Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Akhirnya Bertemu


__ADS_3

"Sayang! Nadia! Tenang, kamu juga harus memikirkan anak kita. Ikram sedang menjemputnya, dia akan baik-baik saja. Pikirkan juga tentang bayi kita, Nadia!" Paman Harits memeluk tubuh istrinya yang masih saja menangis.


Ruby dan Bilal sedikit menjauh, memberi ruang pada laki-laki itu untuk menenangkan istrinya. Diusapnya kepala Nadia, dikecupnya rambut berhijab itu, sambil berharap Nadia akan tenang.


"Coba rasakan, dia ketakutan di dalam sini. Jaga emosi kamu, Mas tidak mau kamu dan anak kita kenapa-napa. Mas sudah sangat lama menantikannya, Nadia. Begitu pun kamu. Tenang!" Tak menyerah. Ia akan merasa berdosa jika saja terjadi sesuatu pada keduanya.


Nadia terdiam, ia mulai menenangkan diri saat gerakan di dalam perutnya seolah mendukung apa yang diucapkan ayahnya.


Ia sedikit beranjak, mengusap perutnya pelan sebelum membalas pelukan suaminya.


"Maafkan aku, Mas. Maafkan aku ... maaf!" ucapnya berulang-ulang. Seolah-seolah lupa pada calon anaknya, ia terlalu hanyut memikirkan keadaan Nafisah yang notabene adalah bukan anak kandungnya. Lalu, tidak memikirkan keadaan janin dalam kandungannya.


"Ya sudah, tenang. Jangan menangis lagi. Alangkah lebih baiknya kita mendoakan mereka agar selamat," tutur paman Harits yang kali ini diangguki istrinya itu.


Ia membawa Nadia sedikit menjauh dari lokasi kebakaran. Tiga buah mobil pemadam dan dua ambulance tiba di lokasi.


Di saat yang sama, Ikram berlari keluar dengan mendekap Nafisah yang ia gelung menggunakan selimut. Bagian belakang tubuhnya terbakar, Ikram lekas membuka pakaiannya setelah memberikan Nafisah pada Ain. Membuangnya sembarangan, tak peduli pada luka di punggungnya, ia mendekati Ain dan memeriksa keadaan putri bungsunya.


"Lihat! Dia berhasil membawa Nafisah dengan selamat. Sudah, kamu bisa lega sekarang." Paman Harits membawa Nadia duduk di dalam mobil, ia menunjuk Ikram yang berlari keluar.


Nadia mengangguk, memeluk suaminya dan menangis haru. Ia tersenyum dalam tangisan, matanya terus menatap Nafisah yang berada dalam gendongan Ibunya.


"Alhamdulillah! Dia selamat. Terima kasih, ya Allah!" ucap Nadia dengan lirih.


Paman Harits mendekap tubuhnya erat. Gigil yang ia rasakan, berangsur-angsur raib. Ia ikut tersenyum saat Nadia menelusupkan wajah di ketiaknya. Mungkin menyusut air mata di jaket yang dikenakan suaminya itu.


"Mas bau keringat, tapi aku suka. Hehe ...." Nadia menggesek-gesekkan hidungnya di sana. Gelak tawa pecah di antara keduanya. Bahagia meskipun api melahap habis bangunan yang pernah menjadi saksi derita Nadia, seorang istri kedua.


Banyak santri yang dilarikan ke rumah sakit akibat terkena dampak dari kebakaran yang terjadi. Beruntung tak ada korban jiwa dari mereka.

__ADS_1


Kebahagiaan mereka, dapat dilihat keluarga Ikram di kejauhan. Ruby dan Bilal mengapit kedua orang tuanya, sedangkan Nafisah digendong Ain yang berdiri di samping Ikram.


"Itu mobil Bunda, di dalam sana ada Bunda. Bukannya kamu mau bertemu dengan Bunda?" ucap Ruby menunjuk mobil paman Harits yang terpakir sedikit jauh dari lokasi.


"Bu-bunda! Uhuk ... uhuk!" Lirih dan bergetar ia memanggil Nadia sambil terbatuk karena menghirup banyak asap. Ia menjatuhkan kepala di bahu Ain, lemas dan tak bertenaga.


"Kamu mau menemui Bunda?" tanya Ain. Nafisah mengangguk, ia kembali terbatuk. Ain bersama Ruby dan Bilal mendekati mobil Nadia. Ada tangis haru sekaligus bahagia di wajah mereka.


Ikram sendiri memilih pergi menyendiri. Entah kenapa ia masih saja merasa malu jika harus bertemu dengan mantan istrinya itu.


"Mereka ke sini!" Paman Harits mengangkat kepala Nadia saat ia melihat rombongan Ain dan anaknya mendekat. Nadia termangu, melihat senyum di bibir kecil itu, hatinya tak lagi risau.


"Mau turun?" Nadia mendongak mengecup pipi suaminya sebelum mengangguk. Mereka keluar dan berdiri di samping badan mobil menunggu keempatnya tiba.


"Aku mau turun," pinta Nafisah dengan pelan. Ia menegakkan kepala menatap Ain dengan sangat.


Nadia bertumpu lutut di atas jalan, membentangkan kedua tangan saat Nafisah mulai menapak jalanan yang sama.


"Bunda!" lirihnya bergetar. Jarak yang tak seberapa itu terasa jauh untuknya yang harus tertatih dalam mengayun langkah.


Nadia mengangguk mendengar panggilan lirih dari anak yang ia cemaskan beberapa hari kemarin.


"Bunda!" Nafisah menjatuhkan kepala di atas bahu Nadia saat kedua tangan wanita hamil itu merengkuh tubuhnya.


"Aku kangen sama Bunda, terima kasih sudah datang," katanya dengan suara yang parau.


Nadia mengusap-usap punggungnya pelan. Ia tersenyum haru, dapat merasakan pelukan gadis kecil itu lagi.


"Tidak apa-apa, jangan menangis!" pintanya saat merasakan guncangan di tubuh Nafisah. Gadis kecil itu mengangguk pelan, ia mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh tak tertahankan.

__ADS_1


"Hallo, Jagoan!" Paman Harits memberikan tinjunya pada Bilal yang mendekat untuk menyapa. Keduanya terlihat akrab, Ain tersenyum dari tempatnya berdiri. Memandangi Nadia yang masih memeluk Nafisah, juga paman Harits yang bersenda gurau dengan putranya.


Ruby menelusupkan jemari pada milik ibunya. Ia menyandarkan kepala pada bahu wanita yang telah melahirkannya itu sembari menatap Nafisah yang terlihat enggan melepas pelukan.


Nadia mengurai pelukannya, ia mengusap air mata gadis kecil itu. Bibir mungilnya tersenyum saat Nadia mendaratkan kecupan di kedua pipinya.


"Bunda, aku senang bisa melihat dan memeluk Bunda lagi. Aku akan tenang sekarang," ungkap Nafisah terdengar ambigu di ujung kalimatnya. Namun, Nadia tak bertanya. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum. Mungkin beberapa hari kemarin Nafisah merasakan kegelisahan yang sama dengannya. Begitu pikirnya.


Tiba-tiba saja Nafisah terbatuk hebat, Ain dan Ruby gegas menghampiri. Nadia mengusap-usap tengkuk sampai punggungnya untuk meredakan batuk anak itu.


"Mas!" Nadia memekik saat tubuh kecil itu terkulai di pangkuan.


"Nafisah!" Ain sigap mengangkat tubuh anaknya, mengguncangnya pelan agar mata kecil itu terbuka.


"Nafisah, sayang! Bangun, Nak!" ucap Ain membangunkan anak bungsunya itu.


"Cepat masuk ke dalam mobil, kita bawa dia ke rumah sakit!" Paman Harits membuka semua pintu mobil sebelum mengangkat tubuh Nadia yang masih berada di atas jalan.


"Ayo, sayang! Nafisah tidak apa-apa, kita akan membawanya ke rumah sakit!" Nadia perlahan beranjak, air matanya kembali merembes tanpa perintah. Ia masuk dan duduk gelisah di kursinya.


"Cepat, Mas!" Panik, berkali-kali kepalanya menoleh ke belakang memastikan gadis kecil itu masih bernapas.


"Nafisah, buka mata kamu, sayang! Kamu bilang mau bertemu Bunda, 'kan? Sekarang Bunda ada di sini, kamu harus bangun, sayang!" ucap Ain menakuti Nadia dan kedua anaknya yang lain.


Paman Harits mengemudikan mobilnya lebih cepat. Ia harus cepat. Risih mendengar Ain yang terus memanggil nama Nafisah, paman Harits geram.


"Dia masih hidup, Ain! Hanya pingsan, jangan mengatakan seolah-olah anakmu itu sudah mati!" bentak paman Harits kesal.


Bungkam. Tak ada lagi rengekan dari Ain, ia hanya mendekap tubuh Nafisah. Ruby meletakan dua jarinya di hidung Nafisah, deru napas adiknya itu masih terasa meski lemah. Ia lega, Nafisah hanya pingsan. Nadia pun merasa lega saat Ruby mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2