Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Salah Faham


__ADS_3

Rasa mual kembali datang, Nadia memejamkan mata dengan kepala yang menengadah. Air liurnya terkumpul secara tiba-tiba saat terbayang di kepalanya jambu air yang menggantung di salah satu rumah tetangga.


Lamunannya terhenti saat dering ponsel miliknya berbunyi. Ia meraba enggan mengangkat kepala, mencari benda pipih itu. Tanpa melihat si penelpon, Nadia mengangkatnya dan menempatkannya di telinga.


"Hallo!" sapanya malas.


"Kenapa wajahmu rata?!" pekik suara paman Harits menyentak telinga Nadia membuatnya berdenging hebat.


Nadia menjauhkan telepon, wajahnya meringis sambil mengusap-usap telinganya yang sedikit sakit. Panggilan video. Ia mengarahkan ponsel tepat di depan wajahnya. Memandang wajah paman Harits dengan mata sayunya.


"Kamu kenapa, sayang? Wajah kamu pucat, kamu sakit?" cecar paman Harits saat menangkap raut tak nyaman di wajah istrinya. Ia di kantornya, di belakang tubuhnya ada tumpukan dokumen mungkin itu laporan perusahaan.


Nadia menggelengkan kepala lemah. Ia memejamkan mata pelan, sangat pelan sebelum membukanya kembali.


"Pengen jambu air di rumah bu Lina, tetangga di depan rumah, Mas. Mas bisa mintakan itu untuk aku?" rengeknya merajuk. Wajahnya terlihat manja membuat paman Harits gemas sendiri.


Lelaki di seberang sana terkekeh, tapi raut cemas masih tercetak melihat Nadia yang kembali lesu.


"Nanti aku carikan saat pulang dari kantor. Aku beli yang banyak buat kamu."


Nadia kembali menggeleng. Ia meneguk ludahnya sendiri, dan itu nampak jelas terlihat karena Nadia tak mengenakan hijab.


"Tidak mau beli, mau yang di sana saja. Mau sekarang, Mas. Aku maunya sekarang, tidak mau nanti." Rengekan istrinya terdengar menuntut. Ada apa dengan Nadia? Tidak biasanya ia meminta hal secara menuntut seperti ini.


"Tapi kerjaanku masih banyak, sayang. Masih ada beberapa dokumen yang harus aku periksa." Paman Harits memelas. Namun, Nadia tetap menggeleng.


"Pokoknya mau sekarang, Mas. Kalau nanti, mah, sudah tidak enak lagi makannya," tuntut Nadia lagi tegas.


Paman Harits menghela napas, ia menatap ke lain arah berpikir.


"Coba pinta siapa saja untuk memetiknya, kalau perlu bayar saja. Bisa, 'kan?" Paman Harits memberi saran.


Nadia menggeleng lagi. Lelaki itu mengernyitkan kening, bingung dengan sikap istrinya pagi ini.


"Tidak mau orang lain, maunya Mas yang metik. Pulang, Mas. Aku juga kangen sama Mas." Mata Nadia berkaca, perasaan sedih tiba-tiba datang melanda hatinya. Rindu akan sosok paman Harits yang baru tadi pagi pamit bekerja.

__ADS_1


Lelaki di seberang telepon tertawa gemas.


"Aku baru saja pamit kerja, sayang. Sudah seperti istri bang Toyib saja yang ditinggal tiga kali puasa tiga kali lebaran." Ia kembali terkekeh, sedangkan Nadia mengusap matanya yang sudah berair.


Melihat itu, paman Harits tidak tega. Ia mengalah dan akan meminta asistennya untuk membawa semua pekerjaan ke rumah saja.


"Baiklah, sayang. Aku pulang. Sudah, jangan menangis." Nadia mengangguk benar-benar menggemaskan.


Tiba-tiba pintu ruangan diketuk, sekretaris paman Harits meminta izin untuk masuk.


"Masuk!" titahnya sembari memutar tubuh tanpa mengakhiri panggilan.


"Siapa, Mas?" tanya Nadia curiga.


"Mei, sekretarisku." Nadia tidak suka mendengarnya. Cemburu karena semenjak menikah, paman Harits belum pernah membawanya ke kantor meskipun semua karyawannya sudah mengetahui dan menjadi saksi pernikahan mereka.


"Maaf, Tuan. Saya membawa dokumen yang harus Anda periksa dan tandatangani." Mei meletakkan berkas di meja paman Harits. Nadia mendengarkan, ia tidak suka mendengar suara wanita itu. Di telinganya, suara sekretaris suaminya itu terkesan dibuat-buat untuk menggodanya. Padahal, biasa saja.


"Terima kasih, kamu boleh kembali!" titah paman Harits datar. Ia bahkan tidak melihat Mei saat ia membungkuk dan berbalik pergi.


"Aku tidak suka sekretarismu. Kenapa dia terdengar sedang menggodamu? Aku tidak suka." Paman Harits tertawa lagi. Ia menggeleng dan menunjukan berkas yang dibawa Mei tadi.


"Dia hanya memberikan berkas laporan untuk aku tandatangani. Tidak menggoda suamimu ini, sayang. Kamu cemburu?" Paman Harits tersenyum. Bahagia saat Nadia memperlihatkan kecemburuannya.


Nadia mendengus, ia masih merajuk tak menyahut.


"Jadi, aku pulang tidak? Kalau masih cemberut begitu rasanya malas untuk pulang," goda paman Harits yang membuat Nadia kembali berkaca-kaca.


"Iya, iya. Sudah, jangan menangis! Aku pulang sekarang, tapi senyum dulu," pintanya. Nadia mengusap matanya sambil tersenyum.


"Jangan dimatikan!" sergahnya cepat. Paman Harits mendesah, lalu mengangguk. Ia memanggil asistennya, memintanya untuk membawa semua pekerjaan ke rumah saja.


Panggilan masih tersambung ketika paman Harits keluar ruangan hingga masuk ke dalam lift. Namun, ketika ia duduk di kursi kemudi panggilan terputus. Paman Harits menggeleng lagi sebelum menginjak pedal gas. Seenaknya saja.


Di rumah, Ibu baru saja menyelesaikan masakannya, dibantu Bibi ia menyiapkan semua itu dengan hati yang senang.

__ADS_1


"Biar saya bawakan, Nyonya!" tanggap Bibi seraya mengambil alih nampan makanan dari tangan Ibu. Wanita tua itu mengangguk dan berjalan lebih dulu di depan Bibi.


"Letakkan di sana, Bi. Biar saya yang suapi sendiri," titah Ibu.


Bibi meletakkan nampan itu di atas nakas sebelum menghampiri Nadia.


"Ini, Non. Dicoba dulu, siapa tahu rezeki." Bibi memberikan bungkusan kecil bertuliskan nama apotik.


"Apa ini, Bi?" tanya Nadia sembari meraih bungkusan itu dan melihat isinya.


"Itu alat tes kehamilan. Saya hanya curiga kalau Non Nadia ini sedang hamil," jawab Bibi sambil melirik Ibu yang tersenyum dan mengangguk.


"Benar, cepat ke kamar mandi. Tampung air senimu dan masukkan alat ini ke dalamnya," timpal Ibu pula saat melihat kebingungan di raut wajah Nadia.


Ia mengangguk, mengambil satu kotak kecil dan membawanya ke kamar mandi. Selang beberapa menit, ia kembali keluar dan menunjukkan hasilnya pada kedua wanita yang menunggu dengan gugup.


Ibu dan Bibi membelalak senang, saat melihat garis dua pada alat tersebut. Nadia ikut tersenyum, tak menyangka akan secepat ini dia hamil. Ia mengusap perutnya haru.


"Ayo, duduk! Biar Ibu suapi kamu makan, Ibu hamil harus banyak makan karena kamu sekarang tidak sendiri lagi." Ibu menarik tangan Nadia pelan, ia membantunya duduk di ranjang dengan lembut pula.


"Aku makan sendiri saja, Bu," ucap Nadia tak enak.


"Sudah, tidak apa-apa. Biar Ibu suapi saja." Ibu mengambil piring makanan dan memangkunya. Nadia sungguh terharu, ia melirik Bibi yang mengangguk kala pandangnya bertemu.


Pelan-pelan, Ibu menyuapi Nadia. Teringat akan tangan Sarah yang selalu melakukan seperti apa yang dilakukan Ibu sekarang saat ia sakit. Jika dia masih ada, ia pun akan melakukan itu untuk putrinya.


Nadia mengusap matanya saat Ibu berpaling darinya. Ia tersenyum, ketika kepala wanita itu kembali terarah padanya. Ibu benar-benar berubah. Bibi beranjak keluar saat mendengar suara deru mobil paman Harits di halaman.


Majikannya itu berjalan tergesa-gesa.


"Di mana Nadia?" tanyanya pada Bibi.


"Di kamar, Tuan, bersama Nyonya."


Paman Harits menghentikan langkah sejenak, pikiran buruk menyergap hatinya. Ia berlari menaiki anak tangga, dan membuka pintu dengan kasar. Ibu menyeringai saat menoleh padanya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan pada istriku?!"


__ADS_2