Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Ikram Terlalu Lemah


__ADS_3

Bagaimana sebuah kapal akan berlayar dengan baik, jika nahkodanya saja lemah dan tak berdaya.


Di meja makan, makanan sederhana yang dihidangkan Nadia tetap terasa nikmat saat hati ingin menikmatinya. Tiga hari dilalui Nadia bersama Ikram. Nadia melayani Ikram sebagaimana seorang istri melayani suaminya meskipun hati masih terasa perih karena peraturan yang dibuat oleh Ain, tapi seiring waktu berjalan hati Nadia mulai terbiasa dan bisa menerima semua dengan ikhlas.


Dua bulan telah berlalu, Ain tetap pada pendiriannya dan Nadia tetap mengalah. Sikapnya mulai berbeda pada Nadia, pandangannya pun mulai lain dari biasanya.


"Mas, seorang laki-laki itu pemimpin. Sudah seharusnya pemimpin bersikap tegas dan tidak mudah diatur oleh bawahan. Bukankah sudah sifat pemimpin mengatur dan dipatuhi, tidak diatur dan lemah. Bisakah kita hidup tanpa diatur orang lain?" papar Nadia dengan lembut.


Keduanya tengah duduk di belakang rumah, di sebuah kursi malas menatap hamparan bintang di langit dengan rembulan yang menggantung sempurna.


Nadia meletakkan kepala di pundak Ikram, jemari mereka terpaut mesra malam terakhir penuh pesona.


Ikram ikut menjatuhkan kepalanya di atas kepala Nadia, mengecupnya lama betapa ia memang mencintai gadis itu. Namun, perasannya pada Ain pun tak kalah besar dari rasa cintanya pada Nadia.


"Mas hanya takut akan semakin menyakiti hatinya, Nadia. Dia sudah rela dimadu meskipun tak memiliki kekurangan. Dia sudah mengizinkan Mas menikahi kamu walaupun dengan syarat memberatkan. Kamu sabar, ya. Kita berdoa saja semoga Ain bisa ikhlas menerima kamu dan kita bisa hidup dengan rukun-"


"Saling asah, saling asih, saling asuh tanpa saling gasak, saling gesek, dan saling gosok. Mas memimpikan hal itu, untuk sekarang kita hanya tidak perlu membuat luka di hati Ain semakin menganga sehingga ia merasa tersisih padahal tidak sama sekali," ungkap Ikram yang sempat menjeda ucapannya sebentar.


Tangannya yang lain membelai pipi Nadia, terasa dingin.


"Iya, Mas. Aku mengerti," katanya sembari menggenggam tangan Ikram yang menempel di pipinya.


"Kamu dingin sekali, kita masuk saja lagi pula ini sudah hampir larut," ajak Ikram dengan lembut.


Nadia mengangguk, ia ikut beranjak bersama suaminya. Di rumah itu, ia bisa melakukan apa saja kepada Ikram tanpa ada rasa tak enak pada yang lain. Hanya ada mereka berdua di sana, tak ada yang lain.


Ritual malam yang biasa mereka lakukan berjalan seperti biasanya. Ikram selalu berlaku lembut saat memberikan sentuhan-sentuhan pada kulit Nadia. Membangkitkan gejolak dalam diri wanita itu dan menuntut untuk mendapatkan lebih.


Lenguhan panjang mengakhiri pergulatan keduanya. Nadia terperangah, malam ini rasanya berbeda. Lebih terasa dari pada malam-malam sebelumnya.

__ADS_1


"Mas!" lirihnya setelah Ikram menjatuhkan diri di atas tubuhnya.


"Iya, Nadia. Mas tidak bisa untuk tidak melakukannya. Tidak apa-apa, bukan?" sahut Ikram masih membenamkan wajah di pundak istri keduanya.


Nadia mengeratkan pelukan, air mata bahagia menetes tanpa sadar. Akhirnya Ikram memutuskan ia tidak lagi melakukan 'azl saat berhubungan dengannya. Setidaknya untuk malam ini.


"Terima kasih, Mas. Aku bahagia," ucap Nadia menciumi pundak Ikram berkali-kali.


Malam panjang itu merupakan malam yang membahagiakan untuk Nadia. Biarlah walau hanya untuk malam ini saja. Keduanya terlelap usai membersihkan diri masing-masing.


Suara kokok ayam bersambut dengan alunan tarhim yang merdu membangunkan keduanya dari lelapnya mimpi. Ikram berpamitan padanya dan ia harus rela menunggu sampai bulan depan untuk melepas rindu dengan suaminya itu meskipun berdekatan, Nadia meminta Ikram untuk menepati ucapannya. Tidak berkunjung jika bukan waktunya.


"Ruby? Di mana Umi?" tanya Ikram saat ia sampai di rumah usai memberikan pengajian selepas subuh kepada para santri.


"Umi belanja ke warung, Abi," jawabnya. Hari Minggu adalah hari bersama keluarga. Ikram berencana mengajak Ain dan anak-anaknya berjalan-jalan sebentar. Berharap Ain akan berbaik hati mengajak Nadia juga.


Ia duduk menunggu, secangkir kopi panas dihidangkan Ruby.


"Abi, kenapa Bunda tidak pernah datang ke rumah lagi? Umi jadi sangat repot setiap pagi," tanya Ruby ikut duduk di samping Ikram mengeluhkan Nadia yang tak pernah datang berkunjung lagi.


"Bunda sedang disibukkan anak-anak yatim di yayasan. Kalau kamu kangen datang saja ke yayasan, pagi ini Bunda mengajak anak-anak di sana untuk belajar melukis," jawabnya.


"Beneran, Bi!" pekik Ruby kegirangan. Ikram menganggukkan kepala.


Ain datang dengan muka masam terpasang. Ikram menatapnya dengan alis yang berkerut. Ia tidak menyapa, melainkan langsung ke dapur dengan membawa belanjaannya.


"Sebentar, ya! Abi temui Umi dulu," pamitnya pada Ruby. Ikram beranjak menyusul Ain ke dapur. Tersenyum saat melihat istri pertamanya yang cemberut sambil merapikan belanjaan.


"Ada apa? Kenapa wajah Umi cemberut begini?" tanya Ikram sembari memeluk Ain dari belakang. Ain membanting sayuran kesal.

__ADS_1


"Lho, kok, dibanting sayurannya? Memang salahnya kangkung ini apa sama Umi? Sampe dibanting seperti tadi," celetuk Ikram menggoda.


Ain mendesah berat, menghirup udara banyak-banyak memenuhi paru-parunya yang terasa sesak sebelum mengungkapkan kekesalannya.


"Ibu-ibu di sana itu, Bi tiba-tiba berghibah tentang Umi. Mereka membanding-bandingkan Umi dengan Nadia. Katanya inilah, katanya itulah. Umi kesel, Abi!" keluh Ain bersungut-sungut.


Ikram malah menjatuhkan kepala di pundaknya, mengeratkan pelukan untuk menghibur hati Ain yang sedang kesal.


"Sejak kapan istri Abi peduli pada omongan orang? Biarkan saja mereka, jangan dengarkan. Mereka punya penilaiannya sendiri walaupun terkadang salah, tapi menjelaskan pada mereka pun percuma karena mereka akan tetap pada pendiriannya. Faham, sayang?" Satu kecupan dilayangkan Ikram pada pipi kanan Ain.


"Astaghfirullah! Ya Allah, Umi khilaf, Bi. Astaghfirullah al-'adhiim ... astaghfirullah al-'adhiim!" seru Ain sembari mengusap dada berkali-kali.


Ikram melepas pelukan dan duduk di kursi samping Ain yang berdiri. Ia mengeluarkan amplop dari dalam saku gamis yang ia kenakan. Dua buah amplop berbeda ketebalan.


"Ini uang bulanan untuk Umi," katanya sembari menyodorkan satu amplop lebih tebal dari yang lainnya.


Ain melirik sekilas dan mengambilnya. Membolak-balik amplop tersebut sebelum melayangkan protes, "Rasanya tidak setebal kemarin. Yang ini lebih tipis beberapa centi." Ain melirik suaminya yang tersenyum. Di tangannya satu buah amplop lagi ia tahan.


"Iya, sekarang ada Nadia yang harus Abi nafkahi juga. Umi tenang saja, isi punya Umi lebih banyak dari pada punya Nadia. Di dalam sini hanya dua puluh persen dari uang yang sering Abi kasihkan ke Umi, tiga puluh persen untuk keperluan santri, dan sisanya lima puluh persen ada di dalam milik Umi," jelas Ikram yang membuat Ain mendesah.


"Eh, tunggu! Abi mau kasihkan uang itu pada Nadia?" Ikram mengangguk. Ain mengambil amplop dari tangan Ikram dengan cepat.


"Biar Umi saja lagi pula Abi baru saja pulang dari rumahnya, bukan? Ingat Bi ...!" Ain memicingkan mata pada suaminya.


Hah~


Ikram menghela napas pasrah. Ia mengangguk lantas meninggalkan dapur dan kembali duduk bersama Ruby. Ain memeriksa isi dalam amplop milik Nadia, ia tersenyum puas setelah melihat isinya.


"Wajar saja dia, 'kan, belum punya tanggungan. Sedangkan aku, banyak sekali keperluan," katanya diakhiri dengan hembusan napas panjang darinya.

__ADS_1


Setelah sarapan nanti ia akan mendatangi yayasan untuk memberikan nafkah dari Ikram pada Nadia.


"Sekarang, semua harus dibagi. Sabar, Ain ... sabar!" Ia menyemangati diri sendiri.


__ADS_2