berbeda


__ADS_3

"Benar yang dikatakan Ruby, seharusnya kita mencari mbak Nadia bukannya malah berdebat. Mbak Nadia itu tanggung jawab kita bersama, dia hidup di lingkungan kita. Bagaimana nanti jika mamahnya datang mencari? Jawaban apa yang akan kita beri-"


"Ayolah, Kak Ain, Mas Ikram, bukankah introspeksi diri itu lebih baik dari pada mendebatkan hal yang tidak penting seperti ini," papar Yuni yang juga merasa terganggu dengan suara keras mereka. Ia menimang bayinya yang menangis.


Menatap kedua orang yang saling berhadapan dengan berbagai perasaan. Mungkin ia sudah menyadari semua tindakannya.


"Tolong, kalian harus ingat di sini ada bayi yang butuh waktu tenang," pungkasnya sebelum beranjak kembali meninggalkan mereka.


Ikram dan Ain sama-sama bungkam. Ain berpaling saat bola mata Ikram tertuju ke arahnya. Laki-laki itu mendesah, ia mengusap wajah dan menjatuhkan diri di sofa.


"Astaghfirullah al-'adhiim! Ya Allah, ampuni dosaku!" Ikram menunduk menjambak rambutnya sendiri sambil bibirnya tak henti mengucap istighfar diikuti hatinya juga.


Ain meninggalkan Ikram yang terus bergumam memohon ampun. Ia masuk ke kamarnya dan menangis di kasur. Entah apa yang dia tangisi, tidak ada yang tahu seperti apa isi hatinya.


Ruby kembali menemui kedua adiknya setelah menasihati Ikram dan Ain. Ia melirik para santri yang menguping di dalam masjid. Matanya melotot lebar mengancam semua orang. Melihatnya begitu, mereka pun membubarkan diri dengan tergesa. Bunyi krasak krusuk pun terdengar jelas.


"Kakak? Apa Umi dan Abi bertengkar lagi?" tanya Nafisah yang menunggu di teras rumah Nadia sambil berdiri bersama Bilal.


Sudah lewat satu jam dari waktu yang dijanjikan, Winda belum juga muncul untuk menjemputnya. Ruby menelepon, tapi nomornya tidak aktif. Rima pun begitu, mereka seolah-olah kompak mematikan ponsel mereka.


"Kakak, di mana tante Winda? Katanya mau menjemput, aku mau bertemu Bunda," tanya Nafisah lagi dengan binar harapan yang hampir meredup.


Ruby meringis dalam hati, tak tega pada mereka yang begitu ingin melihat bundanya. Ia tersenyum, mengusap kepala adiknya itu.


"Sabar, ya. Mungkin tante Winda sedang ada pekerjaan dan belum sempat menjemput. Kita tunggu sebentar lagi," ucapnya yang diangguki Nafisah.


Mereka kembali duduk di kursi tersebut, menunggu dengan sabar Winda yang akan datang menjemput. Pintu yayasan terbuka dan nampaklah Ibu keluar dari sana.


"Kak!" Bilal menyenggol lengan Ruby begitu melihat wanita itu yang melangkah mendekati.


Senyum yang kerap menghiasi wajah tuanya itu, kini tak nampak lagi. Hanya seraut wajah suram dihiasi keriput yang mulai kentara. Ruby mengangkat pandangan, menunggu wanita hampir tua itu mendekat.


Ia beranjak berdiri, bersalaman dengannya diikuti kedua adiknya.

__ADS_1


"Kalian menunggu apa? Ibu lihat dari tadi kalian duduk di sini terus," tanya Ibu dengan suaranya yang parau. Seperti orang yang menangis semalaman.


"Kami menunggu tante Winda menjemput, Bu. Mau ke Rumah Sakit menjenguk Bunda," jawab Ruby jujur. Suaranya sedikit tercekat di tenggorokan kala mengucapkan kata Bunda.


Ibu mengusap pundak Ruby, remaja itu terlihat rapuh. Tidak seperti biasanya, yang ceria dan ramah. Suka tersenyum dan bercanda bersama anak-anak. Semua itu hilang bersama Nadia yang belum juga membuka mata.


"Mungkin tante itu sibuk jadi tidak bisa menjemput. Kenapa tidak pergi sendiri saja pake angkot atau ojek?" saran Ibu tersenyum pilu karena tak bisa meninggalkan yayasan untuk menjenguk Nadia. Ia harus menjaga anak-anak di rumah itu.


Ruby menundukkan kepalanya, ia juga ingin seperti itu, tapi ....


"Aku tidak uang untuk membayar ongkos, Bu. Tabunganku sudah habis," ucapnya penuh sesal.


Ibu terkekeh mendengarnya. Ia merogoh saku daster lusuhnya dan mengeluarkan satu lembar uang pecahan seratus ribu.


"Kenapa tidak minta pada Ibu. Malah duduk di sini menunggu. Ini ambil, sekalian buat kalian makan nanti di sana. Cepat pergi mungkin Bunda sudah bangun. Kabari Ibu, ya," ucapnya seraya menggenggamkan uang tersebut di tangan Ruby.


Ruby belum mengangkat wajah, ia memandangi uang di tangannya. Bibirnya mengulas senyum karena dengan ini ia bisa langsung berangkat tanpa menunggu Winda menjemput. Biarlah, saat di Rumah Sakit nanti ia akan menghubungi Winda.


Ruby memeluk Ibu dan menangis haru.


"Kami pamit, Bu. Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalaam! Hati-hati!"


Ruby mengangguk, ia pergi bersama kedua adiknya setelah bersalaman dengan Ibu. Wanita tua itu tersenyum menatap kepergian ketiga anak tersebut. Seketika senyumnya lenyap begitu Ikram keluar dari rumah dan melihat ke arahnya.


Ibu bergegas kembali ke yayasan dan menutup pintu itu. Ia juga menguncinya. Tak ada suara apa pun yang terdengar dari dalam sana. Sunyi, sepi, bagai sebuah rumah yang ditinggal pemiliknya.


Ikram mengernyit melihat sikap Ibu yang tidak seperti biasanya. Ia melangkah perlahan sembari terus memandang ke arah gerbang yayasan.


Biasanya di sana, di aula yayasan itu Nadia sedang mengajari anak-anak membuat kerajinan tangan. Sambil tertawa dan bersenda gurau, ia terlihat bahagia. Namun, sudah beberapa hari ini ia tak melihat senyum itu. Tak mendengar suara tawa itu.


Yayasan nampak suram di matanya tanpa kehadiran senyum manis Nadia. Wajah yang tak pernah masam itu, kini tak dapat ia pandangi lagi. Ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Terbersit rasa rindu yang ingin melihat wajah yang selalu secerah mentari pagi itu.

__ADS_1


"Nadia!"


Tanpa sadar bibirnya bergumam. Benar kata Bung Rhoma, jika sudah tiada baru terasa bahwa kehadirannya sungguh berharga. Nadia teramat berharga untuknya. Bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk semua orang yang ada di lingkungannya juga.


Ikram berbalik dengan hatinya yang merindu. Ia mengambil sepeda motornya dan kembali melakukan pencarian. Ia tidak tahu kalau Ruby dan kedua anaknya yang lain pun pergi mengunjungi Nadia di Rumah Sakit.


"Mas, mau ke mana?" tanya Yuni saat melihat Ikram mengambil jaket dan mengenakannya.


"Aku akan mencari Nadia." Ikram bergegas keluar setelah memakai jaketnya.


"Mas!" Yuni kembali memanggilnya. Ia mendekati Ikram dan memberi uang sebesar lima puluh ribu rupiah padanya.


"Ini untuk membeli bensin. Aku tahu Mas tidak punya uang," ucapnya menyodorkan uang tersebut pada Ikram.


Dengan ragu tangan Ikram mengambil uang tersebut dan menatapnya. Benar, ia sudah tidak mempunyai uang lagi.


"Terima kasih." Yuni menganggukkan kepala. Ia mencium tangan Ikram dan menatap kepergian suaminya itu dari teras. Tersenyum, dalam hati bergumam hanya dia yang tahu. Yuni tetap berdiri di sana sampai motor Ikram hilang di luar gerbang.


Ia terkejut ketika berbalik mendapati Ain yang berdiri dengan mata melotot ke arahnya.


"Kenapa kamu membiarkan dia pergi? Apa kamu ingin wanita itu kembali? Ingat, Yun! Rencana kita adalah menyingkirkan Nadia dari sini, tapi kenapa sekarang kamu justru berbalik membelanya dan seolah melawanku?" cecar Ain dengan dendam yang membara di pancaran maniknya yang cokelat.


Yuni menghela napas, ia memandang Ain dengan malas.


"Setelah beberapa bulan aku hidup di sini, aku melihat semuanya. Aku memperhatikan semuanya, aku menilai semuanya. Nadia orang yang baik. Kebaikannya tidak memandang apakah orang itu jahat atau baik? Ia tidak pernah menyakitiku selama aku hidup di sini, justru sering membantu aku ketika kesulitan." Yuni memandang wajah Ain yang beriak.


"Maafkan aku, Ain. Kamu tahu bagaimana brengseknya aku, kamu tahu bagaimana buruknya tingkah lakuku. Setelah bertemu dengan Nadia, aku menyadari semuanya ternyata keliru. Aku tidak bisa lagi menjalankan rencana kita, aku tidak sanggup menyakiti hati orang sebaik Nadia. Aku tahu siapa dia, mungkin kamu tidak tahu. Maafkan aku, Ain. Aku mundur dari rencanamu. Selanjutnya terserah kamu apa yang akan kamu lakukan ke depannya?" sambung Yuni kian menyulut hati Ain yang sudah memanas.


Ia berbalik meninggalkan Ain yang menatapnya dengan tangan terkepal.


"Baik, kalau itu pilihan kamu. Lihat saja apa yang akan aku lakukan, Yuni!"


Yuni menghentikan langkah sejenak sebelum kembali berlanjut. Kemarahan Ain memuncak, wajahnya merah padam. Ingin rasanya ia memporak-porandakan rumah tersebut.

__ADS_1


"Sial!"


__ADS_2