
Menyusuri tepi pantai dengan kaki telanjang, desiran angin menerpa kulit menerbangkan gamis biru muda yang dikenakan wanita cantik itu. Di sampingnya, seorang laki-laki berkacamata hitam menggandeng tangannya.
Terik sinar mentari tak mengurungkan rencana mereka untuk menjelajahi pantai tersebut. Mereka menghampiri sebuah ayunan yang terbuat dari akar pohon dengan sebilah papan kayu yang menjadi alas tempat duduknya.
Nadia mendudukinya, posisi tanah yang tak rata membuat kaki menjuntai ke laut ketika digerakkan. Paman Harits berdiri di belakangnya, mengayun pendulum dengan pelan. Tak lupa mengambil gambar untuk mengabadikan momen indah meski sederhana itu.
Nadia mengunggahnya di laman media sosial miliknya. Deretan komentar yang beragam meramaikan postingannya itu.
******
"Bi, coba lihat! Bunda nampak lebih bahagia sekarang dari pada dulu. Iya, 'kan, Bi!" Ruby memberikan ponselnya pada Ikram yang sedang fokus membaca buku siang hari itu.
Ia menggulir foto-foto Nadia yang dipasang di media sosial. Hatinya mencelos nyeri, di dalam segumpal daging itu masih ada cemburu manakala melihat Nadia yang bermesraan dengan paman Harits.
Berbagai pose dipasangnya, mereka bahkan tak segan saling memeluk dan mencium pipi. Dulu saja ... dulu saat bersamanya, Nadia bahkan jarang sekali mengunjungi media sosial miliknya. Apa lagi memposting seperti sekarang ini.
Hati Ikram tambah terbakar saat membaca komentar-komentar pemuja mereka.
*S**emoga langgeng, ya.
Semoga cepat diberi momongan.
Ah ... serasinya! Tampan dan cantik*.
Dan masih banyak lagi komentar yang membuat hati Ikram semakin tercubit. Ia hanyut dalam rasa yang tak pantas ia miliki lagi hingga celoteh Ruby tak ia hiraukan. Dalam pikirannya, kata-kata mengejek dan menghina dari semua orang bermunculan secara acak.
*Ikram bodoh!
Ikram rugi sekali melepas berlian seperti Nadia*.
Dan masih banyak lagi hingga membuatnya berhalusinasi.
"CUKUP!" teriak Ikram tiba-tiba, ia menutup telinga menggunakan kedua tangannya. Ruby tersentak, begitu pula dengan Bilal dan Nafisah. Kedua anak yang sedang asik menonton drama kartun kesukaan mereka itu, menoleh cepat saat mendengar Ikram berteriak.
Laki-laki itu bahkan berdiri dengan napas tersengal-sengal.
__ADS_1
"Abi!" panggil Ruby lirih sembari menyentuh lembut tangan Ikram.
Merasakan sentuhan lembut dari putri sulungnya, Ikram tersadar bahwa ia sedang dikelilingi ketiga anaknya.
"Abi kenapa?" lanjut Ruby bertanya menatap bingung sosok Ikram yang linglung.
"Astaghfirullah!" Ikram mengusap wajahnya, ia membanting diri di sofa, lelah. Matanya terpejam, Ruby membiarkan Ikram menenangkan diri.
"Tidak apa-apa, Bi," katanya mengusap-usap lembut kaki Ikram yang berada di samping dia duduk. Entah apa yang terjadi pada Ikram, ia sendiri pun tidak tahu.
Ruby mengangkat bahu tatkala kedua adiknya menoleh sambil bertanya lewat sorot mata mereka. Keduanya kembali fokus pada televisi, dan Ruby masih melihat-lihat sosial media milik Nadia.
******
"Sayang, tunggu di sini! Aku akan mencari minuman untuk kita," ucap paman Harits setelah membantu Nadia beranjak turun dari pendulum.
Ia mengangguk, lantas duduk di sebuah kursi menunggu suaminya membeli minuman. Nadia mengedarkan pandangan, pengunjung di pantai itu tak kunjung surut. Selalu datang silih berganti memadati tempat tersebut.
Nadia membelalak, wajahnya pucat pasih. Ia memalingkan kepala ketakutan. Sosok yang berdiri agak jauh darinya itu membuat trauma Nadia kembali mencuat.
Nadia menatap kembali sosok itu, ia masih di sana dan memperhatikan dirinya.
"Stop! Jangan mendekat!" Ia beranjak berdiri, dan berjalan mundur kala sosok yang ia takuti perlahan maju selangkah demi selangkah.
"JANGAN MENDEKAT!" teriaknya dengan kuat. Tangannya terjulur ke depan menolak hadirnya.
"Mas! Mas Harits! Tolong aku, Mas! Aku takut!" pekik Nadia memanggil-manggil nama suaminya. Ia menoleh ke kanan dan kiri mencari sosok suaminya. Matanya terus menjatuhkan air yang semakin deras.
"Mas! Tolong aku!" rintih Nadia sembari terus berjalan mundur tanpa memperhatikan belakang tubuhnya.
Di kejauhan paman Harits mengernyit melihat Nadia yang berjalan mundur tanpa memperhatikan apa yang ada di belakang tubuhnya. Ia berlari dengan cepat, beruntung kakinya terlatih berlari di pasir.
Paman Harits sigap menangkap tubuh Nadia sesaat sebelum wanita itu jatuh menyentuh pasir. Nadia membelalak, menangis, dan cepat-cepat memeluk paman Harits.
"Aku takut, Mas. Aku mau pulang saja. Ayo, kita pulang, Mas. Aku tidak mau di sini," rengek Nadia membenamkan wajah di dada suaminya.
__ADS_1
Mendengar itu, paman Harits mengedarkan pandangan mencari sebab yang menjadikan istrinya ketakutan. Ia memicingkan mata saat melihat sosok Rai yang berdiri tak jauh dari mereka.
Kini ia tahu apa yang menyebabkan Nadia ketakutan dan meminta pulang. Paman Harits mengusap-usap punggung Nadia yang masih berguncang.
"Sudah, tenanglah! Kita akan kembali sekarang juga!" Paman Harits memapah Nadia yang tak ingin menjauhkan wajah dari dada bidangnya.
Dalam hati, paman Harits masih menyimpan dendam pada pemuda itu.
"Tu-tunggu! Aku hanya ingin meminta maaf kepada kalian!" cegah Rai yang segera beranjak dari tempatnya saat melihat mereka berdua pergi.
Nadia menggeleng, pelukannya semakin terasa erat seiring rasa takut yang kian menyelimuti hatinya. Paman Harits tak mengindahkan panggilan Rai, ia terus saja melangkah menjauh dari sosok yang ingin sekali ia kubur hidup-hidup.
Rai tidak menyerah, ia merasa ini adalah kesempatan untuknya meminta maaf karena kapan lagi bisa bertemu secara tidak sengaja seperti ini.
"Tunggu, Kak, Nadia ... tunggu! Aku hanya ingin berbicara dengan kalian. Sungguh ... tolong dengarkan aku kali ini saja. Tolong, beri aku kesempatan untuk mengakui kesalahan yang aku perbuat. Tolong!" pintanya memapak langkah keduanya sambil terus memohon.
Nadia memalingkan wajah, tak ingin melihat sosok pemuda di hadapannya itu.
"Apa yang mau kamu bicarakan? Tidak lihat istriku ini bahkan enggan melihatmu. Dia takut terhadap monster bermuka dua sepertimu. Minggir!" Paman Harits kembali melanjutkan langkah, menyingkirkan pemuda itu dari jalannya.
Rai pantang menyerah, Bagaimanapun hari ini juga ia harus mendapatkan maaf dari Nadia.
"Kumohon dengarkan aku sebentar saja! Nadia!" mohon-nya lagi terdengar pilu.
"Aku mengakui kesalahanku, aku mengakui semuanya. Aku menyesal, Nadia. Benar-benar menyesal. Aku hanya ingin meminta maaf kepadamu, Nadia. Itu saja. Tolong, ampuni aku. Ampuni aku!" Ia kembali memohon.
Di depan kedua orang itu ia menangkupkan kedua tangan di dada dengan kepala menunduk dalam-dalam.
Paman Harits bergeming. Ia terdiam dan menyerahkan semuanya pada Nadia.
"Aku memaafkanmu, tapi tolong jangan menampakan dirimu di depanku. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Tidak ingin." Nadia menggeleng, wajahnya masih ia benamkan di dada paman Harist dengan kedua tangan melingkar erat di pinggangnya.
"Kamu dengar! Hanya itu, 'kan, yang ingin kamu dengar dari istriku? Sekarang, menyingkir dari jalanku dan jangan pernah memperlihatkan dirimu lagi di depan istriku!" Paman Harits lanjut berjalan meninggalkan Rai. Kali ini ia tak akan lagi berhenti.
"Terima kasih." Kata terakhir yang didengar Nadia sebelum mereka menjauh.
__ADS_1