Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Transaksi


__ADS_3

KEBODOHAN AIN


Ain yang mendapat telepon dari seseorang yang entah siapa namanya, bergegas mendatangi tempat tersebut. Calon pembeli pabrik yang ia iklankan sendiri. Ain membawa semua yang dia perlukan termasuk surat perjanjian Sarah dan Ikram. Ia menaiki ojek menuju pabrik milik Nadia.


Hatinya bahagia tak terkira, senyumnya mengembang sepanjang perjalanan menuju lokasi yang dijanjikan. Ia bergegas turun dan berjalan cepat setelah membayar ongkos ojeknya.


Senyumnya merekah manakala matanya melihat sesosok laki-laki separuh baya yang memakai setelan jas hitam sedang duduk di sebuah warung tak jauh dari pabrik. Ain mempercepat langkahnya, tak ingin membuat calon pembelinya menunggu terlalu lama.


"Assalamu'alaikum, apa Bapak yang telepon saya tadi?" sapa Ain begitu sampai di dekat laki-laki yang dimaksud tadi duduk.


Laki-laki itu membuka kacamata hitamnya seraya tersenyum pada Ain. Rambutnya yang sudah memutih sebagian tak membuat kegagahannya hilang.


"Benar, itu saya. Ibu pemilik pabriknya?" tanya laki-laki tersebut dengan sikapnya yang tenang dan elegan.


"Benar, Pak. Saya pemilik pabrik ini." Ain tersenyum tak henti. Tak sabar rasanya ingin segera melihat tumpukan uang di depan matanya.


"Silahkan, duduk! Pesan minum dulu," pintanya sembari menunjuk kursi seberangnya. Ain mengangguk, lantas duduk di kursi yang ditunjuk tanpa melepas senyum dari bibirnya.


Laki-laki itu memanggil pemilik warung dan memintanya membuat minuman untuk Ain. Hening. Selama beberapa saat tak ada pembicaraan di antara mereka sampai pemilik warung datang membawakan secangkir teh hangat yang mengepulkan asap.


"Silahkan!" Ia menunjuk cangkir teh sembari memandang Ain yang masih saja terdiam. Ain mengambil cangkir, menyesap isi di dalamnya sebentar dan meletakkannya lagi di atas meja.


"Jadi bagaimana, Bu? Apa Ibu yakin akan menjual saja pabrik ini? Apa tidak sayang kalau di jual?" Sederet pertanyaan dari calon pembelinya membuka kata dan bahasan.


Ain tersenyum, ia menganggukkan kepala meskipun ragu mulai hinggap di hatinya.


"Yah ... mau bagaimana lagi, Pak? Pabrik ini sudah lama tidak berjalan, anak-anak asuh saya di yayasan harus makan dan butuh biaya pendidikan. Saya bermaksud menjual pabrik ini karena ingin membuka usaha lain yang lebih menjanjikan," jawab Ain membawa anak-anak yatim-piatu sebagai alasan untuk menarik simpati calon pembelinya.

__ADS_1


Laki-laki itu menganggukkan kepalanya mengerti. Ia memandang sekilas pabrik kosong yang sudah lama tak terpakai itu sebelum kembali pada Ain lagi yang menunggu tak sabar.


"Tapi yang saya dengar, pabrik ini milik orang pindahan dari Jakarta, apa betul?" tanyanya hati-hati. Ain menegang, detik kemudian yang tersenyum.


"Memang benar, dan anaknya itu istri kedua suami saya. Pabrik ini diserahkan kepada suami saya oleh ibu mertuanya. Jadi, suami saya memintanya untuk menjual saja karena pabrik ini sudah lama tak berjalan," terang Ain sedikit gugup.


Pancaran mata calon pembelinya menjadi ragu. Pasalnya, ia tak ingin membeli sesuatu yang akan menjadi sengketa di kemudian hari.


Ain melihat gelagat ragu di wajah calon pembelinya. Ia berpikir. Tak ingin kehilangan calon uang yang sudah di depan matanya itu.


"Apa Bapak ragu! Saya punya surat wasiatnya," lanjut Ain setelah berpikir dan akhirnya teringat akan sebuah surat wasiat dari Sarah.


Laki-laki itu diam menunggu, ia menyesap kopi di cangkirnya menanggalkan rasa ragu.


"Ah ... ini, Pak. Ini surat kuasa yang ditulis ibu mertua suami saya sebelum meninggal." Ain memberikan surat kuasa tersebut kepada calon pembelinya.


Laki-laki itu menerimanya, ia mengenakan kacamata untuk dapat membaca setiap huruf yang dirangkai di atas kertas tersebut. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya puas setelah membaca dengan teliti isi surat kuasa itu.


Ain mulai merasa cemas. Keraguan jelas tergambar di wajahnya, bagaimana kalau laki-laki ini penipu. Namun, matanya melotot lebar tatkala laki-laki di depannya itu mengeluarkan sebuah koper dan menaruhnya di atas meja.


"Ini sebagai DP dulu, silahkan dicek isinya! Sisanya tiga hari lagi kita bertemu sesuai dengan kesepakatan yang kita buat," ucap laki-laki tersebut sembari membuka koper itu dan menyerahkannya kepada Ain.


Ain meneguk ludah gugup manakala mata duitannya menatap tumpukan uang di dalam koper tersebut. Ia mengusap keringat yang tiba-tiba mengucur di dahi.


Ini uang? Ini beneran uang?


Matanya berkali-kali mengedip dan terbuka untuk memastikan kertas berwarna merah di dalam koper tersebut adalah uang. Ain mengambil satu ikat dan memeriksanya. Benar, itu uang semuanya.

__ADS_1


Dia bilang ini baru DP, bagaimana pelunasannya? Apakah akan lebih banyak lagi? Ternyata pabrik ini sangat mahal jika dijual. Ikram bodoh, terlebih lagi Nadia.


Hatinya yang berbulu seperti ulat bergumam senang. Ia bahkan sudah menyusun rencana apa yang akan dia lakukan dengan uang sebanyak itu. Biarlah Ikram tidak tahu, dan dia memang tidak harus tahu soal ini.


"Bagaimana, Bu?" Suara laki-laki di depannya menyentak lamunan Ain. Menarik kesadarannya kembali dengan cepat.


"Ah ... i-iya, Pak. Iya ... saya ambil ini, sisanya tiga hari mulai sekarang," jawab Ain. Tangannya sigap menutup koper dan menariknya ke pangkuan.


Laki-laki itu tersenyum puas. Ia berpamitan dan kembali dengan membawa surat kuasa di tangan juga sebagian dokumen pabrik. Ain yang bodoh. Ia pergi ke mushola terdekat untuk memindahkan uang di dalam koper ke dalam tas yang ia bawa.


Mulutnya tak henti bergumam senang. Ia susun uang tersebut di dalam tas. Hati-hati. Tujuannya adalah agar semua orang tidak curiga padanya yang membawa uang banyak. Terutama Ikram dan Yuni. Ia tidak ingin peliharaannya itu meminta bagian dari uang tersebut.


Ain keluar dari mushola. Ia membuang koper tadi di tempat sampah sebelum melanjutkan langkah sembari mendekap erat tas di tangannya. Ain kembali menaiki ojek, pulang. Hatinya tak henti berbunga. Bibirnya terus menyematkan senyum bahagia.


Pikirannya sibuk memikirkan rencana untuk ke depannya. Sibuk, apa saja yang akan ia lakukan. Mungkin dia akan meninggalkan Ikram dan hidup sendiri saja. Laki-laki itu sudah tidak kaya lagi dan tidak ada lagi yang bisa diharapkan darinya. Untuk apa dipertahankan? Menyusahkan saja.


Yuni, Ain tak rela membagi sepeser pun uang yang didapatnya itu padanya. Ah ... dia teringat ada transaksi hari itu di rumahnya. Ain kembali berencana, jiwa serakahnya menggelora. Ia akan meminta bagian uang dari hasil penjualan anak-anak di yayasan. Pintar.


Uang ... uang ... uang!


Uang memang tak enak dimakan. Kata pepatah orang tua, ayam saja tidak menyukai uang. Namun, uang ... kata yang begitu singkat terdengar, selalu memberikan dampak yang besar bagi sifat manusia. Demi uang, terkadang orang tak memandang darah. Demi uang, orang bisa melakukan apa saja.


Ain mengernyit cemas saat melihat motor Ikram yang juga baru memasuki gerbang. Ia takut Ikram curiga pada tas yang dibawanya. Ain melirik tas di dekapannya, menepuk-nepuknya beberapa kali untuk membuat bentuknya tidak terlihat. Ia berjalan mengiringi Ikram dan Ruby.


Suara perdebatan terdengar jelas hingga ke halaman. Ketiga orang itu mempercepat langkah ingin tahu apa yang terjadi.


"Kenapa tidak anakmu saja yang tidak jelas siapa bapaknya itu kamu jual kepada mereka!"

__ADS_1


Ikram membeku, begitu pun dengan Ain. Hanya Ruby yang meneruskan langkah memasuki rumah.


"Apa!" Suara mereka sontak membuat Yuni pucat pasih.


__ADS_2