Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Ternyata ....


__ADS_3

Di dalam ruangan itu, Nadia dikungkung rasa takut yang hebat. Tangis dan air matanya terus berlanjut membanjiri pipi mulusnya. Dalam hati berharap paman Harits atau Rai, atau siapa saja akan datang menolongnya. Nadia benar-benar ketakutan.


Pintu kamarnya terbuka perlahan, tubuh Nadia semakin menggigil ketakutan. Keringat bercampur air mata mengucur banyak. Dalam keadaan seperti ini, Nadia pasrah karena melawan pun ia tak bisa. Tangan dan kakinya diikat kuat.


Sosok itu tersenyum melihat Nadia yang terbaring terlentang dengan pose menantang dirinya.


Ia menjilat bibirnya sendiri. Begitu tergoda dengan tubuh molek milik Nadia. Semenjak mendapatkan donor ginjal, tubuh Nadia mulai berisi tak lagi kurus seperti sebelumnya.


Bibir Nadia bergumam tanpa suara. Sosok di depannya sungguh membuatnya terkejut setengah mati.


"Bagaimana rasanya? Ah ... aku sungguh tidak sabar ingin mencicipi tubuhmu itu," ucapnya dengan suara yang dibuat-buat. Nadia bergidik ngeri, sungguh menjijikkan.


"Kenapa kamu melakukan ini? Apa salahku?" jerit Nadia dengan kucuran air mata yang semakin deras.


"Haha ...." Laki-laki itu tertawa lantang. Dia menatap penuh hasrat pada wanita cantik yang terbaring di atas ranjang tersebut.


"Kenapa?" Dia kembali tertawa. Ayunan langkahnya mengancam, ketukan sepatunya sungguh mengguncang hati Nadia. Ia meronta berharap ikatan di kedua tangannya terlepas.


"Jangan mendekat!" Nadia kembali menjerit. Ia panik dan takut, menghentakkan kakinya menolak didekati.


Namun, ia tidak peduli. Terus saja melangkah semakin mendekat padanya. Senyum di bibirnya tak lagi sama, sungguh mengerikan di mata Nadia. Nadia membuang muka saat tangannya merayap pelan membelai pipinya.


"Kamu cantik, Nadia? Sudah lama aku tergila-gila padamu, tapi kamu tidak pernah memandang aku!" geramnya dengan rahang yang mengetat menahan gejolak api amarah.


Ia kembali tersenyum lebih mirip seringai yang jahat. Nadia melipat bibir, ia juga memejamkan matanya, jijik rasanya harus disentuh laki-laki itu.


"Terkadang kecantikan itu membawa malapetaka untuk yang memilikinya ... dan kamu salah satunya, Nadia. Kecantikan kamu ini membahayakan dirimu sendiri." Bibirnya kembali mengulas senyum melihat Nadia yang terus memalingkan wajah darinya. Ia merasa tertantang untuk dapat menaklukan wanita itu.


"Tolong ... lepaskan aku! Aku mohon!" pinta Nadia sembari sesenggukan. Tawa kecil dari laki-laki itu kembali membuat Nadia bergidik ngeri.


"Aku akan dengan senang hati melepaskan kamu, tapi ... setelah kamu melayaniku sampai aku puas! Haha ...." Tangis Nadia semakin menjadi, ia bahkan menjerit keras manakala tangan lancang itu menarik hijab yang masih menutupi kepalanya.

__ADS_1


"Jangan! Kumohon, Rai! Kamu sahabatku, kita berteman. Tolong jangan lakukan itu padaku! Kumohon!" Nadia meronta dengan kuat. Rai memainkan rambutnya. Terkadang menciuminya dengan penuh nafsu.


"Argh!" Jeritan Nadia semakin menjadi, tubuhnya meronta dengan kuat, ia menggeleng-gelengkan kepalanya tatkala Rai mulai mengendus kulitnya.


"Menurutlah, Nadia! Aku pastikan kamu tidak akan merasakan sakit!" Rai mencengkeram dagu Nadia menghentikan gerakan kepalanya yang menolak.


"Mmmm ...." Nadia kembali meronta tatkala Rai menyatukan bibir mereka dengan paksa. Air mata Nadia seolah menjadi penyegar untuk kerongkongan Rai yang kekeringan. Ia melepas pagutan dan menyesap air mata Nadia yang berjatuhan.


"Pantas saja ustadz cabul itu tergila-gila padamu, Nadia. Bibirmu manis rasanya!" Ibu jari Rai menyusuri bibir Nadia dengan pelan.


"Ja-ngan ... kumohon, Rai! Jangan! Kamu tidak seharusnya seperti ini. Kamu seharusnya tidak melakukan ini padaku, Rai. Kumohon! Maafkan aku, Rai. Maaf!" mohon Nadia lagi walau kesulitan karena tangan Rai kembali mencengkeram pipinya.


"Maaf? Kamu berkali-kali menolakku, Nadia. Aku sudah sangat lelah menunggu waktu yang kamu janjikan. Waktu yang tidak pernah datang padaku. Aku mencintai kamu, Nadia! Sangat mencintai kamu, tapi kamu justru menikah dengan ustadz itu. Kenapa, Nadia? Kenapa? Apa karena aku cacat?" bentak Rai tepat di hadapan wajah Nadia.


Wanita itu menangis tersedu. Tak mampu menjawab lantaran wajah Rai yang teramat dekat dengannya. Rai menempelkan hidung mereka, helaan napasnya terasa hangat menerpa wajahnya.


"Aku lelah dengan sikap egosimu. Kenapa kamu tidak memilihku saja dan kita menikah, Nadia."


"Apa?!" Rai naik darah, ia berdiri dengan wajah yang murka. Kembang kempis dadanya karena amarah yang meluap-luap.


"Perlu apa lagi, Nadia? Tujuh tahun aku menahan rasa ini, tapi kamu selalu mengabaikan bahkan setelah lepas dari suamimu itu juga kamu tetap menolakku!" Suara Rai kembali meninggi. Ia menatap Nadia yang masih sesenggukan di atas ranjang.


"Tapi sekarang kamu sudah di sini. Aku tidak akan pernah melepaskan kamu lagi, Nadia. Ayolah, kita mulai saja dari malam ini! Haha ...." Suara tawa Rai menggelegar memenuhi seisi ruangan.


"Jangan, Rai! Kumohon jangan!" pinta Nadia dengan lemah, ia menggelengkan kepalanya menatap penuh iba pada laki-laki yang sudah kesetanan di depan matanya itu.


Namun, Rai masih menyeringai bagai iblis yang tak berhati. Ia duduk di tepi ranjang, tangannya kembali berbuat lancang. Merayap di permukaan kulit Nadia. Ia membuka satu demi satu kancing kemeja yang dikenakan Nadia.


"Tidak, Rai! Kumohon jangan! Jangan lakukan itu, Rai! Jangan!" Nadia terus memohon meskipun Rai mentulikan telinganya.


Mata Rai membelalak lebar tatkala bagian atas dari tubuh Nadia terpampang nyata di hadapannya.

__ADS_1


"Sayang sekali kalau aku tidak mencicipinya malam ini juga!" Rai kembali tertawa. Ia tak lagi berhati seperti manusia. Malam itu Rai menjelma bagai iblis.


Ia beranjak menindih tubuh Nadia.


"Jangan! Kumohon jangan! ARGH!" Jeritan Nadia memekakkan telinga. Terdengar hingga ke lantai bawah. Rai hendak menggagahinya. Ia mulai menyesap permukaan kulit mulus milik wanita yang berada di bawah kuasanya itu.


"Jangan ... jangan ... JANGAN!"


Brak!!!


"Sialan!" Paman Harits berjalan cepat. Ia menarik rambut Rai hingga terjatuh ke lantai. Mata merahnya menatap iba pada Nadia yang terlentang tanpa busana atasnya. Hati paman Harits bergolak.


Ia menghantamkan tinjunya tepat di bagian depan wajah Rai. Darah segar mengucur dari lubang hidungnya.


"Kurang ajar! Aku menjaganya dengan nyawaku, dan kamu ingin merusaknya! Tak akan aku biarkan bajingan keparat sepertimu hidup!" Paman Harits terus-menerus memukuli Rai tanpa memberikan kesempatan pada laki-laki itu untuk membalas.


Wajah Rai babak belur. Dari kedua sudut bibirnya menetes darah segar.


"Tangan ini akan aku patahkan, tangan yang sudah berani menyentuh kulit wanitaku!"


"ARGH!" Suara jeritan Rai menggema di seluruh rumah. Orang-orang yang berada di bawah serentak berlari ke lantai dua. Namun, langkah-langkah mereka terhenti tatkala suara tembakan menumbangkan tubuh mereka satu per satu.


Tangan kanan Rai yang pernah patah itu, kembali terkulai. Ia jatuh terjengkang tak sadarkan diri. Paman Harits yang belum puas, menendang tubuh Rai hingga menabrak dinding ruangan kamar itu.


Ia tersadar ketika suara tangis Nadia memenuhi telinganya.


"Nadia!" Wanita itu memalingkan wajah, merasa malu pada paman Harits. Tanpa peduli pada reaksi Nadia, paman Harits menutup kemeja Nadia dan memungut kerudungnya sebelum ia melepaskan ikatan yang melilit tangan dan kaki wanita itu.


"Kakak!" Tangis Nadia kembali menjadi saat ia memeluk tubuh paman Harits. Laki-laki itu mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya keluar ruangan.


"Bunuh semuanya! Tidak usah pedulikan para polisi itu, biar aku yang bertanggungjawab!" titah paman Harits sebelum membawa Nadia keluar dari rumah itu.

__ADS_1


__ADS_2