
Kata yang berpengalaman, laki-laki yang memutuskan untuk poligami haruslah pandai mengendalikan situasi, perasaan, dan waktu.
Nadia mengusap perutnya yang berbunyi keroncongan. Ia meletakan handuk di tempatnya, dan melirik dapur. Ia lupa kalau belum memasak apa pun hari ini, tapi beruntung ia membawa nasi bungkus dari pabrik.
Nadia tersenyum saat melihat bungkusan itu. Ia pikir Ikram tidak akan kembali ke rumahnya, tapi akan pulang ke rumahnya sendiri. Jadilah ia bergegas membawa bungkusan itu menuju ruang tengah. Ia menyalakan televisi untuk menemaninya makan, setidaknya ia tidak merasa sendirian karena ada suara televisi itu.
Nadia membuka bungkusan dan bersiap memakannya. Ia membaca doa sebentar, tapi urung memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
Tok ... tok ... tok!
"Assalamu'alaikum!" Suara Ikram terdengar memberi salam. Nadia terpaku mendengarkan dengan saksama. Ia terlonjak tanpa mengenakan kerudungnya membuka pintu.
"Wa'alaikumussalaam!" serunya panik seraya berdiri di balik pintu.
"Kenapa ngumpet? Memangnya lagi apa?" tanya Ikram bingung melihat Nadia tersenyum dengan wajahnya yang memerah.
Nadia dengan cepat menutup pintu setelah Ikram berada di dalam. Ia takut ada yang melihatnya sedang tidak berhijab. Ia menyalami Ikram.
"Lagi mau makan, Mas," katanya menunjukkan nasi bungkus yang terbuka di atas lantai.
"Wah ... kebetulan Mas juga lapar," celetuk Ikram seraya berjalan dan duduk di dekat nasi tersebut.
"Mmm ... tapi aku tidak masak hari ini, hanya ada itu saja aku bawa dari pabrik. Kalau Mas mau nunggu, aku masak dulu," ucap Nadia tak enak.
Ikram melirik nasi bungkus di depannya. Oreg tempe, tumis kacang dan perkedel bercampur jadi satu. Sesederhana itukah istri keduanya itu?
Ikram kembali menjatuhkan pandangan pada Nadia yang masih bergeming di dekat pintu. Ia menepuk tempat kosong di sampingnya meminta Nadia untuk duduk di sana.
Dengan pasrah Nadia pun menurutinya. Duduk berdampingan dengan Ikram berhadapan dengan nasi bungkus ala kadarnya.
"Kita makan ini sama-sama, ya?" pintanya dengan senyum di bibir.
"Tapi cuma sedikit, Mas. Mas pasti tidak kenyang, Mas saja yang makan. Aku masih kenyang tadi sudah makan di pabrik," ucap Nadia sembari melipat bibirnya.
Ikram terkekeh saat suara cacing dalam perut Nadia terdengar cukup keras. Nadia berpaling menyembunyikan wajahnya yang memerah malu.
__ADS_1
"Sudah, kita makan sama-sama saja," katanya lagi mengulum senyum. Nadia mengangguk malu-malu. Mereka makan dengan pelan tanpa mempedulikan suara televisi yang masih terdengar.
Saling melirik dan melempar senyum. Bahagianya walau hanya dengan makanan seadanya. Namun, kegiatan itu terhenti tatkala suara ketukan pintu terdengar diikuti suara Bilal yang mengucap salam.
Nadia membukakan pintu untuknya. Pandangan Bilal langsung tertuju pada Ikram.
"Ada apa, Bilal?" tanya Ikram saat tahu anak laki-lakinya itu pasti mencarinya.
"Abi dicariin Umi, tuh. Disuruh pulang," sahut Bilal datar. Ia melongo sedikit dan mendapati Ikram yang sedang berhadapan dengan nasi bungkus.
"Abi lagi makan di rumah Bunda?" tanyanya. Ikram mengangguk. Bilal merangsek masuk ke rumah dan duduk di dekat Ikram. Senyumnya terkembang begitu melihat nasi di depannya.
"Bilal juga mau makan di sini," katanya. Nadia dan Ikram saling memandang satu sama lain. Satu bungkus nasi dibagi tiga. Ikram mengangguk dan akhirnya satu bungkus nasi itu mereka lahap bersama.
"Bilal, ingat kesepakatan kita, ya. Jangan bilang sama Umi kalau kita sudah makan di rumah Bunda," ucap Ikram saat di perjalanan pulang dari rumah Nadia. Bilal mengangguk patuh.
Ain berdiri gelisah di ruang tengah rumahnya. Berjalan bolak-balik menunggu Ikram dan Bilal.
"Ini pada ke mana, sih? Yang disusul tidak ada yang nyusul juga hilang tidak tahu di mana nyungsepnya," gerutunya sembari menggigit bibir dan memainkan tangannya.
"Wah ... sambal goreng ati ampela, soto ayam, kerupuk mping. Nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan, Ikram!" celetuk Ikram sembari mengambil tempat duduk di meja makan tersebut.
Ia melirik Bilal, bocah itu juga ikut duduk dengan senyum sumringah seperti abinya itu.
Ain yang mendengar celetukan Ikram, tersenyum senang dapat menghidangkan makanan kesukaan keluarganya.
"Ayo, dimakan!" katanya sembari mengambilkan Ikram nasi dan lauk pauknya.
Melihat porsi yang diambilkan Ain, Ikram meneguk ludah kasar. Perutnya sudah terisi tadi walaupun hanya sedikit, tapi kalau menolak ia takut Ain akan tersinggung. Jadilah Ikram menerimanya dengan senyum dan mengucapkan terimakasih seperti biasanya.
Makan pelan-pelan sembari sesekali melirik Bilal. Ruby yang sejak kedatangan mereka merasa ada yang aneh pada Abi dan adiknya. Ia curiga dan berniat menanyakannya pada Bilal nanti.
Sementara Nadia, ia tersenyum melihat bekas makan mereka di lantai rumahnya. Ia mengusap perutnya yang terasa kenyang walaupun hanya makan sedikit.
"Alhamdulillah, apa ini yang dinamakan berkah? Sedikit, tapi mengenyangkan," gumamnya seraya membereskan bekas makan tadi.
__ADS_1
Hanya seperti itu saja, hati Nadia sudah merasa bahagia. Tak apa Ikram tidak jadi menginap, sudah dapat makan bersama saja ia sudah merasa cukup. Nafkah batin tidak melulu tentang permainan di atas ranjang. Memberikan kebahagiaan dengan cara sederhana saja itu pun merupakan nafkah batin. Nadia sudah sangat bersyukur akan hal itu.
Usai membereskan semuanya, ia membanting diri di atas kasur. Memeriksa email di ponsel laporan keuangan bulanan pabrik konveksi miliknya.
"Alhamdulillah 'ala kulli haal. Ini memang rezeki mereka. Ternyata benar, setiap anak dilahirkan dengan membawa rezekinya masing-masing. Dan mungkin rezeki anak-anak itu Allah titipkan padaku," ucap Nadia penuh syukur saat melihat nominal uang yang dilaporkan bagian bendaharanya.
Nadia menyimpan ponselnya, ia membentang tangan dengan lebar. Memejamkan mata merasakan segala nikmat yang diberikan Allah untuk hidupnya.
"Sakit yang aku derita, tak sebanding dengan nikmat yang Allah berikan. Terima kasih, ya Allah, atas segala nikmat yang Kau limpahkan di dunia ini," gumamnya sembari menghirup udara dalam-dalam dan mengembuskannya. Nadia tertidur karena kelelahan.
Kembali pada Ikram yang tengah bercengkerama dengan keluarga kecilnya. Ain yang sejak tadi memperhatikan suaminya itu, tiba-tiba ia merasa bersalah karena membiarkan Ikram tidak mendatangi madunya.
"Bi, kenapa Abi tidak menginap di rumah Nadia? Rasanya sudah satu bulan lebih Abi tidak mendatanginya. Apa Abi tidak takut dosa?" celetuk Ain mengingatkan Ikram akan kewajibannya.
Laki-laki itu menoleh sambil tersenyum, tetap hangat seperti biasanya.
"Apa Umi mengizinkan Abi menginap di sana? Sebenarnya malam ini Abi berencana menginap di sana, tapi Abi takut suasana hati Umi masih belum mengizinkan Abi untuk pergi," ungkap Ikram sejujurnya.
Ain mendesah, ia menggelengkan kepala sebelum menimpali, "Itu sudah kewajiban Abi sebagai suami mendatangi istrinya. Kalau Umi melarang Abi, Umi akan berdosa karena secara tidak langsung mencegah Abi menunaikan kewajiban Abi sebagai suami. Pergilah, Bi. Tunaikan kewajiban Abi."
Ikram terenyuh mendengar ketulusan hati Ain yang memintanya untuk mendatangi Nadia.
"Terima kasih, Umi."
Jadi juga Ikram menginap di rumah bini muda.
"Bilal? Bilang sama Kakak, kamu habis ngapain sama Abi tadi? Ada yang kamu sembunyikan dari Kakak, 'kan?" tegur Ruby begitu ia melihat kesempatan berbicara dengan Bilal.
"Ssssttt!" Bilal melihat ke kanan dan kiri, depan dan belakang takut ada yang melihat, "sini!" katanya sembari membawa Ruby memasuki kamarnya.
"Aku sama Abi habis makan di rumah Bunda," bisiknya saat mereka sudah berada di dalam kamar.
"Kenapa tidak bilang sama Kakak? Kakak juga mau," geram Ruby sembari memukul pelan lengan adiknya.
"Sakit, itu tidak sengaja, Kak. Bilal tadi cari Abi disuruh Umi."
__ADS_1
Terjadilah perdebatan antara mereka berdua.